
..
Aku terpekur duduk di depan cermin rias buram memandangi bayangan diriku yang lain daripada biasanya ,sementara Bu Dewi mencoba merias wajahku yang lain ,yang sudah aku pikir terlihat cantik tanpa polesan make up ,
" Apa benar perempuan dalam cermin itu kita?" Tanya Hatiku tak percaya
" Aku juga tak tahu ." Jawab Pikiranku bingung
"Tidak mungkin " Gumamku tak percaya , Aku memejamkan mata mencoba membandingkan sosok gadis yang ada dicermin dengan sosok asliku
sangat berbeda , benar-benar berbeda aku menggelengkan kepalaku sambil memejamkan mata .dan ketika aku membuka mata
" Ini ?" Aku terkesiap kaget saat mendapati sebuah lampu neon menyala di atas tempat tidurku , Aku menoleh ke kanan dan kekiri ,memutar keseluruh pandanganku ke seluruh ruangan , semua terlihat putih , kelambu putih dan juga dua tempat tidur bersprei putih dan juga bau obat yang keluar sela sela lemari kaca obat
"UKS!? " Gumamku bingung dan entah kenapa ada sedikit rasa kecewa saat mengetahui apa yang terjadi padaku barusan hanya mimpi belaka , aku mengatur nafasku agar jantungku yang berdebar kencang karena mimpi itu tenang kembali
Aku mencoba bangun tapi tidak beranjak dari tempatku tidurku ,pikiranku masih terbayang- bayang akan mimpi tadi dan rasanya mustahil jika gadis yang di panggil ndoro ayu di mimpi ku itu adalah aku sendiri walaupun ku akui wajah kami di lihat sekilas sangat mirip tapi , kami sungguh berbeda 180' derajat bagaimana tidak? dia berambut panjang ,hitam bergelombang sebatas pinggang , sedang aku lurus ,agak keoranyean ( akibat sinar matahari) sebatas bahuku , matanya lebar tidak memakai kacamata sedang aku lebar tapi memakai kacamata , ,kulitnya kuning langsat khas indonesia ,sedang kulitku bisa dibilang sedikit coklat kemerahan ,untuk hidung kami sama - sama punya hidung yang tidak terlalu mancung dan bibir kamipun sama sama kecil tapi penuh ,jadi mustahi gadis itu adalah aku ?
" Ayo cepetan Dit , Angkotnya keburu pergi !"
Tiba- tiba aku mendengar sebuah suara dari arah luar UKS
" Angkot, kenapa mereka takut angkotnya pergi ?" Pikirku heran . perlahan aku turun dari tempat tidurku dan berjalan menuju jendela yang terletak di samping belakang tempat tidurku,
" Hah ?" Aku membelalak tak percaya saat melihat suasana di luar UKS , cahaya mentari hampir redup dan terlihat puluhan murid keluar dengan tergesa -gesa dari kelasnya masing -masing berlarian ke arah lapangan yang menuju pintu pagar utama sekolah
" Apa ini sudah jam pulang ?" Tanya pikiranku heran
Aku menoleh ke arah jam dinding yang terletak di tembok sebelah pintu masuk UKS ,
" Hah sudah jam 3 sore ,kenapa tidak ada yang membangunkanku ?" Teriak Hatiku kesal
Aku berjalan kearah pintu masuk UKS
" BRAK ! Aku terperanjat kaget ketika tiba-tiba saja pintu masuk UKS yang aku tuju untuk keluar terbuka dengan kasar
"Anzi ,apa kamu masih disini?" Tanya biang kerok yang membuatku kaget tadi siapa lagi kalau bukan Javin
Dia terlihat cemas saat menatapku tapi aku membalas tatapannya dengan raut wajah cemberut
" Ada apa?" Tanya Javin bingung
" Kau membuatku kaget tahu?!" jawabku ketus sambil keluar dari kamar UKS ,kebetulan Javin masih memegang gagang pintu UKS yang terbuka jadi tidak repot untukku menutup pintu UKS ,aku berjalan menuju kelas dengan cepat untuk mengambil tasku lalu keluar lagi , aku berjalan menuju kelapangan parkir yang lumayan sedikit jauh dari kelasku hampir 15 km,perlu melewati ruang UKS ,perpustakaan dan ruang guru untuk sampai kesana
tapi "A apai ni?" Aku membeku di tempat dengan mata dan mulut terbuka , karena tidak percaya dengan apa yang aku lihat, bagaimana tidak , sepeda ontelku yang baru dua minggu keluar dari tempat reparasi sepeda di kampungku kini tergolek lemah tak berdaya di lantai parkiran dengan body yang berantakan , di mana setang sepedaku copot hilang entah kemana?
" Ada-apa Anzi ?" Tanya Javin yang baru muncul di sampingku , aku tak menyadari kehadirannya , karena hati dan pikiranku terpaku pada kemalangan sepedaku
" Anzi ..sepeda mu?" Sepertinya Javin menyadari kenapa dari tadi cuma berdiri terdiam dengan tubuh gemetaran karena menahan ,kemarahan yang bercampur dengan kesedihan luar biasa , bagaimana tidak sepeda ontel itu adalah hadiah ulang tahunku dari Ayah dan sekarang keadaannya jadi begini , aku berjongkok mengelus sepedaku ontelku yang malang
" Keterlaluan !" Gerutuku dengan suara parau menahan air mataku agar tidak tumpah,aku berusaha membuat sepeda ontelkku berdiri tegak dengan memegang bagian sadel dan juga tempat duduk untuk penumpang bagian belakang , sepedaku bisa berdiri tegak ,tapi kelihatan sangat aneh tanpa adanya setang kemudi
" Kenapa ,siapa yang tega melakukan hal ini ?" Gumam pikiranku tak mengerti
" Kalau Ayah tahu hadiah sepeda darinya rusak begini ,pasti hatinya sedih sekali ." Ucap Hatiku sedih
" Betul , dia pasti sedih sekali ." Kata PIkiranku
" Terus apa yang harus kita lakukan?" Tanya Hatiku bingung
" Tidak mungkin kita pulang seperti ini ?" UJar pikiranku juga bingung
" Apa yang harus aku lakukan ?" Gumamku sedih juga bingung
" Anzi ..Anzi .." Javin memanggilku
" Apa?" Tanyaku sedikit ketus karena entah kenapa aku sedikit merasa terganggu dengan kehadiran Javin ,
bukan karena aku tidak suka dengannya ,hanya saja saat ini jujur aku merasa malu sudah dua kali dia melihatku terpuruk begini ,pertama di kantin dan sekarang dilapangan parkir dan juga
" Bagaimana kalau kamu aku antar pulang?" Tawar Javin tiba-tiba kepadaku , yang membuatku langsung menoleh padanya dengan expresi tidak percaya
" Apa , berani sekaii dia , setelah perbuatannya di kamar mandi tadi ?" Geram Pikiranku
" Tapikan perbuatannya itu romantis " Ujar Hatiku tersenyum mengingat kejadian di kamar mandi
" Romantis ,gundulmu !" Sergah Pikiranku jengkel
" Bagaimana Anzi ?" Tanyanya memastikan
" Tidak !" Tolakku
" Bukan Urusanmu !" Jawabku ketus
aku merogoh saku spanku , -kosong - memeriksa dan mencarinya di dalam tasku ,berulang kali tetap saja Hp yang baru di belikan Ayah tiga minggu lalu tidak ada ,
setelah aku menghilangkan HP lamaku gara -gara si Gembel misterius yang aku iseng aku photo di rimbunan pohon tebu iku ,baru tiga minggu beikutnnya Ayah punya uang cukup untuk membelikan aku hp ,walaupun hp second tapi masih layak pakai , tapi walaupun layak pakai , sekarang HP itu tidak bisa aku pakai karena ketinggalan
" Ugh!" Aku mengerang kesal dan mendongak keatas langit ,mencoba menahan air mataku yang hampir tumpah karena rasa kesal ,dan "Gludug"terdengar suara gemuruh gludug di atas langit yang dimana awan hitamnya mulai berarak untuk bersatu ,sepertinya mereka mau menumpahkan hujan hari ini
"Sepertinya mau turun hujan." Tebak Javin
" SRRRR!"bukan mau turun lagi tapi sudah turun walaupun yang turun masih sebuah gerimis
Aku terpaksa melepas sepeda yang aku pegangi tadi dan berlari kecil menuju tempat parkir kendaraan para Guru yang punya atap pelindung untuk berlindung dari serangan gerimis
Javin mengikutiku juga , kami berdua kini berdiri di dalam area parkiran kosong tempat kendaraan para guru . entah kenapa hanya tempat parkir para guru yang di beri atap pelindung memangnya hanya kendaraan para guru yang perlu perlindungan dari sengatan matahari atau guyuran air hujan
benar -benar rasis?
hujan mulai turun dengan deras di depan kami ,suasana cuaca menjadi dingin Javin dan aku berdiri berdampingan ,suasana terasa canggung, perlahan aku bergeser kesamping kiri sedikit menjauh dari Javin , dan Javin melirikku tapi tidak mendekatiku syukurlah . aku melihatnya merogoh saku celananya dan ternyata dia mengambil handphone , sepertinya dia sedang menerima telepon. aku tidak bisa mendengar dia bicara dengan siapa dan sedang bicara tentang apa , suasana hujan yang deras membuat sekeliling jadi terasa berisik ditelinga , aku bersandar di tiang penyangka atap sembari bersedekap ,menahan rasa dingin ,
tidak lama kemudian mungkin 15 menitan aku melihat ada sebuah mobil honda brio warna putih memasuki kawasan lapangan sekolah , mobil honda brio tersebut mendekat kearah lapangan parkir , tapi tidak bisa memasuki tempat parkir para guru yang di khususkan untuk kendaraan roda dua saja ,lalu aku melihat ada sang supir keluar dari tempat kemudi sambil memakai payung hitam yang ukurannya lumayan lebar ,dia berjalan kearah Javin
" Den Javin .."Sapanya dengan sopan ,
Javin mengangguk dan mengambil payung yang di pegang sopir itu . dan dia berbalik ,berjalan kearahku
" Ayo !" Tawarnya
" Tidak ,aku nunggu hujan reda saja ." Tolakku halus
" Terus setelah hujan reda , bagaimana caramu pulang ?" Tanyanya
" Ya naik angkotlah." Jawabku cepat
" Tapi Anzi ,ini daerah kecil juga terpencil hanya satu dua angkot yang beroperasi di daerah sini , kau harus menunggu setidaknya setengah jam untuk bisa naik angkot ." Ingatnya membuatku sedikit kesal mengingat kenyataan itu
" Sudah lebih baik terima tawarannya saja ." Ujar Hatiku
" Apa menerima tawaran dari si ketua kelas .tidak tidak !" Tolak Pikiranku
" Kenapa tidak ?"Tanya Hatiku tak mengerti
" kenapa tidak?"Tanya Hatiku heran
" Ugh ,apa kamu tidak ingat yang dilakukannya beberapa waktu lalu di kamar mandi ?" Tanya pikiranku kesal
" Ingat kok , bahkan aku masih ingat kelembutan bibirnya saat menciumku ." Ujar hatiku sambil senyum senyum sendiri
" Dasar kau ini , apa kau tidak takut kalau dia melakukan hal seperti itu lagi didalam mobil ?" Tanya Pikiranku kesal
" Memang kenapa , daripada kita tidak pulang -pulang dan membuat Ayah khawatir ?" Tukas Pikiranku juga kesal
Benar juga kata hatiku , ini bukan saatnya memikirkan perbuatan buruk Javin padaku di kamar mandi beberapa waktu lalu ,yang harus aku utamakan adalah aku harus pulang cepat dan selamat agar Ayah tidak khawatir
" Baiklah ." Jawabku pada akhirnya ,
" Ayo !" Javin hendak menawarkan untuk memayungiku tapi aku menolak dengan berlari lebih dulu ke mobil brio itu sementara sang supir sudah ada di belakangku ,membantuku membuka pintu ,
2 menit akhirnya kami semua sudah masuk kedalam mobil tersebut , jujur ini pertama kalinya aku naik mobil mewah seperti ini dan harus kuakui sangat nyaman tapi juga membuat canggung , sebisa mungkin aku duduk di ujung jok penumpang sebelah kanan
aku tidak bersandar untuk menjaga agar jok mobil ini tidak basah akibat seragam dan rambutku yang basah akibat air hujan , aku tahu kemeja seragamku kini terlihat tembus pandang akibat guyuran air hujan ,jadi aku memeluk tasku di depan dadaku untuk melindungi tubuhku dari pandangan yang memalukan dari Javin dan sopirnya juga dari rasa dingin
" Pak Bram tolong nyalakan penghangat mobilnya .!" Perintah Javin pada sopirnya yang bernama Bram
" Baik Den !" Jawab Pak Bram ,langsung menuruti perintah Javin dan seketika itu suasana mobil jadi hangat
dan aku tidak menggigil lagi , kami tidak bicara selama perjalanan , tenggelam dalam pikiran masing -masing . entah apa yang di pikirkan oleh Javin?
kalau aku sih jelas ,aku memikirkan cara melindungi diri jika Javin melakukan hal gila seperti di kamar kecil sekolah ,tapi itu tidak mungkin terjadi karena di mobil ini ada sopirnya, aku menoleh kearah jendela kaca mobil di sampingku,terlihat pohon -pohon yang ada di hutan kecil daerah itu terlihat berjalan mundur dengan cepat
" Ah .." Aku meraba bagian tengkuk leherku entah kenapa tiba-tiba saja seluruh bulu kudukku meremang , dan isi perutku bergejolak tidak karuan , aku merasa seperti ada yang mengawasiku dari arah dalam hutan yang gelap itu
" Ada -apa Anzi ?" Tanya Javin dengan nada khawatir
" Tidak apa -apa ." Jawabku bohong ,aku berusaha bersikap tenang di depan Javin walau perasaanku gelisah
" Oh, ya Anzi ,ngomong -ngomong rumahmu ada dimana ya ?" Tanya Javin tiba -tiba membuatku langsung menoleh kaget kepadanya .