My Beautiful Elf

My Beautiful Elf
Episode 12



"HIYAAAATTTTT!!!"


Sring, tring, trang, kedua pedang saling bertubrukan. Di sisi lain, Auris berusaha untuk berdiri dan mencoba membantu Erol melawan ketua pemberontak itu.


"Uh, kenapa aku begitu lemah?" Batin Auris.


Dengan napas tersengal- sengal, Auris menggabungkan ke dua tangannya untuk membuat sebuah senjata seperti pedang tapi dengan kekuatan yang sangat besar.


Trang, pedang Erol terpental ke belakang, set, seketika ketua pemberontak itu menyeringai senang dan mengarahkan pedangnya ke depan leher dan dagu Erol.


"Kita sudah tahu siapa yang menang bukan?"


"Uh,"


Set, tring, saat ketua pemberontak itu mengayunkan pedang, Auris bergerak sangat cepat dan menghentikan gerakan pedang ketua pemberontak itu.


"Cih, ternyata kau masih bisa bergerak?"


"Auris! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau tidak pergi dan mengobati luka mu itu?!"


"Kenapa aku harus menuruti permintaan itu? Kau bahkan tidak menuruti permintaan ku untuk bersembunyi dan percaya pada ku!"


"Itu memang benar, tapi..."


"Ck, ck, ck, kenapa kalian malah bertengkar di saat- saat kita bertarung seperti ini?"


"Diam kau, munafik!" Teriak Auris.


Sring, tring, kedua pedang kembali bertubrukan dan menciptakan ledakan yang sangat kuat. Sayangnya, ketua pemberontak itu memiliki teknik pedang yang sangat hebat.


Dan Auris terpental ke belakang, ketua pemberontak itu terlihat sangat terburu- buru menghabisi Auris. Saat Auris lengah, ia langsung menghunuskan pedangnya ke dada Auris.


Jleb, mata Auris dan ketua pemberontak itu terbelalak sempurna. Karena yang dia tusuk saat ini bukanlah Auris, melainkan Erol yang dengan sengaja menghentikan laju pedang itu dengan tubuhnya.


"Erol, kenapa kau...?"


"Uhuk!"


Tes, tes, tes, darah Erol menetes semakin banyak, baik dari bagian belakang punggunya yang tertusuk dan bagian mulutnya. Wajahnya semakin memucat, ia sudah kehabisan banyak darah.


"Hiks, Erol!"


Srat, ketua pemberontak itu menarik pedangnya dan membuat darah Erol menetes semakin banyak. Wajah ketua pemberontak itu terlihat sedikit kesal.


"Heh, siapa yang sangka kalau kau akan menghentikan pedang ku ini dengan tubuh dari dunia fana mu itu."


Bruk, tubuh Erol terjatuh dan di tangkap oleh Auris dengan wajah paniknya. Ketua pemberontak itu membuang wajah dan memutar bola matanya malas melihat keadaan mengharukan itu.


"Uhuk!"


"Erol, Erol! Ku mohon bangun dong! Erol, hiks, Erol!"


Air mata keluar dengan sangat deras, Auris terlihat sangat terpukul dan sedih. Ia telah gagal, gagal melindungi orang yang berarti untuknya, gagal untuk mengatakan hal yang ingin ia katakan selama ini.


"Erol, Erol ku mohon bangunlah! Erol!"


Set, ketua pemberontak itu kembali mengarahkan pedangnya ke arah Auris untuk ke dua kalinya. Bedanya, kali ini tidak ada yang bisa menyelamatkan Auris, kecuali dirinya sendiri.


"Sekarang, aku akan benar- benar menghabisi mu, dan tidak ada yang akan menghalangi ku! Hahahaha! Terimalah nasib tragis mu!"


"Tidak, aku tidak akan mengalami hal itu, tapi, kau lah yang akan mengalaminya!"


Duar, blaarr, wush, tiba- tiba ada api yang sangat besar mengelilingi Auris dan Erol. Api itu membuat lingkaran besar seperti melindungi Auris dan Erol agar tidak di serang.


"Apa, apa- apaan ini?!"


Blaar, blaar, blaar, api itu semakin lama semakin besar, panas, dan melebar. Ketua pemberontak berdecak sebal karena ia terhalangi oleh dinding api itu.


"Siapa pun kau, jika kau berani menyakiti orang yang ku sayangi. Maka bersiaplah untuk pergi ke neraka!" Teriak Auris.


Wush, api itu pun menghilang dan tampaklah Auris dengan wujud barunya yang mirip dengan 'iblis'. Lengkap dengan tanduk, pakaian hitam, dan tatapan tajam yang mengerikan.


"Heh, kau pikir hanya karena kau merubah penampilan mu bisa membuat ku takut?"


Contohnya tempat paling aman adalah di sisiku dan hatiku. Eeeaaa, jangan baper dulu, masih ada yang lainnya. Okelah, lanjut aja langsung ke pertarungan.


"Aku, akan membuat mu menyesalinya!" Teriak Auris.


"Heh, membuat ku menyesalinya? Jangan sombong, deh!"


Blaar, api besar dan panjang muncul di tangan Auris. Api itu membuat sebuah pedang cantik berwarna merah darah dan hitam pekat. Wush, sring, Auris melesat dan pedang mereka bertubrukan.


"Apa hanya ini saja kemampuan mu?" Ejek ketua pemberontak itu.


"Cih, dasar tidak sadar diri kau b*j*ng*n!"


"Wow, kata- kata mutiara itu sangat menusuk telinga."


"Suara mu lebih membuat ku muak!"


Sring, tring, zrat, serangan Auris mengenai bagian dada ketua pemberontak itu cukup parah. Saat ketua pemberontak itu sibuk dengan rasa sakitnya, Auris langsung menusuk di bagian tepat pada jantung ketua pemberontak itu.


"Uh, sialan kau!"


"Heh, langsung saja aku mengirim mu ke neraka!"


Blar, dada ketua pemberontak itu tiba- tiba mengeluarkan api yang sangat besar. Api itu bertambah besar dan membakar jiwa, hati, serta tubuhnya.


"Ah! Sakit! Keterlaluan!"


Auris menatap ketua pemberontak itu dengan tatapan dingin. Bahkan sampai detik terakhir, Auris masih tidak mengetahui identitas asli ketua pemberontak itu, dia bahkan terlihat bomat(bodo amat).


"Kau tahu, bahkan di hukum terbakar hidup- hidup saja masih tidak akan menghilangkan dendam di hati ku pada mu." Ucap Auris.


Auris membaca sebuah mantra dan Erol pun muncul di hadapannya dengan tubuh dan mulut bersimbah darah. Hati Auris menjadi sangat tersayat.


"Uh, hiks, hiks, Erol! Hiks, hiks, Erol, maaf, maaf kan aku, aku, aku,"


Auris duduk bersimpuh sambil memeluk Erol yang kini tidak bernyawa itu. Tidak peduli berapa banyak darah dan air mata yang mengotori dirinya, Auris masih saja tidak akan merelakannya.


Tamat? Tentu saja tidak, bodoh!


Cerita [My Beautiful Elf] ini akan aku sambungkan dengan cerita ku yang lainnya yang judulnya [Magician Knight]. Kenapa? Oh, kalian tidak perlu tahu.


"Kalian adalah pasangan yang menyedihkan, dan aku serius dengan perkataan ku."


Deg, Auris dengan cepat menoleh ke atas mencari sumber suara itu. Seorang anak berambut biru muda terbang dengan kedelapan sayap putihnya.


"Siapa, kau? Dan apa yang kau lakukan di sini?"


"Nama ku adalah Adriana, salah satu Dewi di dunia ini. Aku ke sini karena perintah Dewi Akanksha."


"Perintah Dewi Akanksha? Apa maksud mu? Aku tidak mengerti."


"Kau tidak perlu mengerti, yang perlu kau tahu hanyalah. Aku dapat membuat pacar mu itu hidup lagi."


Mata Auris langsung berbinar senang, ia sangat senang karena Erol dapat hidup kembali. Kebahagiaan Auris benar- benar tidak dapat di ucapkan. Ia amat bahagia.


"Tapi ada syaratnya." Ucap Adriana.


"Apa syaratnya?"


"Kau tidak boleh menggunakan mode iblis mu itu lagi. Karena jika kau sampai kehilangan kendali, maka akan menyebabkan bencana pada dunia ini."


"Baiklah, aku mengerti."


BERSAMBUNG~


Guys, tahu nggak kenapa like lebih banyak dari komen?🙃


Jawabannya😆, karena banyak yang suka tapi tidak bisa mengatakan. Kaya aku suka sama kamu tapi aku sadar kalau aku tidak bisa memiliki mu🤧


Jangan sedih dan bawa perasaan alias baper, ya😆