My Daddy Or My Baby

My Daddy Or My Baby
Unwed Pregnancy



Selangkah lagi Seulgi sampai di depan Jimin. Ini untuk terakhir kalinya Seulgi akan membahas hal bodoh macam ini dengan Jimin. Seulgi janji ini yang terakhir. Sebenarnya Seulgi masih enggan berbicara setelah ucapan Jimin yang menyakitkan hatinya melayang dari mulut menggemaskan tapi rasanya pedas pria itu. Jimin hanya diam menyeruput secangkir kopi panas melihat layar televisi di ruang tamu rumahnya. Bukan karena Jimin tidak melihat Seulgi hanya saja malas bertanya dan menunggu tuturan dari gadisnya.


"Ini yang terakhir! Kenapa ibu membuangku? Kumohon jangan membentak, aku hanya ingin tahu alasan ibu"


Mohon Seulgi untuk memberi tahu apa alasan Jirae membuangnya kan sangat tidak dimungkinkan jika Jirae membuangnya tanpa alasan.


Jimin tak sedikitpun memandang menganggap Seulgi tidak ada di dekatnya. Tapi yang Seulgi lihat dua sekat penutup celah itu mulai terbuka seperti ingin mengeluarkan suaranya.


"Alasan yang mudah, aku dan Jirae tidak sengaja mendapatkanmu di luar tali pernikahan. Dan dengan sialnya dia meninggalkanku untuk pria lain" dengan sialnya bibir itu berucap dengan nada santai tanpa adanya rasa sesal sedikitpun setelah mengucapkan bahwa dirinya menghamili seorang wanita di luar nikah. Lagi dan lagi cercapan yang keluar dadi celah itu menghantam rulung hatinya. Membobol bendungan di dua kelopak matanya.


Seulgi merasa dirinya tertarik untuk duduk. Tidak melawan karena rasanya kaki Seulgi bagai jelly setelah mengetahui fakta bahwa dirinya hanya anak haram Jimin dan Jirae. Seulgi sadar jika dirinya duduk di atas pangkuan Jimin. Tapi dia sangat tidak ingin bergerak bahkan lupa caranya bergerak. Memeluk gadis itu adalah hal pertama yang Jimin lakukan mengusap rambut hitam panjang dan lebat anaknya. "Tenanglah di sini masih ada aku yang menyayangimu, mencintaimu secara tulus". Seulgi merasa hanya Jimin yang bisa mengerti dirinya bahkan melebihi dirinya sendiri. Semarah apapun dirinya pada Jimin atau semarah apapun Jimin padanya tetap saja Jimin adalah rumah yang paling nyaman untuk Seulgi pulang.


Jimin sangat tau apa yang dirinya butuhkan, untuk sekarang ini Seulgi hanya butuh ketenangan dan ketenangan itu ia dapatkan di dalam dekapan hangat ayahnya. Tak henti menepuk kecil punggung Seulgi mampu membuat Seulgi tenang menghentikan Isak tangisnya. "M maaf aku selalu membah ....mp" Seulgi terkejut ketika benda basah lembut itu menyentuh labium pinknya. Tersentak ketika Jimin tiba-tiba saja menempelkan bibirnya. Tak ada jarak antara mereka bahkan tatapan empat mata itu tak bisa diartikan. Saling menatap dalam dengan mata sayu usai menangis. Seulgi tidak menolak bibir Jimin sedikitpun.


Menjauhkan tengkuknya dari bibir ranum Seulgi. Mengusap bibir bawahnya dengan ibu jarinya. Mengusap penuh afeksi menempel bahkan menekan dua celah bibir Seulgi dengan telunjuknya. "Berhenti membahas wanita sialan itu"


Kembali merangkul tangan gadisnya itulah yang dilakukan oleh Min Suga kepada Ryu Seulgi. Menarik tangan itu mengarungi koridor kampus yang penuh oleh pada mahasiswa mahasiswi lainnya yang berdiri disana. Tak sengaja berpapasan dengan teman baik kekasihnya dan mantan kekasihnya yang penuh kesialan. Mau tidak mau Suga berhenti karena apa yang Seulgi minta itulah perintah.


"Wendy, nona Irene" sapa Seulgi sopan melambaikan tangan di depan dua sahabatnya. "Seul, aku ketoilet sebentar" setelah mengucapkan kata pamit itu Suga pergi begitu saja.


Sedangkan di tempat yang sepi ini kemungkinan hanya dua atau empat orang per 10 menit ada mahasiswa yang melalui tempat itu. Di situlah Wendy yang berusaha keras membujuk Suga yang masih merasa sangat kecewa atas apa yang sudah Wendy lakukan terhadap dirinya. Suga muak mendengar Wendy yang selalu meminta dirinya untuk kembali dan meninggalkan Seulgi. Meninggalkan Wendy di tempat itu adalah hal yang paling benar Suga lakukan sedari tadi. Wendy hanya menatap kesal atas kepergian Suga tapi tak membuat Wendy menyerah malah membuat wanita itu tersenyum miring.


"Bukan dengan Suga tapi Jimin yang akan menjadi kehancuranmu Seulgi"


Dua manik Wendy berputar menyaksikan kemewahan yang ada di dalam rumah Seulgi. Membuat iri dengki Yanga dan di dalam tubuhnya semakin bergejolak. Wendy bukanlah berasal dari keluarga miskin dan tidak pula kaya. Wendy hidup dengan standar. Sebelum ayahnya pergi Wendy adalah anak orang kaya raya dengan harta yang tak pernah habis terapi setelah ayahnya pergi membuat kehidupan Wendy berubah 180° menjadi orang yang bisa di bilang tidak kaya.


"Daddyku bilang kau boleh tinggal di sini, pilih saja kamar yang kau mau". Pulang kampus tadi Wendy mengatakan kalau dirinya di usir dari apartemen ntah itu hanya omong kosong atau memang terjadi karena Wendy tidak mampu bayar. Sebagai teman yang baik Seulgi menawarkan untuk tinggal sementara sampai ibu Wendy mempunyai uang untuk mencari apartemen baru lagian Seulgi kesepian sebab Jimin yang sering pulang malam.


Pagi yang cerah ini di sambut dengan gelak tawa di meja makan keluarga Ryu ini. Bukan hanya berdua Seulgi dan Jimin sekarang memiliki satu teman rumah. Gelak tawa Seulgi dan Wendy bergelora pada rungu Jimin. Menatap pada bibir yang mengunyak bahkan berbicara berpindah pada dua manik gadis itu. Selama makan pagi ini terlaksana hanya bibir dan mata Wendylah yang Jimin perhatikan. Hanya itu tanpa memikirkan hal yang lain.


"Mirip dengan dirinya" hanya itu yang bisa Jimin ucapkan ketika dirinya dalam keadaan sendiri setelah memperhatikan lebih dalam bibir dan dua manik Wendy. Benak Jimin berputar hanya memikirkan bibir dan mata Wendy saja membuatnya tak fokus pada pekerjaan yang seharusnya sedari tadi ia garap dan selesaikan. Lamunan Jimin terhenti ketika dering ponsel itu membuyarkannya menerima panggilan yang tak diketahui siapa yang menelfon hanya tertera nomornya di layar bendah canggih itu. Tanpa berfikir panjang Jimin menerima telfon menempelkan ponsel pada telinganya bersiap menerima suara yang akan memasuki gendang telinganya.


"Anak sial itu akan mengetahui semuanya" Tut Tut Tut


Panggilan itu dimatikan secara sepihak dari seberang sana. Suara wanita itu sangat Jimin kenal bahkan sangat mengenalnya. Wanita itu rupanya sedang mengancam tapi hal itu tak membuat Jimin hilang akal. Bagaimanapun usaha wanita itu untuk merebut sang gadis darinya maka sebesar itu juga Jimin akan mempertahankan gadisnya