
"Gue jadi saksi."
"G gggue juga."
"Kkkita juga."
Lima orang mengangkat tangan bersamaan membuat lisa langsung menegakkan kepalanya terkejut, begitu pun dengan yang lainnya,jacob lebih tak menyangka jika diantara orang itu ada cris yang kini berjalan dan berdiri disamping moanna.
"Sorry gue lambat buat pengakuan, gue tadi udah hubungi lo buat jadi saksi tapi nomor lo nggak aktif." Kata cris ke am, amo diam lalu melihat ke empat perempuan yang tertunduk didepannya.
"Gue akan bicara sama dekan mo,maafin gue." Kata linda menyuarakan rombongan nya.
Bibir dina maju kedepan membentuk lengkungan kebawah."mo...gue nggak tau apa yang terjadi, tapi lo harus percaya kalau gue nggak meraguin lo."ujar dina sudah menangis memeluk moanna.
"Walaupun memang lo bully dia juga nggak papa mo, gue juga nggak suka dia,dia diam-diam cari muka sama jacob, gue nggak suka lo malah tampak jelek oleh jacob." Ujarnya disela tangisannya.
"Ini aPA-APAAN sih, kenapa jadi kalian sok jadi saksi, padahal jelas-jelas amo bully lisa" Kata jacob masih marah dan menatap tajam ke moanna.
"Lo emang sudah buta jac,gue malah nggak nyangka sama lo,kita jelas kenal lama dengan amo tapi lo." Kata cris miris.
"Gue nggak butuh sampah percaya sama gue." Ucap amo melihat datar ke jacob, tampak jacob terkejut dengan ucapan sarkas amo,"gue akan ke ruang dekan."lanjut nya.
"Kita ikut." Serempak dina, cris, julian, ade dan rombongan linda,tinggal lah jacob dan lisa disana dalam ke terdiaman.
"Jika moanna tidak terbukti bersalah,lo siap-siap pergi dari sini." Kata jacob pelan tapi dia yakin lisa mendengar nya,lisa tersenyum, dia mengira jacob berusaha melindungi nya, tapi setelah mendengar kalimat terakhir yang keluar membuat tubuhnya menegang.
"Karna kalau dia terbukti tidak bully lo, gue sendiri yang akan buat perhitungan sama lo." Ucapnya tajam,entah mengapa dia merasa goyah dengan kepercayaan dirinya tadi,melihat sosok cris dan rombongan linda maju kedepan amo membuat dia merasa kalau dia telah salah ambil langkah.
Satu jam dalam pemrosesan diruang dekan, nama lisa pun terdengar di setiap sudut atas bangunan,lisa semakin ketakutan, apa dia akan ketahuan,pasti setelah ini dia akan tamat.
Tanpa ditemani siapa-siapa, bahkan orang yang mendukungnya tadi seakan menghindar jauh darinya.
"Moanna sialan,lihat aja, gue pasti akan balas lo!!!" Ucapnya pelan penuh dendam.
Tak lama tampak beberapa mobil masuk kedalam bangunan kampus menerobos kumpulan para wartawan,para satpam penjaga pun dengan susah payah menahan rasa kiat ingin tahu para wartawan tersebut.
Mobil tadi pun berhenti setelah memarkirkan sembarangan dan secara serempak keluar dari mobil.
"Kak bian." Ucap riko kaget karna bian juga datang kesana,begitu pun orang tuannya yang juga sudah lama tidak berjumpa bian.
"Nanti saja kamu nanya nya,kita bareng ke ruang dekan." Putus bian mengajak mereka cepat pergi lantai dua tempat ruang dekan berada.
"Lisa...kamu akan dikeluarkan dari kampus ini dan mendapatkan catatan hitam,jadi kemana pun kamu akan pindah kampus, mereka tidak akan menerima kamu." Kata dekan dengan tegas,lalu melihat ke linda dan rombongan,"karna kalian mengakui dan mendapat maaf dari moanna,kalian hanya dikeluarkan tapi juga tidak bisa diterima dikampus negri kecuali kalian kuliah keluar."lanjut dekan menurunkan ultimatum nya.
Ternyata bukan hanya mobil keluarga moanna saja yang datang karna dua mobil polisi nampak masuk ke dalam parkiran kampus itu.
"Tapi pak... "
"Tidak ada kata tapi, kamu ya lisa...kamu siswi baru disini tapi dengan berani nya kamu mencoreng nama baik orang dan kampus saya." Geram dekan, moanna hanya diam bahkan dari awal masuk dia tidak bicara apa-apa karna sudah diwakilkan oleh cris dan linda rombongan.
Brak
"Sayang." Panggil dayana kuat saat pintu ruang itu terbuka dengan kuat akibat tendangan dari bian,tadi dia sempat melihat jacob diluar ruangan ini dengan kepala tertunduk dan seperti nya menangis dari bahu yang tampak bergetar, tapi dia akan mengurus itu nanti, terpenting saat itu melihat keadaan gadis kecilnya.
"Kamu tidak apa-apa nak, siapa yang fitnah kamu ha? Bilang sama mami, anak mami nggak mungkin kayak gitu, bilang sama mami biar mami hancurkan hidup nya." Kata dayana berang,moanna malah tersenyum dan langsung memeluk lemah tubuh maminya.
"Itu tan orang nya, nggak papa kalau tante mau hancurin hidup dia." Tunjuk ade ke lisa yang masih tertunduk, tak ada wajah yang berani seperti tadi saat dia dibela orang-orang.
Plak
"Diam oon!!!"tekan dina kesal menggeplak kepala belakang ade.
" KAMU!!!"