
"WHAAAAAAAAAAAT 20 JUTA!" Teriak Hati dan pikiranku tak percaya ,sementara para pengunjung terkesiap kaget dan aku cuma bisa melongo dengan mulut terbuka lebar
" Dan sekarang kamu juga berani mengambil gebetan Monica ?" Lanjutnya dengan pandangan menuduh
Aku menyapukan pandanganku keseluruh ruangan dan aku dapat mendengar bisikan para murid yang mulai menggosipkan aku
"Wah tidak disangka ternyata dia begitu "
"Aku kira dia anak baik baik."
puluhan murid mulai saling berbisik satu sama lain, menggosipkan aku dengan tuduhan tuduhan yang tak benar dan aku hanya bisa merespon dengan nafas kegelisahan dan disaat itu genggaman tangan Javin yang sedingin es itu semakin erat membuat seluruh tulangku terasa membeku
" Merebutku?"Ucapnya sinis ," Apa kau kira aku ini barang yang bisa di perebutkan , aku ini _" Sejenak dia terlihat ragu " Aku ini bukan barang yang bisa di perebutkan oleh orang , aku punya hak memilih siapa yang aku mau dan aku sukai!" Tandasnya dengan suara tenang namun kata-katanya terdengar begitu tajam ditelinga
" Dan Kau Monica ," Panggilnya membuat gadis bernama Monica mendongak pada Javin
" Aku sama sekali tidak pernah menganggap kamu lebih dari seorang sahabat."Ucapnya tanpa rasa bersalah
"Apakah karena -?
" Ya benar." Jawab Javin memotong sembari mempererat rangkulan tangannya di pundakku ,merapatkan pinggangku ke pinggangnya dan aku yang merasa kaget hanya menoleh bingung kearah Javin dan juga Monica ,ketika mataku menoleh kearah Monica kudapati wajahnya yang penuh rasa kaget dan matanya yang di penuhi rasa sedih dan juga rasa sakit hati itu menatapku dengan tajam membuatku merasa bersalah ,dan ketika aku memalingkan muka ,Javin menoleh kearahku dan mengerlingkan mata kirinya padaku dan seketika itu rasa bersalah dan juga rasa malu yang membalut seluruh tubuh dan perasaanku lenyap bagaikan sampah terbakar api tergantikan oleh rasa amarah yang amat kuat . aku melirik tajam kearah Javin
"Keterlaluan!" Desisku dan aku melihat ada sekilas rasa kaget menyapu expresi Javin yang sebelumnya terlihat tenang , detik berikutnya aku mengangkat tanganku yang di pegang oleh Javin dan menyentakkan dengan kuat ,setelah tanganku terlepas aku mendorong Javin dengan kasar sampai dia terhuyung menabrak tepian meja dan aku langsung berlari kabur dari tempat itu .
aku berlari sepanjang lorong sekolah ,sambil berurai air mata aku tak peduli dengan pandangan heran para murid yang tidak hadir di lokasi kejadian tadi. toh aku sudah di bully dan di permalukan habis habisan tadi jadi sedikit mempermalukan diri sendiri sekali lagi tidak apa apa ,aku ingin menemukan tempat terpencil dan tersembunyi tapi aku tidak tahu dimana ? detik berikutnya saat aku berbelok ke arah kanan
" Bruk!" Terdengar suara berdebum benda jatuh dan akupun juga terjatuh rasanya sakit sekali , aku berusaha bangun saat sebuah bentakan menyambutku
" MURID ANZI! " Terdengar suara cempreng Pak Gofi di depanku " Dasar kau ya tidak sopan beraninya kau berlari -lari di koridor sekolah sampai menabrak guru " Tegur Pak Gofi
" M mmaafkan saya !" Ucapku gugup
" Bukankah Kau sudah tahu kalau di sekolah dilarang lari lari di koridor dan bla bla bla" Pak Gofi mulai mengoceh tak karuan hanya untuk menasehati aku , kalau hanya semenit aku mungkin bisa menerima tapi ocehan itu terus berlanjut membuat kepalaku pusing mendengarnya
" Hah Apa?" Tanya Pak Gofi tidak paham
" Aku bilang Hentikan ocehan bapak!" Bentakku dengan suara keras , aku mengangkat wajahku yang penuh amarah kearah wajah Pak Gofi yang kini berdiri terpaku di depanku wajahnya terlihat pucat dan sedikit shock mungkin dia kaget mendapat bentakan dari murid pendiam sepertiku ,matanya melotot kearahku " kau ...," Panggil Pak Gofi dengan expresi tidak percaya
" Apa?" Tuntutku ketus dengan expresi tidak suka karena ingin segera menghindari kejadian ini . tiba-tiba saja aku melihat wajah Pak Gofi mengernyit membuatku heran ,
" Kenapa expresi Pak Gofi terlihat aneh begitu ?"Tanya pikiranku heran
" Apa ada yang salah dengan kita?" Ujar Hatiku tak mengerti
kami terpaku tak mengerti melihat expresi pak Gofi yang terlihat aneh itu ,dia seperti kelihatan jijik sekal .detik berikutnya barulah aku mengerti
" ASTAGA MURID ANZI ,KENAPA PENAMPILANMU JADI BERANTAKAN BEGITU !" teriaknya mengeluh dengan suara cemprengnya membuatku langsung menundukkan kepala untuk melihat penampilanku sendiri dan
" Astaqfirullah benar juga!" Kata Pikiranku
" Kita berantakan !" Sambut Hatiku
" DAN JUGA BAU !" Sahut Pak Gofi membuat hati dan pikiranku melonjak kaget dan aku membeku ditempat ,berpikir apakah Pak Gofi bisa mendengar suara hati dan pikiranku
" Pak Gofi apakah anda -?"
" Sudah sudah cepat pergi ke kamar kecil bersihkan dirimu ! Suruh Pak Gofi sembari berbalik membelakangiku
" Baik!" Jawabku lemah karena malu menyadari kalau apa yang dikatakan Pak Gofi benar semua , aku berlalu pergi menuju kamar kecil yang terletak di ujung sebelah kanan tempat khusus wudhu mushola sekolah . , dengan cepat aku mendorong pintu berwarna kuning mentah dengan
'tulisan kamar kecil murid perempuan'
aku disambut oleh ruangan berbentuk persegi kotak , di depanku berjajar enam pintu kamar mandi bercat biru muda dan disebelah kiri terletak sebuah wastafel kecil warna putih dengan sebuah cermin ukuran 6x12 terletak di depan wastafel . aku beruntung aku hanya sendirian di situ tak ada yang menyaksikan aku yang berpenampilan berantakan ini , aku berjalan menuju ke depan wastafel dan berdiri memandang cermin tapi tiba-tiba telingaku mendengar langkah kaki , bukan milik satu orang tapi sepertinya milik beberapa orang ,dan langkah kaki itu terdengar mendekat kearah kamar mandi , aku terpaku sesaat melihat kedepan cermin kebayangan pintu utama kamar mandi yang belum terbuka seperti menunggu kepastian apakah langkah -langkah orang itu akan menuju kamar mandi , saat kedua bola mataku melihat handle kamar mandi bergerak - secepat kilat aku meluncur kesalah satu kamar kecil dan masuk kedalamnya untuk bersembunyi