
Teng teng teng bel pergantian pelajaran berbunyi,
" Wakil Ketua kelas apa kau bisa membantu Bapak membawa tumpukan kertas ulangan ini?" Tanya Pak Gofi
" Bisa Pak ." jawab seorang murid perempuan, yang ada di bangku nomor dua di deretan lorong ketiga ia berdiri dari bangkunya berjalan kemeja guru , dari bangku belakang aku sempat melihatnya ,gadis itu tingginya hampir sama denganku tapi sedikit lebih tinggi rambut di potong rata sebahu dan ketika dia keluar pintu kelas mengikuti Pak Gofi aku sempat melihat kalau dia juga memakai kacamata baca sepertiku tapi kacamatanya masih bagus daripada punyaku
" Hei !" Sapa Ketua kelas membuatku kaget , tiba-tiba saja dia duduk di sebelah bangkuku ,menarik perhatian beberapa murid di depanku , mereka menoleh kearah kami
" Keberatan ?" Tanyanya memastikan
" Mmm.." Aku hanya bisa bergumam , aku bingung harus menjawab apa . jika aku menolaknya di depan semua teman-teman kelasku bukankah aku sudah berbuat tak sopan pada ketua kelas dan pasti mereka menganggap aku sombong tapi jika aku menerimanya aku jujur merasa risih
" Ada-apa ?" Tanyanya
" Tidak apa." Jawabku pelan ,aku tidak berani menoleh kearahnya
kami saling diam selama beberapa detik tak bicara , tiba-tiba tangannya terjulur kearah kacamataku dia hendak menyentuhnya tapi aku segera menghindarinya
" Kenapa masih kau pakai?" Tanyanya
" Tidak apa ,aku suka." Jawabku
" Tapikan rusak " Ingatnya
" Memangnya kenapa ?" Jawabku sedikit ketus
dan aku melihat expresi kaget dari ketua kelas dan aku dapat melihatnya sedikit merasa tersinggung ada sebersit rasa bersalah di depanku
" Apa kau ti..."
" Terima-kasih." Ucapku tiba-tiba memotong perkataannya
"Untuk apa?" Tanyanya heran
" Karena ketua kelas sudah mau membantuku tadi ." jawabku sambil menunduk
" Oh tidak apa-apa ," Ucapnya sambil tersenyum " Omong -omong panggil saja Javin " Lanjutnya
aku menoleh kearahnya dan melihatnya tersenyum manis padaku untuk sesaat ,aku langsung memalingkan muka karena sedikit malu ,harus ku akui wajah ketua kelas lumayan tampan tapi tidak setampan dengan wajah gembel yang aku lihat di ladang tebu beberapa waktu lalu--? Hah ' aku terkesiap kaget mendapati diriku berpikir seperti itu
" Apa kau sudah gila !" Bisik pikiranku tak percaya pada apa yang di rasakan hatiku
" Ugh sial!" Desisku pelan ,marah pada diriku sendiri ,bisa bisanya aku berpikir seperti itu
" Ada-apa?" Tanya Ketua kelas penasaran melihat tingkahku
" Ah tidak apa -apa ." Hindarku merasa malu
" Umm kenapa ketua -?
" Javin" Potongnya mengingatkan
" Ah iya javin , kenapa kau tadi membantuku ?" Jawabku sambil bertanya
" Kenapa ya?" Dia berpikir sebentar " Ah anggap saja sebagai balasan aku sudah menginjak kacamatamu." Lanjutnya kemudian
" Ah begitu -- " Umm jadi bisa di bilang kita impas sekarang ?." Ucapku memastikan
"Hmm ..Impas tidak ya .. ?"
" Anak-anak kembali kebangku masing -masing dan keluarkan buku matematika kalian !" Perintah Pak Rinto yang tiba-tiba masuk kedalam kelas
seketika itu para murid di kelasku yang asyik bercanda dengan teman lainnya langsung berhamburan menuju bangku mereka masing-masing , sibuk mengeluarkan buku baca matematika juga buku tulis mereka
" Baiklah kita lanjutkan pelajaran minggu lalu tentang aljabar !" Ujar Pak Rinto
" Ketua kelas sedang apa kau disana ?" Serunya kemudian bertanya pada Javin
" Tidak sedang apa-apa Pak ." Jawab Javin juga berseru
dia berdiri ,berjalan beberapa langkah menuju bangkunya tapi berhenti di tengah jalan dan menoleh padaku
" kita lihat saja nanti ." Ujarnya sambil mengerlingkan satu mata padaku
Aku langsung menunduk sambil memegang keningku ,pura-pura sibuk berpikir mengacuhkan kelakuannya barusan
"Ngapain sih dia barusan ?" keluh pikiranku tak suka
jujur harus ku akui javin anaknya lumayan tampan ,senyumnya juga manis tak heran aku mendapat pandangan sinis dari para murid perempuan di kelasku detik ini juga saat aku tanpa sengaja mengintip keadaan kelas dari sela jari jari yang menutupi keningku , berani taruhan para murid perempuan disini pasti menaruh hati pada javin
dan selama hampir setengah bulan Javin terus berusaha mendekati dan berbuat baik padaku ,dia berusaha merayuku agar aku mengijinkannya untuk mereparasi atau mengganti kacamataku yang sudah dia retakkan ,
aku melewati hari yang normal selama 4 minggu ini bahkan aku sudah hampir lupa dengan peristiwa jelek atau buruk yang pernah terjadi padaku , tadinya aku selalu ketakutan untuk pergi atau pulang sekolah tapi untungnya Javin bersedia menjadi gojek pribadiku , hubungan pertemanan kami sangat akrab sampai dikira orang kami sedang pacaran dan hubungan Javin sama Ayahku lumayan dekat hingga
_
_
1 bulan kemudian
_
_
Pak Rinto sedang menjelaskan pelajaran Aljabar pada kami . dan entah kenapa aku sedikit merasa malas dan juga mengantuk saat mendengar penjelasannya .aku mencopot kacamataku yang rusak dan mengucek mataku yang sepet karena kantuk agar terang kembali . saat melepas kucekan tanganku pada mataku dan menoleh kearah jendela yang mengarah halaman
" TIDAK MUNGKIN!" Teriak pikiran dan hatiku bersamaan ,karena saking kagetnya saat kedua mataku tanpa sengaja melihat kalau dia ada di balik salah satu pohon yang berdiri di halaman sekolah .
" Ada-apa ,kau baik -baik saja ?" Tanya Javin yang tiba-tiba ada di dekatku ,berlutut disampingku . membuatku seketika menyadari kalau aku barusan terjatuh kesamping karena perasaan kaget melihat gembel misterius tadi .
aku melihat semua penghuni di kelasku dari Pak Rinto sampai teman-teman kelasku memandangiku dengan expresi penasaran bercampur heran
sedang aku ,aku tak tahu expresi apa yang terlihat di wajahku saat ini yang jelas aku tahu pasti sekarang mukaku pucat sekali dengan bola mata yang bergetar karena takut.