Moanna Its Mine

Moanna Its Mine
23



"Bagaimana keadaan anda nona,apa sudah merasa lumayan baik atau ada keluhan lainnya?" Tanya dokter saat moanna batu terbangun dari pingsannya dan saat itu keluarga nya sudah ada disana bersam dina yang masih setia disana,sedangkan anak laki-laki sudah izin pulang dulu,lagian mereka sepertinya tak ada gunanya disana, nanti saja saat moanna sadar mereka akan mengunjungi lagi.


"Hanya tinggal lemas aja dok, nggak ada yang sakit lagi." Jawab moanna pelan,lalu dia melihat kesekitarnya.


"Lo nggak mandi din? Gue mual." Kata moanna membuat yang ada disana tertawa taoi tidak dengan dina yang sudah manyun.


"Iiihhhh amoooo,tega banget sih lo,gue khawatir tauk sama lo,mana tenang gue pergi ninggalin lo,gue juga merasa bersalah tadi kumpul dengan makhluk jahanam itu, tapi bukan gue sengaja ya,itu gue lagi nanyain anak-anak apa lihat lo,pas gue disana lo nya datang." Jelas dina supaya amo tidak salah paham dengannya.


"Tenang aja,gue nggak mikir kesana kok." Jawab amo tersenyum kecil.


"Tampaknya keadaan nona memang membaik, jadi besok pagi jika tak ada keluhan sudah bisa dibawa pulang."lanjut dokter lalu permisi keluar dari sana.


Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh." Din, lo pulang gih, mandi,nggak gerah apa nggak ganti pakaian."kata amo lagi-lagi orang tertawa mendengar nya.


Dina berdecak keras."ya udah, gue pulang dulu,pagi besok gue kesini lagi."katanya bangkit dari duduknya dan menyalami orang tua amo,tapi saat giliran riko amo kembali bersuara.


"Bisa minta tolong antarin dina nggak kak, kasihan udah malam banget." Kata amo.


"Tapi dia kan bawa mobil."tolak riko halus.


" Mobil lo tinggal disini aja din, biar kakak gue antarin lo,gue nggak mau sahabat gue kenapa-napa."


***


Membicarakan tentang bian,hati ini memaksa untuk bertemu keluarga lena yang selalu memberi alasan menolak pertemuan yang diajukan bian karna mereka tau apa tujuan bian.


"Jangan menghindar lagi,tanda tangani ini dan Terima kompensasi dari saya,ini salah saya taoi saya juga tidak bisa melanjutkan pertunangan ini."ucap bian to the point didepan orang tua lena,duduk tegap dengan tatapan tajam bulan seperti orang yang akan minta maaf,malah seperti orang menantang.


"Aku nggak mau!!! Dengar bian, sampai kapan pun aku tak akan setuju dengan keputusan itu, dan aku nggak akan biarkan kamu memiliki perempuan murahan itu, kamu ingat itu!!!" Tekan lena, bukannya tapi lena membuat bian murka,beraninya wanita murahan seperti nya mengatai berliannya,apa dia bosan hidup?


"Sungguh berani..." Ucap bian sambil mengangguk seakan paham dan takjub,"jadi kalian tidak akan tanda tangani berkas ini?"tanya bian mencoba membuat penawaran.


"Aku nggak akan tanda tangani itu sampai kapan pun, kamu hanya milik aku ar,selamanya milik aku!!!" Teriak lena,mamanya mencoba menenangkan lena,dia hanya diam karna merasa tak yakin hanya itu persiapan bian datang kesana pasti ada hal lain yang membuat dia sekarang terasa terancam.


"Kalau begitu siap-siap perusahaan kalian hancur dan kalian angkat kaki dari perusahaan itu karna aku tak akan segan-segan menyerah kan bukti penggelapan dana pembangunan dan pengembangan perusahaan kalian, jangan kalian tanya dari mana aku mendapatkan nua, karna sangat mudah bagi seorang seperti ku,ingat itu, jadi berkas ini ku tinggal disini, silahkan serahkan besok,keputusan ditangan kalian." Jelas bian dan berdiri dari duduknya, pergi dari sana tanpa permisi.


***


"Aku tak ingin ketemu dia."