
Pagi yang cerah dimulai dengan kegiatan yang sama seperti kegiatan dihari lainnya. Ryu Seulgi memaksakan diri untuk bangun pagi menyiapkan sarapan untuk ayahnya yang sudah ditinggalkan sang ibu. Begitulah nasib menjadi anak tunggal dari seorang duda. Hidup bergelimang harta tapi tak membuat Seulgi merasa terpenuhi, uang mungkin dianggap segalanya tapi seorang ibu tak bisa di beli oleh secarik kertas yang diberi nama uang.
Sejak lahir sampai diumurnya 19 tahun ini Seulgi belum pernah bertemu dengan ibunya jangankan untuk bertemu, ayahnya saja tak pernah memberi tahu siapa nama ibunya. Dengan alasan ibu adalah wanita yang paling jahat, itu menurut ayahnya. Tapi Seulgi tidak tau pasti seberapa jahat ibunya.
Ryu Jimin menarik kursi di meja makan dan duduk di sana. Mengembangkan belahan bibirnya menghadap kepada gadis belianya. Tak terasa sudah 19 tahun hidup berdua dengan Seulgi. Tanpa sosok seorang ibu bukanlah hal yang mudah untuk Jimin merawat anaknya. Menjadi peran ayah sekaligus ibu itu sangatlah tidak mudah.
Sebelum Seulgi bisa ini itu sendiri, Jimin harus memasak merawat seluruh kebutuhannya dan Seulgi sendiri. Bahkan tak jarang Jimin juga yang merawat hal-hal yang berbau wanita. Itu semua ia lakukan untuk gadisnya.
Kenapa Jimin tidak menikah lagi? Siapa sih wanita yang bisa menolak seorang Ryu Jimin? Mungkin hanya wanita gila yang akan menolak Ryu Jimin, sementara Jimin sendiri adalah pria yang gagah, tampan, kaya raya, dan penuh kasih sayang.
"Selamat sarapan dad"
Jimin hanya mengangguk untuk ucapan anaknya. Memakan roti yang sudah disiapkan Seulgi sedari tadi.
Pergi ke kampus diantar oleh sang ayah adalah hal yang setiap hari Seulgi jalani. Bukan seperti seorang ayah tapi di mata orang-orang ini adalah sepasang kekasih. Bagaimana tidak? Diusia Jimin yang sudah menginjak 39 sudah hampir berkepala empat, tapi kepala Jimin masih sangat muda. Tanpa kerutan sedikitpun di wajahnya. Biasalah orang kaya.
Mobil keluaran terbaru itu berhenti tepat di depan gerbang kampus Seulgi. Jimin turun lebih dulu dari Seulgi. Membukakan pintu mobil untuk sang manis sudah rutinitas bagi singgel parents itu. Hidup Seulgi hampir sempurna dikirimkan banyak harta dan dikirimkan ayah yang sangat memanjakannya.
Seulgi turun dari mobil, berdiri di depan sang ayah, sedikit menjinjit untuk menyentuh wajah Jimin. Mengecup singkat pipi kanan dan melangkah untuk pergi.
"Hanya di kanan sayang?"
Seulgi kembali pada sang ayah, kembali mengecup pipi kiri ayahnya, diikuti dengan mengecup kening dan matanya.
"Sekarang Daddy puas?"
"Sangat puas"
"Nanti tidak usa dijemput, aku pulang dengan kekasihku"
Tak menjawab bahkan Jimin hanya melemparkan wajah kesalnya. Baru tadi senyum itu kembang sekarang berubah drastis.
"Terserah"
Terdengar dingin dan datar, Jimin kembali melaju kendaraannya menjauh dari tempat itu. Dipikiran Seulgi mungkin Jimin itu tidak suka jika ia bersama seorang laki-laki. Toh di mata Jimin Seulgi tidak akan pernah besar.
Min Suga ketika melihat mobil calon mertuanya melesat pergi langsung menggenggam erat tangan kekasihnya, Ryu Seulgi.
Saling melempar senyum itulah yang dilakukan Seulgi dan Suga. Berjalan menuju fakultasnya dengan tangan saling bertautan.
Seulgi langsung melepaskan tangan Suga ketika temannya datang menghampiri. Menyapa dengan sopan, merangkul bahu itu sudah jadi kebiasan seorang Son Wendy, sahabatnya.
Bukan hanya menyapa Seulgi, Wendy juga menyapa Suga. Balasan Suga hanyalah senyum masam mungkin Suga belum bisa menerima Wendy lagi menjadi temannya setelah gagal menjalin hubungan cinta.
"Aku dan Suga ingin minum secangkir cofe, kau mau ikut?" Tawar Seulgi.
"Tidak"
Mendengar jawaban singkat dari Wendy Seulgi tidak ingin memaksa toh Seulgi mengajak hanya ingin basa basi bukan memang ingin membawanya. Merangkul kembali telapak tangan Suga.
Melihat punggung dua sejoli itu mengecil, Wendy tersenyum masam.
"Cih, dia kira dia bisa merebut Suga dariku. Asal dia tau dengan satu kalimat aku bisa membuat hidupnya hancur"
Pintu rumah mewah tempat tinggal dua beranak itu terbuka memampangkan wajah lelah kusut Ryu Jimin. Sialan, dirinya lelah tapi bertambah lelah melihat seorang pria kecil duduk di ruang tamunya dengan menggenggam tangan anak gadisnya.
"Siapa yang mengizinkan dia masuk?"
Jimin berkata ketus.
"Keluar kau dari rumahku" tanpa pikir panjang Jimin langsung saja tanpa ada sedikit rasa segan untuk mengusir Suga.
"Tapi dad.." Seulgi berusaha untuk mencegah Suga dengan menyakinkan Jimin.
"Seul, tidak apa mungkin lain kali, permisi paman" pamit Suga sopan setelah diusir dengan amat tidak sopan tadinya. Segera menghilangkan dirinya dari rumah Seulgi dengan amat terpaksa padahal dirinya ingin meminta restu secara baik-baik.
"Daddy, Aku sudah besar apa sal..."
Seulgi belum menyelesaikan apa yang ingin dia ucapkan tapi Jimin lebih dulu memotongnya.
"Kau bisa lihat, aku menikah muda bahkan aku menikah diumur 19 tahun. Apa yang terjadi? Pernikahanku hancur berantakan hanya karena ego masing-masing. Pemikiran yang belum matang untuk mengenal lawan jenis Seul. Itu akan membuat diri sendiri hancur". Jelas Jimin memberi nasihat dengan mencampurkan sedikit amarah tapi tidak membentak.
"Aku tidak akan menikah sekarang" imbuh Seulgi membela dirinya.
"Aku tidak menyetujui kau dengannya"
Malam menunjukan Pukul 12 malam, sejak perginya Suga dari rumah tepatnya diusir. Seulgi menjadi mendiami Jimin habis-habisan. Tidak makan, bahkan tidak menampakan torsonya pada sang ayah.
Seulgi semakin jengkel ketika dengan santainya Jimin merampas ponselnya. Melemparnya kedalam laci terdekat dengan kasur Seulgi. Jimin berdiri dengan menatap Seulgi tajam. Jimin dalam melihat jelas dari kerut wajah Seulgi bahwa gadis itu sedang penuh rasa dongkol didalam hatinya.
"Siapa yang mengajarimu untuk melawan dan membangkan padaku?" Suara Jimin terdengar dingin.
Seulgi hanya membuang muka, tak niat menjawab Seulgi begini juga karena Jimin sendiri yang menjengkelkan.
Melihat wajah masam Seulgi tatapan Jimin menjadi melunak. Mendorong tubuh gadis itu hingga terbaring di kasur empuk itu. Nafas Seulgi tercekat dengan air mata yang keluar dari ujung matanya ketika gelitikan dari Jimin tak berjeda. Seugi tertawa keras begitu pula dengan tawa Jimin pecah. Seulgi mengais nafas sebanyak banyak nya ketika Jimin berhenti. Menggapai tubuh gadis itu menenggelamkan kepalanya di dada bidangnya. Memeluk erat tubuh gadis yang sangat ia cintai itu.
"Tidurlah semoga besok kau tidak diam lagi"
Seulgi membuka pintu ruang kerja Jimin, ruang CEO disana. Sebagai seorang pawaris kekayaan yang melimpah Jimin sangat mudah membangun perusahaannya sendiri dengan jerih payahnya. Seulgi menyumbulkan kepalanya melihat apa yang terjadi di dalam sana. Ketika Seulgi tak melihat siapapun kecuali Jimin Seulgi langsung saja masuk dan membaringkan tubuhnya di sofa panjang tak jauh dari kursi kebanggaan Jimin.
Terdengar helaan nafas panjang Seulgi masuk ke dalam rungunya. Tapi Jimin tak sedikitpun melirik hanya tetap membaca map yang berada di tangannya.
"Aku ingin bertemu ibu"
Terdengar jelas map yang berada di tangan Jimin tertutup begitu saja dan tergeletak di meja. Melepas kacamatanya dan menatap lurus kepada Seulgi yang tak menatapnya.
"Sudah berapa kali ku bilang, wanita itu bukan orang baik"
Selalu saja itu yang diucapkan Jimin jika Seulgi berbicara tetang ibu.
"Umurku sudah 19 tahun, apa salahnya? Aku akan menemuinya dalam waktu singkat. Jika Daddy memberiku waktu 1 menit maka aku akan bertemu ibu dalam waktu 1 menit" jelas Seulgi panjang.
"Wanita itu tidak menginginkanmu Seulgi!" Nada bicara pria itu bahkan mulai naik.
"Dari mana daddy tau?"
"Jika dia menginginkanmu dia tidak mungkin meninggalkanmu denganku. Asal kau tau dia meninggalkan kita berdua untuk seorang pria selingkuhaannya. Perlu ku tekankan kembali dia tidak menginginkanmu sedikitpun"
Jimin tidak peduli Seulgi menangis didepannya. Bahkan wajah Seulgi merah sampai sesegukan. Untuk urusan ini Jimin harus tegas, Seulgi tidak boleh tau siapa ibunya. Jimin tahu pasti bagaimana teganya wanita itu membuang Seulgi begitu saja dengannya. Bahkan wanita itu pergi disaat tubuh Seulgi masih merah. Jangankan asinya wanita itu tidak menyentuh Seulgi sedikitpun.
Seulgi kecewa ini untuk kesekian kalinya Jimin menghancurkan hatinya hanya dengan mengucapkan satu kalimat bahwa ibunya tak menginginkan dirinya. Seulgi pergi begitu saja tanpa ada sedikitpun pamit.
Jimin menyugar rambutnya disaat gadisnya itu menghilang dibalik dinding. Mengais udara sebisanya.
"Maaf ga Seul, mungkin saja kau bukan anak paman Jimin. Bisa saja bukan kau itu adalah anak asuh Jimin" Wendy tersenyum miring ketika Seulgi menangis sesenggukan di dalam pelukannya. Seulgi sudah menganggap Song Wendy sebagai keluarganya.
"Kau kenapa Seul?" Tanya Bae Irene ketika baru tiba disana. Bae Irene adalah salah satu teman Seulgi yang sangat dekat dengannya. Irene hanya menganggukkan kepalanya setelah mendengar apa yang diucapkan Wendy persoalan kenapa Seulgi menangis sesenggukan begitu.
"Kau bisa tanya nenek kakekmu Seul. Kau bisa tanya siapa nama ibumu"
Setelah mendapatkan saran dari Bae Irene Seulgi langsung saja melesat dengan cepat kerumah orang tua Jimin.
Seulgi duduk diam di samping ibu Jimin. Setelah bercerita apa sebab kedatangannya kesini. Bukannya Seulgi mendapatkan titik terang tapi ia malah mendapatkan satu kalimat yang sama dari bibir Jimin. Bahwa ibunya tak menginginkannya. Bukan hanya bibir neneknya bibir kakeknya juga begitu.
"Jangan beritahu Jimin, aku akan menunjukan foto pernikahan Jimin dengan ibumu"
Mata Seulgi berbinar bukan hanya karena akan melihat foto ibunya. Seulgi senang rupanya dia bukan anak asuh melainkan tetap anak kandung Jimin. Seulgi sebisa mungkin memberhentikannya tangisnya ketika sang nenek pergi untuk mengambil sebuah album yang sudah berkabut.
Lembar demi lembaran sudah terbolak balik. Bahkan disana ada sebuah foto gadis cantik terselip disana.
"Dia Jirae, ibumu"
Tatapan Seulgi terpana pada foto itu, melihat setiap sudut torso foto ibunya. Mengeluarkan foto itu dari sana dan melihatnya dari dekat. Bagaimana bisa Jimin menyebutkan dia wanita jahat, wajah nya cantik sekali. Itu fikir Seulgi. Seulgi tersenyum untuk pertama kalinya ia melihat wajah ibunya Jirae.
Setelah puas melihat banyak foto kebersamaan Jimin dan Jirae Seulgi Palit pulang kepada nenek dan kakeknya. Meminta satu foto Jirae untuk dibawa pulang. Mau apa lagi? Mereka berdua tidak mungkin menolak Seulgi yang meminta foto Jirae yang melainkan ibunya sendiri. Mereka pikir Jimin salah sudah membatasi begitu ketat antara anak dan ibu. Walau sekalipun Jirae meninggalkan Seulgi dengannya tetap saja Seulgi harus tau siap ibu kandungnya.
Seulgi girang memeluk foto ibunya. Bahkan kaki Seulgi bergerak sendirinya untuk menendang nendang kasur tidurnya. Begitu senangnya Seulgi hanya dengan sebuah foto tak bisa dibayangkan bagaimana senangnya Seulgi jika ia dipertemukan dengan ibunya. Mungkin untuk satu Minggu ke depan Seulgi akan merayu nenek kakeknya untuk mempertemukan dirinya dengan sang ibu. Hanya mereka berdua harapan Seulgi sekarang, jika mengharapkan Jimin mungkin sampai matipun Seulgi tak akan bertemu.
Ceklek
Knop pintu terdengar terbuka, siapa lagi kalau bukan Jimin pelakunya. Seulgi dengan gesit memasukan foto Jirae kedalam bajunya, Seulgi kehilangan akalnya.
Jimin masuk melihat tingkah aneh Seulgi tapi Jimin hanya acuh mungkin saja Seulgi masih kesal akibat tadi siang di tempat kerjanya. Mengucap pucuk kepala Seulgi itulah hal pertama yang Jimin lakukan mengecup singkat kening Seulgi.
"Kau belum tidur?"
Seulgi menggeleng sebagai tanda ia belum tidur, lagian Jimin kenapa bertanya sudah jelas Seulgi masih terjaga dengan mata yang masih membuka besar.
"Tidurlah ini sudah malam" menuntun gadisnya untuk berbaring, Seulgi hanya mengikuti apa yang Jimin inginkan. Menyelimuti tubuh ringkih itu. Kembali mengecup pucuk kepala gadisnya.
"Good night love"
Seulgi tak heran hampir setiap saat Jimin melontarkan kata-kata manis padanya. Setelah pintu kembali tertutup Seulgi bisa bernafas lega menarik foto Jirae untuk kembali keluar