
"Hanya karena kau tahu julukan ku, bukan berati kau juga bisa memanggil ku seperti itu." Auristela Deolinda Furdiana Zanitha Beatarisa.
Hug, Auris memeluk Erol dengan erat dan penuh kehangatan. Set, tangan Erol melingkar di pinggang Auris untuk membalas pelukan yang hangat itu.
"Terima kasih." Ucap Auris lagi.
"Tidak perlu berterima kasih seperti itu."
"Erol, aku mencintai mu."
"Aku juga mencintai mu Auris."
Wah, kenapa rasanya aku yang nulis aku sendiri yang baper juga, ya. Set, mereka berdua pun melepaskan pelukan hangat itu dan menatap satu sama lain.
"Auris, berjanjilah kalau kau akan selalu ada bersama ku."
"Tentu saja."
Kedua insan itu mendekatkan wajah mereka dan semakin dekat. Cup, bibir mereka berdua pun bersentuhan, dengan kata lain ciuman kalau ada yang kurang paham.
Harus di akui, Erol adalah seorang best kisser. Buktinya saja Auris merasa sangat nikmat akan ciuman malam itu. Dia bahkan tidak ingin melepaskannya jika bukan karena ia kehabisan napas.
"Ha... hah... hah..."
Udara seketika menjadi sangat panas setelah mereka melepaskan ciuman itu. Wajah Auris terasa sangat panas, pipi dan wajahnya pun berwarna merah merona sangat merah.
"Erol, bisakah aku meminta sesuatu?"
"Apa itu?"
"Bisakah, aku mencium mu sekali lagi?"
Deg, pertanyaan Auris benar- benar dapat membuat Erol terkejut dan gelagapan. Aku be like menang banyak kamu malam ini Erol. Aku salut pada mu.
"Eh, Auris, apa kau demam?"
"Kenapa? Apa kau tidak mau?"
"Bukan begitu, hanya saja aku-"
Sebelum Erol menyelesaikan kalimatnya, cup, Auris sudah lebih dahulu menutup mulut Erol dengan cara yang UwU. Yaitu dengan ciuman tentu saja.
"Mm!"
"Dasar nakal, aku akan menghukum mu." Batin Erol.
Dengan sengaja Erol menyelip- nyelipkan lidahnya dan membuat Auris kehilangan napas lebih cepat dari sebelumnya. Hah, Auris pun terpaksa melepaskan ciuman itu.
Ha... Hah... Hah
"Hah, kau ini, apa maksud mu itu tadi?" Tanya Auris.
"Jika aku tidak melakukannya, maka kau akan membuat ku dalam masalah."
"Apa maksud perkataan mu itu?"
"Lihat itu."
Erol menunjuk ke arah belakang Auris, terlihat lah dua orang pengawal istana yang sepertinya sedang patroli malam. Auris berdecak sebal dan kesal karena dua nyamuk itu.
"Ck, kenapa mereka datang di saat yang tidak tepat, sih? Mengganggu saja."
"Hei, jangan marah- marah begitu dong."
"Hump!"
"Loh, Tuan Putri Auristela? Kenapa Anda ada di si-"
Zhung, kedua pengawal istana itu tiba- tiba merinding, bulu kuduk mereka seketika berdiri. Yah, itu semua karena Auris menatap mereka dengan sangat tajam.
"Eh?! Tu, Tuan Putri? A, ada apa?"
"Kalian berdua, segera pergi dari sini sekarang!"
"Baik!"
Wush, dengan secepat kilat kedua pengawal itu pergi dan meninggalkan Auris dan Erol berdua. Erol hanya memalingkan wajah tidak berani berkomentar. Hanya berani membatin saja.
"Astaga naga, apa dia masih datang bulan, ya? Kalau begitu aku harus berhati- hati." Batin Erol.
"Huh, mereka tadi sangat menyebalkan!" Umpat Auris.
"Tenanglah, ok? Lagi pula mereka juga sudah pergi."
Set, Auris hanya menatap sekilas dan memalingkan wajahnya lagi. Kedua tangannya di lipat di dada dengan mulut di gembungkan. Erol hanya menghela napas dan tersenyum kecil.
"Tapi tetap saja bukan?"
"Iya, deh, iya."
Auris masih dengan posisi marahnya. Sementara Erol terus saja merasa gemas dengan pipi chubby milik Auris. Dengan wajah seperti baby face, Auris terlihat sangat imut.
Set, karena terlalu gemas, Erol menarik pipi chubby Auris dan mendekatkan wajah Auris ke wajahnya. Pipi Auris seketika menjadi sangat memerah.
"Kau imut sekali."
"Apa, apaan, sih? Aneh banget."
"Tapi kamu suka, kan?"
"Diamlah."
Erol tertawa kecil sementara Auris, dia masih agak nampak kesal. Tanpa mereka sadari, ada seseorang lagi yang datang menghampiri mereka. Sepertinya dia akan mengganggu.
"Tuan Putri Auristela!"
Benar saja, orang itu adalah Pangeran Kelvin yang tadi ada di pesta. Auris dan Erol seketika terkejut dan menoleh ke arah suara itu berasal. Sekiranya 20 langkah dari mereka duduk.
Teman- teman, ini adalah gambar Pangeran Kelvin, ya. Pangeran Kelvin memang terlahir memiliki wajah yang 'cantik' seperti wajah perempuan.
"Pangeran Kelvin?" Tanya Auris.
"Kenapa hari ini sepertinya banyak sekali obat nyamuk, ya?" Batin Erol.
"Em, begini, saya kemari karena terkejut Putri tiba- tiba menghilang tadi di pesta dansa."
"Oh, begitu, ya? Maaf merepotkan Pangeran."
"Sebenarnya, sih, bukan tiba- tiba. Tapi aku memang sengaja menghilang." Batin Auris.
"Tidak masalah Tuan Putri."
Sikap Pangeran Kelvin memang sangatlah lembut, ramah, dan baik. Tapi itu malah membuat Erol semakin waspada dan curiga. Bagaimana caranya dia tahu keberadaan Auris sekarang?
"Kenapa dia tahu Auris ada di sini?" Batin Erol.
"Oh, ya, Tuan Putri, Ratu memanggil Tuan Putri sekarang di aula dansa istana."
"Sekarang?"
"Benar Tuan Putri."
"Kalau begitu Erol, ikutlah dengan ku ke aula pesta dansa."
"Baiklah, terima kasih sudah memberitahu kami Pangeran."
"Dengan senang hati."
Erol dan Auris pun bergegas ke aula pesta dansa sambil berlari- lari. Sementara Pangeran Kelvin mengekor mereka dari belakang, tatapannya pada Erol terlihat sangat aneh.
"Apa jangan- jangan Putri Auristela meninggalkan aula dansa hanya demi pemuda itu? Dasar Sialan!" Batin Kelvin.
Set, tap, mereka bertiga sekarang sudah sampai di aula dansa istana. Nampak ratu saat itu sedang berbincang- bincang dengan seorang bapak tua, tapi dia mirip dengan Pangeran Kelvin.
"Yang Mulia Ratu." Ucap Auris.
"Ah, kalian sudah sampai, ya?" Tanya Ratu.
"Ada apa yang mulia ratu memanggil ku?"
"Ah, begini, perkenalkan terlebih dahulu, ini adalah Putri kesayangan ku Auristela. Auristela, ini adalah ayah dari pangeran Kelvin. Bilang halo."
"Halo Tuan Putri."
"Halo juga, Paman."
Auris menampakan senyum manis, tapi senyum itu bisa terbilang hanya senyum formal atau terpaksa. Set, Erol melipat tangannya di dada dan melihat dari kejauhan.
"Katanya Putri kesayangan, tapi kenapa cara bicaranya canggung begitu? Dasar munafik." Batin Erol.
"Bukankah Putri Auristela sangat cantik?"
Set, Erol menoleh ke arah suara, dan pemilik suara itu tidak lain adalah sang Pangeran Kelvin. Pangeran Kelvin menyeringai dan menatap sinis ke arah Erol.
"Dia memang sangat cantik, wanita tercantik di dunia ini." Jawab Erol.
"Dan wanita cantik pantasnya dengan pria terhormat, tampan, dan berwibawa juga bukan?"
Deg, Erol seketika langsung mengerti apa maksud perkataan dari Kelvin. Maksudnya itu memang sangatlah jelas. Dia ingin Erol menjauh dari Auris sejauh- jauhnya.
"Aku yakin kau orang yang pintar, Tuan Erol."
"Tentu saja aku tahu, tapi,"
Erol menghentikan laju bicaranya, Kelvin menoleh ke arah Erol berharap Erol akan sadar diri. Tapi ekspetasi tidak sesuai realita, Erol malah menatap tajam ke arahnya.
"Tapi aku tidak akan membiarkan milik ku di rebut orang lain begitu saja." Ucap Erol dengan nada mengancam.
BERSAMBUNG~
Maaf, ya, guys, kalau misalnya updatenya ke undur. Soalnya aku baru bingung nentuin alur dan nggak sempet nulis karena tugas sekolah. Maaf ya😘