My Beautiful Elf

My Beautiful Elf
Episode 16



"Jika kau tidak bisa membuatnya bahagia, maka jangan sampai membuatnya meneteskan air mata" -Erol suami Auris, UwU.


Pangeran Kelvin berdecak sebal karena Erol, orang yang memiliki kekuasaan yang lebih rendah. Dengan penuh percaya diri merendahkan dirinya yang seorang pangeran.


"Cih, kita lihat saja nanti."


"Tidak perlu dilihat, karena aku, tidak akan membiarkan milikku diambil apapun yang terjadi." Batin Erol.


Kasak, kusuk, kasak, kusuk, pesta masih terasa sangat ramai dan meriah. Auris masih mengurusi Paman yang baginya sangat tidak berguna.


"Tuan putri semakin lama semakin dewasa saja, ya."


"Haha, Anda terlalu berlebihan."


"Oh, Tuhan, kenapa pria tua ini banyak sekali omongnya, sih?" Batin Auris.


Erol melirik ke arah Auris yang terlihat sangat tidak nyaman dan canggung. Tatapan Erol seketika menjadi sayu dan sedih.


"Haish, keadaan ini semakin lama semakin memuakkan." Batin Erol.


"Apa kau merasa pesta ini terlalu biasa- biasa saja?"


Set, Erol menoleh ke arah suara yang baginya sangat menyebalkan itu. Erol menghela napas panjang dan merespon dengan pasrah perkataan pangeran Kelvin.


"Kenapa dia masih di sini?" Batin Erol.


"Lumayan." Jawab Erol singkat.


"Mau membuatnya lebih meriah lagi tidak?"


"Orang ini, inginnya apa, sih?" Batin Erol.


Erol merespon dengan tatapan datar, curiga, dan merasakan sesuatu yang tidak baik. Hasilnya, ternyata seperti yang ia bayangkan.


"Jangan coba- coba membuat keributan, karena itu tidak akan sopan."


"Heh, jadi orang seperti mu juga tahu sopan santun, ya?" Tanya Kelvin meremehkan.


"Pangeran, saya rasa, yang tidak tahu sopan santun itu sekarang, berada di depan saya, tuh."


"Cih, jangan sombong!"


Erol tertawa kecil, rencananya menaikkan darah pangeran Kelvin ternyata lebih mudah dari bayangannya. Wajah pangeran Kelvin semakin memanas.


"Baiklah, baiklah, kau ingin melakukan apa?"


"Ayo kita taruhan."


"Tak ku sangka, ternyata pangeran suka berjudi, ya."


"Lupakan soal itu, jadi bagaimana? Kau mau menerimanya atau tidak."


Erol melirik ke arah pangeran Kelvin dengan smirk yang membuat Pangeran Kelvin ikut tersenyum smirk juga. Sudah jelas, mereka akan membuat keributan.


"Menurut mu?"


"Hahaha, ayo kita bertaruh. Siapa yang dapat minum lebih banyak. Dia menang."


"Heh, ayo kita mulai."


"Kau pasti akan kalah!" Batin Erol dan pangeran Kelvin bersamaan.


Beberapa menit kemudian, pangeran Kelvin dan Erol masih saja, tenang, mereka masih sadar. Belum mabuk, kesadaran masih 100%.


"Heh, ternyata kau kuat minum juga."


"Pangeran, sepertinya kau terlalu meremehkan ku."


Set, karena Paman menyebalkannya itu sudah pergi. Auris menoleh dan mencari keberadaan Erol yang tidak terlihat Batang wajahnya yang tampan.


"Loh, itu Erol bukan? Kenapa dia malah minum- minum bersama pangeran Kelvin?" Gumam Auris.


"Auristela sayang, ada apa?" Tanya Ibu l*cn*t Auris.


"Auristela sayang? Rasanya aku mau muntah." Batin Auris dengan tatapan jijik.


"Tidak apa- apa Ratu, saya permisi dulu, sampai jumpa."


Tap, tap, tap, Auris pergi meninggalkan Ratu kerajaan Elf. Seketika gosip- gosip buruk tersebar, kalau hubungan Ratu dan putri Auris tidaklah baik.


Walau kenyataannya memang seperti itu, dari dulu sampai sekarang ini. Di sisi lain, Ratu menekuk wajahnya sambil berdecak sebal.


"Ck, anak itu, ternyata susah juga untuk di kendalikan." Batin Ratu.


Tap, tap, tap, Auris berjalan ke arah Erol dan Pangeran Kelvin dengan wajah panik dan khawatir. Takut kalau Erol akan kenapa- napa.


Cie, doi lebih penting dari ibu dan pria tampan. Ahaq, keselek meteor aink🤣


"Dasar Erol, kenapa dia harus minum- minum bersama pangeran licik itu?" Batin Auris.


"Erol! Loh?"


Jeng, jeng, jeng, ternyata yang mabuk duluan adalah pangeran Kelvin. Dari dulu Erol itu memang kebal dengan alkohol atau minuman keras.


"Eh, Auris? Kesempatan emas, nih. Pura- pura mabuk aja, deh." Batin Erol.


"Uh, rasanya pusing sekali." Ujar Erol.


"Aku tidak kuat lagi." Ucap Pangeran Kelvin.


"Haah, seharusnya aku sudah menduga ini." Batin Auris.


Set, Auris mendekat ke arah Erol dan memapahnya keluar dari pesta. Diam- diam, Erol menyeringai senang, karena dia lebih di prioritas, kan. Bisa ae lu bambang.


"Hihi, berhasil." Batin Erol.


"Sir Teh, bawa Pangeran Kelvin ke kamar tamu. Aku akan membawa Erol ke kamar lainnya."


"Baik, yang mulia Putri Auris."


Tap, tap, tap, di sepanjang perjalanan, semua orang melihat ke arah Auris dengan wajah- wajah penasaran dan haus akan gosip besar.


Auris hanya menatap lurus ke depan, tidak peduli apapun yang di bicarakan orang- orang kurang kerjaan yang sangat mengganggu itu.


"Mereka ini sangat menyebalkan." Batin Auris.


"Aduh, aku kenapa merasa sangat bersalah pada Auris, ya?" Batin Erol.


Bruk, Auris melempar tubuh Erol ke atas kasur, kasihan babang gantengnya di lempar. Mereka sekarang ada di, kamarnya Auris?!


"Huh, kau lumayan berat juga. Aroma tubuh mu, aroma alkohol."


"Tentu saja, aku kan tadi minum alkohol sayang." Batin Erol.


"Kenapa aku merasakan gejolak aneh di dada ku, ya?" Batin Auris.


Set, Auris melirik ke arah Erol, glek, dia menelan salivanya susah payah. Dia menggelengkan kepala membuang semua pikiran buruk di kepalanya.


"Astaga, kenapa pikiran ku se liar ini?" Batin Auris.


"Apa yang anak itu pikirkan sekarang?" Batin Erol.


bruk, Auris berjalan dan duduk di pinggir kasur tempat Erol berada. Erol menyeringai kecil, set, dengan cepat wajah Auris langsung mengernyit.


"Loh, apa dia barusan tersenyum tadi? Ah, itu tidak mungkin!" Batin Auris.


Set, tiba- tiba sebuah tangan melingkar di tubuh Auris dan menariknya. Mata Auris terbelalak kaget, ternyata Erol sama sekali tidak mabuk.


"Apa yang...?"


"Kenapa, apa kau tidak suka tertidur di atas tubuh ku?"


"Kau, ternyata kau mengerjai ku!"


"Hihi, jika aku tidak melakukan itu. Bukankah kau pasti akan memapah pangeran Kelvin ke kamar mu juga nanti?"


Ah, Auris terkejut, ia tidak percaya kalau Erol akan mengatakan hal itu. Sudah jelas bukan apa maksudnya, tinggal menunggu reaksi Auris.


"Kau, kau berpikir kalau aku wanita seperti itu?"


"Apa? Tentu saja tidak!"


"Lalu kenapa kau mengatakan itu? Aku pikir,"


Tes, tes, tes, air mata membasahi pipi Auris yang lembut. Oh, Tuhan, sekarang Erol benar- benar merasa sangat bersalah.


"Astaga, padahal aku hanya ingin mengerjainya dan melihat wajah marahnya. Tak ku sangka dia akan menangis." Batin Erol.


"Hai, tenang dulu, bukan begitu maksud ku."


"Bohong! Hiks, Apa, apa di mata mu aku ini wanita murahan, hiks?"


"Apa?! Apa kau sudah g*la? Mana mungkin aku berpikir seperti itu!"


"Bohong, kau pasti bohong. Di mata mu, aku pasti hanya-"


Cup, Erol menyentuh kepala Auris dan mendorong kepala Auris agar bibir mereka dapat bertemu. Mata Auris terbelalak, dia mata terkejut.


"Dengarkan aku, bagiku, kau adalah wanita paling terhormat dan cantik di dunia ini. Aku hanya, cemburu saja karena kau lebih mementingkan dia dari pada aku."


"Ahaha, jadi hanya karena itu?"


"Iya, sebab itulah, jangan pernah berpikir kalau kau adalah ' wanita murahan' mengerti?"


"Baiklah, terima kasih, calon suamiku~"


"Apaan, sih. Bisa aja."


"Jadi kau tidak mau?"


"Kau bercanda? Tentu saja aku mau!"


Tawa dan senyum bahagia mengelilingi kedua pasangan beda dunia itu. Pertanyaannya adalah, akankah kisah cinta mereka berakhir bahagia?


BERSAMBUNG~