
"Sudahlah, mungkin itu memang hanya tebakan beruntung saja, Sir Teh." Ucap Auris.
"Maaf, kan, saya tuan putri. Tapi kalau berkenan, mohon panggil saja nama saya."
"Em, baiklah, Teh. Kau bilang kalau kau akan memperkenalkan ku pada orang- orang di sini, kan?"
"Ah, benar tuan putri, mari ikuti saya."
Auris dan Erol pun mengikuti Sir Teh Poci menuju ke tengah ruangan. Tempat bertemunya Auris dan Erol kepada para penghuni kediaman itu.
"Jadi, di mana mereka, Teh?" Tanya Auris.
"Tah, teh, tah, teh, mulu dari tadi. Lama- lama Gw ngidam teh poci tanggung jawab, lo." Batin Erol.
"Bersabarlah, tuan putri. Sebentar lagi mereka akan datang."
Tap, tap, tap, suara langkah kaki yang menuju ke arah mereka pun terdengar. Ternyata ada banyak sekali penghuni kediaman bawah tanah yang bisa di bilang kotor itu.
Set, mereka semua menunduk ke arah Auris dengan penuh rasa hormat. Erol hanya diam saja tidak mau mengikuti apa yang mereka lakukan kepada Auris.
"Kami memberi salam kepada bunga cahaya kerajaan Elf, tuan putri Auristela Deolinda Furdiana Zanitha Beatarisa."
"Astaga naga, nama panjangnya Auris bahkan sampai di sebut coba!" Batin Erol.
"Em, terima kasih, aku mohon kepada kalian untuk berdiri sekarang."
Set, orang- orang itu menuruti perkataan Auris dan segera berdiri. Tapi mereka masih dalam posisi menghormati Putri kerajaan mereka dengan sangat antusias.
"Lalu, tuan putri Auris, apa yang akan kita lakukan?"
Auris terdiam seribu bahasa, dia terlalu sering bersama Erol sampai lupa keadaan kerajaan Elf dan tanggung jawabnya sebagai putri dan sebagai pengganti raja dan ratu yang di culik.
"Tentu saja, kita akan melawan mereka dan membebaskan raja dan ratu kerajaan Elf!"
"Yyyyyyyyyyaaaaaaaaa!!!"
Suara para pengikut Auris benar- benar sangat menggema. Bahkan tanah dan dinding hampir runtuh karena teriakan mereka yang sangat kuat nan dahsyat.
Set, sekarang Auris duduk di depan meja bersama para pengikutnya untuk membahas tak tik penyerangan. Keadaan nampak sangat hening, Erol saja sampai bergidik ngeri.
"Sir Teh, apa kau sudah membawa barang yang aku minta?" Tanya Auris.
"Ya, tuan putri Auris. Kami membawanya, ada peta, pensil, penggaris dan yang lainnya."
"Bagus."
Set, Auris berdiri dengan percaya diri, seketika aura kharismatik dan elegan dari Auris terpancar kan. Erol merasa sangat takjub akan perubahan drastis dari Auris.
Bahkan pipinya agak memerah karena saking kuatnya aura milik Auris. Kalau di pikir- pikir memang hal seperti itu harus di milik setiap Putri, sifat kharismatik dan aura yang membedakan mereka dengan putri lainnya.
"Kau bilang jika kerajaan para pemberontak itu ada di tengah kerjaan Elf dan kerajaan Siluman?"
"Benar, tuan putri. Letaknya juga cukup Strategis, kerajaan itu di kelilingi danau yang sangat dalam. Selain itu pasti juga akan banyak hewan mengerikan di dalamnya."
"Kalau begitu pasti akan sulit untuk menyerang. Ah, aku tahu, begini saja pasti bisa."
Auris nampak sangat bahagia, sepertinya dia memiliki ide yang amat sangat cemerlang. Diam- diam Erol tersenyum menatap Auris karena sikap Auris yang terlihat sangat dewasa.
"Heh, dia memang penuh dengan kejutan." Batin Erol.
Keesokan harinya, Auris memerintahkan para pengikutnya untuk diam- diam mengambil senjata di kerajaan Elf maupun senjata para pemberontak itu pada malam hari.
Mirip- mirip tak tik Indonesia pada masa kolonial Belanda dulu, kalau nggak salah teknik sumpit. Saat di rasa senjata dan perlengkapan sudah cukup, tau kan setelahnya apa.
Ya, waktunya perang, tawuran, dan baku hantam di mulai. Auris menggunakan pakaian perang berwarna putih lengkap dengan baju besi.
Sementara Erol menggunakan yang mirip dengan prajurit lainnya. Senjata para Elf memang sangat menarik, ada panah tidur(semacam obat bius).
Panah naga api, bom bulu merak, seruling tidur, bunga halusinasi, buku penculik, dan lain sebagainya. Mereka pun bergerak menuju kerajaan para pemberontak dengan hati- hati.
"Aku harap, semuanya akan baik- baik saja." Batin Erol dan Auris di waktu bersamaan.
"Tuan putri Auris, sebentar lagi kita akan sampai di kerajaan musuh." Ucap Sir Teh.
"Baiklah, semuanya, tingkatkan kewaspadaan dan penjagaan kalian!"
Tap, tap, tap, pelan tapi pasti, Auris sedikit demi sedikit berjalan dengan penuh kehati-hatian. Tapi bukan pindah hati ke orang lain, kalau itu jangan sampai, deh.
"Tuan putri, kita sudah sampai."
"Baiklah, ayo semuanya!"
"SERAAAAAAANNNNNNNGGGGGG!!!!!"
"HIAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHH!!!!"
"ASIIIIIIIIIIAAAAAAAAPPPPPPP!!!!!!" (Attha Halilintar)
Tes, tap, tes, semuanya berlarian di atas air untuk menyerang. Di dunia peri, ada sebuah bahan atau alat yang dapat membuat orang yang memakainya dapat berjalan di atas air.
Zrash, sring, trang, tring, suara pedang terdengar u amat membahana. Auris berada di bagian depan dan tentu ia ikut memenggal dan membunuh para pemberontak itu.
"Auris, apa kau yakin tidak terlalu memaksakan diri?" Batin Erol.
Diam- diam di belakang, Erol selalu mengikuti Auris untuk menjaganya agar dia tetap aman tanpa tergores sedikit pun. Sebaliknya, Erol malah terpana dengan kehebatan Auris.
Teknik pedangnya, benar- benar sangat lincah, anggun, hebat, benar- benar tidak bisa di tidak bisa di deskripsikan menggunakan kata- kata. Yang pasti, itu sangat hebat.
"Kalau tahu begini, aku akan lebih sering berlatih pedang secara sembunyi-sembunyi dulu!" Batin Auris.
"Bukankah dia Putri kerajaan? Tapi kenapa dia sangat hebat dalam hal pedang?" Batin Erol.
Tap, tap, tap, Auris berhasil lolos dari kepungan para pemberontak itu dan mulai berlari masuk ke dalam kerajaan mereka, membunuh raja mereka dan menyelesaikan perang ini.
"Auris, apa rencana mu kali ini?" Batin Erol yang masih mengikuti di belakang.
Tap, tap, set, Auris mendekatkan dirinya ke dinding dan mencoba mengawasi situasi saat itu. Ck, terdengar suara decakan sebal dari mulut Auris.
"Penjaganya banyak sekali!" Batin Auris.
"Aku akan mengatasinya."
"Ah! Kau-"
Set, sebelum selesai bicara, Erol menutup mulut Auris menggunakan tangannya dan menyeret Auris ke dalam pelukan. Mata Auris terbelalak sempurna karena perilaku Erol.
"Em!"
Sret, Erol menurunkan tangannya sambil mengawasi suasana. Deg, deg, deg, jantung Auris seketika terpacu sangat cepat, rasanya seperti terkena serangan jantung.
"Erol, kenapa kau di sini?"
"Tentu saja untuk membantu mu, bodoh."
"Apa, apa yang kau lakukan?"
"Berikan aku panah."
"Ha?"
"Sudah berikan saja."
Wush, Auris menyatukan tangannya seperti berdoa dan seketika senjata panah pun keluar di hadapan Auris. Sret, Auris pun memberikan panah itu kepada Erol.
"Ini panah yang kau minta."
"Terima kasih."
Set, tanpa sengaja, tangan Erol menyentuh tangan Auris dan membuat jantung Auris kembali berdetak sangat kencang. Auris pun mendekatkan dirinya ke dekat Erol.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku. Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan menembak jatuh mereka."
BERSAMBUNG~