Mugen's Love

Mugen's Love
The Mission



***Tiga Hari Sebelumnya***


Pagi itu Shin seperti biasa akan berangkat sekolah. Di pagi hari, hampir semua makhluk bangsanya tertidur lelap karena Mugen lebih aktif di malam hari. Shin berlari kecil menuruni tangga kastilnya yang terbuat dari batu. Tapi tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika kakinya menendang tubuh Mugen yang tergeletak di lantai.


“Hei bodoh! Apa yang kau lakukan disini?” umpat Shin ketika melihat tubuh kakaknya, Ray, tidur menelungkup dengan santai diatas anak tangga.


“Shin”wajah pucat tirus Ray terlihat ketika matanya yang semula tertutup akhirnya terbuka. Ia kemudian bangkit dari posisi tidurnya dan mendekatkan dirinya kearah Shin. Ray terasa sangat dekat begitu ia menundukkan tubuh jangkungnya kearah Shin yang lebih pendek. “Aku tanya. Sudah berapa minggu kau menjalankan misimu, hm?”


“T-tiga minggu”jawan Shin sedikit terbata. Entah mengapa, ia merasakan aura tidak menyenangkan dari tubuh kakaknya.


“Salah. Ini sudah hampir empat minggu. Empat minggu, Shin. Hampir satu bulan kau menjalankan misimu. Sekarang katakan padaku. Apa saja informasi yang sudah kau dapat tentang Ryosei itu”


Shin membuang tatapannnya. Wajah Ray selalu terlihat tenang, tapi kali ini ia terlihat sangat menakutkan. Selama ini bila bertemu Ray, Shin selalu menghindar. Ia tau Ray selalu berusaha menginterogasi kegiatan sekolahnya, padahal apa yang dilakukannya selama ini hanya bersenang-senang dengan misinya. Memperhatikan Ivy sepanjang hari dari tempat duduknya, melihatnya berkeringat saat mengenakan kaos olahraga tipis dan celana pendek saat jam olahraga, memperhatikan rok pendek Ivy yang tersingkap angin, juga menikmati pertengkaran mereka setiap hari yang merupakan kesenangan tersendiri baginya. Tak ada hal lain yang bisa membuat Shin sebahagia ini dalam hidupnya.


“SHIN! JAWAB AKU!!”suara tenang Ray berubah menjadi gertakan karena Shin tak kunjung merespon. Shin tersentak kaget, terbangun dari lamunannya. Ia kali ini tak bisa mencari-cari alasan lain. Wajah Ray sangat serius, berusaha mendesaknya mengeluarkan jawabannya, sementara Shin bingung untuk menjawab. Mana mungkin ia mengatakan hal yang sebenarnya pada kakaknya?


“S-sebenarnya….”Shin menelan ludahnya sebelum akhirnya ia kembali berucap. “Apa yang kulakukan selama misi ini adalah…. aku melakukan apa yang pernah kakak sarankan padaku”


“Maksudmu?”


“Maksudku… kakak pernah bilang padaku tentang rencana yang pernah kakak katakan dulu kan? Tentang merebut hati lawan…. tentang mempermainkan perasaan musuh…”


“Baik. Aku mengerti. Tapi tentang kelemahan musuh, apa kau sudah mendapatkan informasi tentang hal itu?”


Shin menggeleng. Selama mengamati Ivy, tak terbesit sedikitpun tentang kelemahan gadis itu. Shin memandang Ivy sebagai sebuah kesempurnaan. Kalaupun ada satu kekurangan mungkin gadis itu terlalu jutek. Tapi toh kalau Shin mengatakan kelemahan itu kakaknya tidak akan menganggap itu sebagai sebuah kelemahan karena hal itu tak akan mempengaruhi pertarungan bangsa mereka dengan bangsa Ningen.


“Dengar Shin. Akhir-akhir ini, kira-kira selama tiga minggu terakhir ini jumlah Ningen yang mati ditangan Ryosei semakin banyak. Ayah sibuk mendiskusikan hal ini dengan jajaran dewan kerajaan hampir setiap hari. Mereka tampaknya semakin kuat, sementara kita hanya statis dan tak mempelajari kelemahan satupun dari mereka. Dengar Shin, misimu tidak hanya memata-matai gerakan gadis itu. Lupakan soal pedekate atau apapun itu. Cari tau apa kelemahannya. Asal kau tau, Ryosei itu sekarang mengembangkan alat yang bisa membuat mereka bergerak semakin gesit. Panah perak mereka juga sekarang telah dikembangkan hingga sanggup mengincar langsung kearah sasaran. Tapi anehnya katana merah yang sering disebut-sebut terkuat justru tidak pernah terlihat di arena pertarungan. Ini adalah tugasmu untuk memancingnya keluar dan cari tahu apa kelemahannya”


Ucapan Ray terus berulang dalam otak Shin bahkan saat ia sampai disekolah dan kembali mengikuti pelajaran di kelas. Shin mengetuk-ngetuk penanya dimeja sementara matanya lurus memandang kedepan, memandang kearah Ivy yang duduk didepannya, tampak serius memperhatikan pelajaran. Ia tak tau rencana macam apa yang akan dilakukan gadis itu, sementara ia sendiri tengah sibuk berpikir tentang apa yang harus dilakukannya. Batinnya bergolak menentang perintah Ray dan Ayahnya, namun disisi lain ia sadar akan posisinya sebagai putra raja Mugen yang mengemban tugas penting demi umat bangsanya. Pilihan yang sangat sulit. Namun Shin akhirnya mengambil satu keputusan. Ia menggerakkan penanya dan menggoreskannya diatas selembar kertas. Tak ada rencana lain yang terlintas dibenaknya kecuali apa yang tengah dipikirkannya saat ini. Ia hanya ingin melindungi Ivy entah bagaimanapun juga.


****


Ivy melonggarkan cengkeramannya pada syal Shin sehingga Shin bisa terduduk. Ia kemudian meraih tangan Ivy dan mengajaknya berdiri.


“Ikuti aku”


Shin berjalan dengan pelan sambil terus menggandeng tangan Ivy. Ivy tak seperti biasa, ia hanya terdiam dan mengikuti Shin tanpa banyak protes. Shin merasakan tangan Ivy terasa dingin. Ia kemudian mengamati wajah Ivy yang merunduk dan tertutup oleh poni panjangnya. Shin kemudian menghentikan langkahnya dan tanpa sengaja Ivy menabrak pundaknya.


“Kau bilang kau ingin menghabisi bangsa Mugen. Tapi kenapa mentalmu lemah seperti ini?” Shin mengucapkan kata-kata yang terasa menusuk hati Ivy.


“Kau tak tahu apa-apa” balas Ivy sambil mengangkat wajahnya dan menghadapi Shin dengan mata yang setengah berkaca.


“Dasar. Memang benar kau cuma berani melawan Mugen pecundang seperti aku. Aku hanya ingin membantumu untuk mencapai tujuanku. Ketika ku tunjukkan jalan itu, kau justru ingin berbalik arah”


“Bukan seperti itu!” nada bicara Ivy bergetar.


“Jangan kira aku menangis karena lemah. Ini hanya….” Ivy mengusap matanya dengan tangannya seraya kembali melanjutkan “….aku hanya merasa ini adalah saatnya aku melindungi keluargaku, ayahku, dengan kekuatanku”


“Terserahlah. Yang jelas, aku benci cewek lemah. Sekarang aku akan membuka jalan menuju dunia bangsa Mugen.


" Bersiaplah” Shin menghadap kearah Ivy lalu mengulurkan kedua tangannya kedepan.


Ivy mengusap matanya untuk terakhir kalinya sebelum mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Shin dengan erat.


“Pejamkan matamu” perintah Shin kemudian yang dituruti oleh Ivy. Sedetik kemudian Ivy merasakan sensasi berputar yang baru pertama kali ini ia rasakan. Perutnya bergejolak karena kepalanya berputar dengan cepat. Tubuhnya serasa melayang, tapi tangan Shin membuat keseimbangan tubuhnya tetap terjadi. Tak lama, tubuhnya mencapai tanah dan ia segera membuka mata.


“Sekarang saatnya kau menunjukkan kekuatanmu sebenarnya di medan pertempuran. Aku hanya bisa menemanimu sampai disini. Sampai jumpa”


Dalam sekejap tubuh Shin menghilang dan dihadapan Ivy terlihat dari kejauhan sosok ayahnya dan seorang Mugen yang tengah berusaha menyedot kekuatannya.