
Seugi dan Irene bangun dalam waktu bersamaan ketika bius yang diberikan habis masanya. Irene dan Seulgi saling memandang, beberapa detik kemudian mereka baru tersadar mereka berdua sedang ada di pesawat. Seulgi panik kenapa tiba-tiba ia bangun di sebuah kamar dan kamar itu terletak dalam sebuah pesawat yang sedang terbang. Irene tidak terlalu kaget ia sangat tau ini adalah pesawatnya. "Tenanglah ini pesawatku"
"Tapi kenapa kau ada di pesawatku? Dan aku kenapa tiba-tiba dipesawat?" Irene ikut bingung. Seulgi mengedipkan bahunya. "Sebentar aku akan bertany...."
Ckelek
Pintu kamar itu terbuka menampakan atensi Eunwoo membawa makanan di tangannya. Makanan itu Eunwoo letakan di nakas sebelah kasur tidur itu. Eunwoo duduk di birai kasur. Irene yang sudah tau apa yang harus dilakukan langsung saja mengecup singkat pipi Eunwoo dan tersenyum sebelum meminta penjelasan. Eunwoo memadang Seulgi yang masih merungut, bukan Seulgi yang mengecup Eunwoo, melainkan Eunwoo yang mengecup pipinya lebih dulu. Irene melotot melihat pemandangan yang tidak enak dipandang, Irene malu pada Seulgi, jika nanti Seulgi merasa Irene punya ayah yang tidak tau umut.
"Papa..!" Irene memperingati.
Eunwoo tersenyum, ia harus menceritakan semuanya pada Irene. Dibohongi itu tidak enak Eunwoo sudah merasakannya dan Eunwoo tidak ingin anak gadisnya yang sangat ia sayangi itu merasakan hal pahit yang sama. "Jadi papa memilih meninggalkan mama sendiri? Bagaimana jika mama terluka? Bagaimana jika mama dilukai paman itu?" Hardik Irene.
"Perlu kau tahu Irene, Daddyku bukan orang jahat" Seulgi tidak terima. Eunwoo terkekeh pelan mengacak rambut keduanya. Merasa gemas terhadap gadis cantik ini, rasanya Eunwoo ingin memeluk mereka seerat-eratnya. "Tenanglah, selama Yeri bersama Jimin 100% Yeri aman"
"Paman, kenapa kau membawaku? Daddy pasti mencariku"
"Kau anakku behenti memanggilku paman. Biarkan dia mencarimu dia sudah merawatmu selama 19 tahun sekarang biarkan aku yang merawatmu. Jangan protes aku tidak suka dibantah. Kau bisa bertanya pada saudarimu ini, apa yang aku tidak suka dan apa yang aku suka". Seulgi salah menilai wajah polos dan lembut Eunwoo, di balik wajah imut itu terdapat jiwa tegas yang menakutkan.
"Papa meninggalkan mama? Papa memisahkahku dengan mama? Papa menceraikan mama?"
"Song Irene. Satu, aku meninggalkannya. Dua, aku tidak akan membiarkan wanita jahat itu menyentuh kalian lagi. Tiga, aku tidak akan menceraikannya hanya saja aku meninggalkannya" oky, Irene tidak berani menyangkal lagi kalau Eunwoo sudah memanggilnya dengan nama Song Irene, padahal nama aslinya adalah Bae Irene. Jika Eunwoo sudah mengganti marganya dengan Song itu sudah sebuah pertanda Eunwoo akan meledak jika tidak dituruti.
"Kuharap kalian saling menerima, itu sarapan. Aku akan keluar"
"Seulgi, aku tidak menyangka aku akan bersaudara denganmu"
"Apakah aku harus mulai menerima kenyataan dan membiarkan Papa merawatku? Tapi aku tidak bisa melupakan Daddy begitu saja. Ponselku tertinggal"
"Pakailah ponselku, untunglah Papa membawakan ponselku"
Irene membuka ponselnya, mencari nomor-nomor yang selama ini ia simpan. Irene mengembuskan nafasnya kasar ketika melihat di ponselnya hanya ada satu nomor, yaitu nomor Eunwoo. "Maaf, papa menghapus semua nomornya".
Yeri menangis sesegukan sejak semalam di rumah Jimin. Setelah mencari Seulgi berjam-jam lamanya mereka memutuskan untuk segera pulang dan melanjutkannya besok hari. Sebelum tidur Yeri mendapat sebuah pesan dari Eunwoo yang menuliskan bahwa Eunwoo sudah membawa Seulgi dan Irene pergi menjauh dari negara itu. Yeri jatuh dari langit ke tanah membacanya, setelah kehilangan Seulgi Yeri harus merelakan kehilangan Irene di sisinya.
Bagaimana dengan Jimin? Jimin ikut sedih, mau bagaimanapun Seulgi itu adalah anak Jimin, sejak bayi itu lahir dengan kulit merah Jiminlah yang menimangnya, memberinya susu, memandikannya, membawanya imunisasi, merawatnya, memeluknya, semuanya Jimin lakukan bersama Seulgi. Dan sekarang gadis itu direnggut dengan mudahnya oleh Eunwoo. Jimin tidak dapat terlalu menyudutkan Eunwoo, sebab Jimin paham apa yang dirasakan Eunwoo selama ini.
Eunwoo menuntun kedua anaknya memasuki rumah yang sudah ia beli sejak bertahun-tahun yang lalu ketika Eunwoo menjalankan bisnis di sini. Irene sudah pernah datang kemari sebelumnya, rumah ini sudah dibersihkan sebelun mereka datang. "Irene sayang bawa Seulgi berkeliling rumah ya, dan berikan saudarimu sebuah kamar ketika kalian sudah tidak lelah kita akan berbelanja keperluan kalian dan besok mengunjungi universitas baru kalian" titah Eunwoo segera menghilangkan diri masuk ke dalam sebuah kamar di sana.
Rumah baru Seulgi lebih kecil dari rumah lama, begitu pula dengan Irene. Rumah ini jauh lebih kecil dari rumahnya yang lama. Tapi rumah ini sudah lebih dari cukup untuk ditinggali tiga orang. Seulgi memandang langit melalui belkon kamarnya, apa ini saatnya Seulgi harus menerima semua keadaan, Seulgi harus mulai menerima keberadaan Eunwoo yang merupakan ayah biologisnya. Tapi di satu sisi Seulgi tidak bisa begitu saja melupakan Jimin, Jimin itu sudah menjadi jantung baginya terlebih lagi sekarang mereka ada sepasang kekasih. Seulgi sangat mengenal Jimin, pria itu tidak suka bermian-main wanita dan tidak suka melirik wanita-wanita walaupun wanita itu begitu cantik.
Cemburu dan memiliki pemikiran buruk terhadap pasangan adalah sifat yang tidak akan terlepas dari seorang wanita. Seulgi takut jika ia pulang nanti akan melihat Jimin sudah menggandeng tangan seorang istri atau kekasih barunya terlebih lagi tangan Yeri. Jimin dan Yeri pasti jadi sangat dekat sekarang apalagi Yeri sudah ditinggalkan Eunwoo. Akh Seulgi menyesal pernah berdoa untuk Jimin menikah lagi dengan ibunya. Penyesalan selalu datang di hari belakang.
Eunwoo berjalan menuju dapur dan meneguk segelas air dengan muka bantal dan mata terpejam-pejam. "Akh Yeri~aa aku ingin sarapan makanan yang sedikit pedas hari ini" dasar tua bangka tidak ingat umur, selain merancu sendirinya Eunwoo menyempatkan diri mengecup pipi mulus Irene. Melihat segelas air berada di depannya Irene sedikit menyiram Eunwoo dari ujung kepalanya. "Bangunlah dari tidurmu yang menyedihkan itu Papa" Eunwoo mengerjapkan matanya, merasakan dingin di bajunya yang sedikit basah, ia baru sadar Yeri berada jauh dari dirinya sekarang.
"Papa itu tidak bisa jauh dari bibu Yeri, untuk apa meninggalkannya"
"Jangan memanggilnya Bibi, dia ibumu Seulgi!"
"Baiklah baiklah Mama Yeri"
"Papa lebih baik duduk di sana dan tunggu masakan ini selesai. Pokoknya besok sudah harus ada maid di rumah ini, aku tidak akan mau membersihkan rumah ini sendiri" cekal panjang Irene. Eunwoo sedikit berdecak tapi tetap mengikuti perkataan Irene untuk duduk di kursi meja makan. "Iya iya".
"Bisa tidak jangan keluarkan suara terpaksamu itu Papa Cha Eunwoo?"
"Kau itu kenapa? Pemarah sekali"
"Berhenti membuatku semakin marah padamu, seharusnya aku tidak membuatkan sarapan untuk Papa. Bahkan Papa tidak bertanya kenapa aku marah"
"Kenapa Irene cantikku ini marah? Aku merasa tidak melakukan kesalahan"
"Tidak melakukan katamu? Papa membiusku membawaku tanpa permisi, menghapus semua nomor di ponselku bahkan nomor kekasihkupun habis, mematahkan katru ponselku dan mengganti nomorku seenaknya, menjauhkanku dari mama"
"Aku tidak ingin kau berdekatan dengan pria"
"Daddy dan Papa sama saja, kalian tidak memperbolehkan anakmu mengenal lawan jenis" Seulgi ikut berbicara.
"Semua pria itu brengsek kecuali ayahmu"
"Tutup mulut kalian dan kunyah makanan itu Seulgi, Papa"