My Beautiful Elf

My Beautiful Elf
Episode 11



"Tunggu, menembak jatuh mereka?"


"Yap, lihatlah kehebatan ku." Ucap Erol dengan percaya diri.


Set, Erol menarik panahnya dan tak, tak, tak, para pengawal istana pemberontak jatuh. Sebelumnya, panah- panah itu di olesi racun yang sangat mematikan.


"Baiklah, ayo kita pergi sekarang."


Grep, Erol menarik dan menggenggam tangan Auris sangat kuat agar tidak tertinggal. Auris hanya diam dan mengikuti kemana Erol membawanya pergi.


Wush, angin tiba- tiba bertiup sangat kencang. Membuat pakaian Auris dan Erol berterbangan juga membuat mereka mundur beberapa langkah ke belakang.


"Angin ini, sangat kencang!" Ucap Auris.


"Tidak masalah untuk ku. Kepada dewa dan langit di bumi, berikan aku kekuatan untuk bertahan di dunia mu ini. Perisai tiore!"


Blar, tiba-tiba sebuah pelindung berbentuk perisai raksasa muncul di hadapan mereka dan menghadang angin yang membuat mereka hampir ke luar dari istana pemberontak.


"Erol, sejak kapan kau mempelajari sihir?"


"Saat aku memiliki waktu luang di dunia Elf mu ini."


"Hebat."


"Kepada Dewi langit, bantu aku dengan cinta dan kasih sayang mu. Pedang Lightsaber."


Pedang Lightsaber, pedang berwarna seputih es dan berwarna sebiru kristal. Erol mengibaskan pedang itu dan membuat angin itu menghilang dan melanjutkan perjalanan.


"Ayo pergi."


"Baik."


Tap, tap, tap, brak, Erol membuka pintu besar di hadapan mereka. Terlihatlah seseorang memakai tudung berwarna hitam bercampur dengan warna merah semerah darah.


"Siapa kau?!" Tanya Erol.


Orang itu hanya diam di singgasananya sambil menyilangkan kaki. Erol dan Auris masih waspada jika misalnya orang di hadapan mereka akan tiba- tiba menyerang.


"Aku tidak percaya kalau kalian akan bisa sampai ke sini secepat ini."


"Sebenarnya siapa kau? Kenapa kau menyerang kerajaan Elf dan kerajaan Siluman?" Tanya Auris.


"Oh, bukankah kau adalah si bunga cahaya kerajaan Elf yang terkenal itu?"


Deg, Erol dan Auris seketika terkejut, sepertinya memang benar perkiraan Erol sebelumnya. Pasti ada sebuah konspirasi di balik peristiwa sebelum hal ini terjadi.


"Bunga cahaya kerajaan Elf? Bukankah semua orang sudah tahu akan hal itu?" Tanya Erol.


"Ya, aku rasa kau benar. Tapi bukankah Putri bunga cahaya kerajaan Elf seharusnya di sebut cahaya gelap kerajaan Elf?"


"Cahaya gelap kerajaan Elf? Auris, apa maksud perkataan orang ini?"


Auris hanya terdiam saja, seperti mengatakan kalau orang yang di hadapan mereka itu benar. Grep, Auris menggenggam tangannya dengan erat.


"Ah, aku mengerti, jadi kau tidak memberitahu soal diri mu yang sebenarnya, ya?"


"Diam kau." Ucap Auris.


"Kenapa? Apa kau takut jika misalnya dia tahu maka dia juga akan meninggalkan mu sama seperti yang lainnya?"


"Sama seperti yang lainnya? Apa maksud perkataan orang ini?" Batin Erol.


Orang itu kemudian menatap ke arah Erol yang masih bingung dengan apa yang Auris dan orang itu bicarakan. Orang itu tersenyum smirk dengan tatapan remeh.


"Apa kau penasaran dengan masa lalu sang bunga cahaya kerajaan Elf?"


"Masa lalu sang putri bunga cahaya kerajaan Elf?" Batin Erol.


"Cukup! Bukankah sudah ku bilang untuk diam!"


"Aiya, akhirnya kau mulai menunjukan sisi diri mu yang sebenarnya."


Aura Auris, terasa sangat menakutkan, seperti dirinya telah di keliling kegelapan sejak lama. Orang itu, orang yang menyerang kerajaan Elf dan Siluman terlihat sangat bahagia.


"Jika kau mengucapkan satu kata lagi, maka aku akan memotong lidah mu!"


"Kau memiliki wewenang apa untuk membuat ku bung-"


Dan batas kesabaran Auris adalah pembahasan masa lalu yang sudah berusaha ia lupakan sejak lama. Erol tercengang akan kekuatan Auris yang sangat besar dan menakutkan.


"Aku sudah memperingatkan mu."


"Heh, lumayan juga, kalau begitu, ayo kita selesaikan ini."


"Hah, itu yang aku inginkan!"


"Auris, tunggu, jangan gegabah!"


"Tenanglah Erol, aku akan baik- baik saja. Kau pergi carilah tempat yang aman dulu."


"Baiklah, tapi bawalah pedang ku. Mungkin itu bisa membantu mu."


"Erol, terima kasih banyak."


Sadar kekuatannya tidak akan membantu Auris dan mungkin akan merepotkannya. Erol pun mengangguk dan meninggalkan area pertempuran.


Area pertempuran antara, Putri kerajaan Elf dan ketua pemberontak. Suasana menjadi hening, sebuah daun turun entah dari mana ke sisi tengah antara Auris dan ketua pemberontak.


Sret, daun pun jatuh dan, wush, Auris melesat dan mengayunkan pedang yang barusan di beri oleh Erol. Harus diakui, pedang yang di berikan Erol memang kuat dan hebat.


"Heh, ternyata kau cukup agresif juga dalam menyerang."


"Maaf, tapi aku tidak akan berbaik hati kepada orang yang mencelakai kerajaan ku!"


Wush, orang itu mengeluarkan pedang yang cukup besar, hampir sama dengan yang di berikan Erol. Sring, tring, tring, pedang mereka bertubrukan dengan sangat dahsyat.


"Heh, aku rasa kita sudah tahu siapa pemenangnya!"


"Uh, aku tidak akan semudah itu di kalahkan! Karena aku, akan menjadi cahaya harapan kerajaan Elf!"


"Bermimpi sajalah gadis kecil! Karena kau, akan tiada di sini dan menjadi salah satu koleksi ku!"


"Dalam mimpi mu pun, itu tidak akan terjadi!"


Sring, tring, duar, Auris terpental dan menubruk pion istana sampai hancur. Ketua pemberontak itu tertawa menandakan kalau dia akan menang saat itu juga.


"Heh, butuh waktu lama sampai kau menang dari ku!"


"Aku, tidak akan kalah seperti ini!"


Set, ketua pemberontak menghunuskan pedang dan mengarahkannya di depan leher Auris sambil menampilkan senyum kemenangan yang sangat lebar.


"Lebih baik kau simpan tenaga mu itu gadis kecil, karena tenaga mu nanti, bisa di pakai untuk olah raga malam bersama ku~"


Lidah ketua pemberontak itu keluar dari mulut dan semakin memanjang seperti lidah ular. Tubuh Auris gemetaran ketakutan, apa lagi air liur ketua pemberontak itu sampai jatuh ke tanah.


"Kau, sebenarnya kau itu apa?"


"Haha, kau tidak perlu tahu. Tapi harus aku katakan, kau memang sangat cantik."


Sring, tak, Erol mengayunkan pedangnya yang jatuh tadi di tanah dan berusaha menyelamatkan Auris. Tapi sayang, serangan itu dapat di hentikan oleh ketua pemberontak.


"Ah, beraninya kodok jelek ini mengganggu ku."


"Ko, kodok jelek?!! KURANG AJAR KAU!!!"


Darah Erol mendidih karena sebutan ketua pemberontak kepadanya dirinya yang ganteng aduhai. Iyain aja, deh, walau emang bener ganteng, sih.


Erol mengayunkan pedangnya lebih kuat dan cepat dari sebelumnya. Ayunan demi ayunan Erol layangkan kepada ketua pemberontak tapi berhasil di hentikan.


"Heh, hanya manusia biasa saja. Kau pikir itu akan bisa membunuh ku?"


"Hah, hah, hah, ini masih belum berakhir!"


"Benarkah? Bagaimana cara agar ini bisa di sebut selesai?"


"Ini akan selesai, jika salah satu dari kita tiada."


"Menarik, kalau begitu, aku akan langsung menghabisi mu!"


BERSAMBUNG~