My Beautiful Elf

My Beautiful Elf
Episode 2



Sekarang Erol dan Auris berada di taman. Hamparan bunga warna- warni pun terlihat dengan indahnya. Auris berlari ke sana ke mari, dan Erol hanya mengamatinya saja dari kursi taman.


Di belakang Erol, ada banyak laki- laki yang sedang melihat Auris. Ya, saat berlari sambil tersenyum seperti itu Auris memang terlijat sangat imut.


"Lihat gadis itu, dia cantik sekali, ya."


"Dia juga memiliki aura yang sangat lembut."


"Hei, bro, bagaimana jika kau mendekatinya. Siapa tahu dia bisa menjadi pacar mu."


"Hahaha, pacar? Palingan nanti juga di tolak."


"Kalau iri bilang bos~"


"Sudah, sudah, biar aku saja yang mendekatinya bagaimana."


Kepala Erol rasanya benar- benar ingin meledak mendengarkan ocehan kumpulan laki- laki di belakangnya. Tapi masih berusaha tetap tenang dan berpikiran jernih.


"Entah kenapa ini seperti cerita [Nasib punya doi yang terlalu cantik]?"


Kesal, Erol kemudian mendekati Auris dan memperlihatkan sikap mesra. Auris gelagapan dan kebingungan dengan sikap Erol yang tiba- tiba berubah.


"E, eh, Erol, ada apa?"


"Lihat kumpulan laki- laki yang di sana itu?"


Mata Erol mengkode ke arah kumpulan laki- laki di belakang mereka. Auris pun terkekeh geli dan itu menambah kesan imut di dalam dirinya. Erol memalingkan wajah meronanya.


"Ekhem, jangan salah paham, aku hanya tidak mau tanggung jawab ku semakin berat saja."


"Hihi, terserah kau saja."


Erol berjongkok dan gerakan itu di ikuti oleh Auris. Mata Erol menangkap sesuatu yang sangat indah dan cantik. Ia kemudian mengambil itu dan menyelipkannya di telinga Auris.


Kejadian itu sangat romantis, para laki- laki di belakang mereka terbakar api cemburu. Tapi suasana itu malah sangat menyenangkan di mata Auris dan Erol.


"Hihi, terima kasih sayang~"


Hanya beberapa kata saja, hanya beberapa kata saja dan bisa membuat orang baper dan ingin sekali bunuh diri saking tidak kuatnya menghadapi keimutan Auris.


Begitu pun dengan Erol yang pipinya sedang di landa badai pipi merah merona. Mereka terlihat sangat mesra dan romantis. Erol kemudian berdekhem.


"Ekhem, kau juga sangat cantik, My Love."


Push, serangan balasan di lancarkan Erol dan membuat Auris tidak bisa berkata- kata lagi. Kejahilan Erol tidak berhenti sampai di situ, ia kemudian menggenggam tangan Auris.


Dengan senyum yang memperlihatkan ketampanannya Erol memainkan mata. Sontak pipi dan telinga Auris tambah memerah dan dengan malu dan lugunya.


Auris menutupinya dengan cara menunduk dan terus bungkam. Tahu kejahilannya berhasil, Erol melontarkan beberapa kalimat lagi dan membuat Auris serasa ingin pingsan.


"Sayang ada apa? Apa udaranya terasa dingin?"


Erol berkata seperti itu karena sebentar lagi akan berganti ke musim gugur dan setelah itu musim salju. Pakaian Auris juga cukup tipis, yaitu baju berwarna merah muda dan rok putih.


Set, Erol melepaskan jaketnya dan pluk, jaket itu di lingkarkan ke pundak Auris. Erol mendekatkan wajah dan kini jarak wajah mereka hanya beberapa Senti saja.


"Kalau dingin bilang, jangan di pendam seperti itu. Kalau kau sakit nanti, maka yang akan merawat ku siapa dong?"


"Su, sudah cukup, ki, kita sudah jauh dari kumpulan laki- laki itu. Kenapa kau masih bersikap seperti ini?" Ujar Auris sambil menyembunyikan wajah.


"Karena, melihat wajah imut mu seperti ini membuat ku tidak ingin berhenti untuk mengusili mu."


Set, Erol mengangkat tangannya dan mencubit pipi mulus Auris. Auris dengan tegas menarik tangan Erol dan kembali berjalan selangkah di depan Erol.


"Su, sudah cukup, a, ayo kita pulang."


Erol tersentak dengan senyum kemenangan di wajahnya. Ia mengikuti Auris dengan sangat bahagia dan senang. Ini pertama kalinya juga Erol punya sahabat perempuan, seorang Elf lagi.


Sesampainya di rumah, Auris duduk di sofa dan Erol pergi ke dapur. Rencananya Erol mau memasak spageti dan memanaskan susu sapi. Auris terdiam di tempatnya melihat gerak- gerik Erol yang masih memasak.


Auris yang pipi meronanya sudah sembuh pun mendekati Erol tanpa rasa waspada. Auris sekarang berada di. samping Erol tepat yang sedang memanaskan susu.


"Hm, ya, mungkin bisa. Duduk di sana dengan manis dan makanannya akan segera siap."


"Hanya itu saja?"


"Iya, atau,"


Erol menutup mulutnya sebentar, ia kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Auris. Dengan menunjukan senyum nakal yang amat sangat menyebalkan Erol terkekeh geli.


"Kau mau membantuku mandi nanti?" Lanjut Erol.


Push, dengan sangat lucu dan cepat, Auris kembali ke sofa dan duduk dengan sangat patuh. Ting, makanannya pun siap dan di hidangkan di meja makan.


"Auris, kemarilah dan makan bersama ku."


Set, Auris duduk berhadapan dengan Erol dan mereka makan bersama seperti sebuah keluarga. Hap, satu lahapan dan membuat mata Auris berbinar- binar.


"Em, enyak!"


"Hahaha, makan dulu yang di mulut baru bicara."


Ada sebuah noda di pinggir bibir Auris. Tanpa pikir panjang Erol mengangkat tangannya dan mengusap noda makanan itu. Auris gelagapan dan terkejut.


"A, apa yang kau lakukan?!"


"Hanya mengusap noda makanan di pinggir bibir mu saja. Jadi, jangan salah paham ya, Putri Auristela."


"Uh, jangan membuat kesalahan pahaman begitu!"


"Haha, wajah mu benar- benar terlihat imut, Auris!"


Auris menggembungkan pipinya kesal lantaran terus menerus di jahili oleh Erol. Setelah selesai makan, masalah sebenarnya pun sekarang di mulai.


"Em, Erol, di mana aku akan tidur?"


"Hm, tidur bersama ku mau tidak?"


Pipi Auris memang agak memerah, tapi ia bisa menjawab dengan penuh keyakinan. Itu juga berbanding terbalik dengan apa yang ada di pikiran Erol.


"Baiklah, kalau kau memaksa."


"Hah?! Kau serius bukan dengan perkataan mu itu?"


"Memangnya kenapa? Kan kau yang meminta, ya aku kabulkan. Ayo tidur."


"Oh, tuhan, bantu aku menahan diri malam ini dan untuk malam seterusnya." Batin Erol.


Set, Erol tidur di sisi kiri tempat tidur sementara Auris berada di sisi kanan tempat tidur. Jantung keduanya benar- benar berdetak sangat kencang. Keduanya gugup bukan main.


Karena saat ini mereka ada di sebuah kamar, beda kelamin, satu tempat tidur lagi. Pasti semuanya akan waspada terhadap apa yang akan di lakukan lawan jenisnya itu.


"Kalau Erol Sampai melakukan sesuatu yang mesum. Maka aku akan tinggal memukulnya saja." Batin Auris.


"Kalau Auris melakukan sesuatu yang tidak ada akhlak, maka aku harus melakukan apa?" Batin Erol.


Malam itu berakhir dengan penuh kegelisahan, kecanggungan dan berbagai hal lainnya. Keesokan paginya, Auris membuka mata dan mendapati dirinya.


Tengah berpelukan dengan Erol?!


"Me, mesum!" Teriak Auris dengan sangat kencang.


Erol seketika terjatuh dari kasur dan berdiri dengan kepala benjol di sebelah kiri. Ia gelagapan ketakutan, bingung, resah, pusing.


"A, apa yang terjadi? Kenapa kau berteriak, sih?"


"WOI, YANG ADA DI KAMAR SEBELAH BISA DIEM NGGAK SIH?!" Teriak seorang Mak- Mak.


BERSAMBUNG~