My Beautiful Elf

My Beautiful Elf
Episode 6



"Wah, ini sangat menyenangkan!" Teriak Auris.


Kini, Auris dan Erol sedang naik wahana Rollercoaster. Auris dan Erol, wajah mereka berdua terlihat sangat bahagia.


Rasa kekhawatiran Erol kalau Auris akan meninggalkannya pun kian memudar. Yang ada saat ini hanyalah kegembiraan, walau kebahagiaan mereka hanya sementara saja.


Mereka pergi ke berbagai wahana, mulai dari rumah hantu, bioskop 6 dimensi, kapal, bom- bom car, dan berbagai wahana lainnya.


Sampai di puncak acara, mereka menaiki wahana bianglala yang cukup tinggi. Dengan menaiki wahana itu, mereka bisa melihat Negera U dengan cukup jelas.


Saat itu adalah malam pukul sembilan. Auris menatap keluar jendela dengan sangat senang dan bahagia. Erol mengaitkan kedua tangannya seperti berdoa.


"Eh, Erol, apa yang kau lakukan?"


"Ada orang yang bilang saat mencapai puncak tertinggi bianglala, dan ia meminta dengan setulus hati. Maka keinginannya itu akan terwujud."


"Manusia itu bodoh, kenapa mereka mempercayai hal aneh dan mistis seperti itu?"


"Ya, aku juga tidak tahu."


Erol menutup matanya sambil tersenyum tipis. Auris menatap Erol penuh tanda tanya, Auris memang gadis yang kurang peka. Tapi ia juga gadis yang lumayan perhatian.


"Sebenarnya aku juga tidak percaya, sampai suatu hari aku aku takut. Aku takut kehilangan mu, Auris. Sebab itulah aku mempercayainya dan berharap keajaiban akan datang." Batin Erol.


"Erol, maaf, jika misalnya perkataan mu tadi membuat mu tersinggung."


"Tidak apa- apa, lebih baik kau duduk yang manis jika tidak mau jatuh dari ketinggian ini."


"Hihi, baiklah."


Dengan patuh Auris mengikuti perkataan Erol yang nampak menahan kesedihannya itu. Mereka pun turun dari bianglala itu dan Auris kembali berlari seperti anak kecil.


"Hihi, Erol ayo cepat!"


"Berhentilah berlari, nanti jatuh. Jika kau jatuh, jangan harap aku akan membantu mu."


"Hihi, tidak akan~ Eh?!"


Set, Auris tersandung sebuah batu besar dan ia pun terjatuh. Erol tidak sempat menolong Auris karena jarak mereka yang terbilang cukup jauh. Lagian Auris juga yang pakai acara lari- lari.


"Aduh, lutut ku!" Ringis Auris.


"Haish, kau ini benar- benar, makanya jangan lari- lari. Jatuh kan jadinya."


Erol sekarang berada di dekat Auris sambil berjongkok dan menampilkan senyum jahil seperti mengejek. Sang putri Elf itu pun geram dan hanya membuang muka sebal.


"Bisa berdiri tidak?"


"Tentu saja aku bisa!"


Auris pun berusaha untuk mengangkat dirinya untuk berdiri. Baru satu langkah, lutut Auris terasa sangat sakit. Ia pun jadi terjatuh dan mendarat di dada bidang Erol.


"Aw, ini menyebalkan!"


"Aish, ini kan juga salah mu."


Set, Erol pun duduk berjongkok di depan Auris seperti memberi ia tumpangan untuk menaiki punggungnya. Auris sempat kebingungan apa maksud Erol.


"Ayo sini, biar aku gendong."


"Ha? Tidak, tidak perlu. Aku bisa berjalan sendiri, kok. Tenang saja."


"Sudah, turuti saja perkataan ku."


Set, Auris pun naik ke punggung Erol dengan wajah malu- malu. Erol menegakan dirinya dan mulai berjalan ke arah hotel mereka menginap di negara U sekarang ini.


Di sepanjang perjalanan, Auris merasa sangat nyaman. Ia mengendus- endus bau pakaian Erol. Harum, tidak ada bau parfum, tapi itu adalah bau sabun.


"He, hei, berhenti mengendus ku." Ucap Erol dengan wajah memerah.


"Ah, maafkan aku."


Entah kenapa, suasana mereka saat ini, benar- benar terasa sangat canggung. Tidak ada yang bicara, dan kini hanya suara laju kendaraan saja yang terdengar.


"Jika kau bisa mematuhi perkataan ku yang ini, apa kau juga bisa mematuhi perkataan ku agar tidak meninggalkan ku?" Batin Erol.


"Aw."


"....."


Erol menatap ke atas dan terlihatlah Auris yang menahan luka di kakinya. Erol menghela napas berat, dan apada akhirnya dia lah yang tidak bisa marah terlalu lama pada Auris.


"Baiklah, maaf, aku akan lebih pelan- pelan lagi."


Set, set, set, sekarang luka di kaki Auris telah terobati. Erol mengembalikan kotak P3K itu ke arah ia memintanya tadi. Di mana lagi kalau bukan pelayan hotel.


Saat Erol kembali, nampak wajah Auris yang terlihat memerah dan agak malu- malu itu. Erol pun kebingungan sampai Auris angkat bicara.


"Erol, kau sangat baik, terima kasih. Aku harap kau selalu bahagia."


Deg, perasaan Erol sekarang terasa sangat aneh. Ia merasa sangat senang karena mendapat doa dari orang yang ia sukai.


Tapi di sisi lain juga, ia merasa sedih karena perkataan Auris seperti mengatakan kalau sebentar lagi dia akan pergi dari kehidupan Erol.


"Aku tidak butuh ucapan 'semoga selalu bahagia' tapi aku hanya butuh kau selalu ada bersamaku, di sisi ku." Batin Auris.


Erol ini orangnya agak tertutup, jadi dia tidak terlalu bisa mengutarakan perasaannya itu dengan baik. Biasanya akan ia pendam sendiri tanpa mau bicara pada orang lain.


"Auris, aku ingin mengatakan sesuatu."


"Hm, apa?"


"Auris, aku..."


Erol mengatupkan bibirnya, ia sangat ingin mengatakan kata 'aku cinta kamu'. Tapi rasanya, ketakutan yang ada di dalam hati Erol menghalanginya.


Ia takut, takut jika misalnya setelah mengatakan itu Auris tidak akan mau bicara lagi dengannya. Tekanan yang dialami Eror membuatnya tidak bisa melakukan apa pun.


"Eh, Erol, kau mau mengatakan apa?"


"Aku, lu, lupakan saja! A, ayo kita tidur!"


Erol segera melompat ke tempat tidur agar pipi merah meronanya tidak kelihatan Auris. Ah, rasanya akan sangat panjang cerita ini karena menunggu kepekaan Auris.


"Loh, dia kenapa begitu? Apa dia baru sakit perut?" Batin Auris.


Hari ke dua di negara U pun berlanjut, sekarang waktunya mereka pergi ke bukit Helio. Perjalanan menuju bukit Helio pun sangat curam dan menyeramkan.


Ada orang yang bilang jika misalnya memasuki bukit Helio. Tidak ada seorang pun yang akan dapat kembali hidup- hidup. Di karenakan orang yang kesana, kebanyakan ingin bunuh diri.


"Aish, hutan ini padahal bagus. Tapi kenapa malah di jadikan tempat untuk bunuh diri, sih?"


"Aku juga tidak tahu. Tapi yang pasti, jangan pernah gegabah lagi, Auris."


"Iya, iya, aku tahu itu."


Auris dan Erol saat ini sedang mendaki bukit itu. Langkah demi langkah, entah kenapa semakin lama tas atau apapun yang mereka bawa semakin berat saja.


Letih, mereka berdua pun duduk di sebuah pohon beringin yang berdaun lebat dan besar. Erol nampak celingukan, hatinya terasa aneh, ia ketakutan.


"Erol, ada apa?"


"Ah, tidak ada apa- apa."


Anehnya, tidak tahu apa yang membuat hatinya terasa seperti itu. Di atas mereka ada seseorang


berwujud anak kecil. Anak itu tersenyum dengan lebar.


BERSAMBUNG~


Siapakah anak itu?


A. Dia adalah salah satu arwah yang tiada di sana.(pendapat Erol)


B. Mungkin, dia adalah anak kecil yang tersesat?(pendapat Auris)


C. Apapun itu, aku tidak mau cerita ini jadi berubah menjadi genre horor!(pendapat Author)


Guys, kalian ikut pendapa mana, nih?