Mugen's Love

Mugen's Love
PUNCH OUCH!



Chapter 8: PUNCH OUCH!


“KAU!” spontan Ivy berteriak hingga membuat seisi kelas menolehkan wajah kearahnya.


Dalam hitungan detik berikutnya kepalan tangan dengan kekuatan penuh melayang bebas dan tinju maut itu berhasil mendarat mengenai pahatan wajah sempurna milik lelaki tampan di depan Ivy hingga kacamatanya terlempar dan pecah ke lantai.


“SHIN-SAMAAA”sontak seluruh cewek seisi kelas menjerit keras saat sadar apa yang diperbuat Ivy terhadap Shin barusan.


Shin mendengus ketika merasakan darah mengalir dari hidungnya namun lantas ia cepat-cepat menyekanya dengan siku tangan sebelum ada orang lain selain Ivy yang menyadari warna darah keunguannya.


Ivy tersenyum puas dengan apa berhasil ia lakukan meski dendam kesumat dalam dadanya tidak berhenti disitu. Ia ingin melancarkan serangan lain tapi sebelum itu ia disadarkan bahwa situasi saat itu sama sekali tidak mendukung. Semua siswi cewek di kelasnya mulai melakukan hal tak masuk akal. Sekitar 15 cewek berlarian dari bangku lalu mereka berebut kearah tempat jatuhnya kacamata Shin seolah tengah terjun ke medan peperangan untuk menjadi yang pertama menyentuh serpihan kacamata Shin yang berserakan. Ivy yang hanya berdiri mematung menyaksikan pemandangan itu sampai bergidik bagaimana teman-teman sekelasnya mulai melakukan hal esktrim semacam menjambak dan menjegal satu sama lain.


Ya. Demi sebuah kacamata. Yang pada kenyataannya sudah tidak utuh lagi. l


“Shin-samaaa!! Ini lensa sebelah kananmu!” Miki, cewe yang dikenal Ivy cukup pendiam tiba-tiba mengeluarkan sisi agresifnya ketika mencapai meja Shin sambil menyerahkan lensa retak yang ia balut dalam sapu tangan berwarna keemasan.


“Y-ya. Terima kasih” ucap Shin canggung sambil mencoba untuk tersenyum ramah.


“Shin-sama, ini frame kacamatamu. Tapi aku tidak bisa menemukan patahannya” kali ini Maki, cewe kembaran Miki yang menghampiri meja Shin sambil terengah-engah. Wajah Shin tampak kebingungan karena kini kedua cewe kembar itu mulai melempar tatapan sengit kearah satu sama lain.


“Maki, aku yang pertama menemukan lensa Shin-sama. Kau harusnya menyerah saja tidak perlu sok” mata Miki menukik tajam kearah kembarannya yang memiliki wajah sama dengannya.


“Tapi Miki. Serpihan yang kutemukan itu lebih besar daripada lensamu. Kau sebagai adik harusnya mengalah saja” balas Maki tak kalah ketus.


Shin mulai kebingungan dan berusaha menengahi kedua cewe yang tinggal menunggu waktu sampai pada tahap adu mulut. “Tunggu…. Daripada kalian berebut, kalian boleh saja mengambil kacamataku. Lagipula, kacamata ini sudah rusak….. kan?”


“Benarkah?? Berarti aku boleh menyimpan patahan frame ini?”suara siswi lain menyahut lantang begitu Shin membuat sebuah pengumuman yang membuat cewek-cewek disekitarnya merasa seperti tidak mampu menahan beban perasaan yang begitu berat.


“Tentu. Ambil saja kalau kalian mau”


“Aahh…. Shin-sama manisnya…”


“Sudah kuduga…. hati Shin-sama begitu bersih dan mulia…”


“Aku tidak mendapatkan serpihan barang pribadi Shin-sama…. Tapi melihat wajah tampan Shin-sama tanpa kacamata…. rasanya ingin pingsan”


Sahutan lain datang silih berganti dan kini mereka mulai sibuk mengeluarkan ponsel untuk mengambil foto Shin dari berbagai sudut yang tampaknya juga cukup dinikmati oleh Shin sendiri. Jadi selain brengsek, Shin juga narsis? Ivy hanya bisa mengernyitkan dahi melihat perilaku berlebihan yang membuatnya tak habis pikir bagaimana orang lain salah menilai sosok yang sangat dibencinya itu. Lagipula aneh sekali bagaimana bisa mata merah itu berubah menjadi berwarna gelap dalam sekejap.


“Shin-sama” sesosok cewek dengan tubuh tinggi semampai tiba-tiba muncul mendekati bangku Shin dengan tatapan menindas hingga kehadirannya cukup membuat beberapa siswi menurunkan ponsel mereka dan berhenti sejenak dari aktifitas mereka. Mata Ivy mengerjap pelan ketika menyadari siapa gadis itu. Gadis itu lalu menarik sebuah bangku kosong dan duduk didekat Shin sambil menyilangkan kedua kaki jenjanganya yang terekspos karena rok pendek seragam yang panjangnya tak lebih dari 4 telapak tangan orang dewasa.


“Wajahmu….. tidak tergores kan?”ucap gadis cantik itu sambil menatap wajah Shin lekat-lekat dengan bola matanya yang dibesar-besarkan


“Menurutmu?” ucap Shin yang balas menatap tajam gadis itu sambil mencondongkan wajahnya kedepan dan memamerkan senyum tipis.


“Long time no see, Ivy-chan” ucapnya pelan sambil meneliti Ivy dari bawah keatas.


“Hai Lovely. Kukira kau tidak lagi datang ke sekolah”


“Bukannya harusnya aku yang bilang begitu? Kau absen tidak masuk selama 2 minggu dan begitu masuk ke kelas kau dengan lancang meninju wajah berharga Shin”


“Haah?? Memangnya sejak kapan si brengsek ini masuk ke kelas ini?”


Lovely menggebrak meja, tak terima Shin yang begitu dipujanya dikatai seperti tak berguna.


“Kutunggu kau di food court taman sekolah jam makan siang. Kau harus diberi pelajaran atas apa yang kau perbuat pada Shin”


Lovely membuang wajahnya dengan sengit dan berlalu dari hadapan Ivy. Bukannya tak ingin melanjutkan ucapannya, tapi wali kelas 3A tiba-tiba muncul di depan kelas dan membuyarkan keributan yang berlangsung di dalam kelas.


“Ehem ehem. Perhatian semuanya. Sensei mendapatkan laporan dari guru seni rupa bahwa kelas ini membuat kegaduhan pada jam pertama. Ivy, Shin, ikut sensei ke kantor guru sekarang juga!” perintah Yuka-sensei dengan wajah galak.


“Maaf sensei, saya...” Shin mencoba untuk bersuara.


“Apa lagi? Tidak ada alasan apapun! Cepat ikut saya ke kantor guru untuk menjelaskan keributan yang kalian perbuat. Terutama untuk Ivy! Sensei sungguh sangat kecewa mendengar cerita bahwa kau melakukan kekerasan terhadap teman sekelasmu sendiri”


“….tapi sensei”


“Maafkan saya karena lancang sensei. Kami akan segera memberikan penjelasan di ruang guru. Tapi sebelum itu izinkan saya dan Ivy untuk pergi ke UKS karena sepertinya tulang hidung saya patah”


Seisi kelas kembali riuh dengan pernyataan Shin barusan. Yuka sensei sampai menutup mulutnya yang menganga lebar karena terkejut.


Shin kemudian berjalan kearah meja guru lalu meraih tangan Yuka-sensei yang tiba-tiba bergetar karena tangan Shin yang besar dan dominan menggenggam tangan rapuh itu dengan erat.


“Saya mohon sensei. Saya izin ke UKS dulu dan biarkan Ivy ikut dengan saya karena ia adalah orang yang harus bertanggungjawab terhadap luka saya. Saya mohon kebijaksanaan sensei” Shin berkata dengan nada memelas dan rendah hati hingga Yuka-sensei tanpa berpikir panjang memberikan anggukan setuju atas permintaan Shin yang baginya terlihat seperti anak anjing polos.


“Ivy, ayo antarkan aku ke UKS sekarang” Shin kemudian menatap Ivy yang masih berdiri di tempatnya dan hanya merespon dengan tatapan muak kearah Shin. Shin tak bisa menunggu lebih lama hingga ia menghampiri meja Ivy lalu meraih tangan dan menggandengnya untuk pergi.


“Bodoh! Siapa juga yang mau ikut denganmu!” Ivy menginjak sepatu Shin dengan sengaja hingga Shin harus meringis kesakitan lagi.


“Kau memilih untuk pergi denganku atau pergi ke kantor guru hm?” desis Shin sepelan mungkin untuk membuat orang lain di kelasnya tak dapat mendengar ucapannya.


“PLAK!” itulah jawaban yang diterima oleh Shin. Sebuah tamparan sangat keras mendarat di pipinya dan meninggalkan bekas kemerahan. Shin terengah karena sepintas ia merasa kepalanya akan melayang karena begitu kuatnya tenaga Ivy yang ia terima.


“Ivy! Pergi ke kantor guru sekarang juga!” kini Yuka-sensei berteriak lantang sementara seisi kelas masih tercengang dan Ivy berlari keluar kelas tanpa mengucapkan satu patah katapun.


“Sensei, maafkan kami!” Shin buru-buru berlari mengikuti Ivy dari belakang sambil berusaha meredam rasa panas bekas tamparan Ivy di pipinya. Ia merasa harus berbuat sesuatu pada Ivy karena sambutan pertama yang diterimanya di sekolah tidak sesuai seperti yang diharapkannya.