My Beautiful Elf

My Beautiful Elf
Episode 17



"Ah, benar, kau belum makan bukan?" Tanya Auris.


"Jadi, kau mau memberi ku makan apa?" Tanya Erol dengan tatapan aneh.


"Em, sup jamur, nasi tudung malaikat, sayur bunga, nasi serbuk bunga,"


"Bukan itu maksud ku!"


"Hah?"


Auris menatap Erol bingung, pikirannya masih terus berputar, mencoba mengerti maksud Erol. Huft, Erol menghela napas panjang.


"Kau ini, sebenarnya kau ini memang polos atau pura- pura polos, sih?"


"Hah? Maksud mu apa?" Tanya Auris masih bingung.


"Kau ini tidak tahu maksud perkataan ku?"


Auris menggelengkan kepala dengan wajah polos yang membuat Erol hanya bisa menghela napas dan terus bersabar.


"Yakin tidak tahu?" Tanya Erol lagi.


Auris kembali menggelengkan kepala dengan cepat. Tok, tok, tok, tidak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamar Auris.


"Loh, siapa lagi itu?" Tanya Erol.


"Mungkin pelayan? Aku akan membukakan pintu untuknya."


Ceklek, pintu terbuka, benar perkataan Auris. Yang datang memanglah seorang pelayan, tapi dari pada pelayan, dia lebih terlihat seperti suruhan seseorang.


"Ada apa?" Tanya Auris.


"Begini tuan putri, saya di sini karena perintah dari ratu."


"Sudah aku duga." Batin Auris.


Tatapan Auris menjadi tajam, dia mulai menjadi waspada setelah mendengar kata 'ratu'. Auris takut, kalau misalnya Erol akan di apa- apakan oleh ratu.


"Jadi apa yang ratu perintah kan kepada mu?"


"Ratu meminta saya ke sini untuk menanyakan keadaan Tuan Erol."


"Keadaan Erol? Aneh, kenapa dia tiba- tiba peduli pada Erol begitu?" Batin Auris.


"Katakan kepada ratu, Erol baik- baik saja. Oh, ya, tolong bawakan aku makanan juga."


Di belakang, Erol menangis dalam diam. Dia amat kecewa karena Auris masih tidak mengerti apa maksud perkataannya itu.


"Huhu, ternyata dia masih tidak mengerti, hiks." Batin Erol.


"Baiklah, kalau begitu saya undur diri Tuan Putri Auris."


"Ya, baiklah."


Ceklek, pintu di tutup, Auris membalikkan badan dan berjalan mengarah ke arah Erol terbaring di atas kasur.


Wajah Erol, terlihat sangat sedih dan kecewa. Auris memiringkan kepalanya bingung, Erol mendengus dengan kasar sambil menggembungkan pipinya.


"Hm? Kenapa?"


"Aku lapar."


"Tenang saja, makanannya sebentar lagi akan datang, kok."


"Huh, dasar tidak peka!" Batin Erol.


Bruk, Auris duduk di pinggir kasur dengan tatapan polos dan menggodanya. Erol kembali mendengus kasar.


"Bukan itu maksud ku."


"Lalu apa? Bilang saja."


"Hihi."


"Kenapa perasaan ku menjadi buruk, ya?" Batin Auris.


Swing, Erol menarik Auris ke dalam pelukannya. Set, Erol menaruh kepalanya di dekat leher Auris dan membuatnya sedikit mendesah.


"Uh, apa yang kau lakukan?"


"Apa lagi? Aku hanya ingin makan seperti perkataan ku tadi."


"Makan? Makan apa seperti ini?" Batin Auris.


Cup, Erol mengecup bagian dekat tulang selangka milik Auris. Uh, taulah pasti, Auris mendesah pelan, Erol semakin lama semakin bergairah.


"Uh, ja, jangan lakukan itu."


"Kenapa? Kau tidak suka?"


"Sudahlah, nikmati saja."


Auris terus mendesah dan membuat Erol semakin bergairah. Bagi Erol, desahan Auris bagaikan suara dari surga. Palalu.


Tok, tok, tok, tiba- tiba seekor nyamuk, salah, maksudnya seseorang tiba- tiba mengetuk pintu mereka. Auris dan Erol seketika terkejut.


"Tuan putri, ini saya. Saya membawakan makanan seperti yang mulia Putri tadi minta."


"Cih, dasar pengggangu." Batin Erol.


"Ba, baiklah, aku akan segera ke sana."


Set, Auris melirik ke arah Erol, dan, ya, wajah Erol terlihat sangat kecewa. Tak, Auris mengusap kepala Erol dengan lembut.


"Aku akan segera kembali, jadi jangan sedih."


"Tapi bukan itu alasan aku sedih." Gumam Erol.


Kriet, pintu terbuka dan Auris kembali masuk dengan nampan makanan di tangannya. Auris menyuapi Erol dengan diiringi senyum dan canda tawa.


Keesokan paginya, entah kenapa, Auris berada di hadapan Ratu. Suasana yang mencekam, canggung, dan memuakkan. Auris tersenyum pahit dengan kekesalan yang tersirat di hatinya.


"Selamat pagi, Ratu."


"Auristela, kenapa kau tidak kembali ke pesta tadi malam."


"Ah, saat itu saya sangat lelah. Jadi saya memutuskan untuk beristirahat."


"Bersama seorang laki- laki di satu kamar?"


Auris tambah merasa kesal dan kesal karena kecerewetan Ratu yang sangat ingin tahu tentang kehidupan pribadinya.


Set, Ratu mengambil teh di meja dan menyeruputnya dengan anggun. Sikap Auris masih saja tenang layaknya seorang putri yang sangat sempurna.


"Ahaha, soal itu, ya. Saya tidak akan menjawabnya."


"Hm?"


Gelas yang di seruput oleh Ratu sedikit di turunkan. Tatapannya tajam dan menakutkan. Tapi tatapan itu malah di balas dengan senyum menyeringai meremehkan dari Auris.


"Bukankah, selama ini Ratu sangat sibuk? Saya tidak percaya, Ratu yang sesibuk itu bisa mengurusi hidup saya yang sangat berantakan ini."


"Cih, anak ini ternyata sudah mulai sombong." Batin Ratu.


"Ahahaha, apa maksud mu itu Auristela? Saya ini kan ibu mu, tentu saya harus tahu bukan?"


"Ibu? Ahahaha, Ratu sangat bisa bercanda, ya. Maaf sekali, tapi ibu saya sudah tiada sejak saya lahir. Maaf, ya."


Ratu berdecak sebal dengan balasan Auris yang menyinggung hati. Suasana di dalam ruangan menjadi sangat mencekam.


Para maid yang berada di luar pun bisa merasakan atmosfer yang semakin lama semakin memanas. Set, Auris menyatukan tangan di tengah untuk menyangga dagunya.


"Jadi, jangan pernah Anda berpura- pura menjadi ibu saya. Karena saya, tidak akan pernah menerimanya."


"Heh, dengan kemampuan mu sekarang ini, apa kau pantas menyinggung ku?"


"Ohoho, wajah asli Ratu ternyata sudah mulai muncul? Apa Anda sudah lelah berpura- pura menjadi ibu palsu saya?"


Brak, Ratu menggebrak meja dengan tampang amarah yang membara. Smirk, Auris malah semakin senang dan tersenyum lebar.


"Auristela, jaga cara bicara mu!"


"Maaf, Anda siapa saya? Berani sekali Anda menyuruh saya melakukan apa yang Anda minta."


"Jangan sombong kau! Aku adalah Ratu Kerajaan Elf! Jadi jangan coba- coba melawan ku!"


"Pft, hahahahaha!"


Auris tertawa lepas dan cukup keras. Membuat orang di sekelilingnya merasakan hawa- hawa akan terjadinya perang berkepanjangan.


Tatapan Ratu menjadi lebih tajam dari sebelumnya. Sesungguhnya, yang seharusnya tidak di singgung adalah Auris. Berani sekali.


"Kenapa kau tertawa?" Tanya Ratu mulai takut.


"Saya hanya penasaran, ada ya, orang tidak tahu malu seperti Anda ini."


Grep, tangan Ratu mengepal kuat, di iringi suara gertakan gigi yang kuat. Smirk di bibir Auris yang manis belum menghilang.


"Apa maksud mu?"


"Posisi Ratu itu, cepat atau lambat, pasti akan menjadi milik ku."


Ceklek, tap, tap, Auris berjalan keluar dengan senyum kemenangan dan penuh percaya diri. Di dalam ruangan, Ratu terlihat sangat marah dan kesal.


"Keterlaluan, lihat saja. Aku pasti, akan menghabisi mu, Auristela!"


Bersambung