
Pintu ruangan “Exclusive Room” berderit pelan ketika terbuka. Ivy sama sekali tak menggubris karena kepalanya hanya terisi oleh keinginan untuk menghabisi Shin yang telah terkunci dalam cengkeraman tangannya.
“Oi-oi” Shin berusaha melepaskan diri dari Ivy yang kini semakin berambisi untuk benar-benar membunuhnya dengan tangan kosong.
Sambil memegangi lehernya yang terasa sakit, dengan samar mata Shin bisa melihat kearah pintu yang terbuka dimana dua sosok murid berseragam tengah mengamati keduanya. Shin memejamkan mata ketika merasakan cahaya flash kamera ponsel teracung kearahnya secara sekilas.
Shin merasa keberadaan dua orang tak diundang itu bisa mengancam keselamatan Ivy. Tapi Ivy yang sudah termakan emosi tidak akan mengerti bahwa dua orang yang berdiri dibelakangnya bisa membuat kegegeran massal yang tak terbayangkan sebelumnya. Merasa perlu segera menyadarkan Ivy, Shin dengan cepat balik mencengkeram kerah kemeja Ivy dan dalam sekejap Shin sengaja menabrakkan dahinya ke kepala Ivy dengan keras. Cengkeraman tangan Ivy pada leher Shin terlepas dan dengan sigap Shin membekap tubuh Ivy yang terjatuh diatasnya.
“AP- YANG KA- hmpph BODOH!” teriakan Ivy teredam oleh dada dan lengan Shin. Kini posisi Ivy telah berpindah jatuh diatas tubuh Shin. Tapi tak lama kemudian keduanya terguling jatuh ke lantai setelah Ivy memberontak dan memukuli Shin dengan sekuat tenaga.
Sementara keduanya sibuk untuk saling menyerang satu sama lain, cahaya flash kamera kembali teracung dengan cepat mengikuti setiap gerakan yang dibuat oleh Shin maupun Ivy.
“Apa yang kalian lakukan disini hah?!” Ivy terlihat sangat marah ketika sadar apa yang dilakukan oleh dua orang dibelakangnya. “Hei bodoh, kau bilang ruang rahasia. Apanya yang rahasia?” kini Ivy balik menyemprot Shin yang kini terhimpit oleh tubuh Ivy yang berada diatasnya.
Ivy beranjak turun dari tubuh Shin setelah sebelumnya dengan sengaja menginjak keras perut Shin dengan lutut hingga menyebabkan Shin merasa ingin memuntahkan isi perutnya.
“Kalian lagi. Jadi kalian belum bosan berbuat iseng padaku? Ha?” mata Ivy mendelik kearah kedua cowok yang tak asing baginya. Feeling Ivy mengatakan kedua cowok itu baru saja melakukan hal yang akan membuat kemarahannya meledak.
“Bagus. Akhirnya kau berhasil mengingat kami. Ruang Megane club, dan sekarang kita bertemu lagi di Exclusive Room. Yang terjadi selama ini kebetulan kan?” dengan gaya soknya, sosok berambut gondrong bernama Reno itu berusaha memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Tapi sebelum itu, tangan Ivy dengan gesit berusaha menyambar ponsel cowok itu yang sayangnya bisa dihindari dengan cepat.
“Berikan ponselmu. Kau pasti mengambil fotoku kan?” gertak Ivy sambil memasang kuda-kuda siap untuk melawan.
“Eitss tidak semudah itu. Ini akan menjadi balas dendam kami!”
“Hah? Memangnya aku pernah berbuat salah pada kalian?”
“Jangan berpura-pura! Kau wakil ketua OSIS yang menangani klub sekolah kan?”
“Apa-apan ini?! Aku menjabat wakil ketua OSIS tapi itu sudah tahun lalu!”
“Jangan bercanda! Akan kami sebarkan foto kalian ke forum online sekolah!”
“Huh. Aku tidak takut. Sebarkan saja kalau kau berani!”
“Oh baguslah kalau kau tak tahu malu!”
Reno kini dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan kini giliran Ivy mendapatkan kesempatan untuk kembali merebutnya. Tangan Ivy menyambar ponsel itu tapi tangan lain berhasil menggagagalkannya untuk merebutnya dari Reno. Ponsel itu berpindah ke tangan Ryoga, dan sebelum jari Ryoga bergerak untuk menekan tombol send, tangan Ivy kembali bergerak menyambar kearah Ryoga. Naasnya, ponsel itu merosot dan terlempar jatuh ke lantai.
Shin meraih ponsel yang kebetulan terlempar tak jauh darinya. Sekilas Shin bisa melihat wajah Reno yang berubah menjadi tegang sesaat setelah Shin berhasil mendapatkan ponselnya.
“Apa ini?” ucap Shin sambil menunjukkan sebuah foto yang terpampang jelas pada layar ponsel.
“Kau…..” Ivy menarik kerah kemeja Reno dan bersiap untuk menghancurkannya.
“Ivy, hentikan!” Shin berteriak tepat saat Ivy bersiap untuk meninju wajah Reno dengan kepalan tangannya. “Sepertinya aku akan berada di pihak dua orang itu”
“Apa maksudmu?!”
“Aku akan menyimpan ponsel dan foto ini agar kalian bertiga bertindak sesuai perintahku”
“Hah??”
“Ivy, aku hanya memiliki satu permintaan padamu. Aku butuh bicara denganmu untuk membuat kesepakatan. Kalau kau menolak, akan kusebarkan foto ini. Dan untuk kalian” Shin bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Reno dan Ryoga yang masih mematung.
“Aku akan menghapus foto dan menghancurkan ponsel ini jika kalian berani menyentuh Ivy. Tapi jika kalian bersikap menjadi anak baik, aku akan mengembalikan ponsel ini pada kalian”
Reno tampak tak terima. Ryoga yang masih memasang wajah tanpa ekspresi menepuk punggung Reno dan menarik lengannya untuk meninggalkan ruangan itu.
“Satu lagi” suara Shin menghentikan Reno dan Ryoga sebelum keduanya benar-benar meninggalkan ruangan. “Berikan juga kunci duplikat itu. Aku tahu kalian membuat duplikat kunci ruangan rahasia ini. Kalau menolak, akan kusebarkan ke forum online sekolah kalau kalian telah melakukan tindakan kriminal”
“Huh. Aku tak butuh lagi” Reno melemparkan kunci duplikat itu dengan sembarangan kearah Shin dan setelahnya mereka berdua menghilang dari pandangan Shin.
“Dasar sialan!” Ivy mengumpat kearah Shin.
“Sialan sialan apanya? Kau tak ingat sudah berapa kali aku menyelamatkan hidupmu??"
Ivy mengacungkan jari tengahnya dan memasang raut mencibir kearah Shin. Shin tampak jengah dan memikirkan sebuah ide untuk membuat cewek didepannya itu mau mengakui keberadaannya bukan sebagai musuh. Ia baru paham bahwa Ivy adalah cewek berotak batu. Ia tidak akan pernah mau mendengarkan ucapannya jika Shin tidak berbuat sesuatu.
"Kubilang diam" Shin terpaksa melancarkan serangan mata merahnya agar Ivy mau menuruti ucapannya. "Duduk di sofa itu dan jangan bergerak".
Ivy kembali terperangkap jurus Shin karena sejenak saja lengah. Mau tak mau tubuhnya kembali dikontrol mengikuti perintah Shin. Shin melangkah mundur ke arah tembok sambil menyandarkan punggungnya yang terasa pegal. Sebelum berucap Shin memandangi sosok Ivy yang duduk diam di atas sofa tanpa mengucapkan sesuatu. Bagaimanapun juga Ivy adalah sosok yang teramat manis bagi Shin kalau saja ia tidak berkelakuan bar-bar.
"Dengarkan aku sekali ini saja" ucap Shin sambil tak melepaskan tatapannya pada Ivy. "Aku ingin membuat kesepakatan denganmu disini. Berkaitan dengan keberadaanku di sekolah ini dan juga tentang perburuan Mugen oleh keluargamu"
Ivy tak bergeming dalam posisi duduknya. Tangannya mengepal diatas lutut dan dalam pikirannya ia ingin menghajar Shin bertubi-tubu saat itu juga.
"Aku tidak tau kenapa kau sangat membenciku. Yah aku tau sejak dulu Mugen dan Ningen memang tidak bisa hidup berdampingan. Tapi kenapa harus sampai ingin sekali menghancurkanku? Hmm... kalau soal ciuman itu... aku merasa hanya perlu melakukannya agar bisa menghentikan pertarungan. Temanku hampir saja mati kalau saja aku tidak segera mengejarnya"
Shin menatap Ivy yang tak merespon. Tentu saja Ivy tidak bisa merespon karena pengaruh Shin sendiri. Tapi rasanya aneh juga ia harus berbicara panjang lebar tanpa ada seorangpun yang menanggapi.
"Kau mungkin tidak peduli. Tapi aku juga memiliki masalahku sendiri. Dan salah satu cara agar aku bisa keluar dari masalah itu adalah dengan bersekolah disini. Jadi jangan anggap aku stalker atau apa. Yang ingin kulakukan hanyalah menghentikan pertarungan dan aku membutuhkanmu untuk mencari jalan keluar"