
“Yang ingin kulakukan hanyalah menghentikan pertarungan dan aku membutuhkanmu untuk mencari jalan keluar”
Kalimat yang diucapkan oleh Shin melintas dalam pikiran Ivy seperti riak air yang bergaung menimbulkan bunyi berisik yang anehnya juga bisa meredam kebencian yang sebelumnya memenuhi isi ruang kepalanya. Mata Ivy tak berkedip selama menatap buku pelajarannya. Diskusi pelajaran tengah berlangsung pada jam terakhir sekolah. Tetapi yang sesungguhnya terjadi dalam pikirannya ialah ia tak bisa berhenti memikirkan percakapannya dengan Shin di ruang rahasia UKS. Meski telah berlalu lebih dari 6 jam, ia masih ingat setiap detail kata yang keluar dari Mugen yang sebelumnya sangat dibencinya.
“Sebagai gantinya kau boleh mengajukan permintaan apapun padaku. Tetapi untuk satu hal ini saja. Aku membutuhkanmu untuk mencari cara menghentikan pertarungan antara Ningen dan Mugen”
Mengapa Mugen brengsek itu memiliki tujuan hidup yang sangat sulit untuk dimengerti? Menghentikan pertarungan antara Ningen dan Mugen terdengar sangat mustahil. Tapi tatapan wajahnya begitu serius ketika ia mengucapkannya tepat di wajah Ivy. Awalnya Ivy sama sekali tak menggubris dan menganggapnya sebagai omong kosong. Tapi kalimat yang muncul selanjutnya membuat pikiran sedikit berubah.
“Aku tahu bahwa kau tidak lagi dilibatkan dalam perburuan Mugen karena keluargamu tak mengizinkannya. Jika kau mau, aku bisa membantumu untuk berburu Mugen sekaligus memberimu celah rahasia mengenai dunia tempat aku tinggal”
Tawaran yang sangat menarik hingga saat itu Ivy secara spontan menyetujuinya dengan syarat. Shin tidak boleh lagi memasuki pikiran dan mengontrol tubuhnya. Syarat yang kedua, Ivy ingin Shin tidak terlalu bertingkah mencolok ketika berada di sekolah dan yang terakhir Ivy ingin meninju wajah Shin dengan tangan kosong tanpa perlawanan sebagai balasan ciuman kurang ajar yang pernah Shin lakukan terhadapnya.
Dan ketiga persyaratan itu disetujui Shin tanpa pikir panjang.
Ivy berulang kali memikirkan apakah syarat yang diajukannya itu sudah cukup tepat untuk menggantinya dengan permintaan Shin yang tak masuk akal. Tapi bagaimanapun juga Shin mengiyakan tanpa banyak tingkah sehingga Ivy bisa melihat keseriusan dalam dirinya soal negosiasi yang berlangsung dengan cepat itu.
Ivy melirik arlojinya yang menunjukkan pukul 14.55. Kurang 5 menit lagi bel pulang sekolah berbunyi. Wajahnya melengos kearah jendela dimana ia bisa melihat area hutan belakang sekolahnya. Sepertinya baru saja kejadian itu berlangsung kemarin dan kini musuh yang dulu diburunya telah berbalik arah. Bukan menjadi musuh, tetapi juga bukan sebagai teman. Tanpa sadar, keduanya telah terikat oleh kesepakatan yang telah mereka setujui. Tapi apakah Shin benar-benar akan memegang janjinya?
Ivy kembali merunut kejadian hari ini satu persatu. Saat jam istirahat pertama, kedua memenuhi panggilan guru wali kelas untuk menjelaskan perkara keributan mereka di pagi hari. Ivy setengah terkejut karena Shin berusaha membelanya dengan kembali melempar kebohongan palsu didepan wali kelas dan kepala sekolah.
“Jadi…. sebelumnya maafkan saya karena perilaku kami sensei. Yang sebenarnya terjadi adalah…. tapi mohon untuk menyimpan rahasia ini ya. Sebenarnya yang terjadi tadi pagi adalah masalah pribadi kami. Ivy adalah mantan pacar saya ketika SMP. Sensei tahu kan, saya selalu berpindah sekolah karena pekerjaan ayah. Kami sudah lama tidak bertemu dan waktu itu saya memutuskan kontak dengannya sehingga dia sangat marah ketika bertemu kembali dengan saya setelah 3 tahun. Hahaha. Maafkan atas kesalahpahaman ini sensei”
Cerita yang cukup bodoh untuk dijadikan alasan tapi anehnya wali kelas dan kepala sekolah justru menerima mentah-mentah cerita Shin yang kedengaran sangat bodoh bagi Ivy.
Entahlah. Mugen itu memang pada kenyataannya adalah sosok yang bodoh, mesum dan seenaknya. Tapi bagaimanapun juga Ivy tak bisa membantah bahwa ia mampu memberikan pengaruh kuat terhadap orang-orang disekitarnya, termasuk pada dirinya juga, mungkin.
Pikiran Ivy terpecah ketika ia merasakan bangkunya ditendang dari belakang dengan keras. Ivy berbalik dan mendelik kearah Shin yang tertawa kecil melihat eskpresi Ivy.
“Sampai kapan mau melamun?”Shin menunjuk kearah arlojinya dengan ekspresi yang membuat kejengkelan Ivy kembali datang dalam sekejap.
“Berisik!” Ivy dengan kesal membuang muka dan buru-buru membereskan bukunya ketika siswa lain di kelasnya telah bersiap untuk pulang.
Guru mata pelajaran terakhir telah menutup pelajaran dan kelas menjadi riuh akan suara siswa-siswa yang berebut untuk keluar dari kelas maupun melanjutkan percakapan di dalam kelas. Ivy beranjak dari bangkunya dan baru berjalan sekitar tiga langkah ketika tiba-tiba saja tubuhnya terhenti ketika sebuah tangan meraih pergelangan tangannya.
Hari pertama sekolah yang sangat melelahkan bagi Ivy setelah berbagai insiden menerpa hidupnya. Di depan pintu gerbang sekolah Jun dan segerombol pengawal pribadinya telah menunggu dan membukakan mobil Porsche hitam untuknya. Begitu Ivy masuk ke dalam mobil, Jun segera menyambutnya dengan pertanyaan.
“Bagaimana sekolah anda tuan putri? Apakah ada hal buruk terjadi?”
“Terlalu banyak hal terjadi. Rasanya aku ingin pingsan”
Jun membelalak ketika tiba-tiba saja Ivy dengan sengaja menjatuhkan kepala di pundaknya.
“Tu-tuan pu…..”
“Diam Jun. Aku hanya ingin tidur sebentar. Ini perintah”
“B-baik”
“Aku tidak ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Bawa saja mobilnya berkeliling kota selama 1 jam. Aku ingin tidur tanpa diganggu pertanyaan dari kakak, bibi, maupun ayah. Ingat, ini perintah”
“Baik”
Tubuh Jun menjadi sangat kaku karena ia tak bisa menggerakkan badannya selama kepala Ivy berada di pundaknya. Lagipula ia juga merasakan suatu keanehan yang baru pertama kali ia rasakan. Ketika ia menoleh dan menatap wajah Ivy yang tengah terlelap, suhu tubuhnya tiba-tiba menjadi sangat panas. Ia baru saja menyadari kalau ia memiliki seorang tuan yang sangat manis dengan bulu mata panjang dan wajah bulat yang mengingatkannya akan buah pir kesukaannya. Jun juga bisa merasakan nafas Ivy di wajahnya yang membuat dirinya menjadi semakin kikuk. Ia tak mengerti mengapa hatinya merasa berdebar seperti dikejar anjing, hewan yang sangat ditakutinya. Tidak, perasaan berdebar itu berbeda. Perasaaan berdebar itu bercampur dengan kenyamanan yang selama ini tak pernah ia rasakan.
Berikutnya Ivy mengalungkan tangannya ke tangan Jun seperti tengah memeluk sebuah guling. Jun semakin terkesiap dan menelan ludahnya beberapa kali karena canggung.
“Nakano-san” Jun berucap pada sopir mobil Porsche ketika mobil sudah semakin dekat dengan kediaman keluarga Mitsura.
“Aku minta bantuanmu untuk membawa mobil ini terus berkeliling. 30 menit lagi saja. Sepertinya tuan putri membutuhkan waktu lama untuk beristirahat”
Nakano yang mengerti maksud Jun tertawa kecil. Meski umurnya telah menginjak usia 60 tahun, bagaimanapun juga ia pernah merasakan menjadi anak muda. Dan ia merasakan gelora masa muda dari dua orang yang tengah duduk di sofa belakangnya.
“Baiklah , Jun. Kau harus berhutang budi padaku setelah ini”