My Beautiful Elf

My Beautiful Elf
Episode 5



Empat jam berlalu dan kini Auris sedang tertidur di pundak Erol. Sekarang malam pukul 21:00, semua lampu pesawat sudah di matikan. Mereka akan sampai di kota U besok.


Zhung, wush, suara pesawat akan mendarat pun terdengar. Erol dan Auris sudah sampai di kota U pukul 08:00. Auris mengarahkan tangannya ke atas menguapkan kantuknya.


Saat menoleh ke arah di sebelahnya, ia sangat terkejut. Lantaran wajah Erol saat tertidur sangat tampan dan imut. Seketika jantung Auris berdegup sangat kencang.


"Astaga, apa yang terjadi kemarin?" Batin Auris.


"Ting, tong, ting, tong, kepada para penumpang, kita sudah sampai. Di harap segera meninggalkan pesawat."


Auris pun kemudian menggoyangkan- goyangkan tubuh Erol. Set, mata Erol sedikit demi sedikit terbuka. Ia kemudian melirik ke sebelahnya menatap Auris.


"Hm, Auris? Apa kita sudah sampai?"


"Iya, kita sudah sampai."


"Em, baiklah, ayo kita ambil barang- barang kita dan turun dari pesawat."


"Baiklah."


Auris berjinjit meninggikan badan untuk menjangkau koper yang paling atas. Set, di belakangnya ada sebuah tangan yang berada satu langkah di depannya.


Dia adalah Erol, Erol mengambil koper itu dengan kalem dan tenang. Lain halnya dengan Auris, pipinya memerah malu. Auris mengarahkan tangan yang di kepalanya ke depan mulut.


"Kau ini jika tidak bisa bilang saja, jangan kau pendam begitu." Ucap Erol.


"Uh, menyebalkan."


Erol terkekeh geli sambil menahan tertawanya agar Auris tidak tambah malu. Jesh, pintu pesawat terbuka, Erol dan Auris pun segera pergi keluar.


"Wah, jadi ini adalah kota U?"


"Indah bukan?"


"Iya, sangat indah!"


Erol menghembuskan napas sedikit tertawa kecil. Set, tangan Erol menggandeng tangan Auris dan menuntunnya keluar bandara kota U. Di luar bandara.


"Wah, Erol, setelah ini kita akan pergi ke mana?"


"Em, apa kau mau jalan- jalan terlebih dahulu?"


"Iya, lagi pula, aku juga mungkin akan segera pergi dari dunia fana ini cepat atau lambat."


Deg, perkataan Auris membuat mimik wajah Erol berubah drastis. Untuk menutupi kesedihannya itu, kebanyakan orang akan memilih tersenyum. Begitu pula dengan Erol.


"Ahaha, kalau begitu, ayo kita cari penginapan. Taruh barang kita di sana dan pergi berjalan-jalan."


"Oke!"


Erol segera memanggil taksi dan mengarah ke sebuah hotel. Walau bukan hotel bintang lima, tapi jika bikin nyaman, pasti juga akan betah apa pun yang terjadi.


Brak, Erol membuka pintu hotel dan segera membaringkan tubuhnya di atas kasur. Bruk, Erol menutup matanya menggunakan lengan dan mendengus lelah.


"Kau tidur saja dulu, aku akan membereskan barang- barang."


"Hm, terima kasih, ya, Auris."


"Ngomong- ngomong, kok kaya pasangan lagi honeymoon, ya?" Batin Erol.


Set, set, bruk, brak, suara barang yang di tata oleh Auris hampir menggema di seluruh ruangan. Erol tidak terbangun karena Auris meletakan mantra keheningan di sekitar Erol.


Cling, cling, cling, kamar Erol dan Auris terlihat sangat rapi dan cantik. Semua ini berkat kekuatan dan ketelitian Auris dalam mengemas barang.


Ya, wajar karena dia adalah seorang putri Elf. Putri Elf pasti sama seperti putri- putri pada umumnya. Di ajari teliti, kepandaian, keahlian dan kehebatan yang melebihi orang umum.


"Hah, akhirnya selesai juga, sekarang hanya tinggal istirahat saja dan kita akan pergi bersenang- senang!" Ucap Auris dengan semangat.


Bruk, Auris membaringkan dirinya di sebelah Erol berada. Ia kemudian melirik ke arah Erol yang tampak sangat kelelahan. Tap, Auris menaruh tangannya di atas dahi Erol.


"Hm, apa yang kau lakukan?" Tanya Erol seraya membuka mata.


"Kau akan tahu nanti."


"Hah, sebenarnya kau tidak perlu melakukan hal itu kepadaku."


"Eiy, kau pasti tahu yang namanya balas budi, kan?"


"Tapi hal itu tidak perlu."


"Tidak masalah, lagi pula rasanya agak aneh kalau aku tidak melakukan apa- apa setelah kau banyak membantu ku."


Erol menghela napas ringan dan sedikit tertawa. Ia kemudian bangun dari tempat tidur dan menatap mata merah muda Auris. Auris memiringkan kepala kebingungan.


"Ada apa?" Tanya Auris.


Cup, sebuah ciuman ringan mendarat di pipi lembut Auris. Pipi Auris sontak memerah, ia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak tahu apa. Isi kepalanya benar- benar menjadi kosong.


"Selamat istirahat!" Ucap si pelaku.


Yap, pelakunya tidak lain adalah sahabat laki- laki Auris, yaitu Erol. Erio segera membalikkan badan tanpa perasaan bersalah setelah melakukan hal tidak senonoh kepada putri Elf.


"Dia ini benar- benar!" Batin Auris geram.


Auris memilih untuk diam dan menganggapnya seolah tidak terjadi apa- apa. Kabar baiknya, tidak hanya pipi Auris saja yang memerah. Tapi pipi Erol juga ikut memerah.


"Sialan, apa yang aku lakukan tadi?!" Batin Erol.


Wush, angin dari jendela hotel pun masuk. Membangunkan Auris yang tengah tertidur pulas di kasur. Auris segera menoleh ke sebelahnya dan Erol tidak ada di sana.


"Eh, kemana Erol pergi?"


"Aish, kau sudah bangun, ya? Ayo makan setelah itu kita jalan- jalan." Ajak Erol.


"Oh, baiklah!" Sahut Auris dengan penuh semangat.


Selesai makan, sesuai dengan yang Erol janjikan, ia mengajak Auris untuk jalan- jalan. Karena suhu kota U yang dingin, Auris dan Erol harus menggunakan pakaian yang cukup tebal.


Auris menggunakan baju berwarna putih bercampur merah muda yang terlihat lembut. Sementara Erol menggunakan baju berwarna biru bercampur merah muda.


"Erol, kenapa suhu kota U sangat dingin?"


"Karena kota U dekat dengan pegunungan es. Sebab itulah suhunya sangat dingin walau matahari berada di atas kepala."


"Begitu, lalu, kita akan pergi ke mana?"


"Em, bagaimana kalau ke taman hiburan?"


"Benarkah? Asik!"


Auris melompat kegirangan, tampak kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Erol pun hanya tersenyum, sayangnya, di balik senyumnya itu ada kesedihan yang ia sembunyikan.


"Kalau begitu, ayo kita pergi!"


"Huft, dasar bocah."


Erol mendekati Auris dan membenarkan topinya agar telinga Elf nya yang runcing itu tidak kelihatan. Erol kemudian menggandeng tangan Auris lagi dan menuntun jalannya.


"Sudah beres, ayo kita pergi."


"Ah, baik!"


Set, mereka berdua pun sampai di taman hiburan yang di tuju. Terdengar suara tawa bahagia, teriakan, dan berbagai hal lainnya yang terdengar sangat ramai.


"Baiklah, aku sudah mendapatkan tiketnya, ayo masuk."


Tap, tap, tap, Erol dan Auris pun menampakkan kaki mereka memasuki taman hiburan itu. Banyak sekali wahana permainan yang menguji keberanian dan adrenalin penumpang.


Auris tidak henti- hentinya takjub akan kehebatan dunia fana itu. Sangat hebat, bagus, dan berbagai hal lainnya yang hampir tidak bisa di deskripsikan oleh kata- kata.


"Waw, ini sangat hebat!"


"Ya, benar, tapi apakah kehebatan itu bisa membuat mu selalu berada di sisi ku, Auris?" Batin Erol.


BERSAMBUNG~