
CHAPTER 6: UNWANTED
5 hari sebelumnya......
“Shin!”sebuah suara gertakan keras itu masuk ke telinga kanan Shin lalu dengan mulusnya keluar lewat telinga kirinya seperti angin.
“Shin!!”sekali lagi suara itu meneriaki nama pemuda tampan berwajah pucat dengan poni panjang yang menutupi kelopak matanya yang tertutup. Pemuda tampan itu masih tak bergeming dari posisi tidurnya yang bahkan terlihat menawan sekalipun ia tengah merebahkan tubuhnya diatas ranting pohon dengan pose bebas.
“SHIN DENGARKAN UCAPANKU!!!”suara yang terakhir menggelegar seperti petir di siang bolong sehingga akhirnya pemuda itu tanpa sengaja membuka kelopak matanya yang sudah ia paksa untuk berpura-pura menutup setelah beberapa saat. Sepasang bola mata semerah darah langsung menukik ke arah sumber suara tepat ke sosok Mugen yang tak kalah tampan meski dengan kulit yang sudah tak lagi terlihat muda.
“Harus berapa kali kau membuatku berteriak hah?! Dasar anak tak berguna! Turun dari persembunyianmu sekarang!”
Anak tak berguna.
Selama hidupnya yang sudah menginjak 50 purnama di dunia Mugen, label “Anak tak berguna” dengan berbagai macam sinonimnya selalu melekat pada dirinya. Telinganya sudah kebal dengan sebutan yang dilayangkan oleh keluarga besar dan Mugen di sekitarnya. Sebagai anak kedua dari keluarga bangsawan Gouda, ia terhitung tak berguna karena tak pernah ikut andil dalam misi keluarga apapun. Jadi apa boleh buat, label Mugen tak berguna itu tidak salah. Toh ia hanya menghabiskan waktunya hanya untuk berbuat keributan dan bermalas-malasan. Ia tak menyangkal sebutan itu sehingga pada akhirnya ia bangkit dari pohon dan melompat ke tanah untuk menyambut panggilan itu dengan terpaksa.
“Ya ayah”Shin akhirnya berlutut di hadapan Mugen tua dengan gurat keriput tipis disekitar bibir dan bawah mata. Mata merah Shin menunduk menatap tanah. Ia terlalu malas untuk menatap Mugen itu karena ia sudah sangat hafal akan apa yang akan terjadi berikutnya.
“1000x misi sudah kau abaikan. Mau sampai kapan kau hidup seperti ini?”
Shin hanya terdiam. Ia membasahi bibirnya yang terasa kering dengan menggesekkan lidahnya ke bibir dengan cepat.
“Kau tidak mau melanjutkan usaha keluarga. Juga tidak melaksanakan perintah misi dari keluarga Gouda. Lalu apa maunya sebenarnya hah?”
Shin merasakan wajahnya menahan panas ketika lelaki tua itu meludah di depannya. Sehina inikah eksistensinya?
“Dengar Shin”suara lelaki Mugen itu kemudian memelan. Ia menempelkan bibirnya dan berbisik tepat ditelinganya.
“Misi ke 1001. Ini permintaan terakhirku sebagai seorang ayah sekaligus sebagai pemimpin keluarga Gouda. Jika kau masih menginginkan untuk kembali ke istana dan menikmati akses darah untuk memuaskan dahagamu, laksanakan perintah ini”
Setelah itu pria tua itu menegapkan badannya dan melemparkan selembar foto ke arah Shin. Tangan Shin meraih selembar foto itu dan menatap foto sesosok gadis berambut gelap panjang dengan garis wajah dan senyum tipis yang sempurna. Mata bulat gadis dalam foto itu seakan tengah balik menatapnya.
“Cari informasi mengenai Ningen itu. Dia adalah keturunan keluarga Mitsura. Kemungkinan besar ia adalah calon Ryosei terkuat sekaligus ancaman besar bagi bangsa kita”
Ketika Shin menengadahkan wajahnya keatas, ia sudah tak melihat sosok pria barusan. Pria tua bangka, begitulah ia menyebut sosok pria barusan. Seumur hidupnya ia dituntut oleh pria itu untuk selalu menjadi penerus keluarga Gouda, yang sayangnya Shin tak menemukan minat untuk melakukannya. Tapi kali ini mungkin sedikit berbeda. Shin menyunggingkan seringai tipis. Jika calon korbannya memiliki kecantikan seperti ini, ia akan suka rela untuk melakukannya bahkan jika harus melakukan hal bodoh seperti anjing kelaparan yang disuruh bekerja oleh majikannya.
“Challenge accepted”ucapnya sambil memandangi sosok dalam foto itu sembari menelan ludah untuk membasahi tenggorakannya yang tiba-tiba terasa kering.
******
“Jadi sampai kapan kakak dan bibi mau menungguiku disini?”Ivy mengambil apel keduanya dan menggigitnya dengan sekali potongan besar.
“Sudah berapa kali kubilang. Aku sudah baik-baik saja. Seharusnya 3 hari yang lalu aku sudah bisa keluar dari rumah sakit. Tapi kenapa aku masih ditahan disini?”ucap Ivy tanpa mengamati Aki. Ia mencoba mengalihkan kejengkelannya dengan menggigit apelnya dengan potongan yang lebih besar.
“Sampai semuanya baik-baik saja. Semuanya tengah bekerja untuk memperkuat perlindungan di kuil dan memperketat pengawasanmu”
“Oh. Jawaban itu lagi”ucap Ivy dengan nada meremehkan. “Jawaban penenang yang seharusnya lebih cocok diberikan untuk anak kecil berumur 10 tahun”
“Lalu apa maumu?? Kau semakin hari semakin menyebalkan”Aki mulai tak bisa menahan emosi. Bibi Takashima memegang pundak Aki dan merangkulnya ketika Aki mulai beranjak dari kursinya.
“Justru kakak yang semakin menyebalkan. Mengurungku disini dan tak mengizinkanku untuk melanjutkan misi perburuan padahal kita sudah tau sedang berhadapan dengan siapa. Kalau kau tanya apa mauku, aku ingin keluar dari rumah sakit dan segera melanjutkan penyerangan! Berapa kali aku harus bilang?!”
“Dan harus berapa kali ku bilang kalau situasimu saat ini tidak aman! Mugen itu tengah mengincarmu Ivy! Dan kau yang sekarang belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuatan musuh!”
“Hah? Oh... hahaha”Ivy menelan gigitan apel terakhirnya lalu tertawa dengan nada terpaksa.
“Bagaimana bisa semua orang menyimpulkan demikian? Tidak ada yang percaya jika malam itu aku nyaris saja menghabisinya. Lucu sekali bagaimana bisa aku mendapatkan kepercayaan untuk mendapatkan katana merah tetapi tidak seorangpun menganggap serius ucapanku”
“Bodoh! Kau tidak ingat setelah kejadian itu kau pingsan dan tak sadarkan diri dengan keringat dingin?? Jika saja kau bisa melihat wajahmu sendiri saat itu, kau seperti tengah berada diujung maut!”
“Oh begitukah? Hahaha”Ivy tertawa lagi dengan pedih. Ia ingin sekali berteriak pada kakaknya jika malam itu seluruh gerakannya dibawah kendali Mugen sialan itu. Ia bahkan tak bisa menggerakkan jari kelingkingnya 1 cm pun. Dan pada akhirnya kejadian mengerikan itu sekali lagi terlintas dalam benak Ivy. Ciuman pertama yang diterimanya pertama kali dalam hidup membuat tubuhnya mati rasa dan berkeringat dingin, meninggalkan demam tinggi selama beberapa hari tanpa ampun. Bukan luka fisik, melainkan luka terhadap harga dirinya yang runtuh seketika karena seorang musuh yang baru pertama kali ditemuinya mendaratkan ciuman yang dengan terpaksa harus dirasakan oleh bibirnya. Sungguh memalukan hingga Ivy bahkan tak sanggup mengungkapkannya di hadapan pantulan wajahnya di cermin.
“Aku tidak tahu sampai kapan aku harus dikurung disini. Tapi kakak harus ingat aku harus melanjutkan sekolah”
“Tidak perlu mengingatkanku soal hal itu. Ayah sudah mengaturnya”
Ivy menggelengkan kepalanya pelan. Jika mengingatnya lagi, ia merasa lelah harus berdebat dengan ayahnya. Orang tua yang sangat kaku terhadap apapun terutama terhadap anak perempuannya.
“Aku permisi dulu. Aku mau ke toilet”akhirnya Ivy memutuskan untuk turun dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu. Bibi Takashima hendak menyusul Ivy, namun Aki buru-buru mencegahnya. Ivy sempat mendengar Aki berucap “Biarkan saja ia mendinginkan kepalanya yang sekeras batu”
Ivy menghela nafas panjang dan tak beranjak dari balik pintu karena berikutnya kedua orang di dalam ruangan mulai membicarakan dirinya.
“Tapi tuan muda, tuan putri Ivy terlihat sangat terpukul jika terus-terusan seperti ini”ucap Bibi Takashima dengan nada cemas.
“Biarkan saja Bi. Dia masih saja seperti itu. Berpura-pura kuat berusaha menyelesaikan segalanya seorang diri”
“Tapi.....”
“Bagaimanapun dia adalah seorang anak perempuan. Dia tak bisa bergerak semaunya sendiri tanpa pengawalan laki-laki”
Ivy tak mau mendengarkan kalimat setelahnya. Hatinya sekali lagi terasa dicabik. Sekali lagi ia harus diingatkan jika posisinya adalah seorang gadis yang selalu dianggap tak berdaya, bahkan oleh keluarganya sendiri. Mau sekuat apapun, toh dibelakangnya semua orang masih berpikir bahwa dirinya tak lebih dari anak kecil pelengkap dari keluarga Mitsura. Tak pernah lebih dari itu. Ivy berlari pelan menyusuri koridor rumah sakit sambil menyeka matanya yang tiba-tiba basah. Ia hanya ingin kekuatannya diakui. Apakah terlalu berlebihan jika ia menginginkannya?