My Beautiful Elf

My Beautiful Elf
Episode 8



"Kumohon percayalah pada saya, tuan putri."


"Baik, kami percaya pada mu. Tapi, apa ada tempat yang lebih aman?" Tanya Erol.


"Ya, ada, ikut lah dengan saya."


Erol masih terlihat waspada, sepertinya ia masih tidak percaya pada orang yang mengaku sebagai prajurit Kerajaan Elf itu. Auris menggenggam tangan Erol dan membuat Erol menoleh.


"Tidak apa- apa, kita bisa percaya padanya."


"Kalau begitu Baiklah, tapi tetap waspada apapun yang terjadi."


"Iya."


Auris tersenyum dan itu membuat perasaan Erol sedikit lega. Mereia berdua pun mengikuti salah satu prajurit Kerajaan Elf itu ke tempat rahasia tersembunyi kerajaan Elf.


Tentu saja mereka menggunakan jubah atau hal lainnya yang membuat mereka tidak ketahuan atau di curigai. Sepanjang perjalanan, Erol terus melirik ke kanan dan ke kirinya.


"Hei, kita ada di mana?" Tanya Erol lirih.


"Tenanglah, sebentar lagi kita akan sampai."


"Kau tidak akan mengkhianati kami dan membawa kami ke sarang musuh, kan?"


"Erol!"


Auris berteriak karena merasa bersalah Erol sudah menuduh yang tidak- tidak. Erol berdecak sebal, dia kesal karena Auris malah lebih mempercayai orang lain dari ada dia.


"Mck, menyebalkan."


Auris menghela napas berat, ia sadar kalau Erol pasti sedang kesal dan marah atas sikapnya barusan. Tapi apa boleh buat, sikap Erol tadi juga di nilai kurang sopan.


"Tidak apa- apa, tuan putri. Wajar jika teman anda mencurigai saya."


"Ah, tidak, seharusnya saya yang minta maaf karena teman saya yang kurang sopan tadi."


"Cih."


Erol membuang muka sebal, sekarang Auris tambah bingung. Di sisi ini Erol dan di sisi lain prajurit Kerajaan Elf yang berniat membantu mereka agar tetap aman.


"Beraninya dia, padahal aku selalu saja membantunya. Tapi dia ternyata tidak pernah sedikit pun percaya pada ku!" Batin Erol.


Sesampainya di tempat yang tertuju, Erol sedikit bernapas lega karena mereka tidak di bawa ke sarang musuh. Tapi kemungkinan juga, ini hanya jebakan agar mereka percaya dan tidak curiga.


"Tuan putri, Anda istirahat saja terlebih dahulu. Besok saya kenalkan pada teman- teman saya yang masih bertahan."


"Baiklah, terima kasih banyak."


Prajurit Kerajaan Elf itu meninggalkan Erol dan Auris berdua. Nampak wajah Erol yang masih kesal dan tidak ingin diajak bicara siapapun. Tak terkecuali Auris yang masih merasa tidak enak.


"Lihat kan, dia tidak mengkhianati kita."


"Siapa yang tahu itu mungkin hanya tak tik saja agar kita lengah."


"Erol! Kenapa kau tidak percaya padanya dan terus mencurigainya, sih?!"


"Kita datang ke sini dalam keadaan kerajaan mu hancur. Siapa pun bisa berubah dalam keadaan itu, entah di ancam atau yang lainnya!"


"Tapi itu tidak sopan! Masa cuma sekali bertemu kau langsung membenci dan menganggapnya musuh?!"


"Auris, jangan bodoh, kau itu tidak akan tahu seberapa kejamnya dunia ini!"


"Dan kau tidak tahu seberapa terlukanya aku saat kau tidak mempercayaiku!"


Deg, Erol terkejut, bagaimana bisa Auris berkata seperti itu padahal dia duluan yang tidak percaya dan memarahi Erol terlebih dahulu?!


Ya, seperti kata pepatah, perempuan itu sederhana, hanya jalan pemikiran dan moodnya saja yang belibet dan bikin pusing tujuh keliling. Bayangkan saja sendiri sana.


Erol memilih untuk menyudahi pertengkaran ini, karena dia tahu, kalau dia sudah angkat bicara, maka akan ada banyak hati dan rasa sakit yang akan tercipta.


"Sudahlah, lupakan saja, berdebat dengan mu juga tidak ada gunanya."


Erol pun berbalik dan meninggalkan Auris berdiri sendirian di belakangnya. Auris menggembungkan pipi kesal dan marah karena sikap Erol yang dianggapnya egois.


"Bukan dia yang menyebalkan, tapi kau yang bodoh tahu!"


Auris menoleh ke belakang dan langsung melompat terkejut. Tiba- tiba saja Cabel berada di belakangnya layaknya hantu gentayangan yang suka mengganggu orang.


"Kau, apa maksud perkataan mu itu?"


"Kau ternyata Putri yang tidak peka, ya. Kasihan sekali teman mu yang susah payah melindungi dan mengkhawatirkan mu itu."


"Me, melindungi, dan mengkhawatirkan ku? Apa maksud mu?"


Cabel berjalan menjauh dari Auris beberapa langkah. Sampai dia melirik sedikit ke arah Auris yang memasang wajah kebingungan. Cabel tertawa kecil.


"Haish, apa kau tidak sadar? Perilakunya pada mu, kan, sudah membuktikannya."


Auris terdiam sejenak, memang benar perkataan Cabel. Selama ini, Erol selalu mendukung dan melindungi Auris walau tahu Auris bukanlah manusia dan berpotensi besar menghancurkan dunianya.


"Aih, kalian itu sangat aneh. Hanya karena kesalahan sedikit saja kau membencinya dan melupakan semua kebaikannya."


"Ya, aku rasa perkataan mu benar, aku terlalu cepat memutuskan."


"Apa kau akan diam saja di sini dan tidak akan meminta maaf kepadanya?"


"Cabel,"


"Hm?"


"Terima kasih banyak, ya, saran dan penjelasannya!"


Auris segera berlari ke arah Erol pergi tadi dengan hati yang bahagia dan riang gembira. Cabel hanya tersenyum tipis melihat kebodohan pasangan beda dunia itu.


"Huft, kalian tahu? Kalian adalah pasangan paling aneh dan bodoh sedunia." Batin Cabel.


Auris berlari dan tanpa sadar melihat Erol yang sedang termenung di dekat pintu berwarna putih. Tanpa pikir panjang, Auris langsung berteriak memanggilnya.


"Erol!"


Erol menatap Auris sekilas dan berjalan pergi menuju lorong. Auris sedikit terkejut, ia tak percaya kalau Erol akan mengabaikannya begitu saja.


"Erol, tunggu! Kumohon dengarkan aku sebentar!"


"Erol kumohon!"


Auris terus menerus meneriakkan nama Erol berulang kali sampai tenggorokannya serak. Ia menangis, tapi Erol tidak menggubrisnya apalagi hanya berbalik.


"Erol, hiks, kumohon, Erol, hiks, hiks."


Set, Erol berhenti sebentar, kemudian ia berjalan ke arah Auris tanpa ia sadari. Auris terus terisak, Erol memegang dagu Auris dan membuat Auris menatapnya.


"Kenapa, kenapa kau membuang air mata berharga mu hanya untuk ku?"


"Karena aku-"


"Tuan putri Auris!"


Seorang prajurit Kerajaan Elf berteriak, ia segera menarik tangan Auris yang sedang bersimpuh itu dan memasang posisi waspada terhadap Erol. Tatapan prajurit itu sangat tajam.


"Hei, bodoh, apa yang kau lakukan pada tuan putri Auris, hah?!"


"Tu, tunggu sebentar, ini tidak seperti yang kau bayangkan!" Teriak Auris.


"Tuan putri jangan takut, saya ada di sini jadi Anda tidak perlu berbohong untuk melindungi nyawa Anda lagi!"


"Tidak! Berhenti! Kau tidak mengerti maksud ku!"


Auris terus menerus berusaha menjelaskan kepada salah satu prajurit Kerajaan Elf itu agar tidak salah paham. Sementara di sisi lain, beberapa langkah tidak jauh dari mereka.


Cabel, yang salah satu dari anak negeri siluman itu sedang menatap pertengkaran orang- orang bodoh itu sambil mendengus dan berdecak sebal.


"Haish, kenapa harus ada nyamuk di sana, sih? Kan aku jadi gagal mendengar pernyataan cinta Auris!" Batin Cabel.


BERSAMBUNG~