Mugen's Love

Mugen's Love
The Fire Fox



CHAPTER 4 - THE FIRE -


Di bawah cahaya bulan yang menerobos melalui sela-sela dedaunan, sepasang mata tajam berkilat kemerahan saat dari kejauhan iris matanya menangkap pemandangan seorang gadis berpakaian pasien rumah sakit yang sedang melancarkan aksi latihan pedang. Sudah 30 menit sosok berjubah hitam itu berjongkok tanpa bergerak sesentipun dari atas ranting pohon. Ia sendiri tak mengerti mengapa pesona gadis itu mampu membuatnya tertahan dalam posisi yang sama.


"Ivy, gunakan mata hatimu. Kadang mata manusia menipu"dengan jelas sosok berjubah itu menangkap percakapan dua orang yg berdiri sekitar 700 meter darinya.


"Aku tahu, kak. Tapi pedang ini sulit untuk dikendalikan. Aku harus bagaimana lagi?"suara kali ini datang dari si gadis berpakaian pasien yang kedengaran mulai ngos-ngosan.


"Tak ada cara lain selain mengasah mata hatimu, Ivy. Katana itu bukan sembarang pedang. Dia sama seperti makhluk hidup lain. Perlakukan ia sama seperti kau memperlakukan makhluk hidup. Ingatlah, katana bukan sekedar senjata besi untuk membunuh"suara lelaki yang satunya terdengar lembut namun tegas dan dalam hati sosok berjubah itu setuju dengan pernyataannya barusan.


"Makhluk hidup? Jadi maksudmu pedang pun bisa memilki perasaan, begitu?"


"Tentu saja. Lihat. Kau pikir mengapa pedangku tak mau merespon jika orang lain yang memegang? Karena aku telah membuat ikatan dengan pedangku sendiri"


"Jadi begitu. Mungkin aku mulai mengerti. Biarkan aku memulainya lagi"


Sosok berjubah itu menunggu Ivy untuk melanjutkan kalimatnya, tapi rupanya gadis itu bukan tipe gadis yang banyak omong. Entah apa yang terjadi jauh dari tempat persembunyiannya, hembusan angin yang sangat kuat menyibakkan dedaunan pohon yang ada disekelilingnya seperti terkena mantra. Sosok berjubah itu kemudian berpikir. Apakah benar kekuatan Ivy Mitsura sama seperti desas desus yang berkembang? Apakah gadis itu adalah gadis yang sama seperti dalam ramalan kaumnya?


"Shiiiin, apa yang sedang kau ---?"


"Ssstt!"sosok berjubah hitam itu refleks membungkam mulut sosok lain yang tiba-tiba datang dan menghancurkan isi pikirannya.


"Dasar kucing bermulut besar! Bisa diam tidak sih"sosok berjubah yang dipanggil Shin itu sontak tak bisa meluapkan kemarahannya karena diganggu secara sepihak.


"Kiko bukan kucing! Kiko adalah rubah!" sosok lain yang baru saja datang itu protes tak terima.


"Hei Kiko datang cuma mau pamer"ujar Kiko sambil menepuk-nepuk pantatnya. "Kiko baru saja mendapat kekuatan baru. Lihat, api di pantatku membesar. Nih"ujarnya sambil dengan semangat menyodorkan pantatnya yang berapi ke arah wajah Shin.


Dengan gusar Shin menyodok bokong Kiko setelah kobaran api yang dikeluarkan pantat Kiko meninggalkan bekas hitam di pipi kanan Shin. "Sekali lagi kubilang, aku tidak berminat dengan bokong cowok dan api di bokong mu ituu!!"


Kiko hampir terpental jatuh dari pohon terkena serangan Shin. Ia merengut mendengar respon ketus dari Shin padahal biasanya Shin akan membalas serangan apinya dengan balasan serangan api biru yang dikeluarkan dari tangan Shin. Sejak Shin memulai tugasnya untuk memata-matai keturunan termuda keluarga Mitsura, waktu bermain-mainnya dengan Shin turun drastis. Kiko merasa jengkel diabaikan oleh Shin padahal mereka berdua sering menghabiskan banyak waktu untuk melakukan hal-hal tak berguna. Entah itu membuat keonaran di dunia Ningen maupun mengisengi sesama Mugen di dunia mereka. Mungkin baru kali ini Mugen pemalas seperti Shin terlihat tertarik dengan hal lain selain tidur siang dan bermalas-malasan di atas pohon.


Tiba-tiba sebuah ide nakal terlintas dibenak Kiko yang jahil. Ia dengan sengaja menggosok-gosokkan pantatnya ke dedaunan pohon disekelilingnya. Sontak dalam waktu beberapa detik percikan api itu membakar daun dan disekitarnya.


"Bodoh! Apa yang kau lakukan!" Shin mencoba untuk memadamkan api disekelilingnya dengan mengibaskan jubahnya. "Kita bisa ketauan!"


Baru saja Shin menyelesaikan ucapannya, ia merasakan sebuah benda tajam melayang kearahnya dan dengan antisipasi seadanya benda tajam itu akhirnya melesat tepat didepan hidungnya.


"Sudah kuduga. Kau lagi"


Begitu Shin menoleh, ia mendapati sosok gadis cantik dan seorang pemuda yang lebih tua berdiri tak jauh darinya. Tanpa sepotong kata apapun, gadis itu melesat kearahnya sambil menggenggam pedang legendaris yang bertahun-tahun dipercaya telah menghilang. Nafas Shin tertahan ketika melihat katana berkilat terang itu semakin dekat kearahnya. Berikutnya terdengar bunyi ledakan keras karena serangan itu meleset dan menghancurkan pepohonan disekitar hingga menjadi serpihan.


Shin terbatuk-batuk setelah berhasil mendarat keatas tanah untuk menghindari serangan pertama barusan. Matanya kemudian memandang jauh kearah lain. Pemuda yang datang bersama si gadis telah melesat jauh mengejar Kiko. Dari matanya terekam bagaimana Kiko kewalahan terkena serangan pemuda satunya. Selain bodoh dan ceroboh, Kiko merupakan Mugen muda yang masih minim pengalaman. Tapi kemudian Shin ingat ia juga memiliki tugas lain yang jauh lebih berarti. Bisa jadi malam ini ia sial karena harus meladeni pertarungan seorang Ryosei handal. Tapi jika musuhnya seorang gadis cantik galak seperti yang ada didepannya, ia jadi sangat bernafsu untuk segera memulai pertarungan.


"Tak usah pedulikan temanmu itu. Urus saja hidupmu sendiri, Mugen sialan"ucap Ivy tiba-tiba seolah bisa membaca raut Shin.


Shin memutar kepalanya dan balik menatap Ivy yang tengah mengawasinya. Ia buru-buru bangkit dari posisinya lalu mengibaskan ekor jubah hitam beludrunya yang menjuntai ke tanah. “Selamat malam, tuan putri”sapa Shin dengan sopan sambil meletakkan tangannya di dada lalu membungkukkan badannya dengan elegan. “Perkenalkan, namaku Shin. Dan aku adalah seorang Mugen”.