
Untuk pertama kalinya Akib menggelisahkan Airin. Selama ini--selama mereka pacaran-- ia sadar betul, jika tak ada satu pun hal-hal yang bisa membuatnya segelisah ini--mengkhawatirkan keadaan Airin tentunya. Dulu, ia memang tak pernah memerdulikan gadis itu. Dulu, ia hanya berpikir satu-satunya cara melupakan Cinthya adalah Airin. Dan ternyata benar. Ia memang melupakan Cinthya tapi ia tidak menyadari hal baru yang menghampirinya. Ia tak bisa melupakan Airin. Tak bisa. Sayangnya ia sadar di saat yang salah. Disaat ia sudah memutuskan kembali ke sisi Cinthya dan melepas gadis itu.
Tak pelak ia merasa sakitnya kini. Sakit ditinggal pergi dan diabaikan. Nyatanya, Airin tak perduli. Tapi setelah mengingat-ingat percakapan dengan Gara, ia mulai berharap. Ia mulai berharap kalau ia yang menang. Ia yang memenangi hati Airin bukan Gara.
"Bro....," panggil Dennis--pelan sekali. Lelaki itu menyenggol lengan Akib. Akib malah hanyut dalam keperihannya sendiri. Menyandarkan tubuh sambil memejamkan mata. Gaya terbarunya jika sedang patah hati--simpul Dennis. Tapi Dennis tidak dalam konspirasi memuji Akib saat ini. Ia ingin membangunkan sahabatnya itu dari lamunan pujangga patah hati agar segera sadar bahwa ia dalam cengkraman manusia berjiwa harimau. Galak dan tak segan menerkam. Tapi sayangnya, pujangga patah hati itu tak mengindahkannya. Ia malah berubah gaya dari menyandarkan punggung lalu memajukan tubuh dan menumpu dagu tangan kanannya di atas meja. Tangannya terkepal menopang dagunya yang runcing. Dennis menghela nafas sambil takut-takut melirik ke depan. Ia sudah bersiap menutup telinganya dalam hitungan ketiga....kedua....kesatu....
"AKIB!"
Baru juga membuka mata, Akib tergagap. Tangannya lemas begitu saja. Dagunya sampai menabrak meja dan membuat teman-teman sekelasnya berkonspirasi menahan tawa. Apa yang dikhawatirkan Dennis sejak tadi terjadi. Bu Aslinda--guru biologi yang bohay itu sudah berdiri di hadapannya. Ia kaget dan langsung menegakan tubuhnya. Matanya langsung membulat.
"Kalau sakit, jangan di kelas!" Tegur beliau.
Akib mengerutkan dahi. Ia menoleh sekilas pada Dennis. Lelaki itu mengendikkan bahu--tak tahu menahu.
"Tunggu apa lagi?" Cerca Bu As.
Lagi. Akib menoleh pada Dennis hingga akhirnya dengan tak sabar Bu Aslinda menarik kupingnya--mengusirnya dari kelas.
"Langsung pulang saja kalau tak sanggup ikut pelajaran!"
Baru ia sadar. Ia mengerjab-erjabkan matanya. Baru bisa melihat dengan jelas, wajahnya sudah ditimpuk tasnya dan beberapa buku. Anak-anak di kelas tertawa terpingkal-pingkal. Kapan lagi melihat cowok ganteng diperlakukan seperti itu?
Kejadian Airin dibopong ke ruang kesehatan tadi, membuatnya langsung mengambil langkah berbalik lalu belok kanan. Ia berdoa semoga Airin masih disana. Setidaknya ini kesempatannya setelah pagi tadi tak berhasil menjangkau gadis itu.
♡_♡
"Heum. Ya."
"Kakak langsung ke ruang kesehatan aja."
"Oke Airin tunggu."
Tut.
Panggilan dimatikan. Ia menghela nafas lalu melirik ponselnya. Tak ada apapun disana. Yang ia lakukan hanya sesekali bbm-an dengan Cristine. Tadi gadis itu ingin menemaninya di sini. Tapi sayangnya Bu Ratna tidak mengizinkan.
"Ehem!"
Suara deheman itu langsung memutar kepala Airin ke arah pintu. Ia kira itu Kak Fadlan. Tapi ternyata.... itu Akib. Wajahnya dipucat-pucatkan, jalannya lemas dan tangannya memegang kepala--pura-pura pusing. Airin memutar bola matanya--jengah dan kesal pada lelaki ini. Kalau saja bukunya dikembalikan kemarin, ia tentu tak kan mengenaskan seperti ini. Hidungnya berdarah. Untungnya batang hidungnya tak patah. Ia tak bisa bercermin lagi kalau sampai menemukan hidungnya yang mancung ke atas langsung mancung ke dalam.