My Beautiful Elf

My Beautiful Elf
Episode 4



Seminggu setelahnya, seperti yang di katakan Erol. Selama masa itu dia sama sekali tidak ingin di ganggu. Auris berada di dapur dan mencoba untuk menjadi sahabat perempuan yang baik.


Misalnya memasak, membersihkan apartemen, sumpah kaya suami istri. Itu pun di lakukan dengan tenaga dan bukan dengan sihir Elf. Auris merasa dirinya seperti di lockdown.


Ia tidak bisa kemana- mana dan hanya ada di rumah sepanjang hari. Ujian pun berakhir, nilai Erol masih menjadi nomor satu se sekolah. Sesuai janji, beberapa hari setelah ini mereka akan pergi selesai wisuda.


"Auris, terima kasih, ya. Untuk semua kerja keras mu seminggu ini."


"Sama- sama, kau juga sering membantu ku."


Hari wisuda pun tiba, karena Erol adalah anak yatim piatu dan ia butuh seorang wali. Maka ia meminta Auris berpura- pura menjadi kakak sepupu jauhnya saat itu.


"Saya harap, wali Erol Velma maju ke depan."


Auris kemudian maju ke depan panggung dan membuat seluruh mahasiswa laki- laki takjub akan kecantikannya. Mereka semua kemudian berbisik- bisik dan sepertinya itu tidak baik.


"Astaga, dia cantik sekali."


"Benar- benar seperti melihat seorang Dewi."


"OMG, dia cantik banget."


"Erol beruntung sekali."


Semua orang termasuk guru laki- laki di sana gelagapan dan terlihat malu- malu. Saat mendengar suara lemah lembut dan ramah Auris, semua orang langsung Auto mimisan.


"Saya adalah kakak sepupu Erol sekaligus walinya. Terima kasih sudah mendidik Erol, ya."


Tangan Auris dan guru laki- laki itu berjabatan. Wajah Erol menampakan ketidak sukaan dan kesal. Sementara guru laki- laki itu, ia seperti melayang di atas langit.


"Sa, saya adalah wali kelas Erol. Sa, salam kenal, Auris."


"Iy-"


Zhung, punggung Auris seketika memanas, ia berbalik dan terlihatlah wajah di tekuk Erol yang membuat Auris terkekeh geli. Semuanya tambah mimisan melihat keimutan Auris.


"Dasar guru cabul, mati saja sana." Batin Erol.


Acara wisuda selesai, saat mereka berada di luar banyak sekali murid laki- laki yang mengerumuni mereka. Erol sampai tersingkir saking banyaknya fans fanatik Auris.


"Kakak cantik, apa aku bisa meminta fotomu?"


"Dewi Auris, bisakah aku meminta nomor telepon mu?"


"Bidadari Auris, ini hadiah untuk mu, apa kau mau?"


"Dewi Auris~"


"E, eh, itu..."


Grep, Erol dengan sigap menarik tangan Auris dan membawanya jauh dari kerumunan itu. Baru beberapa langkah menjauh, Erol menatap tajam ke belakangnya.


"Kalau kalian ingin memilikinya, lewati aku dulu, bodoh."


Hiii, semua orang langsung bergidik ngeri, di sela- sela kengerian itu. Auris malah terkekeh geli bagaikan cahaya di tengah kegelapan yang sangat cantik.


"Ternyata dia juga bisa cemburu, ya." Batin Auris.


Sesampainya di apartemen, wajah Erol benar- benar di tekuk. Wajah cemburunya itu sangat menggemaskan dan lucu. Auris tidak berhenti tertawa kecil.


"Kenapa kau tertawa? Tidak ada yang lucu tahu!"


"Hihi, iya, iya, aku minta maaf."


Erol melirik ke arah Auris yang masih tersenyum. Erol sedikit tertegun pada awalnya, kemudian ia tersenyum dan membuat hati Auris meleleh melihatnya.


"Ke, kenapa kau tertawa?"


"Apa aku butuh alasan untuk tersenyum?"


"Ti, tidak, sih."


Erol menghembuskan napas, "Huft, ayo persiapkan barang yang kita perlukan dan pergi."


"Pergi? Pergi kemana?"


Erol berbalik dan menatap datar ke arah Auris. Auris memiringkan kepala bingung, Erol mendengus kasar melihat tingkah sahabat perempuannya itu.


"Kau ternyata cukup pikun juga, ya."


"Bukankah kau ingin kembali ke dunia mu?"


"Ah, benar, aku lupa."


Auris bergegas ke kamar dan mempersiapkan bajunya yang dulu di belikan oleh Erol. Erol tersenyum tipis dan segera mengikuti Auris ke kamarnya.


Tangan Auris sibuk ke sana ke mari memasukan bajunya dan baju Erol ke dalam koper. Tanpa di sadari, ada sebuah tangan yang menggenggam tangannya dari belakang.


Auris berbalik ke belakang melihat siapa yang masuk ke kamarnya dan Erol. Ternyata pelakunya adalah si pemilik apartemen sekaligus sahabat laki- lakinya, Erol.


"Soal baju aku saja yang mengurusnya, kau pergi saja memasak sana."


"O, oh, baiklah."


Auris pun pergi ke dapur dan memasak dengan patuh. Di kamar, Erol tersenyum manis melihat tingkah Auris yang kadang seperti anak kecil dan tiba- tiba menjadi penurut.


"Haha, dasar gadis bodoh." Ucap Erol lirih.


Semua perlengkapan sudah siap, sekarang yang perlu di lakukan hanyalah berpergian ke sana saja. Erol dan Auris keluar apartemen dan memesan sebuah taksi.


Brum, taksi sudah datang di depan apartemen mereka. Semua koper dan barang- barang di taruh di bagasi mobil kecuali tas yang berisi uang dan benda berharga tentunya.


"Mau kemana, Kak?" Tanya supir taksi.


"Tolong antar kami ke bandara, ya, Pak." Ucap Erol.


"Bandara?" Tanya Auris.


"Benar, untuk pergi ke bukit Helio, kita harus pergi ke kota U terlebih dahulu."


"Oh, begitu."


Sepanjang perjalanan, Auris melihat ke luar jendela mobil dengan senyum mereka di wajahnya. Erol diam- diam tersenyum tipis dan melirik ke arah Auris.


Set, mereka sudah sampai sekarang di bandara kota H. Brak, pintu mobil taksi terbuka, Auris dan Erol pergi ke belakang untuk mengambil koper dan membayar kepada supir taksi.


"Auris, pegang tanganku agar kau tidak hilang nanti."


"Ini bukan modus mu, kan?" Tanya Auris dengan tatapan curiga.


"Dari mana kau belajar kata- kata seperti itu?"


"Rahasia dong."


Tidak mau berbelit- belit, Erol langsung menggandeng tangan Auris dan menutun jalannya. Auris memalingkan wajah agar pipi meronanya tidak kelihatan.


"Permisi kakak cantik." Ucap Erol.


"Ya, apa ada yang bisa saya bantu?"


"Kakak cantik? Maksudnya itu apaan, sih?!" Batin Auris.


"Kalau pesawat no 32 Yr ada di mana, ya?"


"Kakak tampan lurus saja ke sana dan belok saja sedikit. Itu adalah tempat masuk menuju pesawatnya nanti."


"Terima kasih, kakak cantik."


"Cuih, benar- benar menyebalkan, pake acara modus- modusan lagi." Batin Auris.


"Auris, ayo kita segera pergi."


Erol menarik tangan Auris yang mendadak kaku. Erol melirik ke belakang, tampaklah wajah kesal di tekuk Auris yang sangat imut. Erol diam- diam tertawa kecil.


"Tenanglah, itu hanya formalitas belaka saja. Aku tidak akan benar- benar berhubungan dengan wanita di meja resepsionis itu."


"A, apaan, sih? Lagian kenapa juga kau mengatakan hal aneh begitu?" Tanya Auris sambil memalingkan wajah.


Erol hanya tersenyum, sekarang mereka ada di dalam pesawat. Banyak sekali pramugari cantik yang ada di dalamnya. Tapi wajah Erol nampak biasa- biasa saja seperti tidak peduli sama sekali.


Wush, zhung, pesawat pun terbang dan berada setara dengan tingginya awan. Auris menatap keluar jendela pesawat, dan lagi- lagi tatapan takjub terlihat di matanya.


"Wah, ternyata dunia fana tidak kalah indah dengan dunia Elf." Batin Auris.


BERSAMBUNG~