Mugen's Love

Mugen's Love
Duel



Sebelum Shin benar-benar menghilang ia sempat berbisik tepat di telinga Ivy.


“Lawanmu kali ini adalah Mugen yang tangguh. Dia adalah kakakku, Ray. Aku tidak bisa melawan anggota keluargaku sendiri karena aku akan dicap pengkhianat. Semoga berhasil”


Ivy mengatur nafasnya yang naik turun ketika melihat bagaimana ayahnya diperlakukan sedemikian rupa oleh Mugen dihadapannya. Ayahnya tengah diikat pada sepotong batuan berukuran lonjong dengan belukar berduri. Disekelilingnya berdiri sekitar tujuh sosok Mugen yang berjaga. Dari kejauhan pula Ivy bisa melihat tubuh ayahnya tak sadarkan diri. Aura berwarna putih bercampur emas yang merupakan kekuatan ayahnya tampak dikendalikan oleh seorang Mugen bertudung ungu yang mengarahkan tangannya kearah bulan merah. Bulan merah yang dianggap sebagai kelemahan ayahnya menyedot kekuatan yang dikendalikan oleh Mugen itu tanpa belas kasih.


Ivy yang sudah dipenuhi amarah tak sempat membuat basa basi untuk menyapa musuhnya. Ia tanpa pikir panjang menebaskan pedangnya kearah Mugen bernama Ray itu hingga berhasil membuat sosok itu memalingkan wajahnya kearah Ivy.


“Akhirnya pemeran utama kita datang juga. Ivy Mitsura”


Sosok itu masih belum melepaskan tangannya dari aura keemasan yang terhubung dengan bulan merah. Kali ini aura keemasan menguar lebih kuat daripada sebelumnya.


“JANGAN SIKSA AYAHKU!” teriakan Ivy membelah keheningan malam. Ray hanya terkekeh dan tak menggubrisnya. Ivy mulai kehilangan kontrol emosinya dan melanjutkan hantaman katana merah miliknya ke penjuru arah, membuat lawannya sempat berhenti tertawa.


“Tuan putri Ivy, kau benar-benar lucu kalau sedang marah ya?” suara dingin Ray bernada menghina. “Apapun yang kau lakukan tidak akan mengembalikan ayahmu tercinta. Dia milikku sekarang” mata merah itu memicing sengit kearah lawannya.


“Sial kau!!!” teriak Ivy sekuat tenaga sebelum kembali mengayunkan senjatanya. “Lepaskan ayahku! Lepaskan!!!”


Suara tebasan, suara tawa Ray, dan suara pohon roboh bercampur menjadi satu menciptakan suara gaduh yang menggetarkan malam. Pandangan Ivy mulai kabur oleh air mata. Meski Ivy membenci ayahnya sekalipun, tapi ia tak terima jika keluarganya diperlakukan seperti makhluk rendahan dihadapan matanya.


“Itu salah bangsamu Ningen, Tuan putri Ivy! Salahmu!” tawa Ray sambil melayang ringan menghindari tebasan-tebasan tak terarah Ivy. “Kalau kalian tidak menyerang Mugen, aku takkan menyentuh ayahmu! Dan ini juga salahmu!” Ray terus tertawa-tawa.


“Kau mencoba menolak kenyataan itu, Ivy-san?” Ray menyeringai puas ketika melihat Ivy mulai kelelahan. Gerakan Ivy sedikit melambat, dan kesempatan itu digunakan Ray untuk menerjang kuat Ivy. Bunyi keras terdengar saat Ivy dan katana merahnya menghantam pepohonan.


Sementara itu Ray tersenyum penuh kemenangan melihat ketidakberdayaan Tuan putri Ivy. Ivy tak gentar dan kembali dengan serangan yang lebih dahsyat. Saat Ivy mengayunkan katananya, angin berputar keras menyerupai badai sukses meretakkan tanah disekelilingnya hingga menyedot Mugen itu kedalam cerukan lebar dalam.


Ivy masih terengah, sebuah senyum tipis terkembang dibibirnya. Serangan tadi pasti masuk, dan ia yakin Mugen itu sudah tergelatak tak berdaya, terlempar kedalam dan terkubur reruntuhan tanah. Ia sangat yakin itu sebelum akhirnya ia berdiri dan berbalik untuk memastikan musuhnya benar-benar telah hancur didalam lubang luas itu. Namun begitu terkejutnya Ivy saat ia melongok kelubang besar itu dan tak menemukan mayat Mugen seperti apa yang ia pikirkan sebelumnya.


Yang terjadi justru sebaliknya. Saat Ivy mulai menyadari apa yang terjadi, sudah terlambat. Sebuah pukulan keras dirasakannya sebelum ia sempat berbalik lagi dan melihat serangan yang ia terima. Tubuhnya terhempas kedalam cerukan besar yang ia buat sendiri, tergulung beberapa kali sebelum tubuhnya terhenti disisi paling dalam. Ia terjembab, tubuhnya membentur tanah dengan keras, darah mengucur dari pelipisnya.


Ivy bangkit dengan susah payah, merangkak menggapai pedangnya yang jatuh tak jauh darinya. Selama pedang itu masih ada disisinya, ia masih punya harapan. Namun semua kepercayaan diri itu tiba-tiba hancur saat ia mendongakkan wajahnya keatas dan menatap ketepian lubang tempat sesosok makhluk berwajah gelap, bermata merah nyalang dan bergigi taring tajam tengah berdiri dengan kokoh menatapnya, tajam. Tatapan yang mengerikan itu….


Tiba-tiba tubuh Ivy bergidik ngeri. Selama bertemu dengan sosok Mugen, ia tak pernah menyaksikan sorot mata membunuh yang lebih kejam daripada yang ia lihat saat ini. Jari-jari putih panjang yang kurus mengeluarkan kuku-kuku tajam sepanjang 30 cm yang sebentar lagi siap mencabik tubuh Ivy dan menghancurkannya. Rambut pirang sebahu yang semula tersisir halus telah berubah dengan cepat menjadi sulur-sulur panjang menjuntai sampai kepermukaan tanah. Gigi taring Mugen yang ganas mulai tampak dan siap mengoyak leher Ivy dalam sekejap. Wujud Ray telah berubah total menjadi moster mengerikan yang siap menjadi penentu kematian Ivy kapan saja.


Rupanya sosok itu telah bertransformasi ke wujud yang sebenarnya, namun Ivy tak peduli Mugen itu telah berubah entah dalam wujud apa, Ivy tetap tidak akan merasa gentar. Menggenggam erat pedangnya, Ivy dengan susah payah berdiri sambil mengabaikan luka-lukanya.


Kedua mata itu akhirnya saling bertatap-tatapan, tajam. Ivy mengeratkan pegangan pada pedangnya saat dilihatnya Ray menggerakkan tangannya kedepan, mencengekeram dadanya sendiri dengan mata terpejam. Ivy hampir saja bergerak untuk menyerang, namun ia tercekat saat dilihatnya tangan Ray tiba-tiba saja menembus dadanya sendiri seolah terdapat lubang disana. Apa yang dilihat Ivy terasa seperti tak nyata, tangan Ray bergerak masuk kedalam dadanya, entah apa yang dilakukannya, seolah ingin mencabut sesuatu dari dalam sana. Mata Ivy semakin membelalak besar saat apa yang sekali tak terpikirkan olehnya terlihat didepan mata. Ray menggeram keras, menggertakkan gigi taringnya yang tajam, mencoba menahan rasa sakit saat ia mencoba menarik keluar tangannya bersama dengan tercabutnya sebuah pedang ramping dengan kobaran api menutupi seluruh permukaannya. Sebuah pedang katana dengan api neraka yang tak pernah padam tercabut dari dalam dada tubuhnya. Ivy masih terperangah melihat sesuatu yang selama ini hanya dipercayai ada dalam buku legenda yang pernah ia baca. Sejauh yang ia tau, kekuatan dari seorang Mugen keturunan bangsawan terletak pada pedang yang disembunyikan dalam tubuhnya, yang merupakan sumber energy terbesar mereka, dan juga merupakan sebuah pertanda kebangkitan dari wujud asli dari makhluk tersebut.


Tiba-tiba tubuh Ivy terasa amat tegang saat membayangkan betapa kuat sosok yang kemudian berjalan menuju kearahnya, dengan pedang api yang kini tegenggam erat. Mata semerah darah berkilat menyambut tatapan mata Ivy yang meredup karena guncangan hebat. Melihat aura hitam dan rumput yang kering terbakar terkena tapakan kakinya saat berjalan, Ivy berpikir akan mati. Ivy bahkan tak bisa berpikir bagaimana cara untuk menghindar dari sana, bergerak sesentipun ia tak mampu memikirkannya. Tubuhnya seolah terkunci dalam aura pekat yang menghalangi inderanya untuk bekerja. Saat sosok itu berjalan semakin dekat, saat rumput disekelilingnya mulai mati terbakar oleh bintik-bintik api yang tercipta oleh langkah kakinya, saat Ivy merasa kehilangan semua harapannya, hidupnya,semuanya… tiba-tiba pedang katana merahnya mengeluarkan getaran aneh. Ia melirik kearah pedangnya yang tiba-tiba teracung kedepan tanpa ia gerakkan.


Pedang merah itu seolah mengalirkan kekuatan kedalam tubuhnya entah bagaimana caranya, hingga membuat hati Ivy mulai ikut tergerak. Bila Mugen itu bangkit dalam wujud aslinya dengan kekuatan pedang nerakanya, maka Ivy juga telah bangkit bersama dengan pedang perak katana merah yang menyimpan kekuatan dari surga.