
Moanna
B
Jacob
Riko
Dina
***
"Arbian." Panggil seseorang yang baru masuk kedalam ruangan yang tampak menggambarkan bagaimana pemiliknya,hitam, elegant, mahal, dan jelas kuat, itu penilaian utama saat orang masuk kedalam ruangan itu.
Merasa nama nya dipanggil bukan berarti seseorang akan melihat kearah orang itu, ARBIAN JOHNSTON, pria matang dengan tatapan tajam yang sangat bisa membuat orang melihat matanya akan bergetar dengan sendirinya,mata itu seakan bisa membuat seseorang merasa dirinya tengah didalam bahaya atau juga bisa merasa akan kenikmatan dari tatapan itu, seperti sekarang,LENA, wanita yang memanggilnya tadi jelas seakan menebalkan wajah,telinga,dan ego nya,dia akan membuang itu semua jika berhadapan dengan seorang ARBIAN,tunangannya.
"Ar...kita makan siang bareng ya,aku ada bawain kamu makanan."ajak lena dengan suara lembut yang dibuat-buat, yang membuat telinga para pria merasa rrraaawwww, tapi tidak dengan arbian,dia bukan memiliki kelainan,karna nyata nya dia malah sangat mual mendengar suara yang selalu mengganggunya itu,bagaimana bisa orang tuanya setuju dengan perjodohan yang tidak diinginkan nya itu,sudah beberapa tahun dia bertahan dan berusaha untuk sesuatu yang diinginkan nya,mereka malah menerima tawaran dari keluarga lena.
"Aku ada janji makan diluar,kau makan saja sendiri." Jawabnya kasar, untuk apa berbaik hati jika tak ingin, benarkan?
"Sama siapa? Kamu baru pulang lo kesini,kita juga sudah lama tidak bertemu,luangkan waktu untuk aku ar." Ujar lena mencoba membujuk arbian.
Flashback on
"Kamu sudah halangan?" Pertanyaan konyol yang diajukan arbian pada gadis manis adik dari sahabatnya,sejak awal dia bertemu dengan gadis itu dia merasakan ketertarikan,padahal jika dibandingkan, umur mereka jelas terpaut jauh, sedangkan sahabat nya d ngan anak gadis itu saja berjarak sekitar delapan tahunan dan dia sama sahabat nya lebih tua dua tahun.
Hubungan arbian dengan sahabatnya berawal dari si sahabat menemani ayahnya pesta peresmian perusahaan arbian,karna umur tidak terlalu jauh,mereka dekat malam itu sampai sekarang masih berhubungan,sempat lost contact saat arbian harus keluar negri menjalani perusahaan nya yang berada disana,bisa dikatakan terpaksa karna sepeninggal daddy nya, dialah jadi harapan mommy nya.
Menjadi anak tertua membuat arbian menanggung itu semua,dari menjalankan perusahaan,mengurus adiknya walau dia sudah besar pi tetap saja, dia jadi peganti figur daddy nya.
"Ha???"
"Bukan,kamu sudah datang bulan?" Ulangnya sedikit mengganti kata.
Gadis itu terdiam kaku,mungkin dia belum mengerti atau dia terkejut, oh jelas,pria yang jauh lebih tua darinyq yang beberapa waktu dekat dengannya, awalnya dia hanya tau dan merasa kedekatan mereka karna kakaknya dekat dengan orang ini, tapi setelah mendengar kalimat yang baru saja keluar, dia sedikit tak yakin.
"???... Belum, kenapa???"
"Oh...karna kalau sudak, aku akan menghamili mu." Jawab arbian santai tapi misterius,jelas saja ucapan arbian saat itu membuat gadis itu tercengang, tubuhnya bergetar ketakutan,apalagi kakaknya saat itu belum pulang.
"Aaaaaaaaaaaaaa... "
***
Arbian lagi-lagi tertawa mengingat itu, bagaimana bisa dia mengatakan hal mengerikan seperti itu pada gadis kecil yang masih duduk di sekolah dasar,tentu saja saat itu gadis itu langsung pergi dari sana, berlari ketakutan tentu saja.
Tapi arbian teringat lagi jika itu ternyata pertemuan terakhir mereka, besok nya arbian mendadak pergi keluar negri karna daddy nya meninggal dan akan dikuburkan di pemakaman khusus keluarga mereka disana.
Sejak saat itu dia tidak pernah bertemu dengan gadis kecil itu lagi, bahkan dia baru terhubung dengan sahabatnya itu saat tak sengaja bertemu di Inggris baru-baru ini.
suport nya bray!!!