
"Dengerin tuh, gara- gara lu teriak." Ucap Erol.
"Iya, iya, maaf."
"Sebenarnya ada apaan, sih?"
"Ka, kau berbuat mesum kepada ku!"
"???"
Erol terdiam bingung dengan perkataan Auris pagi- pagi itu. Auris masih menggembungkan pipinya menunjukan seberapa kesalnya dirinya. Hal itu malah membuat Erol ingin menjahilinya lagi.
"Eiy, kalau kau menggembungkan pipi mu seperti itu terlihat sangat imut, loh."
Set, Erol menarik pipi Erol untuk ke dua kalinya. Auris semakin kesal dan marah, ia menghempaskan tangan Erol dan pergi menjauhi Erol.
"Eh, apa dia baru PMS, ya?" Batin Erol.
Brak, Auris membanting pintu dengan sangat kuat. Erol langsung bergidik ngeri dan memalingkan wajah seperti tidak terjadi apapun di antara mereka berdua.
"Kok kaya istri marah sama suaminya, ya?" Batin Erol.
Set, Erol bangun dari duduknya dan menuju ke depan pintu kamarnya. Tok, tok, tok, Erol mengetuk pintu berharap ada jawaban dari Auris sang putri kerajaan Elf itu.
"Auris, hei, apa kau mendengarkan ku? Baiklah, aku minta maaf deh. Kau mau memaafkan ku?"
"..."
"Auris, apa kau ada di dalam?"
"..."
"WOI SIALAN, BUKA PINTUNYA!"
"Pergi sana!"
"..."
Erol menatap datar di depan pintu, ia kemudian membuka pintu dan pergi keluar. Mendengar suara orang membuka pintu, Auris mengeluarkan kepalanya mengecek.
"Hm, kemana dia pergi? Sebenarnya aku juga tidak ingin marah- marah padanya, sih." Batin Auris.
Kriet, pintu terbuka kembali setelah beberapa saat. Auris ingin keluar tapi ia malu atau lebih tepatnya gengsi setelah kejadian pagi dan siang tadi itu.
Bruk, Erol menaruh sesuatu di atas meja. Auris mendekatkan telinganya ke pintu ingin mendengar apa yang sudah di lakukan Erol. Auris penasaran apa yang sedang Erol lakukan.
"Auris keluarlah dari kamar. Aku sudah mempersiapkan makanan mu di atas meja. Aku akan mandi dulu." Ucap Erol.
Kamar mandi apartemen Erol ada di luar dan lebih tepatnya dekat dengan dapur. Kriet, byur, suara orang mandi pun terdengar sampai ke kamar Erol.
Kriet, Auris membuka pintu dan di dapati ada sesuatu di atas meja. Penasaran, Auris membukanya dan di dalamnya ada beberapa pembalut yang di siapkan oleh Erol.
Push, pipi dan telinga Auris seketika memerah malu. Ia tak percaya kalau akan ada laki- laki sebaik dan sepengertian Erol di dunia fana itu. Kalau pun ada pasti 1 banding 1 juta orang.
Kriet, dengan rambut yang masih basah, Erol keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Erol memang jahil, tapi dia bukan pria mesum yang suka bermain dengan wanita.
"Ma, maaf."
"Hah?" Erol melongo tidak paham.
"A, aku minta maaf soal pagi dan siang tadi. Tapi, dari mana kau tahu?"
Erol menampakan senyum tipis, ia tak menyangka kalau Auris akan meminta maaf secepat itu. Memang kalau perempuan minta maaf itu sangat jarang.
"Aku tahu karena saat pagi tak aku tak sengaja melihat sebuah bercak merah di atas kasur."
"A, em, so, soal itu..."
"Dan aku yakin, kau pasti mengatakan hal itu agar kau bisa mencuci seprai itu dengan leluasa bukan?"
"Ka, kau sangat perhatian, Erol."
"Terima kasih pujiannya."
Erol bergegas ke kamar dan mengganti bajunya. Karena saat Erol mandi, ia masih menggunakan baju tadi pagi. Jadi dia ke kamar selagi suasanya sudah membaik.
Malam harinya, Erol kembali tidur satu kasur dengan Auris. Setelah kejadian tadi, suasana hati Auris menjadi lebih lega. Karena temannya bukan seorang yang mesum.
"Selamat tidur, Erol."
"Selamat tidur juga, Auris."
Pagi harinya, Auris berkeliling rumah mencari keberadaan Erol. Di kamar mandi, di kamar, bawah kasur dan yang lainnya tapi Erol masih terus tidak di temukan.
"Erol pergi kemana, ya? Apa jangan- jangan dia masih marah, ya?"
"Kau kemana saja tadi?"
"Hm, aku pergi ke sekolah karena aku adalah seorang mahasiswa."
"Sekolah? Mahasiswa? Apa itu?"
"Sekolah adalah tempat di mana orang menurut ilmu. Mahasiswa adalah sebutan orang yang menuntut ilmu di sekolah."
"Oh, begitu."
Hidung Erol mencium sesuatu yang enak, ia kemudian pergi ke meja makan dan membuka tudung sajinya. Woila, ada banyak makanan enak di dalamnya.
"Ini, siapa yang memasaknya?"
"Aku tentu saja!"
"Kau tidak menggunakan sihir peri mu bukan?" Tanya Erol curiga.
"Tentu saja tidak! Lagi pula di dunia fana ini aku harus menghemat kekuatan ku sebelum kembali ke negeri ku."
"Ya, terserahlah. Aku coba makanan mu, ya."
Auris mengangguk, Erol duduk dan memakan satu suapan. Syalalala, mata Erol berbinar, ia kemudian menelan makanannya itu dan menatap ke arah Auris.
"Ada apa? Apa makanannya tidak enak?"
"Dari mana, kau belajar membuat makanan selezat ini?"
"Aku ini bukanlah Putri yang tidak berguna dan hanya tahu memerintah saja. Selain itu, sebenarnya dulu aku diam- diam pergi ke dapur untuk mencoba memasak makanan baru."
"Haha, pantas saja makanan mu terasa sangat enak."
Auris tersenyum senang, Erol kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku. Buku itu sangat tebal dan berdebu, sepertinya tidak banyak orang yang membacanya.
"Buku apa itu?"
"Buku ini adalah buku non fiksi, dengan kata lain karangan yang benar- benar terjadi. Di sini juga menjelaskan tentang sihir untuk melewati dimensi."
"Benarkah? Maksudmu aku bisa pulang begitu?"
"Iya, tapi aku tidak bisa membacanya. Jadi ini aku berikan kepada mu, siapa tahu kau bisa membacanya."
Auris mengambil buku tebal itu, ia terlihat dapat membacanya dengan sangat jelas. Erol kembali melahap makanannya sambil memperhatikan Auris yang masih membaca buku itu.
"Ah, jadi begitu."
"Ada apa?"
"Apa kau tahu di mana letak bukit Helio?"
"Maksudmu, hutan angker itu?"
"Hutan angker?"
Bukit Helio, terkenal dengan pembantaian besar- besarannya dulu saat terjadi perang. Banyak sekali mayat- mayat prajurit yang telah gugur. Konon katanya, ada banyak sekali arwah gentayangan di sana.
"Apa kau takut?" Tanya Auris penasaran.
"Tidak, untuk apa aku takut? Selama mengikuti adat istiadat di sana, kita tidak akan terganggu sama sekali."
"Oh, begitu, jadi apa kau bisa mengantarku ke sana?"
"Ya, bisa, tapi kau harus menunggu ku lulus Universitas dulu."
"Kapan kau lulus?"
"Tiga Minggu lagi."
Tiga Minggu, waktu yang cukup untuk mempersiapkan persiapan menuju ke sana. Auris mengangguk paham melihat kondisi Erol saat itu.
"Oh, ya, Auris, untuk seminggu ke depan, tolong jangan ganggu aku, ya?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku ingin belajar, dan dalam proses belajar itu aku tidak mau di ganggu."
"Ok, tapi kau janji akan mengantar ku ke sana setelah lulus Universitas, kan?"
"Tentu saja, pria sejati tidak akan menarik kata- katanya lagi."
BERSAMBUNG~