
Nama ku Erol, aku seorang mahasiswa yang cukup miskin. Kedua orang tuaku sudah tiada 5 tahun yang lalu. Jadi aku harus menafkahi diriku sendiri.
Di dalam kehidupan ku, tidak ada yang bisa aku tonjolkan kecuali nilai dan kepintaran. Untungnya karena kepintaran ku itu, aku bisa sering mendapatkan beasiswa dari sekolah.
Kehidupan ku damai dan tentram, sampai suatu pagi. Aku mendapati ada seorang Elf cantik di dekat ku tidur. Aku mengucek mata, menarik pipi dan aku tahu, itu bukanlah mimpi melainkan kenyataan.
"Kenapa, kenapa bisa jadi begini?!"
~ My Beautiful Elf, episode 1, ready ~
Erol, pemuda berambut putih dengan mata merah biru menyala itu sedang duduk di sofa. Ia memijat kepalanya pusing, karena sekarang tiba- tiba ada Elf cantik di rumahnya.
Elf berwujud seorang gadis yang terlihat sangat anggun dan lembut berada di apartemen seorang pria. Siapa yang tidak akan bingung coba?
"Ekhem, jadi, kalau boleh tahu siapa nama mu? Dan dari mana kau berasal?" Tanya Erol.
"Hm, nama ku Auristela Deolinda Furdiana Zanitha Beatarisa. Aku adalah putri kerajaan Elf yang berada di dimensi lain."
"Eh, buset, namanya panjang bener. Tunggu, dimensi lain dia bilang?" Batin Erol.
Erol melihat ke atas dan ke bawah melihat penampilan gadis Elf itu. Kulit yang mulus, bibir yang berwarna natural, rambut merah muda yang indah dan sangat rapi.
Kemudian telinga yang bagian atas membentuk segitiga. Sepertinya bisa di yakini dia adalah seorang Elf. Bajunya juga sangat mendukung, berwarna putih agak polos.
"Em, bagaimana kau bisa sampai di sini?"
"Aku juga tidak tahu, aku hanya ke tempat tidur seperti biasa dan, wush, tiba- tiba aku ada di tempat tidur mu."
"Apakah di kerajaan mu ada orang yang membenci mu?"
"Bagaimana mungkin? Semua orang sangat menyayangiku, bagaimana mereka bisa melakukan itu?"
"Astaga naga, ternyata gadis Elf ini lumayan polos juga. Tapi itu tidak mungkin, setidaknya seharusnya ada konspirasi di balik semua ini." Batin Erol.
Erol terdiam dengan memasang posisi berpikir dengan tangan menahan dagu. Gadis Elf itu masih berdiri di depan Erol dengan wajah bingung dan polosnya.
"Apa kau bisa melakukan teleportasi untuk kembali ke dunia mu?"
"Ah, benar, seharusnya itu bisa."
Gadis Elf itu mengangkat tangannya ke atas dan, wush, sebuah portal tercipta. Zretz, zhung, petir keluar dari portal dan menyetrum gadis Elf itu, mengakibatkan ia terluka cukup parah.
Erol dengan cepat menangkapnya, gadis Elf itu meringis menahan sakit. Zret, zretz, portal menghilang dan muncul suara entah dari mana asalnya.
"Maaf, sistem menolak karena ijin keluar masuk dimensi sudah tercabut."
"Sistem? Lu pikir kami ini sedang dalam sebuah permainan apa? Gila." Batin Erol.
"Apa? Tapi itu tidak mungkin! Bagaimana bisa ijin keluar masuk ku di cabut?"
"Maaf dan sampai jumpa."
Wush, suara itu kemudian menghilang dan tidak terdengar lagi. Gadis Elf itu sangat syok dan ketakutan. Terlihat dari tubuh dan tangannya yang mulai gemetaran.
"Entah kenapa kata- kata sistem itu tadi kaya kata- kata mantan saat mau ninggalin kita, ya?"
"Huhu, hiks, hiks, bagaimana ini? Tuan, entah siapapun kau, aku mohon tolong aku agar bisa kembali ke duniaku!".
Gadis Elf itu mengguncang- guncangkan badan Erol dan membuat Erol pusing. Erol mencengkram tangan gadis Elf itu agar ia berhenti mengguncang- guncangkan badan Erol seenaknya.
"Huft, baiklah, aku akan membantu mu untuk pulang."
"Benarkah? Terima kasih banyak!"
Elf itu kemudian memeluk Erol dengan erat, membuat pipi Erol merah merona. Erol mulai gelagapan dan akhirnya ia memutuskan untuk mendorong gadis Elf itu.
"Ekhem, ja, jangan memeluk ku. Jadi, aku harus memanggil mu apa?"
"Panggil saja Auris."
"Baiklah, Auris, sebelum kau kembali ke dunia mu. Bantu aku membersihkan rumah ini dulu, oke?"
Auris mengangguk, ia mengangkat tangan ke atas dan menjentikan jarinya. Ctak, dalam sedetik, seluruh rumah Erol sudah sangat bersih dan berkilauan.
"Kau lupa? Aku kan peri, dan peri bisa melakukan sihir."
Erol tertawa kecil membenarkan perkataan Auris. Bruk, Erol menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan tangan terlentang. Auris pun ikut duduk dengan anggunnya sambil menatap Erol.
"Ada apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Aku baru pertama kali melihat manusia dan dunia fana ini, ternyata sangat indah, ya."
"Begitu, kah?"
Auris mengangguk, tatapan matanya menunjukan rasa kagumnya. Erol menutupi matanya menggunakan tangan sambil terkekeh geli.
"Aku penasaran seperti apa dunia peri. Pasti juga sangat indah dan menarik."
"Hihi, dunia peri memang sangat indah dan menarik. Kau juga pasti akan takjub melihatnya."
"Iya, pasti menarik, seperti dirimu, Auris." Batin Erol.
Set, Auris bangun dari duduknya dan mengelilingi apartemen Erol. Erol hanya membiarkannya saja sambil mengawasinya dari kejauhan.
"Tunggu, aku belum tahu nama mu. Jadi, siapa nama mu?"
"Namaku Erol, Erol Velma."
"Erol, apakah kau mau mengajak ku jalan- jalan melihat dunia fana ini?"
"Ya, baiklah, tapi kau harus janji akan selalu ada di dekatku, mengerti?"
"Baiklah, Erol. Terima kasih."
Erol pergi ke arah lemarinya dan hasilnya zonk. Ia tidak memiliki pakaian perempuan sama sekali, dengan kata lain ia harus pergi keluar dan membelinya terlebih dahulu.
"Huft, benar- benar, deh. Auris, kau tunggu dulu di sini sebentar. Aku akan membelikan mu baju terlebih dahulu."
"Oh, baiklah."
"Gadis yang cukup penurut." Batin Erol.
Beberapaenit berlalu, Erol akhirnya kembali dengan membawa sebuah tas kresek. Mata Auris berbinar senang, ia kemudian mendekati Erol dengan sangat cepat.
"Kau sudah pulang, Erol."
"Iya, ini baju untuk mu. Gantilah di kamar ku, aku akan ada di sini menunggu mu."
"Em!"
Beberapa saat kemudian, Auris keluar kamar dengan sangat menawan. Mata Erol terbelalak sempurna di ikuti pipi yang mulai memerah. Auris benar- benar tampil cantik dengan pakaian yang di pilih Erol.
"Jadi, bagaimana pendapat mu?"
"Cantik, sangat cantik."
"Hihi, terima kasih banyak Erol."
Erol dan Auris pun keluar apartemen menuju ke arah taman kota. Senyum mereka di wajah Auris, ia nampak sangat bahagia. Auris benar- benar bersikap seperti anak- anak.
"Kalau jalan pelan- pelan, nanti jatuh, loh."
"Hihi, tenang saja, aku pasti akan baik- baik saja."
Ting, lampu lalulintas di depan Auris berubah menjadi hijau. Dengah cepat Erol berlari dan memasang posisi memeluk Auris.
Wush, Auris hampir saja tertabrak sebuah mobil yang melaju sangat cepat. Pipi Auris tiba- tiba menjadi merah merona. Erol pun melepaskan pelukannya dan menjitak dahi Auris.
"Aw, sakit!"
"Makanya jangan lari- lari, itu bahaya tahu!"
"Maaf."
Wajah Auris menjadi murung, entah kenapa sekarang serasa Erol adalah kakak yang sedang memarahi adik perempuannya di depan umum. Erol menghela napas berat.
"Ayo, kita langsung pergi ke taman saja."
Erol menggenggam tangan Auris menuntun jalan ke arah taman. Senyum merekah dan Auris mengikuti Erol dengan bahagia layaknya orang pacaran.
BERSAMBUNG~