My Daddy Or My Baby

My Daddy Or My Baby
Broken Friendship



"Anak kita?" Nafas Jimin sempat tercekat mendengar apa yang diucapkan Yeri, pertanyaan itu Yeri jawab dengan anggukan. Jimin tidak langsung menanggapi ucapan Yeri, rasanya Jimin belum siap untuk mengatakan kemana anak mereka pergi. Jimin terlalu takut Yeri akan membencinya. Melihat kediaman itu Yeri menggoyangkan tubuh Jimin dan kembali bertanya. "Mana anak kita? Dia ...."


"Tenanglah, anak kita tumbuh dengan sehat. Dia adalah gadis yang paling cantik sekarang" penuturan itu membuat Yeri bernafas lega, selama bertahun-tahun menitipkan sebuah nyawa pada Jimin membuat hidupnya tidak tenang, ia selalu bertanya nyawa itu masih ada atau belum? Selalu berpikir apakah nyawa itu dirawat dengan baik atau tidak?. "Apa dia bahagia? Apa dia selalu tertawa?" Jimin sedikit terkekeh lalu menganggukkan kepalanya. "Tetapi yang dia tau, ibunya adalah Jirae"


"Kenapa kau tidak memberi tahunya bahwa dia anak kita?"


"Katakan padaku Ji, apakah dia memengaruhi anakku? Kalau iya aku akan mencincang wanita iblis itu" Jimin menggeleng, pria itu sangat tidak ingin membuat tangan Yeri kotor untuk mengurus kegilaan yang selama ini Jirae perbuatan.


"Jika Jirae tidak sempat menjadi saudara tiriku maka kaulah yang menjadi suamiku bukan Eunwoo" Jimin menyeringit, kening itu berkerut seperti sedang bertanya. Yeri tau apa yang sedang terputar di benang prianya itu. "Ayahku sudah lama bercerai dengan ibu Jirae. Aku tidak tau pikiran ayahku untuk menikah dengannya yang mana aku sudah berumur 17 tahun, dan dengan bodohnya ibunya itu menghasut ayah untuk menjodohkanku. Dan untunglah ayahku menceraikannya dalam pernikahan ke 6 tahunnya".


"Oh iya Ji, aku ingin bertemu anak kita" Jimin bingung bahkan kembali mematung, bagaimana cara dirinya mengatakan pada Yeri bahwa ia mencintai anak itu. Bagaimana tanggapan Yeri bila mengetahui ia mencintai anaknya, Jimin belum siap untuk memberi tahu Yeri bahwa ia mencintai Seulgi. Jimin harus mencari alasan. "Dia di luar negeri sekarang" raut Yeri yang terlihat senang seketika sirna menampilkan kerutan. "Besok aku akan menyuruhnya pulang" Yeri kembali tersenyum apalagi telapak tangan prianya itu terus mengusap pucuk kepalanya.


Tidak ada sepatah katapun keluar dari bibir mereka, duduk satu meja dan berhadapan dua pria dewasa itu hanya saling menuangkan cairan berakohol itu pada gelas dan meneguknya, kembali menungangkan dan kembali meneguk teruslah begitu. "Kau tidak lelah bermusuhan denganku" Eunwoo menurunkan egonya, pada awalnya Eunwoo lah yang mengajak untuk minum bersama lebih dulu maka Eunwoo lah yang harus memulai pembicaraan. "Aku tidak akan pernah ingin melihat orang yang merebut Yeri dariku, dan orang yang membuatku menikah dengan Jirae".


"Joyi tidak salah, aku yang memberi rencana itu. Jadi jangan selalu menyudutkan Joyi" jelas Eunwoo memberi sedikit pengertian terhadap Jimin. "Rencana itu memang dari akal busukmu, tetapi Jirae yang menjalankannya" Jimin berhasil menohok Eunwoo hingga pria itu bungkam, harusnya Eunwoo lebih berhati-hati untuk mengangkat suara sebelum ia disudutkan kembali. "Baiklah aku dan Joyi salah, tapi kumohon maafkan Joyi".


"Kenapa kau begitu peduli padanya? Kau menyukai iblis itu? Sedikit saja air mata Yeri jatuh karena hubunganmu bersama wanita lain jangan salahkan aku jika aku mengambilnya darimu". Mendengar penuturan itu membuat Eunwoo naik pitam. Dicengkeramnya kerah baju Jimin dengan sedikit sentakan hingga tubuh jimin sedikit terhuyung. "Kau tidak pernah melihat bagaimana hancurnya Joyi, dia selalu menangis".


"Apa aku terlihat peduli dengannya? Dialah yang menanamnya lebih dulu" kepala Jimin terhuyung ke samping setelah mendapatkan pukulan dari tangan yang dikepal milik Eunwoo. Jimin yang tidak terima membalas pukulan itu perisis seperti yang Eunwoo lakukan padanya. Pukulun bahkan tendangan sama-sama melayang, pertengkaran itu berakhir ketika mereka sama-sama pinsan, bukan karena sebuah pukulan melainkan terlalu banyak minum.


Eunwoo terbangun, tetapi ia sangat enggan untuk membuka matanya. Eunwoo dapat merasakan sepasang lengan melingkar di tubuhnya dan lengannya juga melingkar di tubuh istrinya. Eunwoo mengusap punggung seseorang yang berada di pelukannya. Tanpa membuka matanya Eunwoo mendekatkan wajahnya pada Wajah istrinya itu.


Brak


Tubuh Eunwoo terhuyung menghantam lantai dingin. Jatuh dari kasur memang sudahlah sering Eunwoo jalani tapi bukan jatuh dengan cara ditendang dengan bringas seperti tadi. Eunaoo mengusap pinggang ya yang terbentur kuat, sepertinya Eunwoo baru tau tenaga Yeri begitu kuat di pagi hari. "Sayaaang, kenapa kau menendangku..." Rengek Eunwoo.


"Kau yang tidak normal, kau yang memelukku. Mesum" Eunwoo tidak akan pernah ingin kalah telak lagi oleh Jimin.


"Seleraku masih wanita, tetapi jika aku tidak normal sekalipun seleraku bukan sepertimu". Sepertinya Eunwoo harus mengalah, ia berdiri dan menghempaskan tubuhnya kembali ke atas kasur. Berniat untuk kembali tidur tetapi pintu kamar itu tiba-tiba terbuka memperlihatkan atensi Yeri.


Yeri tersenyum kikuk melihat dua pria tercintanya dalam keadaan yang kelewat se*xi, lebih tepatnya Yeri memandang Jimin, jika memandang Eunwoo rasanya untuk sekarang Yeri merugi dengan jumlah besar sebab sudah hampir setiap malam Yeri selalu lemas tak berdaya karena tubuh Eunwoo. Yeri tidak akan bisa mengalihkan pandangannya pada tato inisial namanya yang Jimin ukir di tubuhnya, menambah kesan se*xi pria itu. Yeri tersentak kembali menyadarkan dirinya bahwa yang seharusnya di lihat adalah Eunwoo.


"Aku yang membuat posisi kalian berpelukan" Yeri meletakan seonggok kain di atas meja dan kembali berjalan serta berhenti tepat di depan dua pria yang sekarang mengusap-usap tubuhnya sendiri lantaran merasa geli setelah berpelukan. "Mandilah ini pakaian sudah kusiapkan untuk kalian".


"Aku harus cepat mandi menghilangkan jejak brengsek ini" Yeri menggeleng-gelengkan kepalanya merasa jengah dengan ucapan Jimin. Apakah mereka tidak akan berbaikan.


"Sayaaaaang, kenapa kau memberikan bajuku padanya?" Rengek Eunwoo manja menduselkan kepalanya pada tangan Yeri. "Eunwoo, kau tidak malu terlihat seperti anak kecil?".


Jimin merasa renjana dongkol tumbuh di dalam tubuhnya, matanya hanya menatap tak ingin berkata, tetapi hatinya selalu berkata dirinyalah yang sekarang seharusnya melakukan apa yang dilakukan Eunwoo pada Yeri, Yeri itu miliknya dari awal hingga akhir, tetapi parasit Eunwoo itu ntah kenapa tiba-tiba merebut gadis miliknya dari tangan Jimin.


"Jimin mandilah, setelah itu Eunwoo, kalian mandi terus turun ke bawah aku sudah memasak untuk kalian" suruh Yeri pada keduanya dengan telapak tangan masih setia mengusap rambut Eunwoo yang sedang ingin bermanja-manja itu. "Aku akan langsung pulang Yeri"


"Aku sudah memasak banyak Ji. Kau tidak rindu masak...."


"Ekhem ekhem, tenggorokanku gatal melihat seorang brengsek di rumahku"


"Eunwoo!, dia tamu"


"Tenggorokan tidak bisa melihat, makanya kalau sekolah perhatikan gurumu" sindir Jimin.