Mugen's Love

Mugen's Love
The Beginning



14 Februari 2017.


Desau angin dingin di pagi hari yang bercampur dengan sisa-sisa bubuk salju di malam sebelumnya sama sekali tak menyurutkan semangat para gerombolan manusia yang berjejal di sepanjang jalanan Tokyo yang padat. Para pemilik toko di samping kanan dan kiri jalan mencoba menarik perhatian manusia-manusia yang berlalu lalang untuk sekedar melirik dagangan mereka yang tak jauh dari dekor Valentine dengan pita-pita pink atau beruang Teddy yang mendadak menjadi alat penarik keberuntungan menggantikan sementara peran boneka kucing merah yang biasanya dipasang di depan toko. Barangkali usaha para pemilik toko itu berhasil karena beberapa siswi SMA yang lewat di depan etalase toko tampak tak bisa menyembunyikan kegembiraan mereka ketika melihat pernak pernik lucu dan coklat berbungkus pita dengan tulisan SALE yang sengaja ditulis dengan huruf besar dengan tinta merah super tebal.


Namun, hanya beberapa kilo jauhnya dari pusat kota terdapat pemandangan kontras yang jauh berbeda dari hiruk pikuk modernisasi Tokyo dan segala hiasan Valentine berwarna pink cerah yang menyilaukan mata.


Di dalam kuil kuno Shinsoji yang berjarak hanya beberapa kilometer dari pusat perbelanjaan modern Tokyo berdirilah seorang gadis dengan pulasan make up tipis dan baju tradisional yukata berwarna keunguan. Gadis berperawakan mungil dengan wajah bulat itu mungkin adalah satu-satunya gadis di tengah kota yang tak terusik oleh keberadaan Valentine's Day yang baginya tak lebih dari sekedar akal-akalan dari penjual coklat yang memanfaatkan kelemahan gadis seumurannya. Begitulah yang ada di pikiran gadis yang selama hidupnya tak lepas dari kegiatan yang selalu dianggap kuno dan tradisional bagi standar cewek lainnya. Tapi bagi gadis itu, tak ada hal yang lebih keren daripada melatih kekuatan dan menajamkan insting berburu yang diajarkan di kuilnya secara turun temurun.


Baginya 14 Februari bukanlah hari untuk bermain-main. Hari itu adalah hari paling ditunggu dalam hidupnya setelah penantian panjang selama 10 tahun untuk mendapatkan pengakuan dari orang-orang yang selama ini meremehkan dan menganggapnya tak lebih sebagai seorang gadis kecil yang lemah. Dengan lantang ia ingin mengatakan pada seluruh dunia bahwa di hari ulang tahunnya yang ke-17 ia sanggup untuk menanggung tanggung jawab berat baru yang hanya sanggup dilakukan oleh garis keturunan keluarga Mitsura.


Gadis tomboy berambut lurus kecoklatan itu lalu menatap pantulan dirinya di depan cermin besar berukir kayu yang ada didepannya. Seumur-umur, ia tidak ingat pernah mengenakan yukata secantik ini dengan riasan menghiasi matanya yang bulat dan blush on pink di pipinya. Rambut panjangnya disanggul dengan hiasan bunga hydrangea ungu besar yang hampir menutupi seluruh kepalanya. Ia mencoba menyunggingkan senyum manis walaupun ia tahu senyum itu tidak bisa menutupi kecanggungannya.


“Selesai" ucap seorang wanita tua yang sedari tadi sibuk menata rias gadis itu. Garis keriput disekiar bibirnya yang kentara tertarik keatas ketika ia menyinggungkan senyuman hangat.


“Kau cantik sekali, nona Ivy."


“Terima kasih, Bi. Ini berkat kerja keras Bibi. Kalau tidak didandani begini, aku mungkin


hanya akan pakai celana training saat upacara nanti."


Wanita tua bernama Takashima itu tertawa pelan mendengar ocehan Ivy. Ia kemudian


melanjutkan “Rasanya seperti bermimpi melihat Nona tumbuh dewasa seperti ini. Seingat saya, dulu Nona hanya bisa menangis dan merajuk. Saya yakin Nyonya Saki di surga pasti akan akan bangga."


Ivy membalasnya dengan senyum sambil memeluk Bibi Takashima dengan berbisik,“Terima kasih, Bi. Tanpa Bibi, aku tidak akan pernah menjadi seperti ini."


Di altar utama kuil Shinsoji yang juga merupakan rumah kediaman keluarga Mitsura, telah hadir pemuka kuil yang datang dari berbagai daerah. Para tamu itu semua adalah biksu-biksu kenamaan dari seluruh negeri yang telah menjaga keberadaan kuil dengan segala jerih payah dan pengorbanan.


Hari itu, Ivy juga akan segera menerima tanggung jawab yang sama seperti mereka, bahkan bisa dibilang tanggung jawabnya justru lebih berat. Terlahir sebagai keturunan keluarga Mitsura membuatnya memiliki kehidupan 360’ berbeda dari anak SMA pada umumnya. Kadang Ivy berpikir apakah ini suatu anugerah atau malapetaka. Yang jelas, sudah sedari dulu ia berusaha menerima nasib yang bisa dibilang tidak biasa.


Dari jauh sambil berjalan kearah barisan tamu Ivy bisa melihat tamu undangan yang


kebanyakan dihadiri para orang tua yang tak jauh berbeda seperti ayah atau kakeknya. Satu-satunya anak muda yang ada dibarisan tamu hanyalah kakak laki-lakinya, Aki, yang ikut berdiri diantara para orang tua. Ketika Ivy mulai berjalan semakin mendekat, semua tamu membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan. Dari situ, jantungnya mulai berdegup karena gugup.


Lonceng utama dibunyikan sebagai tanda mulainya upacara. Biksu pemimpin, Gaku Mitsura, yang tak lain adalah ayah Ivy sendiri menangkupkan tangannya dan mulai menggerakkan bibirnya untuk melantunkan doa dan mantra suci panjang yang lalu diikuti oleh para tamu lainnya. Posisi Ivy duduk bersimpuh di tengah-tengah altar dengan dikelilingi tamu. Saat yang lain sibuk menggumamkan doa, ia justru sibuk berpikir hal lain. Sungguh aneh memang,


putri dari seorang biksu tidak cukup hafal rentetan doa-doa yang dipanjatkan di acara


sesakral itu. Tapi dari dulu ia memang tidak memiliki minat terhadap segala tetebengek


ritual kuno dan tradisional yang dilakukan oleh keluarganya. Kakaknya Aki lah yang lebih paham akan hal itu.


Tapi untuk hal lain terutama dalam hal bertarung di medan pertempuran..... mata Ivy dengan cepat melirik dan terpaku pada sebuah peti kaca berisi benda berwarna merah darah gelap yang diletakkan tepat didepan ayahnya. Benda itu tak lain adalah katana merah atau katana berganggang perak yang sangat legendaris. Ivy membayangkan dirinya dengan anggun mengayunkan katana itu lalu menebas kesegala penjuru dan melihat semua musuh-musuh didepannya berjatuhan. Hanya dengan membayangkannya saja dada Ivy terasa bergejolak.


Tiba-tiba saja ganggang perak dari katana merah itu mengkilat seolah tengah merespon panggilan dari jiwa Ivy. Seketika jantung Ivy berdegup lebih kencang. Tapi kali ini bukan karena gugup, melainkan karena ia mulai tak sabar untuk segera mengambil alih pedang katana itu menjadi miliknya. Bayangkan saja, sejak umur 7 tahun ia hanya bisa memandangi katana itu dari balik lemari kaca yang disegel dengan mantra suci dan hanya bisa dibuka oleh ayahnya. Benda itu adalah barang pusaka peninggalan pendahulu keluarga Mitsura dan dikenal sebagai salah satu dari senjata terkuat di Jepang, bahkan di dunia. Sejak pertama kali melihatnya, Ivy menjadi sangat terobsesi untuk memilikinya. Tapi sayang, tidak semudah itu untuk bisa mengendalikan kekuatan luar biasa besar yang tersimpan pada katana itu dan 10 tahun adalah waktu bagi dirinya untuk memantaskan diri menjadi pemilik resmi darinya. Terlebih, ayahnya yang kaku dan kolot tidak pernah serta merta mengizinkannya untuk sekedar memegangnya. Ia harus menguasai


7 jurus dasar yang harus ia kuasai. Jika tidak, maka ia sendiri akan terpental karena katana itu tidak menerima pemilik yang lemah dan berhati rapuh.


Kalau bukan karena tekadnya yang kuat dan tujuan hidupnya untuk membalas dendam, Ivy tidak akan pernah mendapatkan senjata itu di umurnya yang masih sangat belia. Tangannya yang kecil namun kuat harus terpaksa mengapal dan tergores dalam akibat latihan bertahun-tahun tiada henti. PR sekolah bukan lagi urusan sulit baginya karena didepannya ada takdir kejam yang telah menunggunya.


Dan pada akhirnya, berkat bantuan Bibi Takashima dan Aki lah ayah Ivy luluh dan


memberikan katana merah itu pada Ivy.


“Mitsura Ivy”, sebuah suara berat membuyarkan pikiran Ivy. Ayah Ivy yang duduk didepannya kini telah berbalik dan menghadap kearahnya. Tatapan ayah Ivy yang gahardengan luka sayatan dibeberapa titik wajahnya membuat punggung Ivy menegang.


“Saatnya kau mengukuhkan sumpah setia sebagai salah satu rangkaian penyerahan


katana dan tanggung jawab suci ini”.


“Baik”ucap Ivy mantap. Batinnya, apapun akan dilakukannya demi mendapatkan katana sakti dan tanggung jawab suci itu, bahkan bila pada akhirnya ia harus mati sekalipun.


“Tirukanlah ucapanku ini sebagai sumpahmu."


“Baik”ucap Ivy sambil mengangguk mantap.


“Satu. Aku bersumpah tidak akan berkhianat pada keluarga Mitsura” suara berat itu


kemudian diikuti suara Ivy yang lantang.


“Aku bersumpah tidak akan berkhianat pada keluarga Mitsura”ucap Ivy dengan khidmat.


‘Tentu saja mana mungkin aku berkhianat pada keluargaku sendiri. Ayah, Bibi Takashima, Aki, dan kakek. Aku tidak akan pernah meninggalkan keluargaku sendiri!’ dalam hati, Ivy berteriak lebih lantang.


“Dua. Aku bersumpah akan menggunakan katana merah ini untuk


memusnahkan bangsa Mugen yang hina”


Darah Ivy berdesir cepat begitu nama itu disebut. Bagaimana tidak, ia tidak pernah


membenci apapun sedalam ini kecuali pada bangsa rendahan yang telah membunuh ibunya.


Tanpa ragu-ragu Ivy berucap “Aku bersumpah akan menggunakan katana merah ini untuk memusnahkan bangsa Mugen yang hina”.


“Ketiga”. Ayah Ivy sempat berhenti sejenak ketika hendak mengucapkan sumpah suci


yang terakhir. Ia memejamkan matanya sebentar lalu menelan liurnya sebelum akhirnya berucap “Aku bersumpah bahwa hati dan ragaku hanya milik keluarga Mitsura, kuil Shinsoji, dan kepentingan umat manusia”.


Tanpa jeda satu detik Ivy menirukannya nada bersungguh-sungguh,” Aku bersumpah


bahwa hati dan ragaku hanya milik keluarga Mitsura, kuil Shinsoji, dan umat manusia”.


Keheningan menyelimuti altar itu sebelum akhirnya ayah Ivy mengangguk pelan lalu


berbalik dan mengucap mantra yang terdengar asing di telinga Ivy dan juga mungkin bagi orang-orang disekelilingnya. Dengan mudahnya, rantai dan gembok berkarat yang dibiarkan melilit peti kaca selama puluhan atau bahkan ratusan tahun itu terlepas.


Dengan perlahan Ayah Ivy membukanya dan mengangkat pedang bersarung merah itu


dengan hati-hati. Sebuah senyuman penuh gelora tak dapat Ivy sembunyikan tatkala


ayahnya berdiri dan menghadap kearahnya dengan posisi menyerahkan pedang katana


merah itu. Ivy lantas ikut berdiri, membungkuk lalu menerima pedang itu.


“Sebagai kepala kuil Shinsoji, dengan ini kuserahkan katana merah ini beserta tanggung jawab barumu sebagai Ryoshi pemburu Mugen mulai detik ini."


“Terima kasih."


Setelah menerima pedang itu, Ivy kemudian berbalik kearah para tamu lalu membungkuk


Ivy buru-buru menyembunyikan kekagetannya namun seketika ia tersenyum karena ia mengerti bahwa pedang itu telah memberikan respon padanya sebagai pemilik baru.


Sebelum ini, Ivy hanya menganggap bahwa apa yang dipelajarinya dari buku kuno yang


didapatnya dari keluarga Mitsura secara turun temurun hanyalah mitos belaka.


Termasuk juga bagaimana pedang katana merah itu bisa memberikan respon seperti


makhluk hidup yang memiliki emosi. Namun hari ini Ivy membuktikannya sendiri bahwa


sekali lagi apa yang tertulis dalam buku kuno berjudul “Ryoshi no Tabi” itu benar adanya. Pikirannya seketika melayang akan ingatannya yang secara otomatis mengingat salah satu isi dari halaman pembuka buku itu.


“***Ryoshi berarti pemburu. Tetapi Ryoshi bukanlah pemburu sembarangan.


Sejak zaman Edo Ryoshi telah ada. Tugas mereka hampir sama dengan samurai, yakni


melindungi negara dan rakyat dari ancaman.


Hanya saja ada perbedaan yang jelas antara


samurai dan Ryoshi. Musuh yang dihadapi samurai adalah manusia, sementara musuh


Ryoshi adalah iblis dengan berbagai wujud yang dikenal sebagai Mugen.


Selama ini keberadaan Ryoshi selalu disembunyikan karena tugas mereka berkaitan dengan misi rahasia yang manusia biasa tidak boleh ketahui.


Di dunia ini, pada dasarnya manusia atau biasa disebut Ningen bukanlah satu-satunya makhluk berakal yang memiliki peradaban, tetapi disana juga ada


makhluk lain bernama Mugen yang hidup di dunia yang sama dengan Ningen.


Yang


membedakan keduanya adalah nilai-nilai yang mereka anut. Ningen menganut nilai cinta kasih, keluhuran, budi pekerti, kejujuran, kehormatan, kesetiaan, dan segala sesuatu


yang berkaitan dengan kebajikan, sementara Mugen sebaliknya. Mereka adalah bangsa


hina yang menganut nilai yang dianggap Ningen sebagai dosa, seperti kesombongan,


ketamakan, kerakusan, kemalasan, dan hawa nafsu. Mugen sebagai bangsa dengan nilai


hidup tak beradab juga memiliki perbedaan yang sangat kentara: mereka meminum darah Ningen sebagai sumber kehidupan.


Perang antara Ningen dan Mugen sudah sejak dulu terjadi dan di abad yang modern seperti saat ini Ningen jauh lebih unggul daripada Mugen yang telah dikalahkan oleh ilmu pengetahuan dan kekuatan Ningen.


Meskipun demikian, keturunan keluarga Mitsura tetap menjalankan tugasnya untuk melakukan penertiban ketika Mugen melakukan pelanggaran-pelanggaran yang merugikan umat manusia. Beberapa keluarga kuno yang memiliki tanggung jawab sama juga tersebar di beberapa kuil, tetapi sampai detik ini keluarga Mitsura adalah yang terkuat dan paling disegani***."


Kurang lebih itulah sepenggal inti dari buku kuno “Ryoshi no Tabi” yang selama ini


menjadi panduan Ivy untuk menjadi penerus Ryoshi di kuilnya. Walaupun Ivy hafal seluruh isi buku itu sampai di luar kepala, kadang Ivy


merasa ada yang tidak masuk akal dan kadang tak memercayai buku itu sepenuhnya. Tetapi perlahan-lahan ia sendiri membuktikannya, termasuk kekuatan dari katana merah yang sekarang telah menjadi miliknya.


Sesungguhnya perjalanan hidupnya tak sedatar dan semembosankan penjelasan panjang lebar dalam buku kuno itu, di umurnya yang menginjak 17 tahun ia selalu menemui kerikil maupun batu karang, alias segala sesuatunya tidaklah mudah, termasuk urusan diluar tugasnya sebagai Ryoshi dan anggota keluarga Mitsura.


Di hari biasa, Ivy tetaplah mengikuti pendidikan formal SMA seperti anak muda pada umumnya. Hanya saja, ia memiliki kebebasan lebih karena diharuskan mengikuti berbagai kegiatan di kuil dan sekolahnya memberikan izin akan hal itu. Sebagai gantinya, Ivy akan menjadi perwakilan sekolah untuk hampir semua kompetisi jenjang SMA entah level daerah, nasional, maupun internasional.


Hari inipun juga sama, setelah mengikuti upacara dan acara ramah tamah dengan biksu-biksu yang berlangsung sekitar 3 jam, Ivy tetap harus menghadiri kelas di sekolahnya. Dengan tergesa, Ivy menghapus riasan di wajahnya dengan make up remover yang baru saja didapatnya kemarin.


“Sial.... kenapa wajahku jadi aneh begini??”ucap Ivy dengan kesal saat make up di area matanya tak kunjung hilang dan justru membuatnya terlihat aneh.


“Nona, saya sudah siapkan baju seragam diatas meja ya. Tas sudah saya isi dengan buku-buku pelajaran jadwal hari ini”, Bibi Takashima yang sedari tadi ikut sibuk di kamar Ivy berucap.


“Ah iya, thanks Bi. Aku akan segera ganti baju. Ah tapi sebelumnya bisakan Bibi melepas


obi ku? Rasanya sangat sakit karena terlalu ketat”.


“Oh...baiklah Nona”ucap Bibi Takashima yang dengan sigap melepaskan sabuk kain sutra


yang selama berjam-jam melilit pinggang kecil Ivy.


“Rasanya selama upacara pinggangku kejepit pintu. Kadang aku ingin bilang, kenapa harus dibuat upacara seperti itu. Apa mereka tidak tahu kalau memakai yukata dan


mengenakan riasan sangat menyiksa”ucap Ivy yang membuat Bibi Takashima terkekeh


pelan.


“Ingat Nona, sekarang sudah 17 tahun. Artinya Nona sudah dianggap dewasa dan harus bertingkah anggun sesuai umur”


“Haah iya Bi. Tapi kenapa Bibi jadi seperti kakak sih? Suka memberikan petuah-petuah


bijak soal dewasa lah, yang tanggung jawaba lah. Selalu itu-itu saja"


“Itu karena kami menyayangimu, Nona. Umur 17 hanyalah awal kedewasaan. Dan jika


mengikuti peraturan resmi, seharusnya kau baru bisa diakui dewasa jika berumur 20”.


“Yahh diskon 3 tahun boleh lah. Percaya saja Bi, otakku lebih dewasa daripada umurku”.


Bibi Takashima kemudian tertawa kecil. Sebelum ia meninggalkan kamar Ivy dan


membiarkannya mengganti yukatanya dengan seragam sekolah, ia berujar,”17 tahun itu angka yang rumit, Nona, bukan hanya sekedar kemampuan otak dan kekuatan semata. Kau juga harus mampu mengelola emosi dan memegang teguh prinsip yang telah kau pelajari selama hidupmu”.


Setelah itu Bibi Takashima meninggalkan kamar Ivy. Ivy sendiri dengan secepat kilat


mengganti yukatanya dengan kemeja putih lengan panjang yang dilapisi jas berwarna


abu-abu dengan logo sekolahnya, mengikat dasi bergaris kombinasi biru-hitam-putih di


kerah kemeja, dan mengenakan rok kotak-kotak selutut berwarna senada


dengan jasnya. Terakhir, ia mengambil sebuah liontin emas dengan bandul berbentuk hati dan terdapat ukiran membentuk huruf S yang ia simpan di sebuah kotak perhiasan. Liontin itu merupakan benda peninggalan ibunya yang telah tiada dan S merupakan inisial nama ibunya, Saki. Ivy mengusap pelan bandul liontinnya seraya berucap dalam hati.


"Ibu, aku pergi sekolah dulu".


Setelah itu ia dengan cepat menyambar tasnya dan berlari melewati lorong kuil


dan mengucap salam pada setiap orang yang ditemuinya sepanjang menuju pintu keluar kuil.