My Daddy Or My Baby

My Daddy Or My Baby
Broken love



Menghirup udara sebanyak-banyaknya menikmati sepoian angin malam dari atas gedung pencakar langit ini. Menimalisir semua yang ada di pikirannya. Menatap lampu kendaraan yang berlalu lalang pemandangan kota yang menyejukkan hati. Makanan di atas meja sudah di tata dengan rapi tapi belum di sentuh sedikitpun. Jimin bingung kenapa wanita itu memberi janji temu seakan ingin dinner saja dah lebih parahnya lagi wanita itu belum datang sedari tadi padahal sudah satu jam lamanya Jimin menunggu.


Melingkarkan tangannya pada tubuh prianya menyandarkan kepala bersurai panjangnya di bahu tegap pria itu menelusuri dada bidang dari belakang tubuhnya. Menjinjit demi menggapai leher Jimin mengecup singkat area di sana "Sudah lama tak bertemu Ryu, sudah 19 tahun suamiku pergi" melepas paksa apa yang melilit perutnya mendorong pelan hingga tubuh wanita itu terhuyung ke belakang. "Aku bukan suamimu lagi Jirae. Kau lupa kita bercerai 19 tahun yang lalu" cerca Jimin membetulkan ujaran Jirae bahwa dirinya sudah bukan suaminya lagi. "Tapi aku masih mencintaimu Ji" lagi ucapan Jirae membuat Jimin geli, kata cinta itu semuanya adalah cinta egois Jirae yang membuat semuanya tak sesuai rencana kehidupan. Cinta egois Jirae yang membuat rumah tangga mereka hancur, cinta egois Jirae yang membuat Seulgi tumbuh tanpa seorang ibu, cinta egois Jiraelah yang membocorkan bahwa Jimin mencintai Seulgi dengan alasan Jirae cemburu harusnya hanya seorang Jirae yang ada di hati Jimin hanya Jirae dan akan tetap Jirae itulah yang wanita itu inginkan.


Jirae hanya tersenyum miris menatap pria itu 19 tahun bukanlah waktu yang singkat, dengan waktu sepanjang itu untuk wanita secantik Jirae adalah hal yang mudah untuk mencari pengganti Jimin. Tapi hatinya berkata lain 19 tahun hanya nama Jimin yang terukir dalam di hatinya. Banyak pria yang mengejarnya ingin memiliki sosok Jirae tapi yang Jirae mau adalah Jimin hanya Jimin dan tetap Jimin untuk selamanya. Sebelum air itu jatuh membuat polesan wajahnya rusak terburu Jirae menyeka air mata dengan ujung jari. Menarik nafas sedalam-dalamnya menarik satu kursi ke luar dari kawah meja menarik Jimin untuk duduk di sana. "Sudah lama tidak melayanimu walaupun bukan masakanku" Jirae menyusul duduk di hadapan Jimin menatap dua manik sipit Jimin yang juga menatapnya. "Aku seperti pernah melihat bagian wajahmu di wajah orang lain" lamunan Jirae menatap Jimin mulai sirna terkekeh mendengar apa yang diujar pria Ryu itu. "Hahaha, kau ini. Sudahlah ayo makan"


"Jirae, apa yang ingin kau sampaikan" suara Jimin memecah keadaan sunyi di tengah makan mereka pertanyaan itu sudah lama ingin dilontarkan sejak tadi tidak mungkin Jirae ingin bertemu tanpa adanya alasan. Jirae tersenyum miring melepaskan dua alat makan yang ada di genggamannya. Menggapai segelas Wine berdosis tinggi itu menuju ujung balkon meneguk pelan cairan yang ada di gelas bening. "Aku kembali ke kota ini untuk menghancurkan kau dan Seulgi" mendengar nama Seulgi Jimin langsung berdiri tegap di samping Jirae. "Apa alasanmu? Seulgi menganggu hidupmu?"


"Aku benci anak itu. Anak itu membuatmu pergi dariku" Cercapan itu mengundang suasana tegang dan menakutkan untuk Jirae bagaimana Jirae tidak takut tatapan mata Jimin begitu tajam untuknya. "Bukankah akar masalah kita ada di 21 tahun yang lalu dan jangan lupakan kau yang membuat akar itu tumbuh Nyonya Jirae" kepala Jirae mulai terasa pening sudah pasti ini adalah efek dari Wine yang ia minum tadi. Memegangi kepalanya yang sudah sepoyongan terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk. "Kesalahanmu yang membuat Seulgi anak kita lahir" sedikit menggembungkan senyumnya rupanya Jimin tetap menganggap itu anak mereka bersama.


Jimin menarik nafasnya kasar ketika badan Jirae tak berdaya tersandar pada bahu tegapnya Jirae tidak pinsan hanya saja tubuhnya begitu lemah bahkan untuk menahan berat badan dengan kedua kakinya saja Jirae tidak mampu. Mau tak mau Jimin menggendong Jirae penuh paksa menuju gedung sebelah yang merupakan hotel berbintang. Jirae tersenyum dalam pejamnya untuk sesaat biarkan Jirae menikmati ini sudah lama ia menunggu untuk bertemu Jimin maka biarkan Jirar bersenang-senang. Mungkin ini adalah imbalan dari tuhan sebab Jirae memiliki cinta yang murni dari hati yang bersih untuk pria ini, pria yang sedang menggendong dirinya.


Tuhan hanya memberi senyuman itu sebentar, setelah Jimin membaringkan Jirae dengan pelan ke kasur kamar hotel tesebut, menolong Jirae melepaskan tas serta sepatunya dan tidak lupa menolong Jirae mengganti pakaian rumit dan ketat Jirae dengan baju mandi yang sudah di sediakan hotel itung-itung untuk memberi kesan nyaman disaat Jirae tidur. Setelah dirinya dibawa terbang melampaui batas-batas langit atas perlakuan manis Jimin pria itu sekarang membantingnya dari atas sana Jirae terlalu terbawa suasana dan tidak berpikir bahwa Jimin akan pergi. "Hotel ini sudah kubayar besok kau mandi pelayanku akan mengantarkanmu baju ganti. Jangan lupa untuk makan dan pergi jauh dari hidupku"


Setelah lontaran yang awalnya manis dan merujung pahit untuk Jirae Jimin pergi begitu saja menutup pintu dan terdengar langkah kaki Jimin sudah menghilang. Dengan ucapan imin yang menyudutkan dirinya tak membuat Jirae sadar untuk berhenti mengusik kehidupan Jimin. Bagaimanapun Jirae sudah terlalu bengis kepada anak itu, anak yang sudah dengan beraninya mengambil Jimin darinya.


Membuka pintu besar rumahnya yang pertama kali Jimin rekam dengan retinanya adalah Seulgi yang tertidur di sofa ruang tamu dengan memeluk foto masa kecil Seulgi yang berada di gendongan Jimin. Menarik nafasnya dalam duduk di lantai menatap wajah damai sang pujaan menyingkirkan Surai Seulgi dari wajah cantiknya. Membuat Jimin lebih luluasa menatap wajah cantik itu. Jimin sangat tau atas gelagak anaknya, Seulgi bukan rindu padanya tapi Jimin tau Seulgi pasti sedang dilanda masalah hingga membuatnya memeluk foto mereka di dalam tidur. Jimin akan selalu menjadi rumah untuk Seulgi pulang.


Seulgi merasa ada yang mengusap pipinya segera saja membuka matanya. Gelap di awal dan yang pertama Seulgi lihat adalah wajah tampan Jimin yang tersenyum sendu melihat mata bengkak Seulgi dan pastinya gadis itu menangis sejadi-jadinya. Jimin hanya pasrah kekita tubuhnya sedikit terhuyung dengan benturuan tubuh Seulgi yang tiba-tiba bergelayut dengan kepala di bahu tegapnya. Terisak tangis di sana menggusal air mata di baju itu bahkan Seulgi tanpa sadar terus memukul punggung Jimin. Pukulan itu memang sedikit menyakitkan tapi pelukan Seulgi menyembuhkannya. Jimin sudah menunggu pelukan itu setelah kejadian tak mengenakan itu. Tak melakukan apa-apa hanya menerima pelukan Seulgi tanpa membalasnya.


"Mereka jahat padaku" Jimin menjadi pelampiasan kekesalan Seulgi. "Suga selingkuh darikuuu hiks". Bukannya sedih Jimin malah tersenyum senang tanpa sepengetahuan Seulgi. Bagaimana Jimin tidak senang akhirnya Seulgi tak punya kekasih. Pada akhir hidup Seulgi pasti akan jatuh padanya.


.


"Aku berhasil memisahkan Seulgi dan Suga. Tapi tidak dengan Jimin dan Seulgi"


"Terus mata-matai mereka. Jangan sampai kau tertangkap basah, dendam kita belum terbalaskan sedikitpun. Kesedihan ini masih panjang".