
"Orang ini, ke depannya aku harus lebih berhati-hati lagi padanya." Batin Erol.
Erol dan Pangeran Kelvin pun melepas jabat tangan mereka. Dengan senyum manis aneh yang seperti ada suatu maksud tersembunyi, Kelvin menjulurkan tangannya.
"Tuan Putri Auristela, bolehkah saya mengajak Anda untuk berdansa di lagu pertama?"
Maaf kalau bahasanya nggak terlalu mirip sama bahasa kerajaan. Di karenakan saya tidak tahu menahu soal bahasa kerajaan. Kalau ada yang tahu tolong bantu lewat komen, ya.
"Eh, em, baiklah."
Cemburu sekaligus marah karena Auris menyetujui permintaan Kelvin, Erol pun meninggalkan pesta itu menuju ke kolam besar mirip danau di taman kerajaan Elf.
Di sana Erol duduk termenung dengan kaki di peluk. Ia menghela napas berat, pikirannya kacau. Matanya menatap ke arah atas langit malam yang penuh akan bintang terang.
"Sialan, kenapa aku malah pergi dan duduk di sini sendirian?"
"Erol,"
Seseorang memanggil nama Erol dengan lembut dan halus. Erol segera menoleh ke belakang, tanpa ia tengok ke belakang pun dia sudah tahu siapa yang datang.
"Auris?"
Ya, benar, dia adalah Auris yang nampak sangat bersinar di bawah cahaya rembulan. Senyum yang Auris pancarkan benar- benar sangat memesona.
"Kenapa kau ada di sini? Bukannya kau seharusnya sekarang sedang berdansa dengan si pangeran itu?" Tanya Erol dengan cemberut.
"Eiy, kenapa kau terdengar seperti tidak suka begitu?"
"Hump!"
Erol memalingkan wajah dengan pipi yang di gembungkan, bahkan kecemburuannya itu terlihat sangat jelas. Tap, tap, tap, Auris mendekat ke arah Erol yang terlihat kurang senang.
Ia mendekatkan wajahnya ke sebelah kanan leher Erol. Erol hanya diam tidak menyahut, aroma itu, aroma tubuh Erol sangat harum dan segar sekali.
"Apa kau, sedang cemburu?" Goda Auris.
"Dan apa kau berpikir aku tidak bisa cemburu?"
"Eh?"
Blush, seketika pipi Auris memerah, ia mulai gelagapan. Erol hanya menatap Auris yang sepertinya tengah mencari topik agar lepas dari pertanyaan Erol barusan.
"Eh, em, ke, kenapa kau tiba- tiba berbicara seperti itu? Lagi pula, dia adalah salah satu pangeran kerajaan Elf. Jadi aku..."
Bla, bla, bla, karena gugup Auris malah mengoceh tidak jelas. Erol menghela napasnya kemudian mendekati Auris yang sepertinya sibuk dengan ribuan alasannya.
Set, tak, Erol meletakan tangannya di antara kanan dan kiri Auris. Memepetnya di sebuah pohon besar di belakangnya. Auris tidak dapat mengelak, mengelak pun tidak ada gunanya.
"Apa kau berpikir kalau aku tidak bisa cemburu saat kau dekat dengan pria lain?"
"Em, itu, kau sedang bicara apaan, sih? Kenapa kau tiba- tiba menjadi aneh begini."
"Putri Auristela Deolinda Furdiana Zanitha Beatarisa."
Set, Erol semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Auris. Tatapan mata mereka bertemu, antara iris merah muda Auris dan iris biru muda Erol. Suasana seketika menjadi hening.
"Apakah aku bisa meminta sesuatu kepada mu?"
"A, apa itu?"
"Bisakah kau berjanji kepada ku, kalau kau tidak akan mendekati pria mana pun, dalam radius 3 meter."
"Ha?"
"Berjanjilah."
"Tapi Erol, kau tidak lupa kalau aku seorang putri, kan? Kalau seperti itu, aku rasa akan sangat tidak sopan."
Auris tersenyum canggung mencegah kalau Erol tidak akan marah besar. Hah, begitulah helaan napas Erol menghadapi sikap Auris. Memang Erol tidak bisa melupakan tanggung jawab Auris sebagai seorang putri. Tapi tetap saja...
"Huh, menyebalkan. Tinggalkan aku sendirian sekarang. Aku ingin menenangkan dan introspeksi diri."
"Erol, apa kau marah pada ku?"
"Tidak."
Entah kenapa sikap Erol tiba- tiba menjadi dingin terhadap Auris. Grep, Auris menggenggam tangannya dengan kuat karena merasa bersalah. Sementara Erol kembali ke posisi awal duduk di depan danau, Auris mengikuti apa yang Erol lakukan.
"Hei, ada apa?"
"Ya, kalau kau ingin bertanya ya bertanya saja. Aku janji tidak akan masalah, kok."
"Auris, apa kau ingat saat pertarungan kita dengan ketua pemberontak itu?"
"Iya, aku mengingatnya, memangnya kenapa?"
"Dia bilang kau itu adalah 'iblis'."
Deg, saat Erol mengatakan kata 'iblis', mulut Auris seketika bungkam. Iya tahu apa yang akan Erol tanyakan selanjutnya. Pertanyaan Erol tadi, memang sangat menyakitkan.
"Sebenarnya, apa yang terjadi pada masa lalu mu? Auris, ku mohon, biarkan aku mengenal mu lebih dekat lagi." Pinta Erol.
"Eung, soal itu..." Mulut Auris terkunci.
"Sudah ku duga, jika kau tidak ingin cerita ya tidak masalah. Aku tahu apa yang kau rasakan."
Erol memilih memalingkan wajah dan membungkam mulutnya. Ia sadar, kemungkinan besar masa lalu Auris, adalah masa lalu yang sangat pahit dan ingin ia lupakan.
"Apa pertanyaan ini yang selalu mengganjal di hati mu setelah kita selesai berperang?" Tanya Auris tiba- tiba.
"Eh? Em, iya. Tapi tidak masalah, kau bisa cerita kalau kamu mau."
"Kalau begitu baiklah."
"Eh? Apa?"
"Cerita ini mungkin akan membosankan tapi karena kau yang memintanya maka akan aku ceritakan."
"Em, te, terima kasih."
"Tidak masalah."
"Dulu..."
Dulu, kerajaan Elf Holly sangat tenang dan damai sekaligus negara paling kuat. Suatu hari, seorang kaisar kerajaan Elf Holly di masa lampau pulang dari perang sambil membawa seorang bayi.
Semua orang bertanya- tanya, 'apa maksud dari kaisar membawa seorang bayi pulang?' begitulah rumor itu tersebar. Rumor jika mungkin raja telah berhubungan dengan seorang wanita di saat perang berlangsung.
Pertanyaan Gw, begimana caranya di saat perang masih bisa mikirin ngelakuin 'itu'?
Ratu pun meminta penjelasan kepada sang raja tentang masalah ini. Tapi sang raja hanya cuek dan meminta ratu untuk diam. Sang ratu menjadi sangat murka dan benci pada Auris.
Dari situlah Auris di sebut sebagai 'anak iblis pembawa malapetaka'. Di tambah Auris juga malah tumbuh seperti julukan yang di berikan orang- orang.
"Lihat itu, anak iblis itu kenapa bisa berkeliaran di sini?"
"Dia itu penuh akan dosa, kenapa ratu membiarkannya saja?"
"Shutt, diam, jika raja dengar bisa bahaya."
"Anak nakal seperti itu bisa mendapat kasih sayang dan perhatian dari raja? Kau pasti bercanda!"
Ya, dia sangat nakal, banyak orang yang membencinya. Lalu bagaimana cara Auris tiba- tiba menjadi seorang bidadari yang di sukai banyak orang?
Itu berawal dari kematian yang mulia raja dan menjandanya ratu. Sebelum tiada, raja meminta kepada Auris untuk tumbuh dan berperilaku dengan baik.
"Auris, bisakah kau memenuhi satu permintaan ku?"
"Apa itu yang mulia raja?"
"Jadilah bunga harapan yang sangat terang bagi kerajaan Elf, berjanjilah."
"Baik yang mulia raja, saya berjanji."
Mendengar hal itu, Erol hanya bisa menyimak dan diam kaya pembaca cantik dan ganteng yang menyempatkan waktu ke novel saya. Terima kasih, ya.
"Sebab itulah kau terlihat sangat berbeda."
"Berbeda? Berbeda bagaimana? Saat aku menjadi jahat kau kan tidak tahu dan tidak ada di sana."
"Benar, aku memang tidak ada di sana. Tapi jika aku ada di sana, aku tidak akan membiarkan mu sedih dan terluka."
"Erol, terima kasih karena selalu berada di sisiku."
BERSAMBUNG~
Dan terima kasih atas like, komen, favorit, dan votenya. Eh, votenya belum adaš„minta votenya dongš