
THE SCHOOL'S FOREST
Ivy bergerak cepat seolah ingin mengimbangi laju mobil dan bus yang bergerak lalu lalang di jalanan. Ia berlari sambil melompat-lompat dengan kakinya yang seringan bulu sehingga memungkinkannya untuk bergerak leluasa di udara. Jika sedang bosan, ia akan lebih memilih jalan pintas dengan cara melompati satu pohon ke pohon yang lain. Tapi sudah lama ia tidak memilih melakukannya sejak salah satu pemilik toko memergoki sekelebat makhluk yang melompati pohon dan sejak saat itu beredar kabar burung jika ada siluman monyet berkeliaran di tengah kota. Untuk menghentikan kabar itu Ivy tidak lagi melompat di pohon dan mengurangi kecepatan larinya walau bagi orang biasa caranya berlari masih saja diatas rata-rata manusia normal. Ivy sampai harus menjelaskan pada para pemilik toko bahwa ia merupakan atlet lari tingkat sekolah yang sedang berlatih untuk perlombaan. Akhirnya mereka percaya saja dengan penjelasan itu dan sampai sekarang orang-orang yang menemui Ivy tidak akan terbengong-bengong lagi. Justru karena keunikan Ivy dan karena sering melintasi jalan menuju sekolah, para pemilik toko jadi sangat hafal dan mengenal Ivy dengan baik.
“Selamat siang paman Dori”ucap Ivy sambil berlari melesat cepat di depan toko bunga.
“Hai Ivy, kau terlambat sekolah lagi? Hahahaha”dari jarak 1 meter Ivy bisa mendengar sahutan si paman penjual bunga.
Dalam waktu sekitar 10 menit saja Ivy sudah sampai di sekolahnya, Seiran High School.
Sekolah itu merupakan sekolah swasta terbaik di kotanya yang juga merupakan sekolah terdekat dari kuilnya. Security yang sudah hafal kalau ia merupakan siswa spesial membukakan pintu gerbang dan membiarkan Ivy melewatinya sekalipun jam sudah menunjukkan pukul 12.35. Jika ia tidak mendapatkan gelar murid spesial, yang akan
didapatnya adalah hukuman mengitari lapangan baseball di belakang sekolah sebanyak lima kali atau hukuman push up seratus kali dengan disaksikan oleh security menyeramkan berbadan sebesar gorilla itu.
Didepan Ivy telah menjulang bangunan sekolah super megah dengan nuansa Eropa kental dengan lapangan luas di area depannya dan pohon-pohon rindang serta taman bunga tulip yang membuatnya terlihat semakin mewah. Ia kemudian menatap lantai 7 yang merupakan lantai teratas gedung dimana kelasnya berada. Ivy sedang mempercepat langkahnya saat tiba-tiba ia mendengar dari kejauhan ada seseorang memanggil namanya.
“Ivy ! Ivy !”teriak seseorang yang ternyata adalah guru pembina eksul panahan.
“Ada apa sensei? Kenapa terburu-buru begitu?”tanya Ivy.
“Bisakah kau ikut latihan panahan jam 3 sore nanti? “.
Ivy memutar bola matanya, mencoba memutar otak bagaimana ia bisa menghindari kelas panahan. Jika bisa jujur, ia ingin menjawab ‘Maaf sensei, hari ini aku akan memulai latihan pertamaku dengan katana merah bersama kakak, aku harus banyak-banyak menyimpan energiku’. Tapi pada akhirnya Ivy menjawab setelah memutar otak dengan cepat,
“Maaf sensei, aku sudah berjanji dengan Tendo-sensei untuk persiapan olimpiade
Fisika. Maaf yaa”.
Ivy kemudian berlalu dan memasuki gedung utama sekolah yang berlantai marmer abu
terang. Didepan gedung ia bertemu lagi dengan beberapa guru yang sedang berjaga di ruang piket. Salah satunya adalah Mariko-sensei yang buru-buru menghadangnya.
Penampilan guru bertubuh gempal dengan sanggul tradisional Jepang itu terlihat sedikit
kontras dengan interior sekolah yang bernuansa modern.
“Ivy, jam 4 nanti kau ada waktu luang kan? Ayo ke ruang laboratorium Biologi untuk
persiapan olimpiade nasional di Osaka. Nanti kita akan berlatih membuat obat rematik berbahan dasar ganggang merah”. Tapi buru-buru raut guru itu berubah menjadi kecewa karena lagi-lagi Ivy menolaknya dengan halus.
“Maaf sensei, aku jam 4 ada persiapan untuk lomba cerdas cermat tingkat nasional.
Sekali lagi, maaf ya”.
Waktu baru berjalan 5 menit ketika Ivy menekan tombol lift menuju lantai 7. Didalam
lift seorang guru sudah menyambutnya dan lagi-lagi mengajaknya bicara.
“Hai Ivy, jam 15.30 kau ada waktu kan sepulang sekolah? Sensei mau bicara”kali ini Reito-sensei, guru pengampu ekskul taekwondo yang selalu memakai baju taekwondo kemanapun pergi. Badannya berotot dan rambutnya diminyaki hingga menyerupai tokoh Son Goku dalam animasi Dragon Ball membuatnya gampang dikenali meskipun dari jarak 10 meter sekalipun.
Ivy menahan diri untuk tidak memasang wajah jutek ketika masuk ke lift dan terpaksa
terjebak dengan seorang sensei dengan topik pembicaraan seputar lomba sekolah lagi
dan lagi. Beginilah yang terjadi jika beberapa hari saja Ivy tidak menampakkan wajah di
sekolah. Siapapun akan memburunya karena urusan ekskul, OSIS, atau kegiatan lain.
Sebenarnya Ivy sudah kebal, tapi kali ini ia tak bisa berpura-pura menyembunyikan
kejutekannya yang natural dari lahir karena dihadang guru-gurunya secara berturut.
“Sensei, baru saja lusa aku memenangkan kejuaraaan taekwondo daerah Tokyo kan? Apa medali emas belum cukup?”jawab Ivy saat akhirnya lift bergerak membawanya ke lantai 7.
“Bukan masalah itu, Ivy. Sensei ingin memberikanmu sesuatu”.
“Sesuatu apa? Medalinya sudah aku terima kok”.
“Aduh bukan medalinya. Tapi ada hadiah lain yang baru saja cair hari ini”.
“Ohya? Hadiah apa sensei? Kukira medali emas itu saja sudah cukup”.
“Kamu tidak ingat? Pemenang pertama sampai ketiga juga berhak mendapatkan uang tunai. Nah, nanti jam 15.30 kau bisa menemui bapak di ruang guru ekskul kan? Sekalian kita membahas perlombaan lanjutan di Kyoto”.
“Hmm berapa hadiahnya kalau boleh tahu?”
“Cukup banyak, besarnya 250ribu yen. Cukup untuk membeli bento favoritmu sebanyak
100x. Cukup juga kalau kau ingin membeli baju musim panas model terbaru”.
“Maaf sensei”Ivy kemudian berdiri menghadap senseinya dengan serius. “Maaf sekali tapi aku tidak ingin mengambil hadiah itu”.
“EEEEE??”jawaban Ivy sontak membuat guru berperawakan besar itu melotot tajam.
“Bye, sensei. Aku mau masuk kelas dulu”ucap Ivy sambil bersiap keluar ketika lift terbuka. Sementara itu Reito-sensei masih mematung di dalam lift ketika Ivy berlari keluar sambil berkata “Hadiah uangnya buat sensei saja!”.
Ivy berlari di lorong sekolah dengan riang. Ia punya alasan mengapa ia tidak mau
menerima hadiah uang itu ketika kakeknya pernah bercerita bahwa Reito-sensei
seminggu yang lalu mendatangi kuilnya dan bercakap-cakap dengan kakeknya. Istri Reito-
sensei baru saja melahirkan, dan ia membutuhkan biaya untuk pemulihan istrinya di rumah sakit. Lagipula, Ivy tahu bahwa posisi Reito-sensei di sekolah ini masih baru dan statusnya masih guru kontrak. Ivy paham uang sebesar itu akan lebih berguna jika
digunakan orang yang lebih membutuhkan daripada dirinya. Kini Ivy sudah berdiri didepan kelas yang sudah tiga hari ditinggalkannya karena persiapan upacara sakral yang akhirnya ia selesaikan siang tadi. Tanpa ragu-ragu ia mengetuk pintu, lalu membukanya dan mengucap salam.
“Selamat siang semua”.
Semua mata tertuju pada Ivy dan ia dengan santainya duduk di bangkunya yang berada di
baris ketiga dekat jendela.
“Oke, selamat datang kembali di kelas 12A, Ivy Mitsura”ucap Sato-sensei, guru
matematika. Sambil membetulkan kacamatanya yang kecil, Sato-sensei mengecek presensi Ivy dan matanya yang sipit membelalak kecil ketika baru menyadari bahwa gadis itu sudah lima kali absen pelajaran matematika secara berturut-turut.
“Baiklah, anak-anak kita lanjutkan kembali materi tentang Trigonometri. Ada pertanyaan?
Oke, jika tidak, kita lanjutkan ke soal latihan. Silakan buka buku halaman 49 bagian 3”.
Selama tiga puluh menit pertama Ivy merasa bersemangat mengikuti penjelasan dan
mengerjakan soal dari gurunya. Tapi tiga puluh menit berikutnya, kemalasan mulai menyelimuti dirinya dan Ivy sudah kehabisan akal untuk membunuh rasa bosan dan kantuknya di dalam kelas. Akhirnya Ivy melengos ke arah jendela ketika ia mulai merasa akan mati bosan dengan pelajaran matematika yang tidak segera berganti bab. Gurunya masih saja mengulang penjelasan materi yang sama untuk teman-temannya yang tidak mengerti sekalipun sudah dijelaskan berulang kali. Sementara itu, Ivy sudah menyelesaikan soal
yang diberikan gurunya dalam waktu lima belas menit dan ia sudah memahaminya dengan sempurna ketika siswa yang lain membutuhkan penjelasan lebih yang memakan waktu hampir empat puluh lima menit. Pelajaran di sekolah kadang sangat membosankan bagi otaknya yang
kelewat encer. Ia membutuhkan hal yang lebih menantang dan menarik daripada ini. Tapi mau bagaimana lagi, mau diadu dengan siapapun ia tetaplah selalu menjadi siswa nomor satu di sekolahnya. Awalnya ia menikmati masa-masa SMA-nya, namun semakin lama ia menjadi seenaknya sendiri karena merasa sudah menguasai segala sesuatunya dengan cepat. Guru-guru mulai kewalahan menghadapi kecerdasannya, juga kebandelannya dalam hal kedisiplinan masuk sekolah, hingga akhirnya diputuskan bahwa Ivy boleh datang dan pulang dari sekolah sesuai kebutuhannya saja dan sebagai ganti kehadirannya ia diminta untuk berpartisipasi aktif mengikuti lomba di luar sekolah.
Kepala Ivy bersandar pada jendela disampingnya kemudian mengetuk-ngetukan
bolpoinnya di meja dengan malas. Ia tidak tahu mau sampai kapan guru dan teman-
temannya terus-terusan membahas sin cos tan dan segala printilannya. Ia akhirnya menyibukkan diri dengan mengamati hutan belakang sekolahnya yang luas dengan pohon dan berbagai macam tumbuhan yang cukup rapat. Pepohonan belakang sekolah yang cukup rimbun untuk ukuran sekolah itu selalu berhasil mengingatkannya akan hutan Fukai, tempat latihan fisiknya selama ini bersama sang Kakak. Rasanya ia ingin sekali siang hari cepat berlalu dan tergantikan oleh malam sehingga ia bisa menyentuh pedang katana merah yang sangat ia dambakan setelah berhasil memerolehnya. Berdasarkan apa yang ia baca dari buku-buku di perpustakaan kuil dan penjelasan dari Aki, pedang itu sangat sulit dikuasai bahkan oleh orang yang sudah sangat ahli sekalipun. Pedang itu sendiri yang pada akhirnya akan menentukan apakah pemiliknya benar-benar layak atau tidak mendapatkan kekuatan sebesar itu. Jujur saja Ivy sedikit gentar dan kadang mempertanyakan kemampuannya sendiri. Apakah latihan selama 10 tahun dan usahanya setiap malam membasmi Mugen bersama kakak dan keluarganya akan sanggup membantunya untuk menguasai katana merah itu?.
Tiba-tiba Ivy terhenyak ketika menemukan suatu keganjilan di salah satu dahan pohon
yang tiba-tiba bergoyang dengan keras. Pikiran akan pedang katana merah segera
menghilang dan segera tergantikan oleh keterkejutan akan keanehan itu. Bukan karena
angin lewat, melainkan karena sepertinya ada makhluk yang sedang memanjat pohon dan
duduk di salah satu dahan tertinggi. Ivy menegapkan punggungnya dan mencondongkan wajahnya kearah kaca sampai hidungnya yang mancung menempel pada kaca. Dengan mata coklat bulatnya, ia mengamati keanehan itu dengan lekat-lekat. Untuk apa orang memanjat pohon di sekolah di siang bolong seperti ini? Bahkan siswa paling bodoh sekalipun tidak akan melakukan hal segila ini. Kalaupun itu adalah hewan, hewan macam apa yang bisa memanjat pohon setinggi itu? Apakah monyet? Tapi memangnya ada monyet liar yang sengaja dipelihara di belakang sekolah?.
Ivy semakin menyipitkan matanya ketika melihat ada sebuah kaki yang terjulur keluar
diantara dedaunan pohon yang rapat. Pohon itu bergoyang-goyang lagi dengan keras dan
tiba-tiba saja ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ada sesosok makhluk yang
mencoba menyingkirkan dedaunan dan ranting dari wajahnya. Tapi tiba-tiba entah apa
yang terjadi, sosok manusia yang terlihat jelas sebagai seorang pemuda itu kehilangan
keseimbangan sehingga jatuh terjembab dari pohon keatas tanah dan menimbulkan suara
berdebam. Ivy spontan berdiri dari kursinya dan memeriksa arah jatuhnya pemuda itu.
Pemuda yang terduduk di tanah itu menggosok punggungnya dan tanpa sadar bola mata keduanya bertemu. Jantung Ivy berdegup ketika menyadari mata pemuda itu menyala merah. Sebuah senyum yang lebih menyerupai seringai itu terlihat manakala pemuda itu menyadari ada orang yang tengah mengamatinya dari jendela.
‘Mugen?!’ teriak Ivy dalam hati dan ia dengan sigap berlari menuju pintu di kelasnya.
“Eitss mau kemana kau?”.
Ivy baru menyadari seluruh isi kelas sedang menatapnya ketika ia berhenti.
“A-aku izin ke toilet sensei”
“Ya ampun.... Kau itu pintar, tapi tidak pandai berbohong”ucap sensei yang membuat Ivy
sedikit kesal. “Coba sana kerjakan soal di papan tulis dulu”.
“Tapi pak, aku sedang terburu-buru”sanggah Ivy yang tak lantas membuat gurunya
menyerah.
“Iya kau boleh izin keluar tapi coba kerjakan dulu soal ini dan jelaskan pada teman-
temanmu. Kau baru saja meraih predikat siswa terbaik lagi kan tahun ini? Tunjukkan
kalau kau memang pantas mendapatkan julukan itu”.
‘Sial’batin Ivy sambil berjalan menuju papan tulis dengan terpaksa.
Dengan secepat kilat Ivy menyelesaikan soal yang diberikan. Teman-temannya
memasang raut kagum dan sebagian berpura-pura mengangguk-angguk paham walau sebenarnya masih belum mengerti juga.
“Jadi begini teman-teman, diperoleh hasil x \= 25 pangkat 0 + k.360 pangkat nol atau 1550 + k.360 pangkat 0. Mudah kan?".
“Hm... Tapi Ivy, kenapa k.360? Aku masih tidak mengerti”.
“Oh pertanyaan bagus, Rika. Maaf tapi guru pelajaran matematika itu Suda-sensei,
bukan aku. Aku ada urusan lain yang lebih penting, jadi kau lebih baik bertanya pada
sensei saja. Oke? Aku pergi dulu sekarang, permisi”,tanpa menunggu aba-aba, Ivy buru-
buru berlari keluar dari kelas tanpa memedulikan sensei yang meneriakinya untuk kembali ke kelas.
“Kau baru masuk kelas selama 1 jam Ivy !! Heyy kembali sekarang jugaaa!”.
Tanpa memedulikan suara sensei, Ivy berlari secepat kilat ke lorong sekolah dan
memencet tombol lift berulang kali.
“Payah!”ucapnya ketika lift tidak kunjung terbuka. Ia kemudian mencoba memutar otak
dan matanya tertuju pada sebuah ruang kecil di belakang lift bertuliskan “Megane Club”.
Ivy ingat, sebulan yang lalu Megane Club mengajukan diri sebagai klub baru di
sekolahnya tetapi OSIS menolaknya mentah-mentah karena isinya hanya sekumpulan
siswa iseng saja. Ruang itu menghadap langsung ke hutan sekolah dan tanpa berpikir dua kali Ivy membuka pintu ruang yang ternyata tidak dikunci. Ivy sedikit terkejut karena ternyata di dalam ruang itu ada dua siswa laki-laki yang balik menatapnya heran ketika pintu ruangan tiba-tiba mejeblak terbuka. Apalagi, posisi mereka terlihat sangat bodoh di mata Ivy.
“Haaaa kalau tidak salah kau siswa yang populer itu kan??”teriak salah satu siswa
bertubuh bongsor tinggi berambut hitam gondrong sebahu. Ia sedang tiduran di lantai
dan baru saja membuka komik yang menutupi wajahnya.
“Ohh bukannya dia menjabat sebagai wakil ketua OSIS ya?”teriak siswa lain yang
bertubuh jangkung dengan rambut rapi berwarna silver muda. Ia duduk di meja sambil memegang gitar dengan banyak bungkus makanan berserakan di sekelilingnya.
“Lalu kenapa dia ada disini?”sahut si rambut hitam sambil bangkit dari posisi rebahan.
“Bukan urusanmu”jawab Ivy ketus. Tanpa memedulikan kedua siswa aneh yang terus
memerhatikannya, Ivy berjalan lurus kearah jendela lalu menaikkan kacanya keatas.
Angin menerpa wajahnya dan mengibaskan beberapa helai rambut panjang kecoklatannya.
Kedua siswa laki-laki itu sedikit terpesona melihat sesosok gadis yang baru saja mereka
sadari cantik kala itu. Tapi sedetik kemudian, pikiran mereka berubah drastis ketika
melihat salah satu kaki Ivy menapak di kusen jendela.
“Hey, wakil ketua OSIS? Apa yang kau lakukan? Kau bercanda kan??”teriak si pemuda berambut hitam.
“Diam kau. Berisik”ucap Ivy yang kini kedua kakinya sudah berjinjit diatas kusen jendela.
“Kalau kau bunuh diri, kita bisa dalam bahaya juga!”ucap pemuda berambut abu yang kini
memegangi lengan Ivy.
“Lepas! Siapa juga yang mau bunuh diri! Aku sedang ada urusan!”ucap Ivy sambil
mendorong tubuh kurus kering si pemuda berambut abu hingga ia terjatuh.
Tanpa memedulikan teriakan histeris kedua pemuda itu, Ivy melompat kearah dahan
pohon lalu melompat ke batang pohon lainnya sampai pada akhirnya mendarat sempurna dari lantai 7 dalam waktu kurang dari 1 menit setelah berguling diatas tanah beberapa kali.
“Hei bodoh, kenapa malah bengong saja?”ucap si rambut hitam sambil menggeplak kepala si rambut silver.
“Harusnya kau rekam adegan tadi dan kita akan jadi viral!”.
Tapi pada kenyataannya tak ada satupun dari mereka berdua yang sempat mengambil
ponsel dan merekam kejadian barusan karena mereka terlalu terpukau dan otak mereka terlalu sibuk berpikir apakah itu nyata atau hanya mimpi di siang hari belaka.
“Kau!”teriak Ivy ketika menyadari sosok makhluk yang diyakininya sebagai Mugen itu
berlari cepat menghindar darinya begitu sadar Ivy menapak tanah yang sama dengan
dirinya. Ivy mempercepat larinya ketika sosok itu dengan sigap bersembunyi diantara
satu batang pohon ke pohon yang lain. Ivy mulai resah ketika ia berlari semakin masuk ke dalam hutan. Ia sendiri selama dua tahun lebih bersekolah disini tidak mengetahui
seberapa luas sekolahnya. Ia hanya tahu bahwa hutan dibelakang sekolahnya itu
rencananya akan dikembangkan menjadi fasilitas canggih, tapi sebelum dibangun menjadi gedung atau fasilitas baru, hutan itu tetaplah hutan rimbun yang tak berbeda jauh dari hutan lain pada umumnya: sepi dan tak berpenghuni.
Karena kecepatan Mugen yang ada didepannya semakin tak terkejar, Ivy akhirnya
memutuskan untuk mengeluarkan salah satu senjata yang ia simpan disaku kemeja dibalik
jas sekolahnya. Ratusan jarum perak kecil ia lemparkan kearah Mugen itu dan berharap
salah satu akan menghentikan langkahnya. Pada kenyataannya, Mugen itu lebih sigap
daripada serangan Ivy. Ia melompat ke salah satu pohon ketika Ivy melemparkan
serangan jarumnya, tetapi Ivy juga tak mau kalah sigap. Ia tetap mengejarnya dengan
kekuatan penuh. Mugen itu sekali lagi menghindar, tapi Ivy tak kekurangan akal. Ivy
melemparkan jarum dengan kedua tangannya kebeberapa arah sehingga tak ada lagi
ruang untuk menghindar. Sosok Mugen itu akhirnya terseok dan menggelinding ke tanah.
Ia mengelus lengannya yang tampaknya terkena beberapa jarum perak dari serangan Ivy barusan. Dari kejauhan Ivy tersenyum puas dan segera berlari menghampiri tubuh yang tergeletak di tanah itu.
“Siapa kau?!”ucap Ivy ketika berdiri beberapa meter dari sosok itu.
Ia berjalan berhati-hati mendekatinya. Mugen itu lalu bangkit dari tanah dan tersenyum kearah Ivy. Untuk pertama kalinya, Ivy melihat jelas wajah dari sosok yang dilihatnya dari jendela kelasnya. Satu kata untuk mendeskripsikan Mugen itu: sempurna, jika saja matanya tidak menyala merah dan bibirnya tak menyunggingkan seringai yang menampakkan gigi taring tajam. Pahatan wajahnya sempurna meskipun tulang pipinya sedikit menonjol karena wajahnya yang tirus.
Ivy memasang kuda-kuda bersiap untuk melancarkan serangannya ketika tiba-tiba saja dalam satu kedipan mata Mugen itu mengibaskan jubah hitamnya hingga menutupi tubuhnya dan menghilang begitu saja dari hadapan Ivy seperti kabut asap.
Ivy memutar matanya kesekeliling. Ia masih tidak yakin jika makhluk itu menghilang
secepat itu. Tapi berapa kalipun Ivy mencari, sosok itu memang benar-benar telah
menghilang. Nafas Ivy memburu dan dalam hatinya ia merasa sangat kesal karena
incarannya kabur begitu saja. Sungguh tidak menarik. Padahal ia yakin Mugen yang
barusan itu adalah incaran besar karena sepanjang perjalanan karirnya sebagai Ryosei, belum pernah ia menemukan Mugen yang bisa berlari melebihi kecepatannya dan bisa lolos dari serangannya. Lagipula, ia sampai harus mengeluarkan energinya sebesar ini hanya untuk mengejar satu musuh. Setengah hatinya menarik dirinya untuk masuk semakin dalam ke hutan belakang sekolah itu, tapi logikanya memutuskan untuk kembali ke sekolah saat itu juga. Entah apa yang terjadi, tetapi ia baru menyadari bahwa hutan belakang sekolahnya menguarkan aura kelam yang tak terdeskripsikan.