My Boyfriends Is Zombie (New Version)

My Boyfriends Is Zombie (New Version)
chapter 8 Apa kalian pacaran?



" Sebenarnya apa yang terjadi kenapa kau bisa jatuh?" Tanya Pak Rinto ingin tahu


dia memandangku penasaran ,


"Sa saya..." Aku begitu bingung harus menjawab apa


" Sudah bilang aja kalau tadi kau jatuh karena melihat si gembel misterius itu lagi ."  Hatiku memberi saran


" Apa kau sudah gila ?" Bentak PIkiranku , "Kau mau kita disangka gak waras apa? lanjutnya


" Terus harus jawab apa dong , gara gara apa kita jatuh tadi?" Ujar Hatiku bingung


" Kita pikirkan pokoknya jangan bilang hal sebenarnya kalau kau mau kita masih di anggap normal." Kata Pikiranku


" Kenapa kau diam saja ? katakan kenapa kau tadi sampai terjatuh ?" Tanya Pak  Rinto suaranya terdengar tenang tapi tak ada nada keramahan di dalamnya


Aku menoleh melihat wajah penasaran teman -teman kelasku , Aku tahu sebagian besar mereka ingin tahu bukan karena rasa khawatir melainkan rasa penasaran saja


" Uuh sa saya tadi jatuh ka karena--- Ci cak ? --" Jawabku asal  saat mataku mendapati seekor cicak merambat di atas tas ku yang terletak diatas meja


" Oh ..Ya sudah kembali ke bangku masing-masing "Perintah Pak  Rinto  dengan suara keras , aku dapat merasakan ada nada kejengkelan dalam suaranya dia pasti sangat tidak suka karena ulahku penjelasannya tentang aljabar tadi berhenti di tengah waktu yang berjalan


dan aku juga dapat melihat perasaan kecewa teman-teman kelasku yang mengharapkan aku memberi jawaban yang lebih 'WAH' untuk alasan aku jatuh


" Kembalilah kebangkumu." Perintahku pada Javin saat aku melihat hanya dia yang masih berada di sisiku


"Apa kau benar-benar tak apa-apa?" Tanya Javin dengan pandangan mata khawatir , aku dapat melihat kilatan rasa curiga di matanya ,apa dia dapat melihat kalau ada sesuatu yang tak beres di wajahku


" Iya aku tak apa-apa ." Jawabku bohong ,aku tersenyum  semanis mungkin dan menunjukkan wajah semangat , " Sudah kembali duduk sana!"


Dengan ragu Javin kembali ke bangkunya , dan aku harus merambat susah payah naik ke bangkuku sendiri ,sepanjang pelajaran aku benar -benar tdak dapat berkonsentrasi dengan baik , semua penjelasan pak  Rinto tentang pelajaran matematika hari itu seperti angin lalu dan sepanjang waktu hari itu aku habiskan dengan  duduk diam seperti patung di bangkuku


"Hei ."Sapa Javin tiba-tiba . disamping  bangkuku  membuatku terkesiap kaget


"Ah hei ! Aku sepertinya merespon dengan terlalu cepat dan membuat Javin kaget juga


" hei udah bel istirahat tuh ." Ucapnya memberi tahu


" Ah be benarkah?" Kataku memastikan , bola mataku menyapu ruangan kelas yang hanya terisi beberapa murid yang bercanda tawa dengan teman lainnya sepertinya sebagian dari mereka sedang keluar untuk beristirahat


untuk sesaat kami terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing


" Hei apa kamu tidak mau keluar , ini kan jam istirahat  ?" Tanyanya


" Apa kamu tidak mau beli makan  gitu ?" Tanyanya lagi


" Aku tidak sedang lapar ," Jawabku terdengar begitu bohongnya karena disaat itu juga perutku malah berbunyi keroncongan


" Dasar perut sialan!" Umpat pikiranku


" Hm sebenarnya kamu kenapa sih dari tadi ..?" Tanya Javin penasaran


" Ciee Pacaran nih ye!"  Terdengar suara menyindir dari arah samping kananku


Kami merasa kaget dan menoleh bersamaan ke arah sumber suara , terlihatlah 5 kepala anak lelaki yang sedang terkekeh di balik kaca jendela yang terletak di samping bangkuku


" Kalian !?" Javin tampak marah melihat ke 5 anak lelaki tersebut


" Apa kau kenal mereka ?" Tanyaku memastikan


" OH kami ini teman anggota klubnya ." Jawab salah satu dari kelima anak itu yang rambutnya tipis


" Klub ?"  Aku  memandang tak mengerti pada Javin dan teman -temannya


" Klub Voli." Jawab Javin cepat ,sepertinya dia mengerti apa yang aku pikirkan


" Oh .." Hampir aku salah sangka mengira klub yang di ikuti anak -anak itu adalah klub penggemar ,tidak heran dengan umur semuda itu dia sudah terlihat tinggi dan gagah


" Kamu pacarnya ya?" Tebak salah satu pemuda yang muka terlihat  kecil dan bulat dia menempelkan dagunya ke tepian bawah jendela


"Bukan!" Tukasku sambil memalingkan muka dan menunduk ,aku cemberut


"Kalian ini . sudah jangan menggodanya ." Entah sejak kapan Javin sudah ada di luar bersama kelima anak lelaki tersebut dan dia langsung menyeret anak yang kepalanya menempel ditepi bawah jendela pergi  dan di ikuti ke 4 anak lelaki


Tubuh bereaksi lebih cepat daripada pikiranku. tahu tahu aku sudah berada dekat jendela dan melihat  kepergian Javin dan kelima teman-temannya ,


" Ya kenapa kamu biarkan dia pergi ?" Protes Hatiku


" Lah memang kenapa?" Tanya pikiranku tak mengerti


" Apa kau tak tahu kalau dia itu suka sama kamu."jawab hatiku


"jangan mengada-ada !"Protes pikiranku -


aku berbalik dan sedikit terkejut melihat Javin sudah berada di ambang pintu kelas