My Daddy Or My Baby

My Daddy Or My Baby
Sharp world



"Ya aku masih mencintainya"


Seulgi hanya terus bersembunyi di balik meja kerja Jimin. Seulgi sengaja tak mengetuk disaat masuk karena Seulgi tau Jimin sedang menelfon seseorang dan tidak sengaja saja Seulgi mendengar hal ini. Apakah yang dimaksud Jimin itu Jirae? Seulgi akan sangat senang bila Jimin dan Jirae kembali maka keluarganya akan kembali utuh.


"Dia? Song Seulgi? Ya hanya dia dan akan tetap dia"


Nama Song Seulgi menjadi buah pikiran untuk Seulgi, dia mengira itu dirinya sendiri tapi tidak mungkin seorang ayah jatuh cinta pada anaknya sendiri lagian nama Seulgi adalah Ryu Seulgi. Mungkin saja nama Seulgi diambil dari nama wanita yang dicintai Jimin.


Seulgi tau Jimin sudah selesai dengan ponselnya dan segera melangkah kembali pada meja kerjanya sebab Jimin menelfon tepat di depan jendela. Terperanjat kaget ketika tubuh Seulgi berdiri tepat di depan pria Ryu itu. Jimin terlihat kikuk mendekati Seulgi.


"S sudah lama?"


"Dad, maaf aku mendengarnya. Daddy mencintai Song Seulgi? Nikahi dia jika Daddy suka" ucap seulgi tanpa berfikir apakah Jimin akan marah nantinya.


"Tidak, belum tentu Song Seulgi menerima anakku".


"Aku sudah besar, sudah saatnya daddy mencari seorang pendamping"


Jimin tak lagi menghiraukan Seulgi yang terus menyesaknya untuk menikah, tapi ini sudah hampir 15 menit mulut Seulgi tak henti-hentinya memaksa tanpa mengenal lelah walaupun Jimin tak menjawab walau satu katapun.


"Apakah Daddy masih normal?" Satu pertanyaan yang dilontarkan Seulgi ini mampu membuat kepala fokus Jimin mengarah padanya. Bisa-bisanya gadis itu mengira Jimin termasuk di dunia LGBT.


"Aku masih mencintai wanita Seul" jawab Jimin dengan tatapan tajam. Yang Jimin lihat Seulgi hanya menggelengkan kepalanya membuat Jimin bingung sendiri apa yang dimaksud oleh Seulgi.


"Bukan itu, t tapi sexs" Seulgi membuang mukanya sembarangan tak berani untuk menatap manik ayahnya. Bukankah sekarang Seulgi merasa dirinya amat tidak sopan menanyakan kebutuhan biologis ayahnya?. Yang notabenenya Seulgi adalah anak perempuan. Mukanya menjadi merah padam, Seulgi sekarang merasa sangat malu.


Satu menit Seulgi diam dengan keadaan malunya untung Jimin tidak membalas pertanyaannya jika Jimin membalasnya mungkin saja pembahasan tak senono itu belum berujung sampai sekarang.


"Bagaimana Daddy kembali dengan ibu? Aku lihat foto ibu cantik kemare....." ya Tuhan Seulgi langsung menutup mulutnya, sialan mulut Seulgi begitu terbuka ceplas ceplos saat berbicara. Jimin menoleh melangkahkan kakinya untuk duduk tepat di samping Seulgi.


"Sekali lagi kau mencari tau tetang Jirae habis kau di tanganku"


Satu bulir air jatuh dari pelupuk matanya. Air itu tak bisa lagi untuk dia bendung. Seulgi takut, apa salahnya jika Seulgi mencari tau tentang ibu kandungnya sendiri. Dan malah Seulgi mendapatkan ancaman dari ayah yang sangat ia sayangi, dan lebih parahnya ancaman itu adalah ancaman pembunuhan. Sebenci itukah Jimin dengan ibunya?. Jika Jimin benci kenapa ia harus membawa bawa Seulgi untuk membencinya juga.


Seulgi menangis sesenggukan menatap manik Jimin. Jimin masih setia dengan posisi mencengkram bahu Seulgi, dan dengan keadaan marah membuat Jimin tak sadar menyengkram kuat bahu itu. Menimbulkan erangan sakit dari sang empu. Mengacak rambutnya sendiri dan mengerang frustasi memeluk gadis yang sangat ia cintai itu. Mengelus surai hitamnya membiarkan Seulgi menangis membasahi kemeja bagian dadanya.


Hampir setengah jam Jimin memeluk Seulgi yang menangis hingga Jimin merasa tidak ada sedikitpun gerak dari gadisnya. Melihat keadaan yang berada di dadanya. Rupanya gadis itu tertidur di dada bidang Jimin. Jimin menggendong Seulgi ala bridal style menuju mobilnya di parkiran. Jimin hanya ingin segera membawa Seulgi pulang meninggalkan semua pekerjaan toh siapa yang peduli dan siapa yang bisa memarahi Jimin jika Jimin sendirilah yang menggaji semua orang yang ada di perusahaan itu.


Membaringkan tubuh ringkih Seulgi di kasur kamarnya. Menyelimuti Seulgi dan duduk di birai kasur. Mengusap lembut penuh cinta suarai wanitanya. Jimin sudah bersumpah untuk tidak memberikan Seulgi pada ibunya. Sekalipun Jirae menangis darah Jimin tidak akan rela sedikitpun apapun yang terjadi Seulgi adalah miliknya.


Mengecup pelan kening Seulgi beralih pada mata, hidung, dan kedua pipinya. Jimin manarik wajahnya menjauh tapi satu pikiran keluar dari benak Jimin. Kembali mendekatkan wajahnya menempelkan benda lembut itu pada bibir Seulgi. Ini pertama kalinya setelah Seulgi beranjak remaja Jimin mengecup bibirnya. Hanya menempel tanpa ada gerakan tapi lama. Jarak diantara mereka membuat Jimin dapat melihat lebih rinci setiap inci wajah cantik yang berada di bawah wajahnya.


Kembali menarik wajahnya mengusap bibir Seulgi yang baru saja ia kecup dengan jempolnya. Sial, bibir itu membuat Jimin candu ingin terus mengecupnya bahkan sepertinya akan nikmat jika sedikit melu*matnya. Pikiran Jimin jadi melayang sendiri keteka jempolnya masih mengusap pelan Melihat bagaimana jempol itu bersentuhan langsung dengan kulit bewarna merah Seulgi. Tidak jika Jimin menyentuhnya lagi bisa saja Jimin mati ditempat.


Sarapan pagi kali ini terjadi dengan kidmat tanpa adanya pembicaraan hanya ada terdengar decitan sendok yang saling beradu. Hingga akhirnya Seulgi dengan beraninya membuka perawalan hari ini. Mungkin saja suasana canggung yang sial ini bisa segera diakhiri dengan Seulgi berbicara terlebih dahulu. "Apa Daddy punya kekasih?" Tanya Seulgi. Mengedipkan bahunya itulah jawaban yang didapat Seulgi dari pertanyaannya padahal Seulgi sangat serius menanyakan tentang siapa kekasih ayahnya.


"Bagaimana dengan wanita yang ada di hati Daddy?" Tanya Seulgi pantang menyerah.


Cukup Jimin sudah tidak ingin mendengar ocehan Seulgi mengenai hatinya, wanita yang ada di dalam dirinya, dia tidak ingin sedikitpun diganggu mau siapapun itu.


"Cukup ini untuk terakhir kalinya kau membahas ini. Sudah kubilang aku hanya ingin fokus merawatmu. Aku tidak peduli dengan hatimu sekarang. Bagaimana seorang ibu tiri yang akan menjadi istriku nanti bisa menerimamu dengan tulus, semetara ibu kandungmu saja tidak menginginkanmu"


Lontaran Jimin mampu membuat Seulgi bungkam. Seulgi diam bukan hanya mulutnya tapi semua pergerakan kecil yang ada di tubuh Seulgi ikut diam. Hanya menatap makanan yang sudah diaduk di dalam piringnya tadi. Satu tetes air mata jatuh menghujani sarapan yang sudah tersisa setengah di piring itu. Berdiri dan menggapai tasnya pergi begitu saja menuju pintu rumahnya.


"Maaf" hanya kata itu yang mampu Seulgi keluarkan dari bibir bergetarnya. Sungguh ucapan Jimin sangat menyakitkan tapi Seulgi sadar dirinya salah dengan menyesak Jimin untuk menikah.


Jimin hanya diam membiarkan Seulgi pergi ke kampus sendiran. Jimin sadar bahkan sangat sadar dengan apa yang dia ucapkan tapi Jimin harus bisa membuat Seulgi diam mengenai hatinya. Membiarkan Seulgi memiliki waktu sendiri itulah yang Jimin lakukan sekarang.