Mugen's Love

Mugen's Love
Back to School



CHAPTER 7: BACK TO SCHOOL


Dua minggu sudah berlalu sejak terjadinya insiden ciuman penuh kemalangan yang menimpa Ivy. Ciuman tragis kalau Ivy boleh menyebutnya, karena Mugen tak beradab itu berhasil memporakporandakan seluruh rencana hidup dan meruntuhkan harga dirinya dalam waktu hitungan detik, walau setidaknya gara-gara kejadian itu juga Ivy jadi mengetahui bagaimana persepsi orang lain tentang dirinya. Dan selama dua minggu itu juga ia diperlakukan bak tuan putri dari kerajaan, dijaga ketat oleh belasan pengawal lengkap yang bekerja bergantian menjadi body guardnya dari pagi hingga malam, pergi kemanapun dengan menunggangi mobil milik keluarganya, dan selama itu juga ia tidak diizinkan untuk mengikuti kegiatan yang membahayakan, termasuk mencoret namanya dari daftar misi perburuan Mugen dan sederet aktivitas lain yang dianggap bisa mengancap nyawanya. Ivy merasa jengkel bukan kepalang. Seumur hidup ia tidak pernah menginginkan kehidupan seperti ini meskipun diluar sana mungkin banyak gadis SMA yang sangat ingin dimanja sedemikian rupa seperti seorang tuan putri. Kebebasannya terusik karena kemanapun ia pergi sederet pria berpakaian tradisional Jepang dengan kacamata hitam lengkap dengan walky talky dan peralatan body guard lain membuntutinya seperti utusan delegasi dari negeri antah berantah. Seribu kalipun Ivy menolak penjagaan ketat seperti ini, ia pasti akan kalah berdebat dengan ayahnya yang mengidap sindrom overprotektif.


Hari ini Ivy memijat kening kepalanya entah sudah yang keberapa kali. Membayangkan dirinya disambut oleh pintu gerbang sekolah dan sorak sorai siswa lain membuat kepalanya berputar-putar. Menghabiskan waktu di rumah sakit sangat memuakkan, tapi jika ia harus mengurung diri di dalam kuil terus menerus ia juga yakin akan lebih cepat mati bosan. Akhirnya diputuskan bahwa Ivy diizinkan untuk kembali pergi ke sekolah dengan pengawalan ketat dari penjaga kuil. Meskipun jarak antara sekolah dan rumahnya tidak begitu jauh, ia diwajibkan untuk menaiki mobil keluarga. Sayangnya mobil keluarganyapun sangat mencolok, mobil Porsche hitam langka seharga milyaran yang jarang dikeluarkan dari garasi menjadi mobil pribadinya untuk mengantarkannya ke sekolah. Sepanjang jalan ia merasa kehadiran mobil mewah keluarganya diawasi oleh banyak orang yang kebanyakan berpikir dari mana datangnya mobil antik yang baru pertama kali mereka lihat. Ivy semakin mengerutkan keningnya dalam-dalam ketika mobil mulai bergerak perlahan dan ia melihat gerbang sekolah di depan mata.


“Tuan putri Ivy”sebuah suara laki-laki dengan lembut menyapanya “kita sudah sampai di sekolah anda”.


‘Siaaaall’Ivy berteriak keras-keras dalam hati untuk menutupi senyum kecutnya. “Ba-baik. Terima kasih, sudah mengantarkan sampai disini. Kau bisa menurunkanku disini dan membawa mobilnya pulang”


“Ah, maaf tapi tuan putri. Kami diminta untuk berjaga di sekolah. Kami tidak akan pulang sebelum tuan putri juga ikut pulang”


Ivy kembali tersenyum kecut. ‘Bagaimana iniiii??’teriaknya sekali lagi didalam hati.


“Jun, aku tau ini perintah dari ayahku kan? Tapi jujur saja, aku akan malu, tidak, aku akan sangat sangat malu jika banyak pria berpakaian tradisional seperti ini berkeliaran di lingkungan sekolah. Guru-guru dan semuanya pasti akan bertanya-tanya kenapa banyak body guard aneh berjaga di sekolah”


“Eh? Maaf jika saya lancang. Tapi...jadi maksud tuan putri kami terlihat aneh... tidak pantas begitu?”


“Tentu saja. Berpakaian tradisioal lengkap di area seperti ini terlihat sangat norak. Ups”ucap Ivy yang baru disadarinya terlalu menusuk untuk diucapkan.


“Tu-tuan putri baru saja bilang kalau pakaian tradisional Jepang no-norak??”pengawal barusan membelalakkan matanya bulat-bulat.


“Bukan begitu Jun! Aduh... bagaimana aku harus mengucapkannya. Kau tidak pernah mengikuti sekolah formal, maksudku.... homeschooling dan sekolah formal itu berbeda”


“Maafkan saya tuan putri. Saya benar-benar tidak tahu apa-apa dunia di luar kuil dan homeschooling....” wajah pengawal yang masih berusia muda itu merunduk pelan.


“Dengar Jun, di sekolah formal kau akan bertemu dengan bentuk manusia yang berbeda-beda. Dan kebanyakan cenderung hanya suka mengomentari hal yang remeh-remeh seperti soal percintaan, membicarakan kejelekan orang lain, yah semacam itulah”terang Ivy yang masih juga belum beranjak dari dalam mobil karena berusaha mengulur waktu untuk masuk sekolah.


“....cinta?? Apa itu cinta?”ucap Jun pelan yang samar-samar bisa Ivy dengar diantara bunyi bel sekolah yang berdentang-dentang dengan keras.


“Hah sudahlah, sepertinya kau tidak akan mengerti yang aku ucapkan. Baiklah, kau dan yang lain bisa berjaga di sekolah. Tapi cukup di luar sekolah. Jangan sampai kau masuk ke dalam ruang kelasku. Oke?”


“Siap!”ucap pengawal muda itu sambil menggerakkan tangannya membuat gerakan hormat. Ia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Ivy sambil membungkuk dalam. Ivy akhirnya keluar dari dalam mobil sambil membangun kepercayaan diri untuk menghadapi tatapan siswa yang berlalu lalang disekitarnya, memandanginya dengan tatapan aneh karena melihatnya turun dari mobil yang tak biasa dimiliki oleh siswa dari keluarga terkaya sekalipun. Ivy berjalan dengan punggung tegap dan dagu terangkat keatas seolah menjawab tatapan siswa lain yang tampak bertanya-tanya karena melihat sederet body guard berdiri tegap di area sekiar pintu gerbang sekolah.


“Hei kau Ivy kan? Cewe yang waktu itu?”sebuah tepukan keras dipundaknya membuat Ivy hampir tersentak.


“Hah siapa kau?”ucap Ivy yang tampak linglung seolah kehilangan separuh ingatannya tentang dunia persekolahan.


“Kau tidak ingat aku? Aku yang waktu itu” ucap siswa laki-laki bertubuh tinggi dengan rambut gondrong hitam lurus dan terlihat tengil.


Ivy mengernyitkan dahi sambil berpikir. Ia benar-benar tak bisa mengingatnya.


“Ah, kalau Ryoga kau pasti ingat kan?” sesosok siswa laki-laki lain bertubuh jangkung dengan rambut abu-abu tiba-tiba ikut bergabung.


“Maaf aku tidak terlalu ingat”ucap Ivy sambil memencet tombol lift menuju ke kelasnya yang berada di lantai 7.


“Sudah kuduga siswa elite sepertimu tidak akan mengingat kami. Tapi yah... aku ingin bertanya kejadian soal dua minggu lalu”


“Kejadian dua minggu lalu? Maksudmu?”


“Waktu itu kami berada di ruang Megane club. Reno dan Ryoga. Itu nama kami. Kau ingat? Aku hanya penasaran dengan kejadian setelah itu karena setelah kau melompat dari jendela kau tidak masuk sekolah berhari-hari dan hal itu diam-diam membuat geger seluruh sekolah”


Ivy membelalakkan mata dan pandangannya segera mengitari siswa-siswa lain yang berada disekitarnya berdiri. Mereka tampak sibuk dengan ponsel mereka atau menyumpal telinga dengan headset. Tapi Ivy yakin mereka semua sedang mencuri dengar percakapannya dengan cowok yang tampaknya bermulut ember itu.


“Kau sepertinya salah lihat. Itu pasti bukan aku”


“Mana mungkin. Kami berdua saksinya, iya kan Ryoga?”cowok bertubuh tinggi jangkung itu ternyata lebih pendiam daripada teman yang satunya. Ia hanya mengangguk pelan sambil tetap fokus dengan ponselnya. “Yah walau saat itu kami tidak ada bukti karena tidak sempat mengambil foto”.


“Bagus kalau kau tidak mengambil foto orang tanpa izin. Mengambil foto orang diam-diam tanpa persetujuan itu bisa dianggap kriminal”Ivy bersedekap menahan emosi sambil menatap tulisan didekat tombol lift yang masih menunjukkan angka lantai 5. Ia ingin cepat-cepat sampai ke kelasnya daripada terjebak dengan manusia sok ikut campur itu.


“Huh? Sayangnya kabar tentang dirimu sudah menjadi topik paling hangat akhir-akhir ini. Nih lihat”cowok sotoy itu lalu menunjukkan layar ponselnya kearah Ivy. Mata Ivy melebar ketika melihat foto dirinya tengah keluar dari mobil Porshenya dengan beberapa pria sangar berjaga disekitarnya. Terlihat foto lain dimana pengawalnya menyerahkan tas sekolah kepadanya sebelum akhirnya Ivy berjalan masuk ke arah pintu gerbang. Foto itu jelas-jelas baru saja diambil tepat beberapa menit yang lalu dan kini sepertinya sudah tersebar luas hingga orang seperti Reno bisa mengetahuinya.


“Siapa yang mengambil fotoku??”ucap Ivy geram. Ia tanpa sadar menarik kerah kemeja cowok sotoy itu dengan keras.


“Mana aku tahu. Disini hanya tertulis anonymousstrawberry”ucap Reno sambil mencoba melepaskan diri dari Ivy.


Pintu lift akhirnya terbuka. Siswa yang berada di dalam lift dengan cepat berhambur keluar dan barangkali mereka juga membawa berita baru untuk diceritakan kepada kelas masing-masing mengenai temperamen Ivy yang tak terkontrol selama berada di dalam lift.


“Dengar. Namamu Reno, bukan? Sekarang katakan darimana kau mendapat foto itu”ucap Ivy dengan nada mengancam sambil terus menarik kerah kemeja Reno.


“Jangan bilang kau tidak tau forum gossip online SMA Seiran. Kukira semua siswa disini sudah bergabung”


Ivy hanya bisa mematung dan tanpa disadarinya genggaman tangan di kerah baju Reno mengendur. Dua cowok itu kemudian pergi dengan langkah ringan sambil melambaikan tangan kearah Ivy yang masih berdiri mematung di depan lift. Mata Ivy sempat mengamati keduanya yang berbelok ke kelas di lorong paling ujung, kelas 3F. Ivy tak heran ketika mengetahui bahwa mereka adalah penghuni kelas 3F yang dikenal paling berandalan dan memiliki intelektual dibawah rata-rata.


‘Forum gossip online? Apa-apaan itu?’Ivy bertanya-tanya dalam hati sambil segera berlari kearah kelasnya.


Begitu Ivy membuka pintu kelasnya, seperti biasa kehadirannya langsung menjadi sorotan utama seluruh penghuni kelas. Tapi kali ini sedikit terasa lebih ganjil daripada biasanya karena wajah mereka menyiratkan aura keingintahuan sementara beberapa siswa terlihat saling berbisik-bisik sambil mengamati Ivy yang terus berjalan kearah tempat duduknya.


Ivy menghela nafas dan mengeluarkan bukunya dari dalam tas. Ia tak ingin terusik dengan obrolan orang-orang disekitarnya maupun tatapan mereka yang seolah menyudutkannya seperti orang yang baru selesai melakukan suatu dosa.


“Yo”sebuah suara terdengar dari arah belakang bangkunya. Ivy pura-pura tidak mendengar dan terlihat menyibukkan diri dengan buku pelajarannya. Namun berikutnya, ia merasakan ada kaki jahil yang menendang kursinya dengan keras dari arah belakang hingga tubuhnya hampir saja jatuh.


“Brengsek! Siapa—“ucapan Ivy terputus ketika ia berbalik dan berdiri menghadap orang yang barusan sengaja menendang kursinya.


Sesosok lelaki berkacamata dengan rambut kecoklatan berponi panjang tengah menatapnya dengan senyuman.


“Yo! Selamat pagi, tuan putri Ivy”sosok itu lantas memegang bingkai kacamatanya dan menurunkan segaris dibawah telinga. Mata merah berkilat dengan seringai tajam membalas mata Ivy yang membulat sempurna.


“KAU?!!”