
Airin menatap nanar pada Aisha yang sedang duduk di pelaminan bersama kakak iparnya--Wira. Gadis itu sesekali mengusap air matanya yang jatuh. Tak menyangka jika di hari bahagia kakaknya, ia malah menangis. Sedih karena setelah ini tak serumah lagi dengan kakaknya. Tak ada celotehan yang akan membelanya dan tentunya akan mem-bully Fadlan. Mengingat bully-an itu ia terkekeh lalu mencari kemana sosok kakak laki-lakinya itu.
Kak Fadlan, panggilnya dalam hati. Semalaman ia merenungi nasib kakaknya yang satu itu. Laki-laki itu dilangkahi dua adiknya. Kak Fadli yang ternyata sudah menikah diam-diam. Ia shock tentu saja. Tapi ia yakin yang lebih shock adalah Fadlan. Haaah....bayangkan saja, sekian lama tak bertemu dan sekalinya bertemu Fadli malah sudah menikahi anak orang.
Ia, Aisha dan Mami tentu saja tak menyangka jika Fadli yang akan menikah duluan. Karena kelakuan lelaki tengil itu yang suka mempermainkan wanita. Sementara Fadlan malah sebaliknya.
"Rin...," panggil seseorang di sampingnya.
Gadis itu menoleh lalu nampaklah Gara di matanya. Laki-laki itu berstelan jas. Ganteng sih tapi tetap saja dimata Airin, mantannya lah yang paling ganteng. Aish, desisnya dalam hati. Ia heran kenapa tak hanya hatinya, seluruh organ tubuhnya kini seolah-olah hanya memikirkan Akib.
"Apaan?" Tanyanya agak acuh. Ia asyik memerhatikan kakaknya yang duduk di pelaminan.
"Gue liat tadi lo nangis terus ketawa sendiri. Lo kesambet?" Tanyanya dengan datar.
Tangan Airin melayang untuk memukul kepalanya. Gara tergelak karena bisa menghindar pukulan itu.
"Lo kok gak pulang-pulang sih?" Tanya Airin dengan wajah sebal. Ia memutar dengan malas kedua bola matanya karena bosan melihat Gara yang seharian ini menguntitnya.
"Kan bokap lo cuma percaya sama gue buat jagain lo," nyinyir Gara. Airin memasang wajah seolah-olah ingin muntah. Gara terkekeh geli melihatnya.
"Lo apain bokap gue ampe ngizinin lo buat jagain gue?!" Cibir Airin sambil menggelengkan kepalanya.
Ia tak perduli pada orang-orang di sekitarnya yang ia pedulikan hanya penampilannya. Gadis itu mencak-mencak sambil memukuli Gara yang melindungi kepalanya dengan mem-blocking menggunakan tangannya karena kepalanya dipukuli Airin.
Sementara itu sosok lain terpaku saat mendengar teriakan kecil itu. Sontak ia menoleh dan kaget saat melihat Airin dan Gara. Sejak tadi ia mencari sosok gadis itu mengingat ini adalah pernikahan kakaknya dan sekalinya ketemu....hatinya mencelos. Dalam sekejab saja ia berencana ingin pulang secepatnya.
"Bang!" Panggilnya pada Faiz yang sedang melambaikan tangan ke arah Fadlan. Faiz menoleh dengan sebelah alis terangkat. "Pulang!" Serunya.
"Kenapa?"
Akib menghela nafasnya. Ia tak tahu harus memberi alasan apa. Ini sulit karena berkenaan dengan hatinya. "Pulang aja," rengeknya yang membuat Faiz geli menatapnya.
Sudah gede masih merengek kayak anak kecil! Cibirnya dalam hati.
"Nanti. Abang mau ketemu temen lama dulu," tatarnya dan dibalas hembusan kesal oleh Akib. Faiz terkekeh lalu tangannya merangkul bahu Akib. Laki-laki itu membawanya menuju teman lamanya.
♡_♡
"Airin mana?" Bisik Fifa pada Fadlan.
Fahri yang berdiri di sebelahnya menarik lengan wanita itu untuk mendekat padanya saja dan jangan pada sahabatnya. Fadlan terkekeh kecil melihat perlakuan posesif Fahri pada istrinya. Ia juga ingin seperti itu. Tapi sayangnya, calonnya tak ada