Mugen's Love

Mugen's Love
Checkmate



Tanpa diawali aba-aba,dalam detik yang sama keduanya saling menerjang dan melompat keatas. Sisi tajam kedua pedang itu saling bergesekan, menimbulkan suara denting yang menyakitkan. Percikan besi dan api menyembur mengenai tanah saat kedua kekuatan besar itu saling melawan, berusaha menekan kekuatan lain, saling menjatuhkan, namun pada akhirnya kedua kekuatan itu seimbang, membuatnya keduanya terhempas secara bersamaan dan terlempar ketanah dengan keras. Ivy bangkit lebih dulu daripada Ray dan berusaha melancarkan serangan. Dari tebasan pedangnya, keluar seribu titik bongkahan es berujung tajam yang diarahkan kearah Ray, namun serangan itu segera ditangkal dengan sekali tebas pedang api Ray yang melelehkan semua bongkahan es itu. Tak menyerah dengan itu, Ivy kini mengeluarkan jurus air yang ia pikir bisa meredam kekuatan api Ray. Saat ia menebas pedangnya keempat titik, tiba-tiba tanah dibawahnya meretak kemudian menyembur air dari dalam. Dengan gesit ia mengendalikan air itu lalu mengubah bentuknya menjadi buah peluru diarahkan kearah Ray yang dalam waktu kembali menangkal serangan itu dengan sekali tebasan.


“Kau pikir kau bisa mengalahkan api neraka dengan air seperti itu?”ucap Ray dengan nada merendahkan saat berhasil membuat peluru air itu menguap dalam sekejap.


Ivy tampak marah dan mulai kehilangan control emosi. Ia menebas sembarangan kearah Ray yang menghindar serangan dengan mudah, seolah serangan Ivy tak ada apa-apa baginya.


Bunga-bunga api menyembur kesegala arah, terjangan angin berbentuk sayatan-sayatan tajam, kekuatan milik keduanya yang dipertarungkan berhasil membuat seolah seluruh dunia kini menjadi arena pertarungan sengit mereka.


Selama beberapa saat mereka terlihat imbang, namun setelah itu mata tajam Shin menyadari sesuatu. Ia melihat Ivy mulai tak bisa mengendalikan emosinya. Ray mengambil kesempatan dengan melayangkan sebuah tebasan pelan anggun yang diarahkan kedepan, tepat kearah Ivy yang mulai kehabisan akal untuk menyerang. Lecutan panas akhirnya menghantam tubuh Ivy, seketika membuatnya terpelanting ketanah. Dengan cepat Ray segera melompat keatas, mengarahkan pedangnya kearah tubuh Ivy yang masih tergeletak. Namun sekejap saja tanah dibawahnya berubah menjadi tembok-tembok tinggi dan berhasil mencegahnya untuk mendarat ketanah. Tembok-tembok tanah itu terus saja bermunculan, mengejarnya dari berbagai arah, menghancurkan pohon-pohon hingga terangkat dari akar-akarnya. Ray berhasil menumbangkan tembok-tembok itu tapi kekuatan apinya tak dapat memblokir seluruh tembok yang terbentuk dengan cepat. Saat ia mulai terjepit, kumpulan tanah tiba-tiba terangkat keatas dan membentuk dinding-dinding tinggi menjulang mengelilingi Shin yang terperangkap dalam balok dinding yang Ivy ciptakan.


Dari kejauhan Ray mendengar suara sayatan pedang yang dahsyat dan seketika dinding-dinding itu bergerak cepat merapat kesatu titik tepat Ray berdiri. Terdengar suara gemuruh hebat saat dinding-dinding tanah itu saling bertabrakan satu lain, kemudian hancur bersamaan. Ivy mengatur nafasnya dan menajamkan penglihatannya diantara kepulan debu yang tercipta karena jurusnya barusan.


‘Ia pasti mati. Ia pasti mati’


Ivy berpikir demikian, namun kenyataan saat penglihatannya kembali jernih, ia tak menemukan apapun diantara gundukan tanah bekas hancurnya dinding itu. Bagaimana ia bias lolos dari sana? Tidak mungkin. Tak ada satupun makhluk yang bias lolos keluar dari jurus barusan, kecuali bila ia.…


Belum sempat lukanya pulih, ia mendengar langkah terseok mendekat kearahnya. Dari matanya yang separuh terbuka, Ivy menangkap sosok bermata merah itu berjalan tertatih dari kejauhan sambil mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Tapi sekejap pemandangan itu menghilang dan tiba tiba saja ia merasakan tubuhnya kembali terlempar mendapatkan serangan. Ia merasakan darah mengalir dari pelipisnya. Tangan Ivy mencengkeram tanah disekelilingnya saat sosok itu mendekat kearahnya sementara ia tak bisa bergerak. Sosok bermata merah itu akhirnya berhenti tepat disamping tubuh Ivy yang terlentang tak berdaya. Ivy memejamkan matanya saat sosok itu tiba-tiba saja merendahkan posisi tubuhnya, dan begitu Ivy membuka matanya kembali, wajah tirus mengerikan itu terpampang didepannya, dengan posisi tubuh tengah menindih tubuhnya. Ivy menggeliat pelan saat pergelangan tangannya dicengkeram erat oleh tangan pemuda Mugen itu yang terasa sangat kuat hingga ia merasa nadi dipergelangan tangannya akan pecah.


“Le-lepas…”Ivy berusaha memberontak dibawah tubuh Ray yang mengekangnya, membuatnya kehilangan keleluasaan untuk bergerak.


"Sekarang aku mengerti mengapa Shin belakangan menjadi aneh sejak menjalankan misi" sosok Mugen dihadapan Ivy kembali mengeluarkan suara tawa aneh. "Ternyata memiliki musuh gadis cantik menyenangkan juga ya?" ucapnya sambil perlahan mengeratkan cengkeraman tangannya.


"Sial..." Ivy berusaha sekuat tenaga untuk memanggil pedangnya tapi kekuatannya yang tersisa bahkan tak sanggup untuk membuatnya memalingkan wajah.


"Ayah.... Ibu.....maafkan aku tidak bisa melindungi keluarga Mitsura....." Ivy memejamkan matanya dengan sangat erat dan memasrahkan diri ketika merasakan ujung mata pedang Ray menyentuh kulit lehernya. Sepintas Ivy bisa mendengar bisikan Ray yang lebih menyerupai desis ular.


"Selamat tinggal..... Ivy. Pedang katana merah kini menjadi milikku"