My Beautiful Elf

My Beautiful Elf
Episode 9



"Kau ini tenang saja, aku tidak akan melakukan apa pun kepada, Auris."


"Beraninya kau langsung memanggil nama tuan putri!"


"Sir Teh, tenang dulu."


"Sir Teh? Teh poci atau teh apaan?" Batin Erol.


Auris masih menghalangi Sir Teh untuk menyerang Erol. Sampai Cabel muncul dan membereskan semuanya, termasuk masalah Erol dan Auris.


"Aiya, bukan kah tuan Putri Auris adalah majikan mu? Lalu bagaimana caranya kau bisa membantah majikan mu? Bukankah itu bisa di sebut pemberontakan?"


Deg, Sir Teh mulai tersadar jika yang di katakan Cabel ada benarnya dan memang benar. Di dunia Elf, aksi pemberontakan tidak cukup hanya di hukum gantung saja.


"Tuan Putri Auris, saya minta maaf atas karena tidak mendengarkan perkataan Anda."


"Tidak apa- apa, Sir Teh. Erol, apa kau baik- baik saja?"


"Kau bisa melihat kondisi ku sekarang bukan?"


"Tapi tidak semua hal bisa di lihat menggunakan mata saja." Ucap Auris.


"Sudahlah, kita lebih baik istirahat saja, yuk." Ajak Cabel.


Semua orang mengangguk, karena Auris adalah putri, tentu ia akan di kawal banyak sekali prajurit. Sementara Erol yang berada di kamar yang tidak jauh dari Auris terus merasa gelisah.


"Kenapa aku tambah lama tambah merasa ada firasat buruk yang sebentar lagi akan datang, ya?"


Erol membalikan badan ke arah sebaliknya dengan guling yang di peluknya. Maklum jomblo or single, cuma bisa peluk guling sejak lahir ke dunia lagi.


"Semoga ini cuma firasat ku semata saja."


Keesokan paginya, tidak tahu kena angin apa, Erol bangun pagi- pagi sekali. Sekitaran jam tiga pagi, setelah Erol bangun, ia keliling tempat itu untuk memastikan sesuatu.


Apa lagi kalau bukan untuk memastikan keamanan untuk Auris. Ah, memang lelaki idaman itu cuma lelaki yang di novel, manga, dan haluan aja.


"Aku harap aku tidak di anggap mata- mata musuh nanti."


Tanpa Erol sadari, ternyata ada sesuatu yang terus mengikuti dan melihat gerak- geriknya itu. Sadar ada yang mengikuti, Erol terus menerus melihat ke belakang.


"Siapa itu? Cepat keluar atau aku yang akan ke sana dan menangkap mu!"


Set, orang itu pun keluar, betapa terkejutnya Erol mengetahui kalau yang mengikutinya itu tak lain adalah Auris. Saat itu Auris menggunakan pakaian tidur dengan membawa sehelai selendang.


"Auris, kenapa kau keluar tanpa penjagaan?"


"Aku hanya mau mencari angin segar saja, kok."


"Tapi keluar tanpa pengawal itu namanya tetap gegabah, Auris."


"Iya, iya, aku minta maaf."


Erol memalingkan wajahnya, ia tidak mau di salah pahami lagi kalau misalnya Auris menangis atau melakukan apapun yang berkaitan dengan dirinya.


Sayang sekali, tapi hal itu sudah terjadi. Wajah Auris terlihat amat murung, di balik wajahnya, banyak sekali rasa bersalah, takut kehilangan dan berbagai hal yang membuat khawatir.


"Apa, kau marah karena masalah kemarin?" Tanya Auris.


"Hah?"


Seketika Erol langsung membalikan kepala dan menatap wajah Auris. Huh, wajah Auris benar- benar sangat sedih, Erol menepuk jidatnya sambil menghela napas ringan.


Erol kemudian mengelus kepala Auris dengan lembut. Sekalian mencari kesempatan dalam kesempitan mumpung para prajurit pelindungnya tidak ada.


"Bukan begitu, aku hanya tidak tahu harus berkata saat bertemu dengan mu setelah kejadian itu. Jadi, jangan sedih, ya."


"Aku, aku ingin minta maaf karena kemarin aku salah paham dan menuduh mu yang bukan-bukan."


"Tidak apa- apa, lagi pula aku juga pasti akan melakukan hal yang sama kalau aku ada di posisi mu."


"Erol, terima kasih sudah mengerti."


"Iya, santai saja."


Satu menit, dua menit, lima menit, suasana di sekeliling Erol dan Auris mendadak menjadi sangat canggung. Erol hanya diam sambil sesekali bersiul.


"Em, Erol."


"Ya? Ada apa?"


"Eung, aku, sih, mau olah raga agar tulang- tulang ku remuk."


"Lah, kok, malah kepengen tulangnya remuk?"


"Iya, dong, biar aku bisa denger bunyi 'krerek' hehe."


"Kau konyol."


Erol hanya tersenyum saja mendengar perkataan Auris saat itu. Karena tidak mungkin, kan, Erol memberitahu hal sebenarnya kepada Auris, apa lagi keadaannya cukup labil saat ini.


"Woi, kalo mau bermesraan di kamar saja sana."


Set, kepala Erol dan Auris menatap ke arah suara itu berasal. Mereka berdua tersenyum lega dan senang, walau setelah itu mereka tersadar akan perkataan orang itu tadi.


"Cabel?!" Teriak Erol dan Auris.


"Tunggu, apa maksud mu dengan kata- kata bermesraan tadi?" Tanya Erol mulai gelagapan.


"Kenapa? Memangnya aku salah perkataan?"


"Mungkin." Jawab Auris singkat.


"Kalau begitu baguslah." Ujar Cabel.


Ha?


Erol dan Auris melongo mendengar perkataan Cabel barusan. Sebenarnya apa yang ada di pikiran anak itu coba? Bagus? Apanya yang bagus?


"Apa maksud mu?" Tanya Auris.


"Iya, benar, mending salah perkataan dari pada salah menaruh rasa suka dan di tinggalkan begitu saja bukan?"


"........."


"Sebenarnya apa, sih, yang di ajarkan dunia ini kepada anaknya?" Batin Erol.


Tap, tap, tap, di tengah perbincangan mereka, ada suara langkah kaki yang semakin lama semakin keras. Benar saja, ternyata si perusak suasana di eps sebelumnya.


"Tuan putri, kenapa tuan putri tiba- tiba keluar dari kamar?!"


Siapa lagi kalau bukan salah satu prajurit Kerajaan Elf yang menyebalkan. Sudah mengganggu suasana tidak minta maaf lagi. Benar- benar keterlaluan.


"Sir Teh? Apa yang Sir Teh lakukan di sini?" Tanya Auris.


"Woi, Teh Poci, lu bisa nggak, sih, menetap di satu tempat aja."


Ekhem, kaya kamu yang kalau punya aku jangan ada dia. Kalau ada dia jangan ada aku, ea. Kalau enggak kaya bukti kesetiaan dengan tetap di satu hati dan jangan sampai pergi.


Bucin lagi, oy🤣


"Maaf, tapi, dari mana kau tahu nama lengkap ku?"


Gubrak, Erol seketika terjatuh di lantai, hidungnya meneteskan darah. Auris seketika terlihat sangat khawatir, ia langsung membantu Erol berdiri dan mengusap darahnya.


"Makanya jangan aneh- aneh." Ucap Auris.


"Terima kasih, dan aku juga minta maaf."


"Tidak apa- apa."


"Ngomong- ngomong, kata Teh Poci itu adalah, namamu?!"


"Iya, memangnya kenapa dengan nama itu?"


Sir Teh Poci itu menatap Erol polos seperti tatapan anak kecil. Erol hanya menepuk jidat sambil mendengus kasar, Cabel hanya diam saja tahu apa yang di pikirkan Erol.


"Astaga naga, apa semua orang di dunia Elf itu polos- polos, ya?" Batin Erol.


"Ekhem, hanya menebak saja."


"Tapi, kenapa orang tuanya menamainya Teh Poci, ya? Apa gara- gara orang tuanya suka ngidam Teh Poci? Tapi masa gitu, sih?" Batin Erol.


"Apa benar hanya tebakan beruntung saja?" Tanya Sir Teh Poci curiga.


"Apa yang orang tua ini inginkan, sih?!" Batin Erol.


BERSAMBUNG~