
" Oh, ya Anzi ,ngomong -ngomong rumahmu ada dimana ya ?" Tanya Javin tiba -tiba
Aku langsung menoleh kaget kearahnya dan memandangnya heran
" Ada-apa ,ke kenapa kau memandang aku seperti itu ?" Tanya Javin heran
" Apa kau sedang bercanda?" Tanyaku
" Bercanda , ,maksudmu?" Dia balik bertanya tak mengerti
" Bukankah kamu sudah sering berkunjung ke rumahku , kenapa masih bertanya di mana rumahku ." Ingatku heran
"Apa ? Aku sering berkunjung kerumahmu ,ka kapan aku kerumahmu ?" Tanyanya dengan bingung
" JDAAAR!" Rasa kaget karena mendengar jawaban Javin yang disertai suara gelegar petir ,membuatku terpaku diam dengan mata terbelalak
" A apa kau serius ?" Tanyaku memastikan
Javin menganggukkan kepala dengan mantap dan aku menatap matanya berusaha mencari sebuah kebohongan di dalamnya tapi semakin aku melihat mata Javin yang semakin kuat aku menemukan kejujuran di dalam matanya
" Ka kalau kau tidak pernah berkunjung kerumahku la lalu siapa yang berkunjung waktu itu ?"Tanyaku gugup dengan suara tercekat karena shock
pikiranku melayang pada 2 minggu yang lalu sebelum kejadian di kantin menimpaku hari ini
Flasback
aku masih ingat hari itu hari sabtu jam 3 sore,langit terlihat sedikit redup karena cahaya matahari tertutup Awan walaupun bukan awan mendung . Aku berdiri di tepi trotoar sendirian menunggu datangnya Angkot untuk pulang , aku tidak bisa pulang naik sepeda karena sepedaku di reparasi
lama sekali aku menunggu angkot hampir satu jam . aku ingin sekali menghubungi Ayahku tapi aku teringat aku tak punya hp karena waktu itu tanpa pikir panjang aku melempar hpku di trotoar dekat dengan kebun tebu
aku berjongkok karena capek berdiri dari tadi , dan langsung membenamkan kepalaku diantara lutut untuk mengumpulkan tenaga lagi dan menghilangkan rasa pening di kepalaku
tiba-tiba aku mendengar deru sepeda motor dekat kakiku
aku mendongak dan melihat diatas sepeda motor itu ada Javin yang sudah memakai helm warna hitam
" Ja javin?" Gumamku kaget aku langsung berdiri
"Wah kelihatan keren banget ketua kelas" Puja Hatiku
" Ih biasa aja tuh." Tanggap Pikiranku , padahal sebenarnya pikiranku juga terpesona melihat penampilan Javin diatas sepeda motor dan aku akui Javin memang terlihat keren
" Ayo naik , aku antar kamu pulang ." Tawarnya
" Ah tidak usah , aku nunggu angkot saja ." Tolakku
" Sampai kapan kau mau nunggu angkot?" Tanyanya memastikan
" Ya sampai angkotnya datanglah . " Jawabku sedikit jengkel
" Kalau datangnya lama gimana ? apa kau tidak takut membuat orang tuamu khawatir?" Tanya Javin mengingatkan
Sejenak aku terdiam memikirkan perkataan Javin .
" Benar juga ,kalau aku telat pulang Ayah pasti khawatir" PIkirku
" Makanya nebeng motor ketua kelas aja , itung itung hemat uang saku ." Saran Hatiku
" Hmm Baiklah." Jawabku lemah karena perasaan sungkan tapi juga ingin naik motornya .
kursi penumpang motor milik Javin sedikit tinggi . jadi aku agak kesulitan menaikinya karena aku pendek .
" KYaaa!?" Aku menjerit kaget saat tiba-tiba Javin menangkat panggulku dan bokongku untuk di dudukkan di kursi penumpang
" Dasar br*ngs*k \,kaget tahu !" Hardikku sebal \,aku memukul bahu samping kiri Javin karena kesal
Javin tidak membalasku " Kelamaan tahu nunggu kamu naik " Ujar Javin sembari naik ke depan kursi kemudi motor
" Dasar pendek !" Sindirnya pelan sambil menstater mesin motornya
" Apa katamu ?" Tuntutku tak suka ,
" Pegangan yang erat !" Perintahnya
" Apa?" Aku belum siap -tiba tiba saja
" BRNGGG!" Mesin motor menderu hidup bersamaan dengan tubuhku yang terpental ke depan menabrak punggung Javin.
" Ah ." Keluhku , " Kau sengaja ya ?" Aku segera menarik mundur tubuhku agar tidak menempel pada punggung Javin
Tak lama kemudian sepeda motor Javin sudah berada di tengah jalan raya yang sepi .meninggalkan sekolah kami di belakang
" Pelan-pelan Javin!" Teriakku susah payah saat aku menyadari Javin mengemudikan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi . aku bisa merasakan angin berhembus kencang ,menghantam wajahku sampai kulitnya hampir terkelupas ,membuat rambutku yang terlindungi helm terurai keluar dan melambai di depan hidungku karena tertiup angin juga kemeja putih yang aku pakai menggelembung tertiup angin ,
hampir 15 menit kami mengendarai sepeda motor untuk pulang kerumahku , dan akhirnya kami sampai di depan sebuah rumah kayu berwarna putih , di depan rumah itu disebelah kirinya terdapat kolam ikan hias berukuran 6x4 meter . dan disebelah kanan ada taman bunga anggrek putih , sedang di tengahnya terdapat jalan setapak yang terbuat dari batu pualam berbentuk kotak di letakkan berpisah pisah dengan jarak 20 cm satu dengan lainnya . berjalan 10 langkah ke depan kau akan di sambut oleh dua undakan anak tangga sebelum sampai ke depan pintu utama
dan akhirnya " WELCOME TO MY HOME !" Sambutku pada Javin begitu sampai didepan pintu rumahku bergaya seperti asisten pembawa kuis yang memperlihatkan hadiah pada para peserta kuis
dan Javin di sana dibawah undakan berdiri tegap dengan kedua lengan tertaut di belakang dia mengulum senyumnya
" Siapa? " Tanya seseorang yang tak lain adalah Ayahku
dia melongokkan kepalanya dari dalam dan Ayahku langsung
" Tu tuan ?!" Gumamnya pelan tapi masih bisa aku dengar , ada nada kaget dalam suara Ayahku
" Ayah kenal sama Javin ya ?" Tanyaku memastikan
Ayahku terlihat bingung dan Javin memandangnya dengan pandangan seolah -olah berkata " Duh nih orang " Dia memejamkan mata sedetik sambil menghela nafasnya lalu membuka matanya , expresinya Javin berubah dari yang terlihat dingin dan angkuh untuk sesaat tadi ,kini berubah jadi Javin yang ceria seperti yang sering aku lihat dikelas dan
" Ah Paman Henry , rupanya Paman tinggal disini ?" Ujarnya dengan wajah sumringah tapi aku merasa keceriaan itu seperti dibuat -buat
" Jadi Kamu kenal Ayahku?" Tanyaku memastikan
aku memandang curiga pada mereka , Javin yang terlihat ceria namun terasa angkuh dan Ayahku yang gelisah namun berusaha tenang berdiri di depan pintu
" Jadi Paman Henry itu Ayahmu ?" Tanya Javin pura-pura kaget
" Bukan dia Bapakmu!" Jawabku mencoba bercanda dengan cara yang ketus
" Anzi jaga sikapmu !" Peringat Ayah padaku , dia melotot sebentar padaku dan aku cuma memandang dia tak mengerti
" Sudah sudah Paman jangan marahi Anzi ,maklum kalau dia belum tahu ." Ujar Javin mencoba menenangkn Ayahku ,
" Aku belum tahu apa ?" Tuntutku curiga
" Hmm begini Anzi , sebenarnya Dokter Henry ,Ayahmu adalah Doter pribadi keluargaku ." Jawab Javin dengan muka serius
"What dokter pribadi keluarga !" Seru Hatiku kaget
"Sejak Kapan?" Tanya Pikiranku
dan aku cuma memandang Javin dan juga Ayahku dengan muka curiga
-
-
-
" Anzi.. Anzi .. Anzi ." Kupingku samar -samar mendengar seseorang memanggil tapi aku tak bisa merespon panggilannya karena pikiranku di lain tempat
" Hei Anzi!" Bentak orang yang tidak lain adalah Javin
" Ah apa ,apa kita sudah sampai ?" Tanyaku gelagapan kaget
" Kamu kenapa sih , dari tadi melamun?" Tanya Javin penasaran
" Ah bukan apa -apa." Kataku bohong
Javin memandangku curiga tapi tak bertanya lebih jauh
" Den Javin .. sebenarnya ini kita mau kemana?" Tanya Pak Bram memecahkan kesunyian
" Ke kerumah Anzi Pak ."Jawab Javin
"Alamatnya dimana Den?" Tanya Pak Bram lagi
" Itu di ..
membuat kami saling melirik satu sama lain dengan expresi mata
Javin- ( dimana rumahmu?") bingung
Aku ( Kamu kan sudah tahu) tuduhku
"Den Javin.." Panggil Pak Bram seperti ingin memastikan agar dapat jawaban untuk pertanyaannya
" Itu alamatnya di.."
" Jalan Anggrek no 8 kampung tanjung kota G pak ." Selaku cepat
Dan akhirnya mobil Javin berhenti juga di depan rumahku bertepatan dengan redanya hujan
" Jadi ini rumahmu ?" Tanya Javin saat menurunkan kaca mobilnya
" Iya." Jawabku singkat sambil membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil dan Javin pun juga keluar dari dalam mobil
pada saat yang bersamaan Ayah muncul dengan baju seragam Dokternya yang di balut dengan jas hujan warna biru transparannya sepertinya dia baru pulang dari klinik tempat dia bekerja
" Lho Anzi ..kamu pulang sama siapa ?" Tanya Ayah heran
" Ayah..?"
" Halo Paman saya Javin teman Anzi ." Ujar Javin tiba -tiba berdiri di depan Ayahku sambil memakai payung , dapat ku lihat expresi kaget dari wajah Ayahku saat Javin tiba -tiba memperkenalkan dirinya (lagi)