Mugen's Love

Mugen's Love
My Name is.....



CHAPTER 5 - MY NAME IS......-


“Perkenalkan, namaku Shin. Dan aku adalah seorang Mugen”.


Sepasang mata merah dengan deretan taring putih dan seringai tajam terlukis sempurna pada wajah tampan pucat mengerikan. Ivy tak menampik jika pemuda Mugen itu memiliki penampilan yang lumayan. Tapi yang berdiri dihadapannya itu adalah musuh yang harus segera ia hancurkan.


“Cih. Dengar ya”Ivy tampak tak senang dengan cara Mugen itu memperkenalkan dirinya. Kelihatan sekali kalau ia sikapnya itu terlalu dibuat-buat. “Justru harusnya kau yang mengingat namaku karena aku lah yang akan mengirimmu ke neraka. Ivy dari keluarga Mitsura. Camkan itu!"


Ivu melompat menerjang sosok itu dan mengayunkan pedangnya sekuat tenaga tepat didepan sosok yang masih membungkuk didepannya. Namun dalam sekejap mata, sosok itu tiba-tiba lenyap bagai udara kosong yang terhempas saat pedang itu mengenainya.


“Sial!”Ivu mengumpat kesal begitu sadar ia hanya menyerang banyangan palsu dari sosok yang sebenarnya.


“Selamat malam, tuan putri. Aku ada disini”. Suara itu lagi. Ivu menoleh kebelakang dan kembali mendapati sosok yang sama.


“Berhenti bermain-main denganku!!” Ivu kembali melompat kearah sosok itu dan menebaskan pedangnya tepat ke sosok itu, namun sosok itu sudah lebih dulu melompat menghindar. Ivu kembali melanjutkan serangannya, bergerak setengah melayang didepan musuhnya, lagi dan lagi menebas Mugen itu sementara bayangan hitam itu terus saja menghindar tanpa satupun perlawanan. Mugen itu sengaja terus menghindar seolah sengaja ingin membuat Ivu jengkel bukan kepalang. Seringai tajam Mugen itu terus saja terlihat bahkan saat mata pedang Ivu terayun tepat sesenti didepan hidungnya. Ia terlihat bersenang-senang sementara Ivu terus mengayunkan pedangnya bertubi-tubi kearahnya, mengayunkan senjata itu dengan liar, membuat pohon-pohon disekitarnya ikut menjadi korban.


Namun waktu bersenang-senang Mugen itu habis dan seringai itu memudar saat tanpa disadari Ivu mempercepat gerakannya, melayang secepat kilat diatas bahunya dan dalam sekejap ribuan cahaya keperakan menghujam tubuh Shin seperti bah air hujan. Entah karena gerakan pedang Ivy tak terbaca, atau karena ketajaman bertarung Shin menumpul, jurus terakhir barusan akhirnya berhasil menggores beberapa titik ditubuhnya, membuatnya Shin mengerang pelan dan berhasil membuatnya tak berkutik selama beberapa saat.


‘Apa yang barusan itu? Jurus macam apa yang bisa menembus pertahanan jubah apiku?’pikir Shin sambil mengusap darah berwarna keunguan yang menetes dari bekas goresan di pipinya. Shin meraih cahaya keperakan yang meninggalkan sisa diatas tanah dengan tangannya.


'Kristal es?' batinnya tak percaya.


Dalam hati, Shin terkesima dengan cara bertarung Ivy. Tapi di sisi lain, ia berpikir mungkin ia akan menghadapi kematian jika ia tak bersungguh-sungguh menghadapinya. Namun terlambat. Sebelum Shin membalas serangan Ivy, Ivy sudah lebih dulu menukik dari atas dan kembali menebas pedangnya tepat di depan matanya. Shin tak bisa menghindar lagi. Ia terlambat, terkunci dalam posisinya. Darah Mugen keunguan bercipratan ketanah begitu pedang itu berhasil merobeknya. Shin sama sekali tak menyangka Ivy tak memberinya ruang sedikitpun. Ia bisa merasakan ujung pedang itu dalam genggaman tangannya. Shin menahan nafas. Sakit, tapi beruntung kepalanya masih utuh, terselamatkan oleh telapak tangan yang tergores dalam menahan mata pedang Ivy yang tertuju langsung pada lehernya.


Ivy melompat mundur menarik pedangnya dari Shin kemudian menatap ujung pedangnya yang kotor terkena darah. Ia turut menahan nafasnya sejenak, mengatur jantung yang berdetak kencang tak terkira setelah serangannya hampir berhasil kalau saja Mugen itu tidak menggenggam mata pedangnya dengan tangan. Gerakannya yang cepat barusan juga lumayan menguras tenaga. Tapi saat dilihatnya Mugen itu, ternyata ia tak lantas menyerah. Luka dalamnya tak membuatnya tumbang. Sebaliknya, setelah darah segar keunguannya menetes deras, dengan perlahan luka itu menutup dengan sendirinya hingga kulit pucatnya menyatu kembali diatas dagingnya yang sempat terbelah. Mugen itu kemudian berjalan kearah Ivu dengan seringai penuh. Ivy hanya bisa tercengang melihat proses regenerasi Shin yang luar biasa. Namun semua perasaan itu lenyap saat dilihatnya Mugen itu kembali berusaha menyerangnya, tampaknya kali ini ia akan lebih serius setelah ia mendapat luka dalam dari Ivy, dan Ivy sendiri tidak akan lengah menerima serangan darinya dalam bentuk apapun.


Mugen itu melesat, melompat kearah Ivy, dan Ivy ikut melompat kearahnya, mengayunkan pedangnya kembali dengan kekuatan penuh. Tapi anehnya dalam sekejap mata Mugen itu berbelok dari arahnya, menghilang dari hadapan Ivy setelah beberapa saat lalu terlihat sangat jelas bayangan hitam dan jubahnya melayang. Ivy menghentakkan kakinya kembali keatas tanah, mengawasi sekelilingnya dengan cermat, mengantisipasi kedatangan musuhnya dari arah manapun. Tapi tiba-tiba saja bayangan itu kembali muncul dari arah tak terduga, dan Ivy sama sekali tak menyadarinya. Ia muncul begitu saja seolah terbentuk dari kumpulan udara yang menyatu. Dan Ivy sama sekali tak bisa menghindar saat Mugen itu menonjok perutnya dengan keras. Ivu terpelanting sejauh beberapa meter. Tubuhnya bergesekan kuat dengan tanah membuat bekas goresan memanjang diatas rerumputan. Tubuhnya menabrak batang pohon dengan keras sementara katananya terlempar entah kemana.


“Tuan putri. Kau terlalu berlebihan”bisik sosok Mugen yang tiba-tiba datang dihadapannya, seolah menyeruak dari kumpulan kegelapan. Dengan sisa-sisa tenaga, Ivy berusaha memberontak. Tapi yang dilakukannya sia-sia karena ia tak bisa menggerakkan tubuhnya. Ada sesuatu tak terlihat yang mengunci ruang geraknya, mengikat seluruh tenaganya seperti borgol tak kasat mata.


“Maaf, kali ini aku tidak bisa diam. Akan ku balas seranganmu sekarang” Mugen itu menatap lekat-lekat mata kecoklatan Ivy dengan mata merahnya. Saking dekatnya jarak keduanya, Ivy bisa melihat pantulan wajahnya sendiri dari bola mata merah yang menyala terang. Ivy memejamkan mata ketika wajah Shin bergerak maju sehingga ia bisa merasakan nafas Mugen itu semakin dekat. Setiap hembusan nafas Mugen itu rasanya ingin segera Ivy musnahkan. Tapi bagaimana caranya? Punggungnya tertahan batang pohon besar sementara tangannya lunglai tak bisa digerakkan. Suaranya tercekat di tenggorakan dan ia hanya bisa berteriak sekuat tenaga dalam hati untuk memanggil katana merahnya yang tak ada digenggamannya. Seharusnya katana itu merespon panggilannya disaat tergenting seperti ini. Seharusnya katana yang dianggap legendaris itu mampu mengikuti ucapan pemiliknya sekalipun mereka tengah terpisah. Seharusnya begitu, tapi ternyata kenyataannya tidak. Mugen itu akhirnya berhasil melancarkan serangannya ketika ia berhasil mendaratkan sebuah kecupan dingin di bibir Ivy yang berdarah. Sekejap Ivy merasa ia lebih baik mati daripada harus merasakan kecupan menjijikkan yang ******* bibirnya. Ia sadar bibir yang beradu dengan miliknya menyesap dalam-dalam penuh kenikmatan, tapi ia sendiri tak bisa melawannya. Sama sekali tak bisa. Inikah yang namanya akhir dari kekalahan telak oleh bangsa yang sangat dibencinya? Serangan Mugen itu jauh lebih menyakitkan daripada ditusuk oleh pedang 1000 kali. Tak hanya tubuh, tapi harga diri Ivy seolah ikut hancur berkeping-keping.


“Enyah kau!”sebuah teriakan tiba-tiba memutus kecupan yang hanya berlangsung selama beberapa detik itu. Sebuah serangan melaju secepat angin dan mengarah pada tubuh Shin yang tengah berjongkok di depan Ivy. Shin mengibaskan jubahnya untuk menangkal serangan barusan sehingga menimbulkan ledakan cukup besar. Ivy membuka mata dan merasakan butiran air mata meleleh di pipinya. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Mugen yang masih menatapnya tajam sambil menjilati dengan nikmat bibirnya sendiri yang terkena bekas darahnya.


“Sstt. Kau tetap disini saja dan akan kuatasi Ningen sialan itu”ucap Shin sambil menggunakan detik terakhirnya untuk menyeka air mata Ivy dan mengecup singkat kelopak mata Ivy.


“Hoi siapa kau berani-beraninya mengganggu waktuku” teriak Shin setelah berbalik dan menghadapi seorang pemuda berkulit sedikit kecoklatan dengan banyak tindik di telinga yang tak lain adalah Aki.


“Berani-beraninya kau menyerang adikku!”Aki berlari sambil mengibaskan pedangnya sehingga pisau-pisau angin bertebaran kearah Shin. Hanya dengan sekali kibasan dari jubah hitamnya, Shin bisa menghentikan laju pisau angin itu dengan sempurna. Entah datang darimana kekuatannya barusan, yang jelas perasaan marah bercampuraduk tak karuan karena kedatangan seorang pengganggu.


“Huh, lumayan juga kau. Kukira kau sama saja dengan temanmu itu”ucap Aki ketika sadar kekuatan Shin barusan.


“Memangnya kenapa? Seharusnya dia bisa membunuhmu dengan sekali serangan”


“Ohya? Huh, dia terlalu banyak pamer dan sesumbar soal api di pantatnya itu”


“Dia tidak mati kan?”


“Coba saja kau lihat sendiri. Dia mati sambil menggigit lidahnya karena terlalu banyak bicara”ucap Aki yang sebenarnya merupakan tipuan agar Shin segera menyingkir dari sana. Tenaganya tidak akan tersisa jika harus menghadapi Mugen kuat seperti Shin setelah menyingkirkan Mugen lain yang merepotkan.


“Sial. Akan kuingat kau sebagai lelaki pengganggu makan malamku”


Berikutnya, Aki segera berlari menghampiri Ivy yang masih duduk terkulai didekat batang pohon besar ketika memastikan Mugen bernama Shin telah menghilang dari hadapannya. Untuk pertama kalinya, Aki melihat mata Ivy layu dan kosong seolah jiwanya baru saja tersedot oleh keputusasaan tak berujung.