
"Eh, perasaan ku, kok, tiba- tiba nggak enak, ya?" Batin Erol sembari mengusap kepala bagian belakang.
"Hm, Erol, ada apa? Kenapa kau terlihat gelisah begitu?"
"Ah, aku cuma merasakan ada hal aneh saja. Lebih baik kita segera pergi dari sini."
"Oh, ok, aku akan ambil barang ku."
Sebelum Erol dan Auris bergegas pergi, bayangan anak kecil itu turun dan membuat Erol dan Auris melompat terkejut. Anak itu juga berteriak lumayan kencang.
"Stop! Kalian jangan pergi dulu!"
"Wah, hantu! Erol ada hantu!" Ucap Auris histeris.
Auris melompat ke arah Erol, Erol pun berusaha menangkap Auris. Mereka berdua sekarang malah terlihat seperti orang yang sedang menangkan pasangannya di hadapan anak kecil lagi.
"Erol, ada hantu! Huwa! Cepat singkirkan hantu itu!"
"Iya, iya, kau tenanglah dulu, Auris!" Ucap Erol mulai kewalahan.
"Ekhem, tolong jangan pamerkan hubungan romantis kalian di depan anak kecil yang masih jomblo seperti ku dong."
Hah, Auris pun mulai tenang sebentar, ia kemudian menoleh ke arah Erol yang sedang menggendongnya layaknya pasangan. Push, wajah Auris seketika merah merona.
"Ma, maaf, kau, kau bisa turunkan aku sekarang."
Set, Erol menuruti permintaan Auris dan menurunkannya dari pelukannya. Suasana terasa menjadi sangat canggung, anak itu pun berdekhem.
"Ekhem, jadi, soal cara muncul ku tadi, aku sangat minta maaf."
"E, tidak masalah, tapi, kenapa kami tidak boleh pergi?" Tanya Auris.
"Karena sekarang dunia Elf sedang kacau akibat kau menghilang!"
Deg, Auris dan Erol menjadi sangat terkejut, anak yang ada di hadapannya itu, sepertinya bukan dari dunia fana alias dunia manusia yang sekarang Auris dan Erol tinggali.
Anak itu memiliki ekor dan telinga seperti kucing, tapi dia lebih mirip dengan rubah. Dia memiliki bulu putih seputih salju dan sangat lembut saat di sentuh.
"Ba, bagaimana kau tahu?" Tanya Auris.
"Aku adalah Cabel, aku dari negara tetangga, namanya adalah Negara Siluman."
"Memang Negara Siluman dan Elf bisa akur, ya?" Batin Erol.
Auris duduk bersimpuh di depan anak itu, ia memegang tangan kecil Cabel dengan tatapan memohon. Cabel memiringkan kepala kebingungan.
"Apa kau tahu apa yang terjadi selama aku pergi?"
"Ya, aku tahu."
"Kalau begitu, aku mohon padamu untuk menceritakan semua kejadiannya."
"Baiklah."
Tiga Minggu yang lalu, lebih tepatnya saat Auris hilang karena terbawa ke dimensi lain. Saat itu, pasukan pemberontak kerajaan Elf menyerang dan mengakibatkan kerusakan.
Raja Elf, Ritel de Elftion, tertangkap dan di sekap di istana para pemberontak. Namanya adalah istana Darkwert, banyak pejuang kerajaan Elf yang gugur dan di bunuh di sana.
Sampai sekarang, belum ada yang bisa menyelamatkan Raja Elf Ritel de Elftion. Bahkan, keadaan kerajaan Elf sekarang semakin parah dan banyak juga korban jiwa.
"Kerajaan Elf juga meminta kami membantu negaranya. Tapi apa daya, negara kami ternyata juga di setang dua hari setelah negara mu."
"Astaga, Erol, bagaimana ini? Kita harus cepat kembali ke kerajaan Elf sekarang!"
"Jangan tuan putri, terlalu berbahaya jika Anda pergi di saat seperti sekarang ini!"
"Tidak boleh begitu, aku adalah putri Elf, kewajiban ku adalah melindungi rakyat ku walaupun aku harus tiada sekali pun. Aku tidak bisa melarikan diri dari tanggung jawab ku!"
Cabel tersentak, ia tersenyum tipis melihat keberanian Auris untuk membela para warganya. Cabel pun berbalik dan berjalan lebih dulu dari pada Auris dan Erol, ia kemudian berhenti sebentar.
"Terima kasih, ah, tunggu dulu, Erol, aku..."
"Aku akan ikut dengan mu, Auris!"
"Erol, jangan keras kepala, musuh ku sekarang sangat kuat. Orang dari dunia fana seperti mu pasti akan hancur!"
"Aku tidak peduli, apa pun yang kau katakan, aku akan tetap di samping mu! Karena, karena kita adalah, sahabat, Auris."
Erol menampakan senyum pahit, ingin sekali ia mengatakan perasaannya dan meminta Auris tetap tinggal. Tapi ia memiliki kewajiban pada rakyatnya dan Erol tidak bisa mengganggu hal itu.
"Erol, tapi jika kau tiada nanti-"
"Aku tidak akan tiada!"
Deg, Auris terkejut, sementara Cabel, dia hanya menonton drama televisi itu dengan tenang dan santai saja. Suasana Erol dan Auris masih terasa sangat serius.
"Aku tidak akan tiada, aku tidak akan tiada sampai aku bisa melihat mu bahagia!"
"Yah, walaupun kemungkinan kebahagiaan mu itu bukan bersama ku." Lanjut Erol dalam hati.
"Kalau begitu, jangan salahkan aku jika kau kehilangan nyawa mu yang berharga itu!"
"Aku tidak akan menyesalinya."
"Tapi aku akan menyesal jika aku gagal melindungi senyuman dan nyawamu itu." Batin Erol.
Erol dan Auris, keduanya tersenyum simpul, kemudian mereka berdua menatap Cabel yang masih saja santai melahap makanan yang ia bawa sebelum datang ke dunia manusia.
"Hm, iya, iya, ayo kita pergi."
Cabel mengangkat kedua tangannya sambil membaca mantra. Zhung, portal tembus dimensi tercipta, portal itu langsung memperlihatkan keadaan kerajaan Elf saat itu.
Auris terkejut, dengan cepat Auris langsung melangkah masuk dan Erol mengekor dari belakang. Di ikuti oleh Cabel yang segera menutup portal agar tidak ada manusia lain yang pergi ke dunia Elf atau siluman itu.
Bruk, Auris duduk bersimpuh dengan tatapan hampa. Ia tidak menyangka kerajaannya akan menjadi seperti ini saat ia kembali dari tragedi aneh itu.
"Ba, bagaimana ini mungkin...?"
"Sudah aku duga, pasti ada sebuah konspirasi di balik perginya Auris. Tapi aku tidak percaya kalau sampai separah dan serumit ini." Batin Erol.
Auris masih menatap hampa kerajaannya yang sekarang sedang di lahap si jago merah alias api yang sangat besar. Erol menunduk di dekat Auris dan berusaha menyemangatinya.
"Tenanglah, semuanya pasti akan baik- baik saja pada akhirnya."
"Ya, semoga saja begitu."
"Auris..."
Srek, srek, srek, tiba- tiba semak- semak di sebelah Erol dan Auris bergerak. Cabel yang hanya anak kecil itu pun segera berlari ke belakang mereka berdua.
Erol melangkah di depan untuk melindungi Auris. Sementara Auris segera berdiri dan mengambil ancang- ancang menyerang jika itu adalah salah satu pemberontak.
"Ah, tuan putri, ternyata itu memang Anda!"
Seorang pria berbadan kekar, sepertinya dia adalah salah satu prajurit Kerajaan Elf yang masih selamat. Sayangnya, tubuhnya bernodakan darah dan terluka cukup parah.
"Siapa kau?" Tanya Erol masih waspada.
"Saya adalah salah satu dari prajurit Kerajaan Elf."
"Bagaimana kami bisa yakin kalau kau bukan salah satu dari pengkhianat yang sedang menyamar?"
"Jika saya adalah seorang pengkhianat, maka saya tidak mungkin akan memiliki luka dan darah yang suci dan bersih ini."
"Tunggu Erol, dia benar, hanya para prajurit setia kerajaan Elf saja yang memiliki darah seperti itu."
BERSAMBUNG~