
Ivy menarik nafas dan menghela panjang berulang kali. Ia berharap kejenuhan yang memenuhi dirinya bisa ikut terhempas pergi bersama dengan helaan nafasnya.
Seandainya saja mengusir kejenuhan semudah itu ia pasti akan lebih mudah menerima nasibnya untuk terkurung di dalam kuil sekaligus rumahnya sendiri selama berminggu-minggu.
Bibi Takashima yang sedari tadi berada di dekat Ivy bukannya tidak bisa memahami isi hati Ivy. Ia tahu benar bahwa Ivy tengah dirundung kebosanan karena untuk kesekian kali harus menuruti peraturan yang dibuat oleh kepala kuil. Pukul 7 malam adalah waktu ketika anggota kuil yang lain tengah mempersiapkan perburuan Mugen. Sementara itu Ivy sengaja dikurung di dalam ruangan untuk mengikuti kelas tentang pelajaran budaya tradisional dan pemahaman tentang kuil yang sama sekali tak menarik baginya. Hari ini jadwal kelas untuknya juga telah ditentukan: pelajaran mengenai ikebana (seni menata bunga).
Bibi Takashima yang merupakan kepala pelayan kuil sekaligus ahli ikebana paling diakui di wilayah Tokyo ditunjuk untuk mengajarkan seni ini pada Ivy. Hari ini mereka tengah melanjutkan pertemuan ke-4 dan Ivy sama sekali tak menunjukkan minatnya. Ia menatap bunga-bunga dihadapannya dengan tatapan kosong dan menggunting tangkainya dengan sangat kuat hingga bunyi krak terdengar sangat keras. Lalu Ivy menata bunga-bunga itu dengan sembarang tanpa memperhatikan unsur estetika yang sudah dipelajarinya selama 3 pertemuan sebelumnya.
“Ivy” ujar Bibi Takashima pelan. “Kau harus paham bahwa seni ikebana menunjukkan jati diri dan isi hati yang dirasakan oleh pembuatnya”
Ivy dalam hati menjawab “Bibi sudah berulangkali mengatakannya. Jadi maksudnya apa? Jati diriku suram dan kacau?.” Namun pada akhirnya Ivy hanya memilih diam dan berusaha sibuk dengan bunga-bunganya yang terlihat semakin terlihat tidak karuan.
“Ivy” ucap Bibi Takashima sekali lagi.
“Katakan saja apa yang ingin kau katakan. Bibi akan mencoba untuk mendengarnya”
“Maaf jika aku lancang” jawab Ivy selang beberapa saat setelah ia kembali menghela nafas panjang. “Sepertinya aku memang tidak berbakat dalam hal ikebana. Aku hanya tertarik dengan peperangan dan kekuatan. Hal-hal yang melibatkan perasaan dan emosi…. aku merasa tidak cakap dan tidak memiliki kepercayaan diri untuk melakukannya”
Bibi Takashima hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia sendiri sebenarnya sudah hampir putus asa untuk membuat gadis dihadapannya menjadi sosok dengan kepribadian yang diharapkan oleh ayahnya. Manis, penurut, lemah lembut, dan berjiwa seni tinggi. Tapi yang terjadi sesungguhnya semuanya berkebalikan.
“Maaf Bibi, aku permisi sebentar ke toilet” ujar Ivy setelah baru saja menyelesaikan ikebana-nya yang tampak semrawut dengan bunga-bunga yang didominasi warna ungu dan biru.
Ivy menggeser pintu ruangan dan menghela nafas lega. Ketika keluar dari ruangan ikebana, ia merasa setengah kejenuhannya menguap. Ia berjalan menuju toilet dengan wajah tertunduk hingga tanpa sengaja menabrak seseorang yang tampak sedang berjalan tergesa-gesa.
“Maaf!” keduanya berucap bersamaan.
“Jun, kau….”
“Ahh maaf tuan putri. Saya harus segera pergi sekarang”
“Tunggu Jun. Kau memakai seragam Ryosei apakah itu berarti…..”
“Ah! Aku belum mengatakannya ya? Hari ini aku resmi menjadi anggota pasukan Ryosei kuil Shinsoji”
Ivy tertegun sejenak. Namun kemudian ia menepuk pundak Jun dengan sangat keras hingga membuat Jun meringis kesakitan.
“Semoga berhasil! Kau pasti bisa! Jangan sampai mati di medan pertempuran ya!”
Jun menjawab dengan anggukan semangat dan senyuman tipis. Ia kemudian berbalik dan berjalan cepat-cepat untuk menghindari Ivy yang entah mengapa membuat isi dadanya meledak-ledak. Jun sendiri tidak pernah menyangka kehidupannya berbalik secepat ini ketika dirinya diminta untuk pindah ke Tokyo untuk menjadi salah satu pengawal Ivy. Kyoto adalah tempat yang tenang, tetapi Tokyo menawarkan hal-hal yang tidak pernah ia temui di tempat tinggalnya dulu. Terlebih ia tidak menyangka jika kehidupannya di Tokyo akan semenarik ini ketika dirinya dipertemukan oleh Ivy.
Ivy kembali ke ruang ikebana setelah pergi dari toilet dan menyelesaikan pelajarannya sekitar pukul 9 kurang. Setelah itu ia kembali ke kamar dengan lunglai. Memikirkan hari esok sudah membuatnya begitu bosan. Pukul 8 pagi berangkat ke sekolah, lalu menghabiskan waktu di sekolah dengan bonus menjadi target keisengan Mugen sialan dan bahan gossip seisi sekolah, lalu pulang jam 3 sore dan melanjutkan pelajaran seni budaya di kuil. Ivy melepas kimono dan sanggul bunga di rambutnya lalu menggantinya dengan kaos berwarna hitam dan celana training warna abu-abu favoritnya. Sungguh, masa mudanya akan habis dengan pelajaran dan waktu istirahat yang tak berguna.
Ivy merebahkan tubuhnya di tempat tidur kemudian membuka ponselnya dan menemukan berita yang sama setiap harinya di halaman berita online. Akhir-akhir ini sering terjadi kebakaran di rumah-rumah daerah dekat hutan yang tak jauh dari kota. Polisi masih menyelidiki kasus kebakaran karena tidak ditemukan motif jelas sementara pelaku juga belum diketahui karena minimnya saksi mata. Sementara itu hari ini adalah kejadian kebakaran ke-5 kalinya secara berturut-turut. Diam-diam Ivy sangat penasaran dan berpikir ini ada kaitannya dengan Mugen karena bagaimanapun juga Mugen merupakan sumber api yang nyata.
Ivy kemudian membuka inbox LINE. Ia tau sebenarnya tidak akan ada orang yang mengirimkan chat padanya karena ia tidak memiliki teman diluar kuil. Tapi kali ini ia menemukan banyak sekali pesan dari ID aneh yang tak dikenalnya.
coolguyxx04 [07.32 pm]: Ivy-chaaann aku sudah disiniiii
coolguyxx04 [07.57 pm]: Hey kenapa kau lama sekaliiii
coolguyxx04 [07.58 pm]: P
coolguyxx04 [08.00 pm]: P
coolguyxx04 [08.01 pm]: P
coolguyxx04 [08.02 pm]: P
coolguyxx04 [08.03 pm]: WOY DILUAR DINGIN!!!
coolguyxx04 [08.26 pm]: Kalau kau tidak datang sampai jam 9 kau akan menyesal :p
Ivy seketika merasakan darahnya naik ke ubun-ubun karena kejengkelan tiada tara. Menerima spam dari ID yang tak dikenalnya sungguh terasa sangat tidak sopan sekali. Tapi ia sepertinya merasa familiar dengan perasaan jengkel semacam ini. Hanya ada 1 orang iseng yang berani-beraninya memenuhi inbox LINE nya dan tak lain dan tak bukan pengirimnya pasti……
coolguyxx04 [09.04]: JANGAN-JANGAN KAU TIDAK MEMBACA SURATKU?
Sebuah pesan baru muncul dalam layar ponsel Ivy. Kali ini chat itu disertai dengan sebuah foto. Ivy kaget karena foto yang tertera ternyata adalah foto selfie si Mugen sialan Shin. Dalam foto itu ia tengah menjulurkan lidahnya. Perasaan illfeel memenuhi pikiran Ivy dan dengan cepat ia segera menghapus foto itu dan Ivy buru-buru membalas pesan dari Shin dengan tergesa-gesa.
Ivy0214 [09.05 pm]: JELEK SEKALI FOTOMU. BLOCK
coolguyxx04 [09.06 pm]: Bagaimana dengan yang ini? Apakah sudah layak disebut tampan?
Shin kembali mengirimkan foto selfienya dan kali ini ia berpose sok keren dengan mengangkat dagunya sedikit keatas dan memamerkan gigi-giginya yang kecil dan runcing.
Ivy0214 [09.07 pm]: JELEK! MUGEN JELEK!
coolguyxx04 [09.08 pm]: (T_T)
coolguyxx04 [09.08 pm]: Kau melukai harga diriku
coolguyxx04 [09.08 pm]: Aku sudah menunggu tuan putri bodoh selama 2 jam
coolguyxx04 [09.08 pm]: Dan aku dibilang jelek :’’
coolguyxx04 [09.09 pm]: HOI JANGAN BILANG KAU BELUM MENGECEK TASMU?
coolguyxx04 [09.09 pm]: Aku memasukkan sebuah surat ke dalam tasmu saat jam istirahat.
coolguyxx04 [09.09 pm]: Ah aku mengerti. Kau memang benar-benar belum membaca isi surat itu.
Ivy awalnya tak mengerti tapi kemudian ia spontan mengambil tas sekolahnya dan mengaduk-aduk isi tasnya. Ia kemudian menemukan sebuah amplop berwarna pink muda dengan tulisan To: Ivy-chan.
Ivy menyobek amplop itu dan membaca surat didalamnya dengan cepat.
***Dear Ivy-chan,
Aku mengundangmu untuk perburuan Mugen malam ini pukul 7.30. Kutunggu di hutan belakang sekolah. Aku ingin memecahkan kasus kebakaran yang akhir-akhir ini terjadi. Aku tahu bahwa ini ada kaitannya dengan Mugen.
P.S.: Ini bukan ajakan kencan lho <3
Shin***