
“Selamat tinggal….. Ivy. Pedang katana merah kini menjadi milikku”
Ivy memejamkan matanya dan membayangkan dirinya dibawa oleh malaikat ke alam
yang belum pernah ia masuki sebelumnya. Ya, pasti saat ini dia sudah pergi ke surga
bersama ibunya. Masa lalu akan masa kecilnya menghampiri isi pikiran Ivy. Ia yakin ia
akan bahagia seperti masa kecilnya ketika sampai di surga.
Perlahan Ivy membuka matanya. Sayup-sayup ia bisa merasakan getirnya angin dan
pepohonan lebat berada disekelilingnya. Gelap. Kenapa surga berbeda dari bayangan
sebelumnya? Ia pikir surga akan penuh dengan cahaya menyilaukan mata. Juga
semerbak bunga-bunga berwarna terang akan menyambut jiwanya. Pemandangan
disekitarnya sungguh kontras dengan apa yang ia pikirkan. Bagaimana bisa?
Ivy lalu bangkit dan terduduk sambil memegangi kepala yang masih berputar. Matanya
masih berkabut tapi ia bisa melihat ada sosok lain yang berada di dekatnya. Pemuda
yang sangat tampan. Malaikat kah? Tapi mana mungkin ada malaikat memakai pakaian
serba hitam dengan syal merah mencolok dan rambut pirang yang terlihat norak
baginya. Ivy rasanya ingin kembali ke alam mimpi karena ia tak ingin mempercayai apa
yang dilihatnya sekarang.
“HOI BODOH! CEPAT PERGI SEKARANG!”
Teriakan khas yang begitu dikenalnya segera
menyadarkan Ivy bahwa ia sekarang belum mencapai surga. Syarafnya mulai bisa
mengirim sinyal berpikir bahwa ia sekarang masih berada di tengah-tengah medan
pertempuran. Atau dengan kata lain, ia belum mati.
“Bagaimana mungkin?” Ivy bertanya-tanya dalam hati ketika menyadari Ray yang
semula sangat agresif bertarung kini justru tengah bertekuk lutut dihadapan Shin seperti
tak memiliki kendali apa-apa. Dahi Ivy mengerut dalam. Perutnya terasa mual dan
pikirannya berkecamuk. Kenapa semuanya terjadi dengan begitu cepat?
Berbagai
macam pertanyaan bercampur aduk dalam otaknya hingga ia merasa tak bisa bangkit.
Tapi sekali lagi teriakan dari pemuda bersyal merah itu seolah melecut kemarahan dan
membangkitkan kesadarannya yang sempat menghilang.
“JANGAN DIAM SAJA BODOH! CEPAT PERGI! AKU TIDAK BISA BERLAMA-LAMA
MENAHANNYA!”
“JANGAN MEMANGGILKU BODOH!” spontan Ivy balas berteriak dengan jengkel. Dengan
kesal ia berdiri dengan setengah terseok. Dikatai dengan sebutan ‘bodoh’ entah
mengapa membuat otaknya menjadi kembali jernih.
Ivy lalu memandang kesekitar,
mengamati setiap jengkal tanah. Katana merah. Benda itu adalah hal pertama yang
harus dicarinya. Insting Ivy dengan cepat segera menuntunnya untuk mendapatkan titik
dimana pedangnya terlempar. Dengan panggilan telepati, ia memanggil pedangnya
kembali dan dalam sekejap katana merah itu meluncur dengan cepat menembus
pekatnya malam, bergerak menuju titik dimana Ivy berada.
“Anak pintar” Ivy memuji kehebatan pedangnya sendiri, menganggapnya sebagai
peliharaan yang baru saja sukses melakukan hal luar biasa.
Selanjutnya, Ivy bergerak dengan kecepatan penuh dan berlari ke tempat dimana
ayahnya ditawan. Ia berhenti diatas dahan pohon untuk mengamati situasi di sekitar.
Tujuh sosok Mugen bertudung ungu pucat yang dilihat sebelumnya telah tersungkur di
sekitar ayahnya disekap. Ivy lagi-lagi berpikir bagaimana semuanya bisa terjadi. Ia hanya
ingat melawan Ray, tapi tidak dengan tujuh Mugen penjaga. Namun Ivy sudah tak
memiliki waktu untuk berpikir, ia hanya butuh menyelamatkan ayahnya sekarang juga.
Secepat kilat Ivy melepaskan ayahnya dari belukar berduri sambil menjaga dirinya
sendiri agar tak terkena duri-duri yang nampaknya beracun. Tubuh ayahnya penuh
pingsan. Ivy menggendong ayahnya dipunggungnya lalu kembali melompat kearah
dedaunan pohon yang rimbun. Sekarang ia merasakan puncak kebingungan karena ia
sadar masih berada di dunia Mugen yang sama sekali tak dikenalnya.
Dari kejauhan Ivy mendengar suara-suara memekakkan telinga dimana Shin tengah
bertarung melawan Ray. Shin pernah berkata bahwa ia menghindari pertarungan
dengan saudaranya. Tapi pada akhirnya ia sendiri yang turun ke medan perang dan
melawannya empat mata. Ivy kembali menggelengkan kepalanya dengan kuat. Bukan
saatnya sekarang untuk memikirkan hal-hal yang bukan menjadi urusannya. Ia hanya
perlu membawa pergi ayahnya dan keluar dari dunia Mugen.
Sementara itu Shin mulai kewalahan untuk menahan serangan Ray. Mengendalikan
Mugen tangguh seperti Ray selama 20 menit sudah menguras tenaganya habis-habisan.
Ia sudah tak bisa lagi menggunakan jurus pengendalinya dan kini ia harus berhadap-
hadapan dengan kekuatan tangannya sendiri.
“Dasar adik tak berguna!” Ray menerjang Shin dengan pedang apinya hingga
merobohkan 10 pohon sekaligus. Shin tidak melawan, ia sebisa mungkin menghindar
dari serangan bertubi-tubi kakaknya. Ia paham betul dalam situasi ini ia tidak akan
mampu mengembalikan serangan dan amukan mematikan kakaknya yang telah berubah
wujud menjadi monster. Shin menyimpan tenaganya untuk mengulur waktu sampai Ivy
memanggilnya untuk membukakan pintu gerbang penghubung antara dunia Mugen dan
dunia Ningen.
“Sial…. kenapa si bodoh itu lama sekali” sembari menghindari serangan dari Ray yang
semakin membabi buta, Shin hanya bisa menelan ucapannya sendiri.
“Kenapa kau menghindariku, hah? Apa kau tidak sanggup melawan calon raja Mugen?
AHAHAHA” tawa Ray menggila diikuti dengan serangan hebat berupa lidah api raksasa
yang terjulur dari pedangnya. Shin terkejut ketika lidah api itu memanjang dan
membesar mengikuti kemanapun ia melompat. Kalau begini, ia bisa-bisa mati terjilat api
yang panasnya bisa membakar wajah tampannya dengan sekali sapuan.
Namun tiba-tiba saja hujan es datang menyerbu dan berhasil memotong lidah api
raksasa yang awalnya seolah tak terhentikan. Shin berlindung di balik batang pohon
besar untuk menghindari amukan angin kencang yang menyertai hujan es barusan. Tiba-tiba bongkahan serpihan es yang menyerupai peluru meluncur mengenai tempat ia berdiri
dan menancap tepat satu senti di atas kepalanya.
Shin memejamkan matanya sambil tersenyum. Ia tahu dewi penyelamatnya telah
datang. Meskipun ia memejamkan mata, tapi Shin bisa merasakan keberadaan Ivy yang
terasa sangat dekat. Dan begitu ia membuka matanya, bola mata merahnya dengan
sekejap menemukan sosok Ivy berada di depannya. Shin tersenyum pada gadis cantik
berlumuran darah yang kini juga tengah membawa tubuh ayahnya di punggungnya.
Tanpa berucap apapun, Shin meraih tangan Ivy dengan erat dan ia berkonsentrasi penuh
untuk membuka kembali pintu gerbang menuju dunia Ningen.
Ivy merasakan sensasi
berputar yang ia pernah rasakan sebelumnya. Hanya saja kali ini badannya terasa lebih
berat. Rasanya ia ingin mengeluarkan semua isi perutnya dan menjatuhkan badannya.
Tapi kemauannya untuk menyelamatkan ayahnya lebih kuat hingga ia memaksakan diri
untuk bertahan pada sensasi yang membuat seluruh tubuhnya ikut merasa pusing.
Ivy berpikir bahwa ia telah sampai pada dunia Ningen karena ia mendengar suara
dentuman yang sangat keras. Ia spontan membuka mata sambil menahan sensasi
memusingkan. Tapi yang dilihatnya justru hal yang paling tidak ingin dilihatnya. Ivy
melolong dengan keras ketika melihat tubuh Shin ambruk terkena sayatan pedang api
milik Ray yang berkobar.
“SHIN!!!”