Mugen's Love

Mugen's Love
Escapism



"Ivy! Tunggu!" Shin berlari mengejar Ivy yang ternyata berlari lebih gesit daripada dugaannya. Setelah menganiaya dirinya secara terang-terangan di depan mata guru dan murid lainnya, ternyata Ivy masih memiliki sisa tenaga untuk berlari dengan kecepatan gila-gilaan hingga ia berhasil masuk kedalam lift dalam waktu sepersekian detik. Cewek macam apa yang memiliki kekuatan mengerikan seperti itu hingga bisa-bisanya menganggap gedung sekolah sebagai medan pertempuran sama seperti tatkala pertemuan pertama mereka di hutan.


Shin hampir saja gagal menghentikannya kalau saja pintu lift yang sudah tertutup tiba-tiba saja terbuka karena ada orang lain yang sengaja membuka tombol lift untuk terbuka kembali.


Dengan terengah Shin ikut masuk ke dalam lift dan ia langsung dikagetkan oleh kehadiran seorang guru berbadan tinggi kokoh dan tegap yang juga berada di lift yang sama.


"Kenapa kau terengah-engah begitu Shin? Kemana kacamatamu?" Pak Miura, dokter termuda di klinik UKS SMA Seiran, berdiri dengan alis terangkat sambil menatap sosok Ivy dan Shin bergantian. Ivy menatap wajah sangar Pak Miura yang mengingatkannya pada suatu peristiwa. Ia masih ingat terakhir kali berurusan dengan guru itu tatkala ia mengikuti olimpiade penelitian tentang gizi dan Ivy kabur pada babak final sehingga ia didiskualifikasi dan gagal mendapatkan juara pertama.


"Selamat pagi Pak Miura. Ah, kacamataku kebetulan patah" Shin berdiri di tengah-tengah antara Ivy dan Miura sensei sambil berpose seolah tak ada kejadian apa-apa.


“Kebetulan kami akan pergi ke UKS untuk membeli kacamata baru di optik sekolah. Sekarang penglihatanku jadi sedikit tidak nyaman. Kepalaku jadi pusing sebelah. Mungkin darah rendahku sedang kumat juga" untuk kesekian kalinya Shin mengeluarkan jurus tipu muslihatnya dengan berpura-pura mengusap keringat di kening dan mengeluarkan nafas berat.


"Kenapa tak pernah bilang pada sensei kalau kau memiliki riwayat darah rendah? Bagaimana kalau penyakitmu kumat saat perlombaan berlangsung nanti?”


“Perlombaan?” Ivy yang sedari tadi hanya diam saja akhirnya tak tahan untuk menyela pembicaraan.


“Benar Ivy. Kau harusnya sadar diri kalau posisi siswa terbaikmu sudah bergeser. Kami para guru menganggap bahwa Shin layak untuk mengikuti berbagai ajang perlombaan untuk mewakili sekolah selama kau absen. Shin juga akan menggantikan posisimu pada perlombaan penelitian ilmiah selanjutnya”


Ivy mendadak ingin menjebol pintu lift untuk segera keluar dari situasi ini. Ia tak menyangka jika cara Shin mengambil simpati para guru selama ia tidak ada di sekolah berefek sedemikian besar. Bahkan cara Pak Miura memperlakukan Shin sebagai murid spesial sangat berlebihan. Tangan Pak Miura reflek memegang pundak Shin sementara tangan satunya berada di kepala Shin dan mengusapnya dengan hati-hati seolah Shin adalah barang yang mudah pecah. Cara yang sungguh Ivy tak bisa pahami karena untuk pertama kalinya ia melihat aura penuh kasih dari seorang Pak Miura yang selama ini dikenalnya sebagai pria muda yang ambisius soal penelitian dan pekerjaan. Mungkinkah hati Pak Miura yang segersang padang pasir menemukan oase pada diri Shin yang muda, tampan, dan bergairah?


“Jadi…. tadi ada masalah di kelas, sensei” selanjutnya Shin sengaja menjatuhkan dagunya di pundak Miura sensei yang bidang.” Ada keributan kecil antara aku dan Ivy. Semacam… yah, salah paham”.


“Kau…. dan Ivy?” Miura sensei memasang raut serius yang bercampur dengan kekecewaan. “Tapi kau bilang……”


“Aku akan menceritakan kejadiannya dengan lengkap nanti sore. Akan ada bimbingan penelitian lagi kan?” kini tangan Shin menyapu kerah Miura-sensei dan jemarinya dengan lihai bergerak kearah saku kanan jas putih sensei.


”Sekarang aku boleh meminjam ruangan spesial itu kan? Aku butuh bicara empat mata dengan Ivy untuk meluruskan kesalahpahaman tadi”.


Tanpa Miura-sensei sadari, jemari Shin telah menggenggam erat sebuah kunci berwarna emas mengkilat yang didapatkan dari saku jas Miura sensei. Pada akhirnya Miura-sensei seolah terkena sihir dan mengangguk patuh atas permintaan Shin.


Pintu lift terbuka dan Shin keluar dengan penuh percaya diri setelah mendapatkan kunci ruangan yang ia inginkan. Ivy hanya terdiam sampai akhirnya tangannya diseret dengan paksa oleh Shin.


Pintu lift tertutup dan kini tinggallah Shin dan Ivy berdiri di lantai 4 sekolahnya. Lantai 4 di SMA Seiran dibuat khusus untuk ruang kesehatan bagi murid dan praktek bagi dokter muda seperti Miura sensei.


“Ikut aku sekarang” ucap Shin dengan nada memerintah. Mata merah berkilat itu kembali bersinar. Ivy merasakan sensasi yang sama saat dirinya pernah terperangkap bersama sosok itu pada dua pekan sebelumnya. Tubuhnya tak bisa digerakkan selain mengikuti perintah sosok Shin yang berjalan menuju salah satu ruang UKS sekolah.


Ruang itu bertuliskan "Exclusive Room", sebuah ruangan yang Ivy sendiri tak pernah masuki karena ruang itu memang didesain tidak untuk siswa. Tapi kini Shin dan Ivy bisa memasukinya berkat kunci bergerendel keemasan yang didapat Shin dari jas saku Miura sensei.


Mata Ivy hanya bisa mengerjap pelan karena takjub akan ukuran ruangan yang sangat luas dengan bed berukuran king size dan dekorasi serba putih yang memberikan kesan elegan. Peralatan kedokteran di ruangan itu juga sangat lengkap hingga Ivy tidak bisa mengingat kalau ia pernah melihat peralatan itu sebelumnya. Di ruangan itu juga terdapat sebuah sofa dimana Shin kemudian menjatuhkan tubuhnya disana sambil menepuk-nepuk tempat disampingnya.


“Untuk apa aku mengikuti ucapan musuhku sendiri?” balas Ivy tajam.


“Musuh? Sejak kapan kita bermusuhan? Aku tidak pernah sekalipun menganggapmu musuh”


“Jadi selama ini kau menganggapku apa? Oh kau pasti menganggapku orang yang harus dipermainkan dan dipermalukan, begitu?”


“Memangnya aku pernah mempermainkanmu?”


Mata Ivy melolot tajam penuh kemarahan. Jangan-jangan orang ini sudah lupa kejadian di malam hari saat dirinya terjebak di bawah pohon.


“….atau jangan-jangan kau merasa tersinggung karena ciuman kasual itu”


Gigi Ivy rasanya bergemerutukan ingin mengeluarkan kalimat sumpah serapah. Mugen sialan, batinnya. Bisa-bisanya dia membuat para cewek di kelas menjadi tergila-gila dan juga berhasil mengambil hati guru yang dikenal sangat disiplin dengan cara sok manis. Lalu kini ia mengatakan bahwa ciuman paksaan di malam itu sebagai ciuman kasual?


Tangan Ivy bergetar dan untuk kedua kalinya ia tak bisa menahan diri untuk menggerakkannya tangannya kearah wajah Shin.


“PLAKK!”


Tamparan keras itu kini mendarat di pipi kiri Shin. Lengkap sudah hari Shin yang diwarnai dengan warna merah bekas tamparan Ivy dikedua pipinya.


“Kau pikir mencium seorang gadis ditengah pertempuran dengan penuh paksaan seperti itu bukan masalah besar bagimu?! Kau memang kurang ajar! Kau adalah serendah-rendahnya Mugen!”


Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya Shin membalas. “Jadi itu alasan kau menyambutku dengan kasar di dalam kelas tadi?”


“Kau kira aku akan bereaksi bagaimana jika ada musuh muncul didalam kelas hahh?”


“Hm... kukira kau akan terkesima akan kedatanganku. Karena aku adalah Mugen yang menghentikan pertempuran tanpa melukai seorang gadis. Lagipula aku melakukannya bukan karena naluri seorang Mugen. Tapi lebih karena instingku sebagai seorang laki-laki"


Ivy semakin tidak bisa menahan emosinya. Kali ini ia mencekik leher Shin dengan kuat dan menjatuhkan badannya untuk menindih Shin yang juga telah terjatuh diatas sofa.


"Jangan main-main denganku! Kali ini aku akan benar-benar menghabisimu!" ucap Ivy dengan penuh amarah sementara mulut Shin megap-megap karena kehabisan udara.


"Kau kira aku akan terkena jurus mengendalikan orang dari matamu itu? Dengarnya, aku tidak bodoh. Aku cukup memejamkan mata agar tidak terkena hipnotismu lagi. Kalau tidak menatap matamu aku tidak akan terkena lagi jurus itu kan? Ha? Hahahaa"


Ivy semakin mengeratkan tangannya ketika tiba-tiba saja telinganya menangkap bunyi derit pintu dibelakangnya yang terbuka.