
"Baiklah, aku menyetujuinya." Ucap Auris dengan yakin.
"Bagus."
Wush, cahaya yang sangat menyilaukan keluar dari tubuh bagian dada milik Erol yang tertusuk. Dalam sekejap, semua luka yang ada di tubuh Erol menghilang dan darahnya pun ikut hilang.
"Ingat kata- kata ku, Putri Auristela. Jangan pernah menggunakan kekuatan gelap itu lagi."
Syush, Dewi Adriana menghilang dari hadapan Auris bersamaan dengan hembusan angin. Auris masih menatap tempat di mana orang yang menolongnya hilang.
"Uhuk, uhuk!"
"Erol?!"
Semua lamunan itu hilang dan berganti menjadi kebahagiaan setelah Erol sadar. Pelukan hangat menyambut dengan diiringi tangis bahagia yang membuat haru.
"Erol, hiks, untunglah kau tidak apa- apa. Kau sangat bodoh! Kenapa kau melakukan hal seperti itu tadi?!"
"Uhuk, aw, sakit."
"Ah, maaf, di mana yang sakit?"
Set, Erol meraih tangan Auris dan mengarahkan tangan Auris ke bagian dadanya. Auris kebingungan dan menatap dengan tatapan polos yang menggemaskan.
"Di sini, rasanya hati ku sangat sakit saat melihat mu menangis dan terluka di hadapan ku."
Auris terdiam sebentar, kemudian buliran air mata berjatuhan semakin deras. Ia mengusap air mata itu dengan senyum manis yang membuat hati lega dan adem adem gimana gitu.
"Kau ini masih saja bisa bercanda di saat seperti ini, ya?"
"Aku tidak bercanda, Auris, aku mencintai mu."
Mulut Auris terkunci, kebahagiaan di wajahnya saat itu tidak bisa di deskripsikan menggunakan kata- kata. Rasanya sangat bahagia, btw, aku dan para Readers yang jomblo kapan kaya gitu.
"Erol, kau benar- benar serius?"
"Tentu saja, kenapa aku harus berbohong? Aku awalnya tidak percaya ada cinta pada pandangan pertama. Karena kebanyakan hubungan seperti itu pada akhirnya kandas."
"Tapi, sejak aku bertemu dengan mu, aku mulai mempercayainya. Auris, maukah kau menjadi istriku satu- satunya kelak?" Lanjut Erol.
Air mata berjatuhan, dengan cepat Auris memeluk Erol sambil mengatakan sesuatu yang membuat orang sangat senang dan bahagia. Sudah ketebak bukan?
"Ya, aku mau, aku mau!" Jawab Auris dengan antusias.
"Terima kasih banyak, aku berjanji tidak akan pernah mengecewakan mu."
"Tuan putri Auris!"
Tahulah siapa yang manggil kaya gitu. Yap, si Sir Teh Poci yang suka banget ganggu pasangan bercinta dan suasana romantis yang berakhir canggung gara- gara dia dateng.
"Sir Teh?" Tanya Auris buru- buru melepas pelukan.
"Cih, mengganggu saja, kenapa dia selalu ingin membuat hidup ku tidak berwarna, sih?" Batin Erol.
"Tuan putri Auris, apa anda baik- baik saja? Apa ada yang terluka?"
"Ya Tuhan, kalau tidak ingin dia terluka maka nggak usah bolehin dia ikut perang, t*l*l!" Batin Erol.
"Aku tidak apa- apa tenang lah." Ucap Auris dengan lembut.
"Woi, ada yang terlupakan di sini." Batin Erol.
Sir Teh menghela napas lega, sementara Erol, ya, dia terus saja mengoceh dalam hati. Pikirannya benar- benar sudah seperti benang bundet gara- gara cemburu.
"Sudah, sudah, kenapa kau di sini? Apa perangnya sudah selesai?" Tanya Erol ketus.
"Ya, beberapa menit yang lalu semua orang di pasukan pemberontak tiba- tiba menghilang."
"Semuanya?" Tanya Auris memastikan.
"Ya, Tuan Putri Auris."
Erol memalingkan wajah bingung terus berpikir keras. Sama halnya dengan Auris yang memasang pose berpikir. Sementara Sir Teh kebingungan dengan pasangan itu.
"Ini aneh." Ucap Auris.
"Itu mungkin saja, tapi ini masih belum pasti. Tapi, setidaknya kita masih bisa bernapas lega karena mereka menghilang bukan?"
"Ya, aku rasa kau benar, Auris."
"Jadi, apa yang akan kita lakukan Tuan Putri Auris?"
"Kita akan berpesta dan umumkan bahwa kerajaan Elf dan Siluman bebas dari penjajah. Merdeka!"
"Merdeka!" Teriak Erol dan Sir Teh mendukung Auris.
Malam harinya, negara Elf menggelar pesta besar- besaran yang sangat mewah. Semua orang bersenang- senang, dan di pesta itu, Auris sangat mencuri perhatian semua orang.
Lantaran ia menggunakan pakaian berwarna pink lembut bercampur merah. Dengan mahkota yang di tengahnya berbentuk love menambah kesan cantiknya.
"Wah, Bunga Cahaya Kerajaan Elf Putri Auristela memang sangat cantik dan menawan!"
"Dia adalah orang tercantik sekaligus paling lembut di dunia ini!"
"Ah, kenapa setiap melihat Putri Auristela aku selalu tiba- tiba pusing? Apakah ini yang di namakan mabuk kecantikan?"
"Jangan aneh- aneh lu tong."
"Sirik ae lu lihat Gw bahagia."
Maaf, guys, kalau ada bahasa Indonesianya. Eh, lebih tepatnya bahasa gaul negara +62 tercinta. Soalnya Gw nggak tahu bahasa kerajaan tuh kaya gimana. Sama biar lucu aja gitu.
"Ya tentu saja dia sangat cantik, karena dia orang pertama yang membuat ku terpesona dan menjadi orang bucin akut begini." Batin Erol.
"Eh, Erol, kau di sini? Erol, kau, terlihat sangat tampan!"
"Ternyata kau orang yang terus terang juga, ya, Auris. Nggak malu kalau di denger orang?"
Blush, seketika pipi Auris memerah. Rasanya ia ingin sekali menggali makam yang dalam dan menyembunyikan wajah malunya itu. Benar- benar membuat wajah panas.
Saat itu Erol menggunakan pakaian putih seperti seorang pangeran berkuda. Sayangnya kudanya nggak ada soalnya lagi di kandang. Kudanya lagi meriang panas dalam.
Auris hanya menutup wajahnya dan Erol, dia malah tertawa melihat sikap Auris yang kadang polos itu. Keadaan memalukan bagi Auris itu hilang setelah seseorang datang.
"Permisi, apakah kau adalah Tuan Putri Auris, bunga cahaya kerajaan Elf yang terkenal itu?"
"Em, panggil saja aku Auris."
"Ekhem, maaf, tapi aku rasa itu akan sangat tidak sopan Tuan Putri."
"Oh, maksudnya perilaku Gw terhadap Auris nggak sopan gitu? Sungguh Terlalu." Batin Erol.
Maaf, kata- kata Bang Haji Rhoma Irama gw ikutin di sini. Seseorang yang datang kepada Auris dan Erol itu ternyata seorang laki- laki, ah, lebih tepatnya lagi seorang pangeran.
"Tuan Putri Auristela , perkenalkan, nama saya Pangeran Kelvin dari kerajaan Elf bagian timur."
"Pantas telinganya runcing, aku pikir dia tadi dari kerajaan Siluman, siluman rubah yang bentar lagi ikut campur urusan orang lain." Batin Erol.
Tubuh Auris di gundukan sebagai salam hormat sesama kerajaan Elf. Walau beda arah, orang, perasaan, hati, sifat, dan yang lainnya. Intinya semuanya beda.
"Halo Pangeran Kelvin, selamat datang di Kerajaan Elf Holly."
"Oh, jadi ada namanya. Aku pikir cuma kerajaan Elf gitu doang." Batin Erol again.
"Terima kasih atas sambutan hangatnya Tuan Putri. Maaf kalau saya lancang, tapi, siapakah pemuda di belakang Tuan Putri?"
"Kau baru melihat ku setelah berbasa- basi dengan Auris cukup lama?!" Batin Erol.
"Dia adalah Erol, salah satu pangeran di kerajaan Elf Holly ini."
Pangeran Kelvin menjulurkan tangan sebagai bentuk persahabatan kepada Erol. Peka, adalah kata- kata yang sangat melekat pada diri seorang Erol.
Ia tahu betul kalau Pangeran Kelvin itu hanya berbuat hal formal yang tidak berguna. Senyum ramah dan semua yang di tunjukan Pangeran Kelvin itu hanya palsu saja.
"Ya, aku harap kita bisa berteman baik, Pangeran Kelvin."
BERSAMBUNG~