
CHAPTER 3
TOSHIKI INTERNATIONAL HOSPITAL
Angin sepoi yang dingin menerbangkan rok selutut Ivy kala ia berlari dengan kekuatan penuh. Setelah satu jam berlari di dalam hutan lutut Ivy mulai terasa beku karena terkena hempasan angin yang terasa semakin dingin. Dipertengahan bulan Februari memang wajar jika udara terasa dingin. Tapi semakin lama Ivy berlari, ia semakin merasakan udara dingin mencekam yang berbeda dari musim dingin pada hari biasa. Semakin ia berlari, semakin ia merasakan keterasingan yang hampa.
Perlahan-lahan Ivy mulai tidak yakin dengan arah yang ia tuju. Bukannya menemukan jalan keluar yang mengantarkannya kembali ke area sekolah, ia justru mendapati akar-akar besar mencuat dari atas tanah. Bahkan wajahnya hampir tak bisa merasakan cahaya matahari sore karena terhalang
oleh dahan dan dedaunan pohon yang rapat. Ivy mulai merasa ia hanya berputar-putar pada area yang sama dan ia memutuskan untuk melompat ke pohon yang memiliki batang terbesar. Ia melakukan ancang-ancang dengan cara melompat dari satu pohon ke pohon yang lain sampai akhirnya ia menemukan pohon yang dirasa paling besar. Bukan perkara sulit baginya untuk mencapai dahan tertinggi dengan berat tubuh yang seringan bulu. Ivy berdiri di dahan tertinggi dari pohon yang tingginya barang kali hampir 100x tinggi badannya. Kepalanya menyembul dari balik rapatnya dedaunan hingga akhirnya matanya menyipit ketika ia bisa merasakan kehangatan matahari sore. Ia memandang ke sekeliling untuk memastikan dimana ia sebenarnya berada. Jika
ditotal, mungkin ia sudah terjebak di dalam hutan belakang sekolahnya selama kurang lebih dua jam.
Ivy meletakkan jari tangan kanannya diatas alis untuk menutupi matanya yang silau. Dari arah manapun yang bisa ia lihat hanyalah dedaunan pohon dan langit biru dengan semburat oranye yang tidak terlalu memberikannya petunjuk dimana ia berada. Matanya meneliti sekali lagi ke segala penjuru. Ia menyipitkan mata ketika dari arah barat melihat sebuah papan berwarna biru yang barangkali bisa menjadi petunjuk. Tapi begitu membaca tulisan yang cukup sulit dibaca dari jaraknya sekarang, justru rasa bertanya-tanya menyerbu isi kepalanya. Ivy sampai harus mengulangi 3x untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau tulisan di papan itu memang benar terbaca TOSHIKI
INTERNATIONAL HOSPITAL.
Bulu kuduk Ivy berdiri ketika menyadari posisi tempat ia berada. Dua jam sudah ia berlari berputar-putar di dalam hutan untuk mengejar seonggok Mugen sialan yang pada akhirnya kabur dan sekarang ia justru berada sekitar 19 km dari sekolahnya. Tapi mengapa hutan di belakang sekolahnya itu menghubungkannya ke tempat yang tak terduga? Seiran High School dan Toshiki International Hospital. Ivy baru saja memikirkan kaitan antara keduanya ketika tiba-tiba saja dahan tempat kakinya berdiri berguncang keras dan patah secara tiba-tiba. Ivy yang sempat sibuk dengan pikirannya dengan cepat kehilangan keseimbangan dari dahan tempat ia berdiri . Dengan sekejap tubuhnya terpelanting dan meluncur jatuh mengikuti gravitasi bumi. Punggungnya menabrak ranting-ranting pohon dengan cepat sementara tangannya mencoba menggapai apapun yang bisa ia
raih untuk menyelamatkan tubuhnya dari hantaman tanah keras yang bersiap menyambutnya dibawah. Otak Ivy sulit diajak berpikir karena lutut yang melemas, punggung yang terantuk puluhan ranting pohon, dan tangan yang tak kunjung mendapatkan pegangan ketika tiba-tiba saja dari arah tak terduga sebuah tangan dingin dan beku melingkar dipinggangnya dan menangkap tubuh mungilnya dengan mudah. Ivy tak bisa meronta ketika ia menyadari wajahnya terbenam pada dada bidang
sosok yang tiba-tiba menggendong tubuhnya tanpa permisi.
“Dug”dengan segenap sisa kekuatan yang masih Ivy miliki, ia berhasil melepas pukulan ke dada sosok itu hingga akhirnya Ivy melepaskan diri dari bekapannya. Ivy terguling keatas tanah sementara sosok yang seenaknya memegang tubuhnya terpelanting beberapa meter kearah yang berbeda. Ivy
mengumpulkan tenaganya untuk berdiri dan menatap jijik ke arah makhluk yang tertutupi oleh jubah hitam.
“Kau lagi!”teriak Ivy sambil melompat ke udara lalu kembali melepaskan kembali sebuah pukulan tajam kearah sosok yang dengan gesit segera berguling. Satu detik saja sosok itu terlambat menghindar, barangkali wajahnya akan hancur seperti bekas retakan tanah tempat kepalan tangan Ivy berada.
Ivy menatap penuh kebencian kearah sosok yang tak lain dan tak bukan adalah Mugen yang ditemuinya beberapa menit sebelumnya. Kini ia tak akan lagi meloloskan sasarannya dengan mudah. Tapi baru saja Ivy bersiap untuk melayangkan kepalan tangan berikutnya, sebuah suara menghentikannya.
“Pakaianmu...”ucap sosok itu sambil menunjuk kearahnya. “Pink”.
“Haahh?”Ivy ternganga sambil reflek menatap kearah baju seragamnya yang terbuka separuh.
“Sial !”Ivy berteriak sambil menahan panas di wajahnya ketika menyadari baju seragamnya robek dan tiga kancing teratasnya tak berada ditempat. Kulit Ivy yang putih terekspoks sehingga pantas saja mata berwarna merah itu berkilat kala mengamatinya lekat-lekat sampai tak berkedip. Sosok itu terlihat geli
sambil memperhatikan Ivy yang terlihat sibuk merapikan pakaiannya yang sudah terlanjur compang-camping disana sini.
“Hei, ayo cepat kejar aku lagi”suara bernada menjengkelkan itu membuat Ivy tersadar dan membuat perhatiannya kembali pada sasaran utamanya yang ternyata sudah berlari lebih dulu ke depan.
Konsentrasi Ivy mulai buyar akibat dari insiden dirinya jatuh dari dahan pohon itu. Ia yakin sekali itu bukan murni kesalahannya. Ia yakin semuanya karena makhluk iblis sialan itu. Tidak mungkin dirinya jatuh tanpa alasan kecuali jika Mugen itu berulah iseng terhadapnya.
Kibasan jubah hitam yang sedari tadi Ivy ikuti semakin lama semakin tak tergapai sehingga lama kelamaan matanya hanya seperti melihat sebuah titik hitam kecil dari kejauhan. Tapi semakin Ivy mengikuti titik hitam kecil itu, aura disekelilingnya perlahan mulai terasa normal. Sedikit demi sedikit pantulan cahaya matahari mulai terasa disekitar wajahnya dan tubuhnya tak lagi terkepung oleh batang pohon yang rapat.
Kaki Ivy kemudian membawa tubuhnya ke sebuah tanah lapang luas berisi tanaman dan bunga yang ditata sedemikian rupa. Ivy menghentikan lajunya ketika menyadari sosok itu sekali lagi menghilang dan kini ia justru berada di tanah lapang yang disadarinya merupakan area peristirahatan milik Toshiki International Hospital. Ia melihat beberapa orang memakai baju pasien dan perawat tengah menikmati pemandangan bunga-bunga indah yang berbatasan langsung dengan hutan yang baru saja berhasil ia lewati. Ia memperhatikan dengan seksama bunga-bunga disekelilingnya yang terasa tidak asing. Entah mengapa bunga itu mengingatkannya pada area depan sekolahnya. Bunga tulip berjajar dan juga bangunan dengan nuasa Eropa kental. Ivy memandang bangunan rumah sakit
berlantai tujuh itu ketika tiba-tiba seseorang berpakaian perawat mendatanginya.
“Permisi Nona. Apakah anda baik-baik saja?”ucap wanita muda itu sambil memperhatikan penampilan Ivy yang tak karuan.
“Ah iya. A-aku terluka. Aku... aku baru saja jatuh dari sepeda. Aku tak tahu mengapa ada orang jahat yang merampok tas anak SMA sepertiku”ucapnya sembarang.
“Oh baiklah. Sepertinya keadaan Anda cukup serius. Mari ikut saya”ujar perawat itu sambil
membimbing Ivy untuk memasuki bangunan rumah sakit.
Setelah mengurus administrasi, Ivy kemudian memasuki ruangan pasien. Disana ia dirawat layaknya orang sakit. Seragamnya yang telah robek diganti dengan baju pasien yang harum dan bersih. Bekas luka dan kulitnya yang kotor terkena benturan tanah sudah dibersihkan. Setelah semuanya selesai dan perawat itu hendak meninggalkan ruangannya, Ivy berpesan padanya.
“Boleh kan aku pinjam ponsel? Hp ku ada didalam tas dan ikut dibawa perampok. Aku ingin menelepon kaluargaku untuk memberi kabar dan mengurus asuransi kesehatan."
Setelah itu Ivy mendapatkan pelayanan berupa ponsel yang diberikan oleh perawat. Ia mendapatkan service spesial juga karena identitasnya sebagai keluarga kuil Shinsoji telah diketahui pihak rumah sakit.
“Halo”ucap Ivy ketika ponselnya terhubung.
“Ivy? Kau memakai nomor siapa?”jawab Aki diujung telepon dengan nada khawatir.
“Kak, aku sekarang berada di Toshiki International Hospital. Jangan bertanya bagaimana aku bisa disini, semuanya akan kuceritakan nanti."
“Pip."
Ivy langsung mematikan telepon karena malas mendengar ceramah kakaknya. Setelah itu Ivy meletakkan ponsel di meja kecil samping tempat tidurnya. Ia berbaring sambil mengamati selang infus yang dipasang ditangannya lalu berpindah mengamati luka-luka di siku tangannya yang perlahan beregenerasi membentuk kulit baru yang menutupi lukanya. Ia termenung sambil berpikir kembali kejadian hari ini yang berlalu begitu cepat. Upacara serah terima katana merah, kembali ke sekolah, lalu bertemu Mugen yang sekilas tampak bodoh tapi ternyata kekuatannya cukup lumayan,
dan yang terakhir.... Ivy mengingat kembali sambil memejamkan mata kejadian yang terjadi di hutan yang hanya berlalu beberapa detik. Untuk pertama kalinya ia merasakan bagaimana rasanya didekap sedemikian rupa oleh seorang lelaki. Didekap sangat erat hingga ia merasa akan kehilangan dirinya
sendiri kalau saja saat itu akal sehatnya tak berhasil mengendalikannya.