Mugen's Love

Mugen's Love
A Secret



Ivy meremas kertas itu lalu melemparkannya hingga mengenai tembok kamarnya. Ia lalu mengambil ponselnya dan mengetik kata apapun yang terlintas di benaknya.


Ivy [09.11 pm]: BRENGSEK! JANGAN PERNAH MENCOBA BERMAIN-MAIN DENGANKU!


Shin [09.11 pm] : Btw, sepertinya ada berita buruk bagi keluarga Mitsura. Hari ini pertarungannya sungguh sangat sengit. Jaga baik-baik dirimu.


Ivy mengernyitkan dahinya. Ia tak mengerti maksud chat terakhir Shin. Tapi ia jo untuk keesokan harinya. Tapi disana Ivy tak menemukan siapapun. Kuil milik keluarganya terlalu besar dan kosong ketika jam perburuan tiba. Ivy akhirnya berlari mengecek kesetiap ruangan untuk bertanya pada siapapun yang ditemuinya. Ia hanya ingin memastikan jika perkataan Mugen bernama Shin itu salah dan Ivy tidak ingin mempercayainya.


“Bibi!” Ivy akhirnya menemukan Bibi Takashima di teras kuil. Bibi Takashima tengah bercakap-cakap dengan wajah serius dengan beberapa Ryosei yang tampak terluka. Ia menoleh dan ekspresinya tampak kalut.


“Tuan putri, mengapa kau belum tidur? Sudah jam 9 dan anda harusnya segera tidur”


“Bi, aku bukan anak kecil lagi. Kenapa Bibi tampak pucat? Apa ada suatu hal yang terjadi? Mengapa mereka bisa terluka seperti ini?”


Bibi Takashima hanya terdiam. Wajahnya hanya mendongak keatas dan menatap kearah bulan sabit yang menampakkan sinar terang benderang.


“Bisakah aku mendapatkan penjelasan? Apakah ada suatu hal buruk terjadi?”


“Kembalilah ke kamar anda tuan putri”


“Bibi, tolonglah aku bukan anak kecil! Tolong beri tahu aku kejadian yang sebenarnya!”


“Tuan putri, harus berapa kali kami para orang tua bersikeras untuk menyuruh anda duduk diam saja? Jangan terlalu ikut campur urusan orang dewasa dan para Ryosei!”


Ivy terdiam. Baru kali ini Bibi Takashima membentaknya dengan keras.


“Aku…. aku tahu. Tapi tolong untuk sekali ini saja. Jelaskan apa yang terjadi….”


“Tanyakan pada orang lain saja. Maaf tuan putri, saya sangat sibuk”


Bibi Takashima tampak lelah dan ia akhirnya berlalu dari teras kuil diikuti oleh tiga Ryosei yang terluka. Meski ketiganya terluka, tapi tampaknya bukan hal tersebut yang menjadi penyebab utama kekalutan Bibi Takashima. Dengan penuh rasa penasaran, Ivy menghadap dua Ryosei lain yang duduk di pinggiran teras, Masa dan Sho. Keduanya terluka ringan tapi wajah mereka tampak sangat kelelahan. Bekas sayatan dan cipratan darah mengenai seragam Ryosei berwarna putih milik mereka.


“Aku tak menyangka hari ini kami salah perhitungan” ucap Masa akhirnya.


“Bulan sabit itu…. harusnya jika sesuai perhitungan baru akan muncul besok. Tapi ternyata bulan itu bersinar sangat terang malam ini”


“Masa, Sho. Aku tak mengerti. Tolonglah bicara dengan lebih jelas”


“Tuan Putri Ivy” Masa dan Sho tampak sedikit ketakutan. Keduanya tak berani menatap Ivy. Mereka saling berpandangan sejenak sebelum melanjutkan kata-kata.


“Singkatnya, bulan sabit adalah kelemahan Mitsura-sama….”


“Apa?! Kelemahan ayahku?” tanpa sadar Ivy berkata dengan setengah berteriak.


“Sudah tidak ada gunanya menyembunyikannya lagi. Saat ini Mitsura-sama menghilang saat melakukan pertempuran. Kami semua tengah berusaha mencarinya tapi sampai saat ini belum juga menemukannya”


“Kau bercanda ‘kan?” kata Ivy setengah tak percaya jika ayahnya yang sangat kuat bisa terperangkap jebakan Mugen kali ini.


“Untuk apa kami bercanda,tuan putri. Kami mengatakan yang sebenarnya. Hari ini kuil mengirimkan 20 orang pasukan. Hino, Ranma, dan Tego mengalami luka paling serius dan kami berdua mendapat tugas untuk mengantarkan mereka sekaligus menginfokan pada Bibi Takashima”


“Mereka semua tengah menyebar untuk mencari tahu keberadaan Mitsura-sama”


“Brengsek!!” umpat Ivy dengan keras yang membuat Masa dan Sho tersentak kaget karena kata kasar itu keluar dari mulut seorang gadis cantik berwajah polos.


Ivy dengan cepat kembali masuk ke kamarnya, menyambar katana miliknya, dan tak lupa ia mengenakan jaketnya karena malam itu bisa dipastikan udara terasa dingin tak terkira.


Tubuh Ivy bergerak dengan gesit menembus lorong-lorong kuil hingga ia mencapat teras kuil dimana ia bisa mendengar Sho dan Masa yang berteriak untuk menghentikannya.


“Maaf. Aku harus pergi kali ini!” balas Ivy dengan cepat. Kecepatan Ivy yang kali ini tak terhentikan karena ia tak bisa membiarkan ayahnya menghilang begitu saja sementara orang lain bekerja keras dan ia hanya duduk manis di dalam kamarnya. Ia tidak bisa berdiam diri begitu saja. Inilah saatnya kekuatannya digunakan untuk menyelamatkan anggota keluarganya sendiri.


Ivy begerak dengan cepat menembus angin malam, melompat dengan cepat dari satu pohon ke pepohonan lain. Dalam waktu kurang dari lima menit ia telah sampai di gerbang sekolahnya. Ia teringat isi dari surat Shin dimana ia mengundangnya untuk datang di hutan belakang sekolah untuk membicarakan hal penting diantara mereka berdua. Meski sudah terlambat 2 jam, tapi perasaan Ivy pada akhirnya membawanya ke tempat tersebut. Ivy melompati pagar sekolahnya dengan mudah dan ia berlari melesat kearah tempat yang dijanjikan oleh Shin dalam suratnya.


Tubuh Ivy berhenti tepat dibawah pohon besar dimana ia pertama kali bertemu dengan Shin beberapa minggu sebelumnya. Matanya menangkap dua titik cahaya merah yang tak lain adalah dua bola mata Shin yang berpendar ditengah kegelapan. Malam itu Shin melilitkan syal berwarna merah di lehernya yang menyala terang sehingga Ivy bisa dengan cepat mengetahui bahwa sosok itu berada disana.


“Hei, kau” ucap Ivy dengan nada tinggi.


“Jangan salah tangkap kalau aku kesini untuk memenuhi undangan bodohmu. Aku hanya ingin bertanya satu hal”


Mata Shin bergerak dan menatap balik Ivy. Ia tertawa hingga seringainya terlihat jelas. Seringai itu terlihat seperti ejekan bagi Ivy walau sebenarnya dalam hati Shin merasa senang karena penantiannya tak sia-sia.


“Silakan ajukan pertanyaanmu, tuan putri”ucap Shin sambil tak beranjak dari posisinya.


“Dimana ayahku. Jawab sekarang atau akan ku siksa dirimu dengan pedang ini”


Shin tertawa sangat keras hingga ia terbatuk-batuk. Ia kembali melempar pandangan menjengkelkan kearah Ivy.


“Aku akan menjawabnya. Tapi syaratnya….” Shin kemudian menepuk-nepuk pipinya dengan genit. “Chuuu”


“APA??” Ivy merasa dihina oleh Shin untuk kesekian kalinya. Ivy mengeluarkan pedangnya tanpa ragu-ragu dan dalam sekali tebas pohon yang menjadi tempat Shin duduk terbelah menjadi dua.


“Hei kau serius mau membunuhku? Tadi aku hanya bercanda!” Shin berteriak sambil menghindar dari kejaran Ivy yang menulikan telinganya dari segala ocehan Shin.


“Kau tidak belajar dari kesalahan hah?! Kau pikir aku ini apa?!” kemarahan Ivy telah menyulut kekuatannya hingga ia kini berhasil mempercepat gerakannya melebihi dugaan Shin sebelumnya.


Shin mengerang keras ketika merasakan lehernya tercekik karena Ivy berhasil menarik syalnya dari belakang dengan kuat. Tubuh Shin jatuh tersungkur ke tanah sementara Ivy tak melepaskan tangannya dari syal merah Shin.


“Jangan. Pernah. Menggodaku. Atau. Kau. Akan…..”


“ARGHH!” Shin mengerang keras ketika Ivy mengeratkan tarikan pada syalnya yang mengikat lehernya dengan kuat.


“Cepat katakan sekarang. Dimana ayahku berada”


“BAIK!!! AKU AKAN MENGATAKANNYA!”


“Bagus”


“Shin mengatur nafasnya sejenak sebelum akhirnya ia berkata “Ayahmu masih berada didekat sini”